Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 7~Bertemu kembali~


__ADS_3

Seorang murid baru kelas 11 ipa membuat para murid membahasnya. Gadis yang berwajah ayu dan imut mampu memikat para murid laki-laki yang bersekolah di sana.


Bahkan, ada juga yang menyebutnya queen school.


"Cantik banget njir, kini bukan hanya ada King school, queen school pun ada," bisik salah satu murid.


Gentara menarik tas Gibran dan Niel membuat kedua lelaki itu berhenti dan menoleh. Mereka menganggang sempurna, baru kali ini mereka melihat gadis secantik ini, apalagi di kawal beberapa pria botak dan berbadan kekar.


"Ciak, bukan hanya cantik, tapi juga kaya cok. Kalau gue pacaran sama dia. Kayanya gue gak bakal ngeluarin duit," gumam Niel geleng-geleng kepala melihat penampilan cewek cantik tersebut.


Cewek itu menatap sekitar dan tertuju kepada Niel dan teman-temannya. Niel pun tersenyum dan memperbaiki pakaiannya. Begitu juga dengan kedua temannya, kecuali Ataar yang diam membisu, dengan tatapan datar, memandang cewek tersebut.


Dia jadi malas bertemu, dan satu sekolah dengan gadis pencicilan seperti Ara.


"Ataar," teriak gadis itu yang tak lain adalah Ara. Dia berlari ingin memeluk Ataar. Namun, Ataar buru-buru menghindar lalu pergi dari sana.


Ara pun mengerucut bibirnya.


Ketiga teman Ataar terdiam, apa ini? Mereka tak mengerti.


Ara berbalik belakang, melihat ketiga teman Ataar yang seperti menahan ketawa.


"Kenapa ketawa? Ngak lucu, gue bukan pelawak," celetuknya.


Ketiga teman Ataar langsung bungkam.


"Gue boleh minta tolong?" tanya Ara merubah raut wajahnya.


"Minta tolong apa?" tanya mereka.


"Anterin kelas 11 ipa dong."


Mereka bertiga langsung menjawab barengan. "Siap, ayo."


Ara mengekori ketiga orang itu, untuk menunjukan kelasnya berada di mana.


Ara menabrak tubuh Gibran, karena lelaki itu berhenti mendadak.


"Eh, sorry. Ini kelasnya," ucap Gibran.


"Kalau begitu makasih kakak-kakak ganteng," ucap Ara. "Kaya pulu-pulu," lanjutnya pelan, lalu berlari memasuki kelas. Agar tak di terkam ketiga orang.


"Anjir," ucap mereka bersama lalu geleng geleng.

__ADS_1


"Padahal gue udah senang, di katain ganteng. Taunya hanya terpaksa," lirih Niel.


"Udahlah, terima aja. Lo memang mirip pulu-pulu," celetuk Gibran.


"Sialan... Eh Ataar kemana?" tanya Niel.


"Palingan jalan duluan," jawab Gentara. Saat ini mereka akan latihan basket.


"Eh, tadi tuh cewek kenal Ataar? Dia tadi nyebut namanya Ataar, dan Ataar hanya menatapnya dengan datar."


"Mungkin sasaengnya Ataar," jawab Gentara.


"Sasaeng apaan, lo kira Idol K-pop punya sasaeng, tapi yang juga sih. Lagian, Ataar memang mukanya selalu datar kok, beda lagi kalau di hadapan tante Aisha kaya bocah."


Karena terlalu asik mengobrol, sehingga tak sadar kalau mereka sudah sampai di aula. Mereka bertiga berlari ke arah Ataar dan beberapa teman lainnya.


Ataar tak suka salah satu teman timnya, yaitu Kevin. Rival Ataar di sekolah, Kevin kerak kali iri kepada Ataar yang di tinggikan di sekolah, sedangkan Kevin di nomor duakan. Itu yang membuat mereka saling bermusuhan, padahal dulu mereka berteman dekat.


"Kita satu tim dengan Kevin?" tanya Gentara. Ataar mengangguk, Kevin menatapnya seperti menaroh bendera peperangan.


"Eh munaroh, lo mirip wewek gembel. Gak usah natap-natap gitu, lo lebih horor tahu gak daripada dedemit," sungut Niel.


Kevin memasang wajah datar dan membuang pandangannya.


"Ataar tuh keren banget," puji teman baru Ara yang bernama Cindi.


Ara mengangguk. "Dia memang keren dari dulu," ucap Ara.


"Ha, lo udah kenal Ataar dari dulu?" tanya Cindy.


Ara mengangguk. "Gue sama dia berteman dari sd hingga sekarang, walaupun kita beda setahun. Kakaknya Ataar dan abangku bersahabat, otomatis gue dan dia sering bertemu," jelas Ara.


"Wah, ternyata ada yang lebih kenal Ataar."


Ara hanya tersenyum. "Aku suka dia dari dulu, tapi dia gak sering menolakku."


"Kasihan, tapi bukan lo doang sih. Banyak gadis-gadis di sekolah ini dia tolak. Bahkan, sering kali di sebut tak normal lantaran tak ada yang dia sukai. Entah siapa yang beruntung yang berhasil mendapatkan hati Ataar, orang yang sudah confes kedia akan malu, ada juga yang tak datang lagi di sekolah karena di permalukan satu sekolah."


"Iyalah gitu doang? Dari sd gue rasain. Mah," gumam Ara.


Orang yang ada di sana terkejut dan langsung berdiri, di saat Ataar terjatuh, karena ulah Kevin menendang kakinya.


Ara dengan refleks, berlari ke arah Ataar, dan membantunya berdiri. Semua orang menatap itu.

__ADS_1


"Kamu gak papa?" tanya Ara memperbaiki rambut Ataar, lelaki itu diam sejenak dan langsung menepis kasar tangan Ara.


Ara pun mengulumkan tangannya, lalu tersenyum tipis. "Kamu duduk saja dulu, lutut kamu terluka." Ara ingin menuntut Ataar. Namun, lagi-lagi di tepis kasar.


Walau begitu, Ara masih mengekor di belakang Ataar yang di rangkul oleh Niel.


Cindy berlari ke arah Ara dan menariknya. "Ra gak usah, gue gak mau setelah ini lo di hujat satu sekolah."


"Tapi Cind, Ataar terluka."


"Biarin, kita gak usah mengurus itu." Cindy menarik Ara kembali masuk ke dalam kelas, meninggalkan aula latihan.


Ara menatap punggung Ataar dan ketiga temannya yang mulai menjauh.


Dia melepaskan tangan Cindy dan berlari ke arah Ataar.


Sesampainya di uks, Ara mengambil ahli obat di tangan Niel.


"Gue aja," ucap Ara.


Ataar mengode ke arah Niel untuk mengambil otak p3k kah itu.


"Ara, stop!" bentak Ataar.


Ara seakan tuli tak mendengar ucapan Ataar, dia fokus membersihkan darah yang keluar dari lutut Ataar.


Ataar menepis tangan Ara dan mendorongnya sedikit lalu beranjak pergi dari sana.


Mereka bertiga terkejut dengan perlakuan Ataar, Gentara membantu Ara berdiri.


"Maafin, Ataar ya. Dia memang kaya gitu," ucap Gibran.


Ara mengangguk dan tersenyum tipis, Ataar memang tak berubah sedari dulu. Selalu ketus kepadanya.


"Gak papa," ucapnya. "Ingat aku bakal ngejar kamu secara unggal-unggalan," batin Ara pergi dari sana.


Di saat memasuki kelas, teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Cindy buru-buru menyuruh Ara duduk.


Gadis itu kenapa sangat kebal? Padahal saat ini dia sedang di bicarakan, di ejek. Ara hanya diam, bukannya ini hanya hal biasa?


"Mau gimana lagi, namanya juga netijen. Mulutnya pedas, mengurusi urusan orang," gumam Ara seakan menulihkan hujatan demi hujatannya yang dia dengar tentang dirinya.


"Lo gak risih?" tanya Cindy membuat gadis itu menoleh.

__ADS_1


"Anggap aja anjing menggong-gong, lagian tadi gue gak mencuri hanya membantu idolanya. Emang kenapa sih?" jawab Ara.


__ADS_2