
"Temukan bidaknya!" Serangkaian kata perintah yang secara tak terhormat merasuk dalam gendang telingaku. "Jangan kembali sampai kau menemukannya!"
Walaupun berjalan terkantuk, langkahku melaju dengan gontai nya menemani sepasang kantung mata yang menghitam. Seragam yang basah oleh keringat mengeluarkan bau apek bercampur parfum yang terasa memualkan. Belum lagi goresan-goresan pewarna yang melekat menodai wajah hingga tak karuan.
Baik-baik..., hari ini merupakan hari tersial yang pernah kujalani. Omong kosong soal indahnya masa masa SMA, untuk mengikuti klub catur saja perlu perjuangan yang memuakkan.
"Kau perlu diuji. Taktik rendahan tak patut untuk diikutkan dalam pertandingan klub catur," umpatan seorang senior yang nyatanya tabiatnya lebih buruk daripada yang kukira. Sepasang mata tajam yang berkilat menyebalkan.
Aku tahu aku bukanlah anak bodoh, walaupun di rumah aku merupakan satu-satunya anak perempuan. Namun aku masih bisa diandalkan! Aku tidak bermain tampang namun kau boleh mengandalkan nauri istimewaku untuk menguji. Ya, aku seorang gadis sinestesia.
Suara desiran angin memiliki rasa... Gosip-gosip cewek genit yang menyebalkan mampu kukecap dengan baik. Suara benda jatuh yang mengelabuhi indra perasaku. Ah, entah mengapa indra pendengaran dan pengecapanku saling terhubung.
Awalnya aku panik, namun saat ibu mengantarku mengontrol kesehatan menuju klinik murah, mereka bilang aku memiliki kelainan yang tak langka. Tak bisa dihilangkan... sudah melekat dalam diriku.
Pengidap sinestesia. Mungkin itulah alasan aku tak memiliki teman. Ah, tepatnya diriku yang mulai menenggelamkannya diri dari kerumunan. Suara bising membuat indra perasa aku kacau, suara itu mengganggu... setiap mulut yang berbicara memiliki rasa tersendiri untuk ku kecap dan itu belum tentu merupakan rasa yang mampu kuterima. Terkadang aneh, pahit, atau bahkan menjijikan hal itulah yang membuatku menarik diri dan menghindari pembicaraan.
Rambutku yang terikat tinggi tersibak, atmosfer yang terasa lenggang menghempas nyaliku bersamaan dengan sorot mata yang beradu dengan bangunan tua serupa menara.
Kusam. Ilalang tinggi yang memenuhi pekarangan kumuh membuat pijakan ku menciut bergetar.
"Senior sialan!" Aku berdecak menyisihkan Ilalang liar. Apa mereka pikir bisa mengelabui dengan tempat ini? Hh, jangan harap...
Walaupun cuma seorang anak baru yang berhasil memasuki sekolahan elit aku tak bisa dibohongi! Seingatku tempat-tempat yang sulit di jamah selalu menjadi opsi terpilih demi meningkatkan kesukaran level pencaharian ini.
Malam yang dingin dan kaos olahraga kumal yang tercabik melekat tak nyaman begitu duri duri menancap berpadu dengan kasarnya ilalang.
Aku menggigit bibir demi tak mengumpat. Sialan! Mereka harus tahu bahwa seorang anak miskin dengan keluarga yang mendapat penghasilan dari penjualan hewan laut bukanlah siswa rendahan.
Ketsku menganga berdecit. Dengan gusarny langkahku melaju, aku melihatnya... saat ilalang menepi bagai labirin labirin yang telah mencapai batas.
Tempat macam apa ini?! Pupil mataku membulat seketika, taman-taman terurus dengan kolam ikan dan gazebo.
"Chrysantium," bisikan aneh menimbulkan efek debaran pada jantung. "Rose, lily,"
Disaat-saat Seperti ini jantungku terasa berpacu cepat. Sekelebat bayangan putih itu berlalu dengan bunyi 'grusak' yang memekakkan. Serumpun lavender segar merekah menebarkan aroma.
"Aw!" Sepatu kumalku terantuk, entah duri apa yang ku injak.
"Siapa?" Aku membekap mulut menjauhkan tubuh perlahan. Awas aja kalau sosok itu ternyata cuma seorang senior yang menyamar menjadi hantu!
"Ck, perih," ku seka darah yang mengalir membasahi kaos kaki putih pucat-baru ku beli dua hari yang lalu.
Aku muak! Rasanya ingin ku akhiri permainan konyol ini. Tapi demi tak disebut pecundang, kupaksakan tubuhku untuk merangkak menerobos semak-semak perlahan.
Penglihatanku terhalang, untuk kali ini biarlah indra perasa yang kuandalkan. Ah, tunggu! Aku kenal rasa ini... Ini... derap kaki.. kurasakan rasa familiar yang memenuhi rongga mulut, syukurlah rasanya tak begitu mendominan. Aku mampu menerka bahwa sosok itu berdiri tak cukup dekat.
Duk! Sebuah permukaan datar ku hantam hati-hati. Pintu. Engsel berkaratnya tak begitu meyakinkan untuk dijamah.
"Ah, bodoh mereka pasti menyembunyikan bidak caturnya di sini," aku bergumam perlahan.
Adalah resiko besar saat kutarik engsel pintu itu. Bisa jadi si senior menaruh jebakan di dalamnya... atau suaranya yang memekakkan menyadarkan si sosok putih? Ah, sudahlah palingan senior-senior itu tak akan berbuat macam-macam begitu mereka tahu aku sampai senekat ini.
Kriek! Deritan daun pintu menampilkan pemandangan yang luar biasa. Gelap, hanya sinar rembulan yang menerobos melalui jendela menyapu lantai lantai marmer hingga keperakan. Suram namun bersih.
"Oke, temukan bidaknya dan pergi,"
Hening. Tak ada suara yang membuatku perlu membuang ludah demi menyingkirkan rasa yang menjijikkan. Dimulai dari furniture kayu tua. Lutut bergetar menopang tubuh yang bertumpu pada sepasang kaki yang terluka.
Bruk! Sial, aku menjatuhkan sesuatu! Oke ...oke.. Tenanglah Kanra... ini tidak seburuk yang kau kira..
Grusrak! Lemari baca kecil berbahan kayu lapuk menghantam lantai... Sial, apalagi selanjutnya? Adrenalinku terpacu hebat. Tanganku bergetar tak karuan. Takut. Iris mataku menyipit tatkala sinar lampu sorot yang menyala tiba-tiba.
__ADS_1
"Teng... teng...teng"
Suara.
Langkahku mundur perlahan. Sebuah dentuman keras dan memekakkan membuat kerongkongan ku tersiksa dengan rasa-rasa asing yang menyusup bersatu dalam saliva.
Bruk! Sebuah panggung boneka berukuran raksasa berputar menampilkan parade parade boneka menakutkan. Kulit pucat serupa lilin-lilin yang dipadatkan, mata yang memancarkan ketakutan dan kosong. Tarian yang cukup luar biasa demi menampilkan sebuah pertunjukan. Namun anak manapun akan memekik ketakutan.
Sial, aku terperangkap...
"Menakjubkan bukan?" Sesosok boneka berambut putih dengan topi tinggi ala pesulap melangkah ringan, "plastination buatanku?"
Ah, aku ingin lari! Tubuhku bergetar tak karuan, air mata hangat mengalir membasahi pipi. Bak runtutan film horor yang diputar tiba-tiba. Langkahku terhenti, buntu... tidak ada jalan untuk kembali. Nyala lilin yang berpendar menambah aura suram pada sosok itu.
"Jangan takut," senyuman samar yang lebih mirip dengan seringai; menyembul dibalik wajahnya yang nyaris tertutupi topi. Sebuah pelukan erat menghambur, membuat jantungku berdebar keringat dingin.
Sial, mimpi apa dipeluk oleh makhluk jadi-jadian... Ini gila namun tubuhku seolah terlanjur mati rasa untuk menaklukkan perlawanan.
"Jangan menangis... dan jangan takut lagi," pelukannya mengerat, air mata menerobos sejadi-jadi. Jadi makhluk macam apa ini? Vampir? Manusia serigala? Halah aku terlalu banyak termakan tontonan televisi.
"Le-lepas," kudorong bahu itu perlahan.
Bruk! Sebuah boneka yang terjatuh mengalihkan perhatian. Boneka yang jatuh dengan sepasang mata terlepas menghantam kets merahku. Sial, semuanya menjadi gelap.
####
"Memangnya gadis urakan sepertimu bisa bermain catur?" Tawa lepas membuat rongga mulut terasa tak nyaman, kalau saja aku tak menahan diri susah sumpal mulut si senior berambut keriting itu dengan sol sepatu.
"Tolong pertimbangkan saya!" Tak peduli harus memohon mohon, aku rela demi memenuhi hasrat ku bermain catur.
"Hei, cuma kaum elit yang ahli dalam permainan ini, dan wow, mengagumkan sekali kau bersedia mempermalukan dirimu dengan skor terendah di antara pemain yang lain!"
Anak elit. Kata-kata itu beberapa kali terngiang merendahkanku. Apalah daya seorang gadis yang selalu berkutat bersama cumi-cumi dan gurita ketimbang berbelanja ria disebut di sebuah pusat perbelanjaan mewah.
Mungkin ini bakal menjadi keputusan yang akan kusesalkan dikemudian hari, tapi saat aku menyerah mereka akan benar-benar menganggapku gadis rendahan! Hingga detik ini aku tak memiliki teman, dan tak terpikir saat gosip yang melecehkan harga diriku tersebar.., entah diskriminasi semacam apa yang aku dapatkan. Hmm menarik...
Dalam benakku bayangan ibu dan ayah terlintas, juga ketujuh saudaraku yang begitu menyebalkan, keluarga miskin yang tampak cuek dengan keadaan. Walau tubuh berbau amis dipenuhi tinta gurita. Terbayang senyum lebar dan cerah saat bercanda bersama saudara-saudaraku yang lain.
"Jangan menjadi cewek frontal, anggunlah sedikit! Begitu nanti kau menjadi seorang siswa SMA, kau akan berubah menjadi gadis yang anggun!"
Halah, ocehan macam apa itu? Aku menghela napas. Tantangan si anak elit itu... sesulit apapun akan ku terima!
###
Aku terbangun. Rembasan sinar mentari pagi merasuk menembus retina. Ah, tempat ini! Ada rasa nyeri yang bergelayut menghantam kepala. ditambah kaki yang terbalut perban kaku. Aku menyerah.
"Sudah baikan?" Sesosok cowok boneka semalam memunculkan diri di ambang pintu disertai sebuah nampan.
Jantungku kembali berdebar takut. Bajuku terlanjur basah bak sehabis berlari maraton. Derap langkahnya mendekat halus.
Prak! Aku kelabakan! Tamparan keras berhasil kudaratkan pada pipi cowok itu.
"Kau setan macam apa?"
Tawa renyah memantulkan gema. Cowok itu melepas topi tinggi dan mendekatkan wajah; membuatku terkejut setengah mati. Bibirnya bergerak seolah membisikkan sesuatu.
Manis. Rasa itu memenuhi kerongkongan, aku tak bisa mendengarnya. Tanpa aba-aba tangan pucat menghalangi penglihatanku, memaksanya mengatup.
"Jangan terus melihatku, aku benci dilihat orang," sensasi dingin merasuk menembus pori-pori wajah. Cowok itu diam-diam menempelkan handuk kecil pada guratan lecet wajahku. Sial setan ini...
"Jauhkan tanganmu! Aku bisa sendiri, kok!" Kutepis tangan hangat itu dari wajahku.
__ADS_1
"Ya...ya...ya," dia tertawa mendapat respon penolakanku.
"Kau membuatku takut," omelku perlahan.
"Whow, aku? Membuatmu takut?" Rambut putihnya bergoyang, sebenarnya makhluk apa ini? Setahuku tidak ada makhluk halus dengan keseluruhan intens seperti dia. Sepasang pupil abu-abu gelap, kulit pucat dan rambut yang sepenuhnya putih.
"Dasar gila, ku kira kau boneka!"
"Oke, sepertinya terjadi kesalahpahaman antara kita. Menurut buku psikologi yang kubaca, pelukan akan memberikan reaksi tenang dan mampu meredam emosi, karena kau tiba-tiba menangis usai penyambutan istimewaku makanya aku-,"
"Dasar mesum!" Cibirku kesal.
"Oi oi,apa yang salah, sih?" Dia menekan tekan tombol bening yang terpasang pada dinding. " Kau cewek aneh, asalkan kau tahu saja, aku ini pakar kejiwaan tahu!"
Mana ada pakar kejiwaan seabnormal dia!
"Dasar setan aneh!"
"Apa tadi? Uh, maaf aku bukan setan oke? Aku manusia normal sepertimu, bahkan jauh lebih normal ketimbang cewek seaneh dirimu," dia beranjak menghempaskan tubuhnya ke sofa samping ranjangku, " setidaknya aku juga manusia,"
Aku membuka mulut, namun kuurung begitu sebuah troli makanan warna aluminium melesat memasuki ruangan tanpa dikendalikan.
"Apa lagi itu?!" Aku nyaris terbangun; terperajat mendapat troli yang bergerak sendiri.
"Hei hei, tenanglah!" Cowok itu bangkit dari sofa dan menjentikkan jari. Troli bergerak menuju cowok itu. "Relaksasikan dirimu, usai minum teh kau baru boleh pergi,"
Cowok itu menyodorkan secangkir teh ke arahku. "Tidak kau beracun kan?"
"Ahaha, kenapa kau begitu meragukan ku, sih? Kau mau tambahan apa? Gula, sirup, rosemary?" Cowok itu mulai membuka toples bening kecil.
"Lemon," balasku asal. Lelaki ini benar-benar mengujiku...
"Oke oke, " dia menjepit potongan lemon dan menaruhnya di atas cangkirku. "Jadi, ada urusan apa kau kemari?"
Aku menyeruput teh demi meredakan rasa pening yang menjalar. "Bidak catur, aku sedang mencari benda itu,"
"Wow, kalau begitu aku akan menahanmu sampai kau memperlihatkan kemampuan caturmu melawanku,"
Salah topik. Aku memaki kebodohanku sendiri.
Cowok itu mengambil sesuatu dari laci. Papan catur. Dibenahi letak pion hitam putih itu.
Mataku hanya mampu menatap benda itu dengan takjub. Seperangkat catur termahal yang pernah kulihat, ukiran-ukiran kayu mahoni yang mendetail menambah keanggunan kotak hitam putih itu.
"Ayo mulai," dia tersenyum meremehkan.
"Kau meremehkanku?"
"Ha? Apa-apaan, sih? Aku jelas-jelas sedang melontarkan senyuman hangat dan bersahabat,"
"Hh, kau bercanda?" Aku menggerakkan satu pion catur.
Cowok aneh itu gerakan pionnya."Ya, menteri memakai bidakmu,"
Sialnya cowok itu menggerakkan pionnya dengan lihai, beberapa pergerakan membuat kerajaan hitamku terkepung. Sialan! seberapa mahir permainannya hingga mampu mengakhiri permainan ku dalam beberapa menit saja.
"Kau boleh pergi, dan simpan pion ini untukmu. Aku akan mengantarmu sampai pintu depan."
Pion ratu? Aku mengernyit.
Lagi-lagi, cowok itu tersenyum miring. "Rahasiakan keberadaanku, ya. Senang bisa bertemu denganmu,"
__ADS_1
Tbc.
###