Ataar'S Wound

Ataar'S Wound
Part 19 ~Berbeda?~


__ADS_3

Ataar di tampar dengan keras oleh papahnya, di depan uminya langsung. Dia pulang larut malam, membuat uminya cemas.


Pulang-pulang, Ataar babak belur, sehingga uminya yang melihat itu menangis, melihat istrinya menangis Altar emosi sampai menampar Ataar, anaknya sendiri.


"Kak, udah. Hentikan," teriak Aisha menahan tangan Altar yang siap mengambil tali pinggangnya.


Altar mencoba merendahkan emosinya di depan Aisha. Anak itu akan mendapatkan pukulan sebentar.


Ataar berlutut di depan uminya, dia memeluk pinggang ramping sang uminya.


"Umi, Ataar minta maaf. Gara-gara Ataar membuat umi khawatir. Bahkan ingin mencariku tengah malam," ucap Ataar.


Aisha menggeleng, dia menyuruh putranya itu berdiri. Aisha memeluk Ataar.


"Umi gak marah, umi hanya khawatir denganmu yang tidak pulang. Biasanya kamu akan pulang setelah sekolah, meminta izin untuk main bersama temanmu, tapi hari ini kamu gak pulang seharian membuat umi khawatir." Aisha melepaskan pelukannya. "Udah ya, gak papa umi gak marah. Asalkan Ataar gak ngulangin kedua kalinya, ya?"


Ataar mengangguk. "Iya umi."


"Yaudah kamu ke kamar, cuci badan kamu, tapi jangan mandi. Umi akan ke atas untuk mengompres lukamu."


Ataar mengambil tasnya yang jatuh ke lantai. Dia menunduk di saat melewati papanya.


"Ataar akan datang ke ruangan, papa. Aku tahu," ucap Ataar pelan, dan berlari menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, dia melempar tasnya di ranjang. Jaketnya di lempar sembarangan. Lelaki itu berlari memasuki kamar mandi, untuk mencuci wajah dan inci badannya.


Sesudahnya dia keluar dari kamar mandi, bersamaan uminya yang datang membahas baskon kecil berisi handuk dan sepotong es batu.


"Kenapa bisa kaya, gini?" tanya Aisha. Dia tahu kalau anaknya anak geng motor di luar sana, tetapi dia yakin putranya tak pernah membawa luka seperah ini pulang ke rumah.


Ataar menggeleng. Mana mungkin dia memberi tahukan masalahnya tadi bersama dengan lawan balapnya?


"Tadi aku berkelahi sama teman aku, cuma salah paham. Orang yang dia suka, sukanya sama aku."


Aisha tersenyum mendengar ucapan Ataar tersebut, ada-ada aja kelakuan anak zaman sekarang.


"Kamu memang ganteng, pantes di rebutin. Kamu itu seperti papamu dulu, sering di rebutin di sekolah, tapi umi yang beruntung. Padahal umi, gak ikut rebutin dia. Malahan umi benci Papa kamu, yang nakal dan suka membully."


"Umi gak marah kalau aku jadi anak geng motor?" tanya Ataar.


"Gak, kenapa? Papamu dulu seorang geng motor. Aku tahu itu hobi kamu, umi gak larang, tetapi hati-hati ya? Jangan sampai umi dengar kamu membuat masalah yang fatal. Bergaul lah yang sewajarnya, jangan melewati batas. Ok?"

__ADS_1


Ataar mengangguk.


Usai mengompers luka Ataar, uminya pergi dari kamar itu. Ataar pun menidurkan badannya. Namun, dia melihat ponselnya berdering. Ternyata papanya.


Ataar tertawa keras, karena lupa dengan kegiatannya sebelum tidur. Di mana kegiatan itu membuatnya susah tidur.


🐰🐰🐰🐰🐰


Paginya, Ataar berangkat ke sekolah memakai hoodie, gak biasanya yang hanya memakai seragam. Mungkin lengannya luka-luka.


Karena uminya yang menyuruhnya sarapan sebentar. Ataar pun ikut sarapan pagi bersama dengan papanya.


"Aku pergi, ya," teriak Ataar melajukan motornya pergi dari rumahnya.


Sesampainya di sekolah, Ataar menuju kelas untuk mencari bekal dari Ara. Namun, kelas itu udah rame, tetapi belum ada paperbang yang biasanya Ara bawa.


"Dia gak ke sekolah?" tanya Ataar bergumam. Baru ingin menuju kelas gadis itu, dia melihat Ara baru datang bersama Cindy. Gadis itu nampak tertewa sampai ke dalam kelas.


"Mungkin, nanti," gumamnya. Sebenarnya hari ini dia ingin bolos, tetapi dia menunggu pemberian gadis itu. Entah mengapa Ataar menunggunya.


Ketiga temannya sudah datang, guru udah masuk, tetapi Ara tak membawa bekal itu.


"kenapa lo?" tanya Niel. Ataar hanya menggelen.


Saat yang lain sibuk dan pusing memikirkan tugas yang di berikan guru, Ataar malah sibuk memikirkan satu gadis yang sangat dia benci. Dia merasa ada yang kurang harinya kalau gadis itu tak memberinya hal setiap hari gadis itu lakukan.


Padahal, saat ini seharusnya dia senang. Kalau Ara sudah tak menganggunya, tetapi di hati kecilnya. Ataar terbiasa dengan perlakuan gadis itu, seakan dia tak rela kalau itu semua terlewatkan.


"Ataar," panggil seseorang. Namun, lelaki itu masih fokus dengan lamunannya. Sampai tak sadar ada yang memanggilnya.


"Ataar," teriak Gentara di telinga Ataar. Ataar pun tersadar lalu menoleh.


"Apa? Gak usah teriak-teriak sialan," umpat Ataar kesal dengan Gentara.


Gentara hanya menghela napas. Entah apa yang ada di pikiran sahabatnya saat ini.


"Lo di panggil ke ruangan osis, seharusnya lo udah di sana dari tadi. Malah di sini." Tanpa rasa takut, Celi langsung menarik tangan Ataar keluar kelas.


Ataar yang di tarik hanya terdiam, tak berkutik sedikit pun. Tanpa memberontak, orang yang melihatnya terbelalak. Seorang Ataar tak memberontak? Sangat mustshil.


Di ruangan osis, Ataar masih diam. Celi pun menampar pipi Ataar sehingga lelaki itu meringis.

__ADS_1


"Anj*ng," umpat Ataar.


"Bangun sialan," balas Celi.


Ataar beraup wajahnya dengan kasar, mereka pun memulai rapat osis. Ataar hanya mengiyakan pendapat yang lain. Sekali-kali dia protes dengan ucapan temannya.


"Ok. Udah kan?" tanya Ataar beranjak berdiri dan keluar dari ruang osis.


Ataar menuju kantin, temannya sudah ada di sana menunggunya. Di koridor dia pas-pasan, dengan Ara.


Ara hanya menatapnya sekilas lalu berjalan kembali.


"Dia kenapa?" tanyanya pada diri sendiri. "Apa dia marah sama yang. semalam?" tanya Ataar, dia kembali ke kelas. Niatnya melihat bekal Ara, tetapi sesampainya di sana, tidak ada.


Akhirnya dia menghela napas lalu berlari ke arah kantin sekolah.


"Lama banget," ketus Niel yang sudah lapar menunggu sahabatnya itu.


Ataar hanya diam, dia masih berpikir dengan perubahan Ara. Biasanya gadis itu akan centil, tetapi sekarang hanya di samping Cindy.


"Lo mikirin apa sih, dari tadi?" tanya Gibran.


"Gak ada," jawab Ataar singkat. Dia memakan baksonya dengan lahap.


"Lapar atau doyan?" tanya Niel menambahakn dua biji tahu ke mangkok Ataar.


"Lo gak kaya makan sebulan aja, Taar."


Mereka bertiga tertawa sehingga Ataar menatap mereka dengan tatapan tajam mematikan.


"Diam!" tegas Ataar menekan satu kata itu. Dia melanjutkan makanannya.


Usai istirahat, mereka kembali ke kelas untuk memulai ulang pelajaran.


Ding dong!


Jam terakhir telah berbunyi, semuanya pun berkemas untuk pulang. Ini yang mereka tunggu-tunggu.


Di koridor, Gibran menarik lengan Ataar. Ataar pun menepisnya.


"Itu Ara dan Kevin? Gue gak salah lihat?" tanya Gibran membuat ketiganya ikut memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2