ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
19# TAMAN INGATAN


__ADS_3

"Rue, ada kiriman dari penggemarmu, nih!" Aku berteriak begitu sebuah kotak putih disodorkan petugas pengiriman barang. Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk mengirimi si Rue makanan enak seperti ini.


"Whoo, chees cake limited edition yang sedang booming itu kan?" Urlich menatapnya antusias, "sayang banget kalau dibuang, lebih baik kita habiskan secepatnya,"


"Boleh, nih? Dan Son juga mau?" ragu, namun ujung-ujungnya kubuat masa bodoh dengan temperamen Rue begitu pulang nanti.


"Asli enak banget, lho!" Cowok berambut pekat itu malah mengunyah dengan asyiknya. " Omong-ngomong, Kanra, pekan depan kalau ada waktu luang?"


Hmm, tumben Urlich menanyaiku seperti itu. "Ada perlu apa?"


"Aku dapat tiket masuk taman hiburan gratis, ya daripada terbuang sia-sia, sepertinya bakal lebih berguna kalau kau saja pakai,"


###


Hari ini dia tidak datang lagi. Atlaraka menghela nafas bosan. Manipulatif.. orang-orang dalam tempat ini begitu penuh dengan kepalsuan. Seberbahaya apa dirinya itu hingga perlu menjalin terapis dan suntik pencegah ingatan secara berkala. Atlaraka merasa seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa.


"Menyebalkan!" Ia mengacak rambut. Tentunya ia tak bisa ditipu dengan mudahnya. Atlaraka hafal betul tiap-tiap cairan kimia yang terkandung dalam cairan suntiknya. Mereka membunuh secara perlahan.


Cowok itu mengamati mengamati lengan kerangka besinya lamat. Menyentuhnya seolah dengan menelusuri materialnya sekilas ia mulai paham. "Seharusnya mereka menggunakan titanium yang dibuat seringan mungkin, ditambah dengan bahan silikon dan serat elastis untuk pembuatan kulit penutupnya,"


Bagaimana cowok ini tetaplah sosok jenius seperti dahulu. Tetap tak berubah.


" Mohon maaf, ini titipan dari patner terapis anda," kotak terbungkus kertas alumunium disodorkan kearahnya. "Nona Kanra Anastasia akan menemui anda nanti sore, bersiaplah untuk menjalani terapis diluar jeruji,"


Benar, nih? Walau terdengar tak meyakinkan namun saat ini siapakah orang yang bisa dipercayai? Setidaknya gadis yang satu ini cukup lumayan untuk menjadikan sebuah alat. Mungkin ia akan mempersiapkan ancang-ancang untuk membunuhnya nanti. Mencampakkannya dan kabue melarikan diri.


Ya, cukup sederhana.


Sekarang ia hanya perlu menumpahkan merupakan cairan kimia bahan korosif untuk meluruhkan besi berkarat, menggunakan sedikit untuk mengubahnya menjadi sebuah alat. Ah, ia perlu pembungkus.


Atlaraka beranjak mengambil kotak yang terbungkus itu. Bodoh gadis itu terlalu naif untuk dipermainkan olehnya. Disobeknya kertas pembungkus kasar. Ia tertegun begitu menyadari munculnya kupu-kupu bercahaya yang bertebaran mengudara. Indah, mengalahkan pekatnya jeruji.


Bingkasan macam apa? Entah mengapa sesuatu yang hangat menjalar mengisi lubuk hatinya. De ja vu.


Kau pasti kaget ya? Seseorang mangariku trik ini pada ulang tahunku yang ke-18. Dia bilang ini cuma ilusi optik semata, ya, jenuis tapi sialan, sih. Tapi sekarang dia pergi, sayang sekali, ya? Si tengil itu memberikan warna rambut masih tersisa sedikit. Jadi sarankan kau saja yang pakai. Sampai jumpa nanti sore.


Kanra Anastasia.


Hh, lihatlah dia sekarang! Malah dengan asyiknya membicarakan seseorang yang tidak ada hubungannya sama sekali. Atlaraka bangkit, mencoba mengacuhkannya sekali lagi. Tapi mengapa ini terasa sedikit menyakitkan?


Kenapa?


Begitu pertama kali melihatnya, sorot matanya seolah mencurahkan seluruh perhatiannya untuknya. Menatadap kearahnya saja.. seolah tak ada seorang pun yang diperhatikan melebih cowok berpupil abu itu.


Dasar aneh.


"Dia tahu aku seorang manusia abnormal, kau gila, Raka! Jangan pikir macam-macam soal cewek itu!"


####


Aku memastikan tampilanku sekali lagi. Sial, aku mau terlihat seperti gadis yang bakal berkencan . Tak ada waktu untuk mengambil pakaian di rumah, aku minta tolong Zoel agar mengirimiku pakaian sekaligus makan sore.


"Kau bakal berkencan atau.. Menerapis klienmu, sih?"


Ha? Sial, awas saja nanti! Rasanya tanganku sedikit gatal untuk memukul mulut besar si Zoel. "Berisik!"


"Ngomong-ngomong kau tidak keberatan, kan? Maksudku kau kan seorang pengidap acrophobia?" Cowok itu menelan ludah kasar, "pokoknya jangan sampai nekat untuk naik roller coaster, tahu sendiri kan pacar aku itu masih belum mengingt apa-apa, kalau kau sampai pingsan pasti bakal berbahaya!"


"Terserah, ah," aku mendengus tak bersahabat.


"Ayolah, tak usah memasang tampang galak seperti itu," Zoel terkikik puas, "pergilah.., entah mengapa aku merasa kau bakal dapat keberuntungan nantinya,"


####

__ADS_1


"Patner terapis anda menunggu"


Atlaraka menghela nafas perlahan. Mulai detik ini ia menyusun taktik. Berpura-pura bersikap ramah, membunuhnya, lalu melarikan diri. Sederhana.


Dia bersikap sedikit penurut. Menuangkan pewarna rambut kemerahan dan meratakannya dengan tangan. Hanya perlu sedikit basa-basi. Walau selebihnya sosialisasi itu terdengar memuakan.


Iris abunya berpendar begitu jeruji besi dibuka. Ubin-ubin terasa dingin, sol sepatu kulit yang diberikan cuma-cuma untuknya. Langkahnya berdecit.


Bidaknya berjalan.


Kanra di sana, menungguinya dengan senyum cerah. Gadis itu mengenakan gaun motif flora cerah. Mengagumkan, cewek yang sehari-harinya menggunakan hoodie hitam gelap dengan rambut terikat tinggi menghampirinya dengan tampilan berbeda.


"Kurang rata, nih," tangan cewek itu mengacak rambutnya tanpa permisi. Dekat. Hingga Atlaraka tertegun menyadari jarak di antara mereka berdua. Jantungnya berdebar lebih cepat.


Berpura-pura baik. Cowok itu berusaha mengukir senyum. "Oi oi, jangan menyentuhku seenaknya,"


Memuakan.


"Oh, maaf," cewek itu menarik tangannya cepat mengumpati dirinya sendir. Tanpa manipulasi seolah-olah...


Kanra memang telah mengenalnya lama.


###


Aku menyejajarkan langkah canggung. Cowok ini.. bagaimanapun kehadirannya memang selalu menarik perhatian. Ada sensasi berbeda begitu dia lebih banyak merespon.


Hff, sudahlah..


Ku pandangi bianglala yang menjulang lamat. Langit senja menjadi opsi terpilih untuk mengamati panorama melalui sisi terbaik. Lampunya berkedip, bercahaya menaungi stand-stand ramai.


"Mau coba makan sesuatu?" Aku melirik cowok itu. Entah mengapa hari ini dia terlihat sedikit lebih aneh. Ah, apa aku terlalu berlebihan? Sia, bersikaplah layaknya orang asing, Kanra. "Maksudku-"


"Kenapa? Memangnya aku terlihat seperti seperti seseorang yang ingin mengacukan saranmu?" Dia tertawa getir. Sepertinya Atlaraka yang biasanya. Atlaraka yang dulu."Oi oi, tuan putri, kau bahkan jauh lebih tahu dunia luar ketimbang aku,"


Tuan putri katanya?


"Kalau begitu kau mau apa? Banyak stand makanan di ujung sana,"


Apakah mungkin, data itu hanya data palsu untuk mengelabui saja? Dia mengigatku?


Atlaraka mengukir seringai miring. "Selain mie instan mungkin,"


Sejenak rasa manis kecap dalam saliva. Aku menelan ludah kasar rasa manis ini kenapa..


####


Bodoh. Cowok berpewarna rambut kemerahan itu memainkan ujung rambutnya kasar. Terlalu mudah. Hanya perlu menusuknya dari belakang maka semuanya berakhir. Atlaraka menyisipkan senjata kecil dalam saku.


Agak meragukan. Terlebih dia buta dengan masa lalu. Tak mengerti apa-apa dan naif. Apa tak terlalu beresiko? Menghabisi patner terapisnya sendiri. Mengapa hatinya menyimpan kekosongan tersendiri begitu gadis itu raib.


"Lama menunggu? Hh, maaf ya, antreanya panjang luar biasa," dengan ancuhnya Kanra menyibakan rambut menutupi telinganya dan menelan ludah kasar. "Disini berisik,"


'Sialan, rasanya menjijikan!'


Pikirannya. Terbaca. "Pengidap sinestesia, hmm?"


Terkaan telak, membuat Kanra sedikit tertegun, meraih es krim dan menelannya cepat hingga tersedak. "Ukh, bukan bodoh!"


Tanpa sadar seringainya kembali terukir. "Kedipan mata terlalu cepat; tak teratur, gerak tangan gelisah dan kau menghindari kontak mata. Bohong kan?"


"Aku tidak bohong, kok!" Bola mata sewarna hitam pekat naik menatapnya dengan sorot menantang. "Dasar absud!"


Hangat. Basa-basi ini.. mengapa menjadi sesuatu yang menarik untuk itu diteruskan.

__ADS_1


Gadis itu seolah memiliki cara tersendiri untuk memukul mundur Setiap anak bidaknya. Permain yang cerdas.


Cewek yang menarik.


Iris mata abu pekatnya tertahan disana, bertabrakan dengan bola mata hitam kelam yang memandangnya penuh dengan kemarahan. Kanra Anastasia.


"Kau mengenalku di masa lalu?" Terucap juga.


Kanra menjatuhkan pandangan dan menelan ludah kasar. "Tidak,"


####


Bagai tersengat listrik. Dia menanyaiku dengan pertanyaan aneh. Maaf, tapi ini demi dirimu sendiri Atlaraka. Demi kehidupanmu yang normal seperti yang dahulu kau inginkan.


Aku menatap pundaknya lamat. Aku hanya ingin melihatmu berdiri dengan tegak, hanya melangkah maju dan hidup dengan bahagia. Tidak ada alasan lain.


"Apa itu?" Dia berbalik menyadari langkahku tak seirama lagi dengannya.


"Entahlah, mau coba ke sana?" Dan lagi, tanpa sadar tanganku menggenggam kerangka lengan miliknya. Tanpa chip data mungkin seonggak besi itu tak bisa merasakan apa-apa. Mati rasa. Seperti dirinya saat ini, tapi bagiku suatu kehangatan tersendiri sendiri begitu kembali menyentuh lenganya yang keras, menariknya bak pegangan raket.


Masih Atlaraka.


Setidaknya sosok ini tetaplah dia.


"Oh, penerbangan balon harapan ya?" Menyadari tanah luas yang dipenuhi dengan gerombolan manusia, aku mulai paham sekarang. Dimasa kecil Jae pernah mengajakku menuju tempat ini. Menulis seluruh harapan dan mengikatnya bersama balon yang akan diterbangkan. Tapi semua itu cuma mitos.


"Kau mau coba?" Tahu-tahu cowok berpupil abu itu menarikku tanpa aba-aba. Puluhan balon putih terikat mengudaran. Atlaraka menariknya sepasang. "Butuh trik, huh?"


Dia menyeringai, menarik pena dan menulis diatas lentera kecil polos. Tidak ada tulisan apapun. Kosong. "Mau coba, tuan putri?"


"Kau gila ya?" Entah mataku yang bermasalah atau bagaimana, tapi yang jelas kertas itu kosong? " Ini cuma omongan kosong, harapanmu tidak akan terkabul dengan menerbangkan balon,"


"Apa salahnya mengikuti omong kosong, lagipula cuma sekali ini kan?" Atlaraka menarik tanganku dan memaksanya menggenggam pena. "Jangan setengah-setengah, tulis saja harapanmu itu, lagi pula tintanya tidak terlihat, kok,"


Ya,  kalau begitu aku ingin,


Sangat ingin..


Jemariku bergerak dengan air mata tumpah. Aku tahu ini cuma lelucon semata,  mustahil dengan mengurat pena seluruh harapanku terkabul. Bohong. Bahkan harapanku yang lalu telah menjadi sia-sia. Jae tak bahagia seperti apa yang ku inginkan. Tidak.


"Trik terahir," Atlaraka mengikat lentaranya dengan balon. Sumbunya menyala; terbang mengudara dalam pekatnya malam lentera itu bercahaya.


Tulisanya terlihat.


Sial, terlihat dengan sangat jelas. Dan ku yakin cowok disampingku melihatnya. Pupilnya yang pudar melebar.


Aku suka kau yang menyeringai, aku suka rambut putihmu yang kontras dan aku suka kau yang mengingatku.


Pyar!


Seketika balonya pecah. Hujan keraskan kelip berjatuhan di udara. Bersinar  bak bintang jatuh. Hilang.


###


Atlaraka menelan ludah kasar. Mustahil, pasti cuma halusinasi. Sosok Kanra mendadak menghilang setelahnya. Cowok itu berlari mengitari stand-stand penuh hiruk pikuk manusia. Kenapa ia begitu buta? Dan apa- apaan tadi itu? Gadis itu mempermainkannya, dia kalah.


Tapi kenapa?


Hanya ada satu cara untuk memaksakan bicara.


Satu cara untuk membongkar segalanya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2