
Libur kenaikan kelas. Omong kosong jika keluarga kami menyiapkan paket liburan dengan asyiknya, Jae dan kedua orang tuaku lebih bekerja keras lagi untuk mempersiapkan uang pendidikan yang semakin meningkat tajam. Joy mengikuti banyak pertandingan olahraga demi mengumpulkan sertifikat untuk beasiswa kuliah lanjutanya. Sedangkan Rue, walaupun cowok itu baru lulus SMA dengan beasiswa terjamin, pastinya dia sedang belajar mati-matian di kamar. Dan Urlich sudah pasti menghabiskan waktu libur dengan menjaga perpustakaan.
Tinggal aku, Ryn, Zoel dan Son yang sibuk menjaga toko. Adanya Son kecil yang masih berumur dua tahun membuat konsentrasi kami buyar seketika, pasalnya dia senang berlarian kesana kemari dan menabrak kaca aquarium.
" Aduh jangan nangis, dong!" Kugendong tubuh mungilnya dan mengenyahkan wadah-wadah kecil berisi udang segar. Sialan, jarinya terluka begitu ku lengah dia sedang bermain-main dengan kepiting kecil.
"Sudahlah, ajak dia keluar, urusan toko serahkan saja kepada kami," Zoel memang paling rentan terhadap suara berisik di saat kerja. "Lagi pula kau bilang suara tangisnya mirip dengan rasa tiramisu kan? Sana, nikmati saja suara tangisnya sendiri!"
"Oi oi, menyebalkan sekali, lihat Son! Si jelek Zoel sedang mengejek kakakmu yang cantik ini," kataku berapi-api.
"Diamlah! Sudah pergi sana!" Ck, dia marah.
###
Hampir senja, Ryn sibuk menutup toko. Dikarenakan suatu urusan yang harus kami selesaikan secepatnya, orang tua kami pesan untuk menutup toko lebih awal.
"Beristirahatlah sebelum melakukan perjalanan jauh," begitu pesan ibu melalui telepon.
Ya, begitulah kami dengan sepuluh anggota keluarga, rasanya hampa begitu hanya ditinggal berlima di rumah.
"Mau makan malam apa?" Ryn bersiap dengan celemek kotornya.
"Hff, sesekali delivery mie pangsit, dong! Ibu tidak akan tahu kan," saran Zoel dengan wajah memelas.
"Parah, kau kira biayanya murah?" Kakak keduaku menjitaknya keras, " pikirkan kondisi ekonomi kita Zoel, sebentar lagi kau dan Kanra bakal lulus dan kuliah!"
"Sudahlah, bikin mie rebus sendiri saja, rasanya tidak jauh berbeda kan," liriku pada Zoel. Jika sudah seperti ini biasanya cowok itu akan sulit berkutik. Ya, aku tahu.. di keluarga ini tak ada yang melebihi kekeras kepalaanku.
"Terserah," dia beranjak menggulung lengan baju dan mencuci tangan di wastafel. Kemampuan memasak Zoel terbilang baik, walau hampir semua saudaraku mahir memasak, tapi cuma Jae dan Zoel-lah yang memiliki kemampuan khusus di bidang ini.
Son berdecak- decak begitu tangan lihai Zoel mencabut duri duri ikan dengan bermodalkan pinset kecil, memotong dan mencincangnya hingga halus. Terjadi begitu cepat dan sempurna.
"Airnya sudah mendidih, masukkan mie-nya!" Di saat-saat seperti ini, akulah yang harus turun tangan. Menggendong Son dan mengaduk-aduk mie hingga lunak.
"Kala.. Kala..., " untunglah Son terlahir dengan begitu imut sampai kau indahkan tangan kecilnya yang tak mau diam. " Sebentar son, tolong jangan rewel, sebentar lagi makan malam siap! Son.. Son.. Ah, diamlah," seperti kucing kecil yang menyebalka,n dia cuma tertawa dengan lepasnya.
"Lemparkan tomat!" Ryn dengan asyiknya memotong sayur tanpa menoleh. "Kanra! Ku bilang lempar-"
Pluk! Tomat segar mendarat sempurna mengenai pipinya. "Kau bilang lemparkan tomat kan? Salahmu sendiri yang tidak menangkapnya dengan benar!"
"Parah!" Dia mencipratkan air wastafel mengenai wajah. " Kau pikir kakakmu ini akan diam saja, huh? Kuberi kepiting extra pedas di mangkukmu nanti!"
"Jangan!" Aku berseru panik. Si Ryn itu memang kurang ajar!
####
" Rutenya bagaimana?" Ryn sibuk menelepon dan meninggalkan mi-nya yang masih mengepul panas. Sejak Kae memutuskan kerja lembur di restoran ternama, cowok kekanakan itu yang selalu diandalkan di rumah. Ya, walaupun dia menyebalkan tapi Ryn cukup bisa diandalkan, dari dulu sifat usilnya selalu kumat dan membuatnya sering bermasalah di sekolah. Memasukkan permen karet sisa ke dalam tas temannyalah, mengunci teman dalam toilet, sampai menggunting pendek kepangan rambut teman sekelas.
Tapi percaya tidak, fans Ryn terdiri dari orang-orang yang pernah jahilnya habis-habisan! Apa-apaan itu.. memangnya dijahili cowok itu bikin candu? Tapi perlahan-lahan aku paham, walaupun jahil Ryn tak suka menindas yang lemah. Pendekatan cowok itu bahkan terbilang unik-menjahili calon teman sampai orang itu kesal padanya.
__ADS_1
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tuh kan, tangannya yang tak bisa diam sedang menarik-narik rambutku liar. "Takjub dengan ketampanan kakakmu yang satu ini?"
"Dih, ogah!" Syukurlah dia bukan Atlaraka yang bisa membaca pikiran seenaknya.
"Ayo cepat makan! Bisnya akan tiba setengah jam lagi, lho!" Protes Zoel gusar.
Aku mendengus sembari menyebabkan bubur wortel pada mulut mungil Son. Dia sedikit rew begitu yang menyuapi bukan ibu atau Jae. "Sebentar lagi selesai, kok,"
"Zoel, setelah ini kau bantu angkat koper ya!" Ryn beranjak dengan cengiran lebar, " pokoknya kau harus cepat pergi, deh,"
Nah, ada apa lagi ini? Begitu suapan terakhir selesai, aku bangkit. Berat. Sial, ada yang tak beres... tahu-tahu rambutku terikat pada celah sandaran kursi. "RYN!!!"
####
Pesanan spesial seseorang, demi hal itu kami yang masih belia ini berusaha mati-matian membeli bahan mentah di kota sebelah. Pemandangan yang terasa membosankan terlintas. Zoel terlelap, cowok itu kelelahan usai bekerja keras seharian. Dia memanglah sosok yang rajin dan ambisius dan urusan bisnis.
Omong-omong soal dia.. bisa dibilang jauh berlawanan denganku. Kami kembar tak identik. Jika dia pekerja keras aku malah bersikap sebaliknya, teman-teman selalu tak percaya bahwa kami bersaudara.. Yeah kembaran pula.
Tapi gara-gara dia, aku mulai dekati kawan-kawan perempuanku. Teman sekelas, adik kelas, dan kakak kelas yang bersikap sok baik memperalatku untuk mendapatkan Zoel.
Awalnya menjadi seorang pengantar surat cinta, kemudian memaksa Zoel agar bersedia berkenalan dengan mereka. Dia yang populer dan aku yang terkubur. Terbalik.
"Zoel itu memang selalu dingin kepada siapapun ya, sorot matanya tajam.. tapi aku suka!"
Sial, kenapa dulu aku begitu bodoh, tak menyadari bahwa keramahtamahan ini hanyalah kepalsuan belaka? Tapi, untungnya Zoel sadar ada yang berbeda denganku.
"Otakmu rusak ya? Kau bukan tukang pos gratisan!" Menyakitkan, tapi itu mulai menyadarkanku. "Walaupun kau bego, tapi jangan mau diperlakukan begini, dong!"
Makanya aku sangat bersyukur begitu diterima di SMA Edelwis. Dengan begitu aku tak perlu lagi menyulitkannya, membuatnya bersusah payah dekat dengan para penjilat ulung demi seorang aku. Tak perlu lagi...
Aku menghela nafas. Mengalihkan pandanganku dari wajahnya yang tenangnya. Maafkan aku ya...
" Kau belum tidur, Kanra?" Ryn berbisik perlahan, cowok itu sedari tadi berdiri demi menenangkan Son yang terus menangis. " Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti,"
Benar, aku selalu merepotkan mereka semua.
####
Bau amis laut menyeruak. Pukul delapan malam, bus berhenti dan menyisihkan panorama khas laut yang memukau. Lampu-lampu yang berpijar dan ramainya pelelangan bahan mentah dan hasil tangkapan laut menyasaki jalanan. Angkasa yang menghitam terasa cocok dengan indahnya lampion lampion kecil dengan pita warna-warni yang berkibar mengudara.
" Lebih ramai dari pada yang kuduga," tahu-tahu tangan kiri Ryn merangkul punggungku yang notabenenya lebih pendek darinya.
Terkadang ada kalanya sifat protektif Ryn jadi terasa menyebalkan. Bayangkan dengan gaya menggendongnya yang terkesan amatiran, cowok itu berusaha menunjukkan sikap 'kebapakan-nya' dengan menarik menarik kerah baju kami. Sumpah, ini memalukan!
"Aku bisa jalan sendiri sendiri, lho," sindirku dengan nada menyerang. "Kau bukan single parent dengan tiga anak yang masih mini!"
"Ah, Kanra, jalannya ramai lho, nanti kalau kalian terpisah bagaimana?" Cengkraman itu kian mengerat mengerat, menyeret kami menelusuri hiruk pikuk keramaian.
Dengan langkah tak beraturan, berusaha ku sejajarkan lajuku dengan Zoel. Cowok itu terlalu lelah untuk membantah. Dia berulang kali menguap dan mengerjap menahan kantuk.
__ADS_1
"Ryn, bagi saja tugasmu," pinta Zoel sembari membenahi tudung hoodie favoritnya. "Ayo kita berpencar dan pulang secepatnya,"
"Tapi-"
"Benar, si Rue juga pasti akan kelabakan menjaga rumah jika kita tinggal terlalu lama!" Kupotong ucapannya cepat. Bagus Zoel, idemu cukup cemerlang untuk terlepas dari penyiksaan kakak lmu yang satu ini!
"Baiklah, carikan carikan lobster ya, udang jumbo dan juga tiram laut .Pokoknya jam sebelas nanti, mau tidak mau aku akan menunggu kalian di dekat gerbang. Pergilah kesana walaupun barangnya masih belum ketemu!"
"Sudahlah, percayakan pada kami. Aku bakal menjaga Kanra baik-baik kok," Zoel tak sabaran. "Dah ya,"
Lagi lagi sih kembaran sok akrab ini selalu seenaknya menarik menarik tanganku dan menerobos kerumunan. Kecuali Jae, saudara-saudaraku memiliki kemiripan dalam gaya pemaksaan mereka. Mulai dari cara menggenggam bak raket badminton yang licin, menyeret bak mengeret anak anjing nakal yang terus menggonggong, dan menarik dengan ciri khas preman atau rentenir utang. Sumpah dengan begitu tulang tubuhmu bakal remuk seketika!
"Memang kau tahu tempat pelelangannya?" Aku setengah berbisik.
Cowok itu menghela nafas dan menggeleng, "tadi itu cuma akal-akalanku saja supaya si Ryn tidak menarik-narik kerahku dan menjadi bahan sorotan."
" Oh," responsku pendek. Angin laut yang berhembus dan suara bising membuat indera pengecapan kacau balau dengan suara rasa tawar Zoel tak cukup kuat untuk mengenyahkan rasa mual yang memenuhi rongga mulut. Sembari membenahi letak kunciran rambut dan memposisikannya agar sedikit lebih tinggi, atur nafas sebisa mungkin.
"Kenapa?" Sial, sudah lama hidup bersama-sama masih saja kurang peka! Kembaran macam apa dia ini?
"Pahit.. amis.. dan memulkan!" Aku menelan ludah kasar. "Suara berisik ini menjijikan!"
Cowok itu sedikit tertegun. "Oi oi, sabarlah sedikit, belajarlah untuk bersikap seelegan mungkin, kalau begini terus kau bakal menyulitkan pacarmu, lho!"
"Masa bodoh, ah," aku membuang muka tak peduli.
"Kanra," Zoel menahan langkahku yang berniat mendahuluinya jauh. Menyejajarkan langkah cepat. "Jangan jauh-jauh begitu dong, kalau kau terlalu jauh maka suara nyanyianku tidak terdengar kan?"
###
Lumayan. Walau suara nyanyian Zoel mirip dengan bisik-bisik tak jelas, setidaknya ini terasa lebih baik. Ku tatap punggung cowok itu lamat. Rasa gengsinya yang terlalu tinggi terkadang membuat perasaannya tertutupi. Perasaan bahwa ia ingin diperhatikan ayah dan ibu melebihi saudara-saudara yang lain.
Mau tak mau aku yang selalu berada di sampingnya-walaupun tak akur pastinya selalu melihat usaha-usaha yang dilakukan Zoel demi menarik perhatian. Belajar mati-matian di saat ulangan-lah, memaksakan diri mengikuti band sekolah, dan menawarkan diri untuk mengembangkan bisnis keluarga kami.
Perhatian. Mungkin bagiku itu merupakan sebuah permintaan kecil, namun lain bagi Zoel. Cowok itu hanya populer di sekolah tapi tidak terlalu menonjol jika dibandingkan prestasi kakak-kakakku yang lain.
Dia bukan tipe cowok yang ekspresif, terlalu kaku, dan pendiam. Wajar jika kata-katanya kasar dan cenderung menindas.
"Bagus," komentarku membuat ekor matanya melirik seolah-olah meremehkan arti perkataanku. " Kapan-kapan kuundang untuk manggung di sekolah deh,"
Selalu melihatnya.. sosok yang dilahirkan bersamaan denganku, tumbuh dan berkembang beriringan menapaki tempat yang sama bersam. Dan.. selalu disisiku.
"Pasti bakal banyak cewek-cewek kaya yang mengirimimu hadiah, SMA edelwis kan sekolah elit!"
Zoel tertawa renyah, " lagi-lagi kau tidak punya teman ya, sampai ingin memperalatku,"
"Bukan, bodoh! Aku kan cuma-Argh!"
"Aku mengerti kok," dia menghela napas, membuang pandangan dan menarikku agar terus melangkah. "Aku baik-baik saja, suatu hari nanti ayah dan ibu pasti bakal bangga melihat ke arahku,"
__ADS_1
###
Author Note: Lho, gak ada Atlaraka? Ada kok di chapter selanjutnya..