
Ara terdiam memandang bekal yang di buang, padahal dia mempelajarinya susah payah. Selama ini dia di manjakan keluarganya, tapi kali ini dia memohon ke mommynya untuk di ajarin buat nasi goreng dan makanan-makanan lain-lainnya. Bahkan tangannya lecet sedikit terkena minyak panas.
Gibran beranjak dari sana dan mengambil bekal tersebut. "Ra, ini buat gue aja ya? Gue lapar soalnya, dari pada beli jajan mending makan ini."
Ara tersenyum tipis lalu mengangguk. Dia berlari pergi dari sana.
"Wih, untung gue ambil nih bekal. Bentukannya lucu banget," ucap Gibran.
"Dia gak pernah masak, dia tuh anak manja. Kalau benar dia yang buat, mungkin rasanya tak enak," sahut Ataar.
Gentara mengambil satu suapan, dan mengunyahnya. Dia berbinar, karena nasi goreng Ara sangat enak.
"Anjay enak banget," ucap Gibran dan Niel yang ikut menyicipi.
"Lo benaran gak mau, Taar?" tanya Gentara, Ataar hanya berdehem.
Tiba-tiba Cindy datang dan langsung menampar pipi Ataar.
Ketiga temannya langsung berdiri. Ataar memegang pipinya yang di tampar, belum pernah Ataar di tampar oleh seseorang kecuali papanya.
Dia menatap tajam Cindy. Namun, gadis itu lebih tajam.
"Lo lelaki gak di untung ya. Udah paling .keren lo? Udah se populer itu?" tanya Cindy menunjuk Ataar. "Lo pikir dengan gaya songong lo ini, lo keren?"
Ara datang dan memisahkan mereka, Cindy menepis tangan Ara yang memegang lengannya.
Gadis itu meraih tangan Ara dan menunjukkan ke arah Ataar.
"Gara-gara lo sialan, dia belajar memasak untuk lo, tapi balasan lo? Lo membuang bekalnya. Cih cowok gak punya hati," teriak Cindy. "Gue sumpahin lo, lo bakal menyesal seumur hidup membuat Ara seperti ini." Cindy dengan marahnya menunjuk-nunjuk Ataar.
Ara menarik tangan Cindy untuk pergi dari sana. Kita teman Ataar mendekati Ara dan melihat tangan gadis itu.
"Ini luka banget, biar di obatin ya?" tanya Niel, Cindy menepis tangan lelaki itu.
"Gak usah nyari muka, kalian sama teman kalian yang kaya pulu-pulu itu sama aja," celetuk Cindy membawa temannya pergi dari sana.
Sedangakan Ataar hanya terdiam di kursinya.
"Taar, kejar Ara Taar. Dia luka gara-gara lo," sahut Gibran.
__ADS_1
"Kok gue? Gue gak nyuruh dia tuh buat nyiapin gue bekal. Lagian gue ga-"
Niel menampar pipi Ataar dengan sangat keras. "Lo brengsek, anjing!" teriak Niel mengambil tasnya dan pergi dari sana.
Gentara dan Gibran ikut mengambil tasnya dan ikut pergi dari sana. Mereka tak marah dengan Ataar, hanya sedikit kecewa dan malu atas perbuatannya yang di lakukan para Ara.
Ataar memandang kepergian temannya, dia duduk di kursi kembali, lalu melamun.
"Gue gak egois, gue gak suka sama dia. Mau gimana pun effrotnya gue gak bisa balas perasaanya. Gue juga punya pilihan sendiri," gumamnya.
Dia ikut beranjak dari sana dan memasuk ke dalam kelas. Hari ini dia akan ikut belajar bersama temannya.
Ketiga temannya tidak menemaninya berbicara. Kali ini mereka saling diam-diam. Murid yang berada di kelas itu jadi heran, tumben keempat anak nakal itu tak buah ulah.
Guru yang menjelaskan menyuruh Ataar naik untuk menjelaskan ulang serta menjawab soal yang di berikan, walaupun sedikit ragu. Para guru sudah kapok berurusan dengan murid yang sering berbuat onar seperti Ataar dan ketiga temannya.
Tanpa basa-basi Ataar naik dan mengambil spidol dan buku yang di berikan.
Setelah mengerjakan semuanya, Ataar memberikan kembali itu semua. Mereka terkejut dengan jawaban Ataar yang singkat tapi benar.
Bahkan gurunya tergangang, padahal baru sedikit dia menjelaskan materinya. Namun, Ataar begitu cepatnya mengatahuinya.
Ataar dengan santainya kembali duduk di kursinya dan menaikan kedua kakinya ke atas meja, orang yang melihatnya hanya menghela napas.
Guru yang mengajar di kelas itu selalu berdo'a agar Ataar tak masuk ke jam pelajaran mereka.
Beberapa saat kemudian, jam pelajaran sudah berakhir kini mereka bisa pulang ke rumah masing-masing. Ataar langsung pulang ke rumah, tak singgah dulu ke markas. Padahal teman-temannya menunggu.
"Apa Ataar marah ke kita?" tanya Gibran. Mereka berdua menaikan bahu dan melajukan motor masing-masing pergi.
Malam tiba, tepat papanya pulang. Ataar di panggil ke ruang kerjanya.
Ataar menghela napas, kalau bisa dia akan melawan apapun yang di berikan. Namun, ini papanya dia akan lemah di saat bersangkutan dengan papanya.
Ataar menghela napas dan hanya berjongkok di mana papanya akan menyiksanya, tak pernah papanya bertanya apa yang di lakukan itu sakit. Tak pernah papanya menyesal telah memperlakukannya seperti ini? Apa dia benaran ingin dirinya pergi? Pikir Ataar bertanya-tanya.
Ataar meraih tisu di atas nakas dan melap hidungnya yang Mengeluarkan banyak darah.
"Duduk," pinta Altar, Ataar hanya menurut.
__ADS_1
"Banyak laporin yang saya terima atas perlakuanmu di sekolah!"
Ataar menunduk.
"Jawab tujuan apa kau seperti itu?"
Ataar menaikan pandangannya. "Demi mendapatkan perhatian Papa," ucap Ataar. "Bukannya Papa dulu seperti itu? Itu buktinya aku anak papa, karena aku mengikuti jejakmu."
Plak!
Altar menampar pipi anak itu sehingga matanya memerah menahan air mata.
"Berani kamu melawan, dan mengungkit masalalu?" tanya Altar.
Setelah di pukuli, Ataar memandang langit malam di balkon kamarnya.
Ataar mendongak ke bawah melihat ketiga temannya, memanggilnya. Ataar pun memakai hoodienya dan berjalan dengan pincang-pincang lompat dari balkon kamarnya.
"Lo habis di pukul lagi?" tanya Gentara, Ataar mengangguk.
Gibran memberikan kantong plastik yang berisi salep dan perban.
"Gue udah gak butuh itu, soalnya luka gue butuhnya kasih sayang Papa," ucap Ataar sehingga ketiga temannya tersentuh.
Mereka menghela napas dan berjongkok di depan Ataar.
"Kalau begitu gue siap jadi bokap lo, agar bisa menyembuhkan luka lo itu," ucap Niel.
"Gue juga, gue bakal jadi bapak yang membahagiakan anaknya." Gibran memeluk sahabatnya, Ataar hanya tersenyum.
"Nak Ataar, bapakmu ada tiga. Kami akan menyayangimu sehati dan sejiwa," ucap Gentara dengan nada candaanya lalu meluk sahabatnya.
"Kita ada buat lo, lo cuma kekurangan kasih sayang bokap, tapi yang lainnya lo mendapatkannya. Lo mendapatkan kasih sayang umi dan kakak lo, bahkan kita bertiga sayang sama lo. Lo bukan saja sahabat yang baik, tapi lo juga ketua yang bertanggung jawab. Banyak yang bangga sama lo Taar, jadi jangan berpikir lo kekurangan kasih sayang."
Ataar mengangguk. "Thx buat kalian yang selalu ada untuk gue."
"Maafin gue ya Taar, tadi gue nampar lo. Gue ke bawa emosi," ucap Niel.
"Udahlah yang itu gak usah di bahas," ucap Ataar. Mereka pun tertawa.
__ADS_1
Ataar tersenyum, ketiga temannya selalu ada untuk menghiburnya di saat dia bersedih.