
"Naik," pinta cowok itu dengan dinginnya. Di usianya yang ke dua puluh tahun, Ryn malah selalu menjadi sosok kakak yang jahil dan terlihat kekanakan. Hampir setiap hari seperti itu... kalau saja hari ini tak pernah ada.
Rambutku tersibak begitu Ryn mulai mengayuh sepeda dengan kecepatan tak biasa cepatnya. Sepeda merah itu berkelok menuruni terjalnya bebatuan dan pohon-pohon tinggi.
"Pegangan,nanti jatuh," bisiknya dengan oktaf menurun. Pandangannya masih tetap disana, tanpa berniat menoleh barang sedetikpun. "Jadi dia... cowok yang mengalahkanmu dalam pertandingan catur?"
Aku menghela nafas, "Kenapa? Ada yang salah?"
"Kalian resmi pacaran?"
"Apaan,sih. Sudah kubilang kalau dia itu absurd! Mana mungkinlah, lagian aku aku baru mulai berteman dengannya," tanggap cepat. "Kau cuma salah paham,"
"Hmm, tunggu saja, bakal aku laporkan alasanmu sampai tak pulang ke rumah kemarin pada ibu,"
Ah, itu dia masalah terfatal yang nyaris kulupakan!
"Joy dan Rue sampai masuk angin begitu mencarimu sampai larut malam, apalagi kakak kesayangan itu, Jae belum kembali juga,"
Sial,sebegitu merepotkannya aku! Lenganku mencengkram ujung rok erat-erat.
"Tapi nyatanya kau sedang asyik bersama seorang cowok aneh! Dasar adik tidak tahu diri!" Ryn mengayuh pedal dengan emosi.
Grusrak! Kelabakan menangani jalanan terjal, sepeda oleng menjatuhkan kami secara tidak terhormat.
"Ryn," aku menolehkan kepala dengan perasaan kalut.
"Dari kecil selalu merepotkan! Cari masalah!" Cowok itu melontarkan raut emosi. "Cewek ingusan!"
"Maaf," mataku memanas. Ryn membuang muka, merasakan kemarahan yang meletup, ku dekap tubuh cowok itu erat. Kakakku Ryn yang entah selera humornya mendadak hilang.
"Tak habis pikir, apalagi yang kau inginkan? Kurang perhatian kah? Sampai kau mencari cowok lain?" Ryn mengumpat tanpa membalas pelukan. Dekapku mengerat, terisak di atas dada bidangnya.
"Maaf. Maafkan aku!"
"Sudahlah, ayo," cowok itu bangkit mengelus anak rambutku dan menarik sebagian rambut yang terkuncir. "Hei, ekor kuda jelek! Ayo naik!"
"Ish, jangan tarik rambutku, sakit tahu!"
"Makanya buruan!" Dia tertawa dengan lepasnya. "Kemarikan tasmu, ribet kalau tak taruh di depan,"
"Nih," kusodorkan tasku dengan asalnya.
"Jangan nangis begitu,dong. Nanti Jae pasti bakal mengajarku," cowok itu menghapus sisa air mataku cepat.
"Biarin,supaya kau tahu rasa!"
"Sial, aku punya adik yang jahat!" Ryn mulai mengayuh sepeda, "tapi Kanra, seperti apapun dirimu di mataku kau akan selalu menjadi adik kecil. Mungkin selamanya aku akan menganggap begitu,"
"Terserah, deh," aku mengerling diiringi tawa.
####
Aroma pantai berbau amis menyeruak. Permukaannya memantulkan sinar sewarna kristal jernih. Sunrise baru saja dimulai, namun Rue sudah terlebih dahulu memboncengku dengan sepeda motor semenjak pagi buta. Wajar. Rue merupakan cowok dengan predikat siswa teladan yang pantang telat walau aslinya Maniak dengan hal-hal berbau metafisika.
Hff.. Entah mengapa aku selalu takut begitu tahu yang mengantarku ke kios adalah kakak keempatku ini, bukan main kemampuan mengemudinya cukup ekstrim cepat.
"Tahu tidak? Di daerah sini terdapat bekas peninggalan UFO, lho!" Cicitnya serius. "Pokoknya hati-hati, jangan sampai kau diculik terus hilang ingatan,"
Malau sudah begini aku cuma mengangguk-angguk mengiyaka.
Diantara kakakku yang lain, hanya yang memiliki tampang bak model. Cowok itu banyak dikejar cewek walaupun penolakannya dingin.
"Aku tak mau membuang-buang waktu bersama cewek menjengkelkan," respon tajam selalu membuat cewek-cewek menangis begitu keluar dari halaman rumah. Aku tak bohong, antara keluargaku yang lain cuma dia yang juara dalam melontarkan ucapan pedas melebihiku.
"Kanra," dia melirik melalui kaca spion. "Yang kemarin itu...,"
"Aku tidak pacaran,kok," sahutku cepat. "Sumpah!"
"Bukan itu yang kumaksud," Rue menyunggingkan seulas senyum tipis, "cowok itu bukan manusia serigalakan? atau alien mungkin?
Mulai lagi... otak fantasi bekerja.
"Tapi yang pasti jangan pernah coba-coba berpacaran dengannya ya," aku menghela nafas lagi lagi soal itu. "Cowok itu pasti takkan ku maafkan,"
Aku diam membisu menerka-nerka keseluruhan ekspresi yang tertutupi helm. "Marah ya?"
"Tidak juga, sih. Aku cuma kesal saja. dia membuat adik cewekku tidak pulang semalaman,"
Dasar...
"Lebih baik kau bersungguh-sungguh belajar, urusan cowok kalau kau mau setelah lulus pasti bakal ku carikan, deh,"
Hff.. cowok seperti apa yang bakal carikan buatku? Walau tampan dan pekerja paruh waktu sebagai cover boy, ujung-ujungnya dia pasti bakal memilihkan cowok culun yang terkenal pintar. Otak. Itulah yang paling utama. Sudah menjadi prinsip Rue.
"Tak usah, deh," tolak halus.
"Kenapa kau tolak, sih? Padahal kakakmu ini sedang berusaha berbaik hati membantu mencarikan-"
"Tidak mau! Kau pasti bakal milihkan ku pacar alien kan?"
"Ahaha, begitulah," tawa cowok itu halus.
Mungkin itulah yang ku,suka walau dalam rongga mulutku rasa suaranya menyerupai air bercampur bahan logam, yang tak senyaman suara saudaraku yang lain, tapi tak bisa dipungkiri suara yang paling enak didengar. Tapi jika dibandingkan dengan Atlaraka... ah, kenapa aku jadi memikirkannya, sih?
"Sudah sampai,nih," laju motornya terhenti. "Sini, ku copot dulu helmmu,"
Aku cuma mengangguk-angguk seperti yang dungu. Dari dulu aku selalu mengumpati helm Rue yang susah untuk dilepas. "Helm menjengkelkan banget, sih!"
"Ya ya, nanti bakal aku ganti, kok, lagian masih muat di kepalamu kan? Kecuali kalau kepalamu membesar, sih," dia terkikik begitu helmku terlepas, "tukang komen yang merepotkan!"
####
Toko hewan laut milik keluargaku memang cenderung sempit, namun arsitekturnya yang unik seringkali membuat orang jatuh cinta untuk melihat-lihat. Keseluruhannya terbuat dari kayu yang dipoles licin mengkilap, tampak begitu natural dengan hiasan flora berwarna warni dalam pot gantung dan hiasan kerang kerangan yang memberi sentuhan laut.
Aku beranjak mengintari akuarium yang digosok ke hingga mengkilap. Kepiting, udang, ikan besar dan kecil memberikan reaksi tersendiri untuk terus diamati. Belum lagi hiasan koral yang sengaja diletakan kedua orang tuaku.
"Sejak kapan kau datang?" Zoel memunculkan diri bersama sewadah ikan ikan merah kecil.
"Barusan. Rue yang memaksa, katanya kalau aku tetap tinggal di rumah aku bakal menjadi preparat manusia kucing,"
"Dasar aneh," komentar Zoel cuek, "ya sudah deh, bantu aku memindahkan ikan hias ya!
Didalam wadah biru itu ikan ikan berwarna warni tampak mengambang-tenggelam berebut tempat. "Lucu,"
"Bawakan satu buat pacarmu, gih,"
Aku kira kedatanganku ke sini mampu menghindarkanku dari topik sensitif itu. Aku dan Zoel, walaupun kami seumuran tapi dia selalu jauh lebih dewasa.
"Aku mendukungmu,soalnya.. Ya, selera cowokmu pasti tinggikan?" Zoel menaikkan alis, "lagian langka cowok yang tertarik denganmu,"
Ya ya, aku tahu cewek frontal sepertiku bukanlah cewek yang tepat untuk dijadikan pasangan idaman.
"Sebagai tambahan kau mirip cowok, tak ada femininnya sedikitpun, ya walaupun kadang manja,"tambahnya menyebalkan.
Cowok berambut kemerahan dengan kulit kecoklatan terbakar terik matahari itu melenggang, menuang isi baskom ke dalam akuarium.
"Kalau diumpamakan, kau mirip dengan ulat,"
__ADS_1
"Wow, itu lebih baik daripada kecebong! Ah, tunggu-tunggu! kau tidak marah seperti yang lain?"
"Buat apa? Aku mengerti perasaan labil itu,kau bertemu dengan seorang cowok yang memikatmu dan-"
"Berisik! Aku tak tertarik dengan dia!"
"Ya, tapi aku yang tertarik denganmu," ada yang tak beres dengan salivaku. Manis. Pandanganku membulat begitu mendapati sosok cowok berambut putih di balik kaca aquarium yang sama.
"Pagi, tuan putri?"
Ck, sial! Aku mendengus mendapati Zoel yang melontarkan cengiran kemenangan. "Pacarmu berkunjung, tuh,"
####
"Mau apa?!" Teriakku jengkel.
"Kunjungan ke rumah teman baru, apa salahnya?" Cowok itu menyeringai,"kau bilang kau bakal libur selama tiga hari, makanya aku-"
"Tunggu! Dari mana kau tahu aku disini?" Aku membuang nafas kasar.
"Melacakmu,"aku mengacak rambutku frustasi. Apa yang terjadi dengan cowok ini, sih?
"Di sini panas, ya?" Apa itu? Kode agar aku mempersilahkannya masuk dan menyuguhkan es jeruk dingin? Jangan harap!
"Aku tak pernah ke luar kawasan sekolah kalau sedang tidak ada misi,"
"Kau bercanda?" Tadinya aku kira aku bakal berhasil memojokkannya, namun melihat ekspresi Atlaraka yang datar, kuurung dengan segera.
"Ngomong-ngomong, sedang apa kau disini?"
Aku mengerlin. "Bisa kau lihat sendiri tempat ini? Aku sedang kerja, jadi tolong jangan ganggu aku lagi! Jangan dekat-dekat, jaga jarak dengan batas sekurang-kurangnya tiga langkah!"
"Kau takut saudaramu tahu soal aku?" dia menaikkan alis mengek. "Memangnya apa salahnya, sih?"
Cowok itu malah menenggelamkannya tangan dalam saku celana tanpa berniat membantu. Susah payah kutuang isi ember dengan hati-hati.
Langkah cowok itu terhenti dengan sepasang manik abu mengerjap mendapati ikan ikan yang berenang dalam akuarium. Bibirnya sedikit menganga kagum.
"Menakjubkan ya?" aku melipat tangan dengan angkuhnya.
"Baru kali ini aku melihat ikan yang berenang renang seperti ini," gumamnya bersemangat.
"Hahaha... Memangnya ikan merangkak?" Ku tanggapi cowok itu dengan nada meremehkan.
"Sumpah, aku baru melihat hewan itu sedekat ini!" Atlaraka memasang tampang bersungguh-sungguh.
"Kau,"kuucap lamat begitu tampang Atlaraka yang tak berubah,"Tak keluar seperti ini ya?"
Seulas senyuman halus terukir, menampilkan cekungan menawan pada pipi kanannya- bukan seringnya yang biasanya. "Makanya aku bersyukur begitu dipertemukan denganmu,"
#####
Ada raut yang baru ditampakan cowok itu setelah sekian lama kukenal, aku baru menyadari disaat Zoel mendadak berbaik hati meminjamkan kaos dan mengajaknya jalan-jalan mengelilingi jalanan pantai dengan sepeda. Atlaraka mendadak ceria. Ini memang terlihat kekanakan, tapi saat ini cewek predator manapun pasti bakal terpikat dengan wajahnya yang tampak menyenangkan seperti saat ini.
"Temani pacarmu, gih," Zoel menyikutku mengerling dengan penuh makna. "Tak salah lagi, dia cowok yang berlawanan dengan kembaran frontalku, Kanra,"
"Aku kan sudah bilang, dia bukan pacarku!" Aku mendecakkan lidah dengan jengkelnya.
"Ya ya, terlalu disayangkan jika Atlaraka disia-siakan bersama cewek sepertimu," cowok berambut kemerahan itu mulai mengayuh sepeda." Jangan lupa untuk pulang, Jae pasti bakal repot kalau kau mingat lagi,"
"Aku pasti pulang kok, hati-hati!"
####
Canggung. Entah mengapa aku merasa tak nyaman saat berjalan beriringan bersama Atlaraka. Sekarang aku paham, rambut keperakannya jauh lebih mencolok ketimbang diberi pewarna. Baru berjalan sebentar saja, cowok itu berhasil menjadi sorotan.
Atlaraka bak tertegun."Ku kira kau teman yang bisa menerima aku apa adanya tapi nyatanya-,"
"Sial! Maksudku rambut penuh uban itu memuakkan!" Desisku geram, "jangan berencana menjadi artis dadakan sini!"
Cowok itu tertawa halus, melumuri rambut secara acak dengan pewarna dalam botol kecil serupa gel. Merah tak alami. "Sudah kan?"
"Masih putih nih," buru-buruku acak rambutnya gemas. Kupikir dia bakal protes, tapi pada kenyataannya diamnya cowok itu bersama seulas senyum tipis menimbulkan reaksi tak biasa dalam diriku sendiri. Buru-buru kutarik tanganku, berhenti menjamah rambutnya yang terasa halus terawat walau kerajinan menggunakan pewarna.
Atlaraka membuka mulut, namun kembali mengatupkan nya ragu. "Eng di sini panas ya?"
"Teruslah mengeluh seperti itu dan kau bakal dihujani tumpukan es dari kutub utara,"kerlingku. "Ngomong-ngomong, kau tak pernah berjalan jalan kan? Biar ku tunjukkan sesuatu," kutarik tangannya kasar menggenggam pegangan raket milik Joy. Membawanya mengintari pesisir pantai yang memantulkan sinar mentari hingga keperakan berpendar.
"Jae yang menemukan tempat ini, dia membawaku ke tempat ini saat aku bersedih," tuturku dengan oktaf rendah. "Dia bilang aku boleh menunjukkan ini pada seseorang yang bisa kupercayai,"
Langkahku terhenti merasakan laju Atlaraka yang tak lagi seirama. "Kenapa? Ada yang salah?"
Cowok itu menggeleng, menjulurkan tangan demi mendekap erat tubuhku. Tepisan angin membuat rambut kemarahannya menjamah pipiku, membingkainya halus. "Senang bisa berteman denganmu,"
"Hei, kakak-kakakku bakal murka, lho," bisikku perlahan, menepis jantung yang berisik terasa memekakkan. "Tunggu disini, aku pasti bakal kembali,"
"Kanra," panggilan cowok itu membuatku berbalik dengan malasnya. Dia menjamah pipiku dan mengusapnya dengan jari, "pewarna rambutku menempel di pipimu tuh,"
Merah.
####
Ada yang tak beres dengan diriku, berulang kali ku tepis perasaan itu, arah fokusku selalu membayar seketik. Dia itu apa apaan sih, dengan polosnya memperlakukanku seenak hati!
"Nih" kusodorkan es krim dalam cone,"kalau belum pernah coba kan?"
Dia mengangguk menyesapinya dengan asyik. "Dingin," komentarnya pendek.
"Kau sudah berapa lama...tinggal didalam menara?" Terkadang seorang Atlaraka memiliki magnet tersendiri untuk menguak apa-apa soal dirinya.
"Tiga belas tahun." Datar. Seolah tak ingin mengungkit lebih dalam, cowok itu menjatuhkan pandangan padavkoral berwarna-warni yang mencuat di permukaan air.
"Apa yang terjadi pada dirimu?"
"Mengembangkan teknologi sepanjang hari sampai tubuh mati rasa," rasa manis yang menguar dalam rongga mulutku sedikit berubah. "Aku depresi sampai terkena sindrom marrie, beberapa bagian organ tubuhku berhenti bekerja sampai rasanya aku seperti manusia yang tengah menjemput kematiannya sendiri,"
Aku menelan ludah, menepis tanda tanya yang berkecamuk. Aku sudah keterlaluan, lontarkan serangkaian pertanyaan yang berhasil meraibkan wajah ceria Atlaraka.
"Maaf,"
####
"Jadi yang ini...," tatapan mengintimidasi dilontarkan Jae dan Ryn begitu mendapati sosok Atlaraka yang menunjukkan seringai lebar di ambang pintu.
"Lebih buruk daripada siluman kucing," Rue mendesah dengan raut yang jelas-jelas tak bersahabat. "Taringnya cuma sebelah, pasti bakal kesulitan untuk memangsa tikus kecil ya?"
"Kelihatannya anak berandal, lihat Jae! Rambutnya dicat merah norak!" sialan si Ryn memang paling jago memanas-manasi!
Tapi Jae dengan tenangnya menyodorkan tangan dan melontarkan senyum bersahabat, walau tak bisa dipungkiri bahwa Kejadian ini merupakan basa-basi belaka.
"Senyum miring tak simetris, tak membuat otot sekitar mata mengkerut... dengan kata lain kau cuma sedang tersenyum palsu ya kan?" Ah, jangan absurd di saat-saat genting seperti ini! "Itu penjelasan yang tertera dalam buku psikologi,"
Jae mengerjap sebentar, bersikap santai layaknya tak mendengar apa-apa."Hei, jangan terlalu manika, oke, apa-apa yang berlebihan itu tidak baik,"
"Bukan Maniak, tapi aku memang benar-benar seorang-" ahli kejiwaan. Kututup mulut cowok itu sesegera mungkin, bahaya kalau Jae sampai tahu. Atlaraka pasti bakal dihajar habis-habisan!
"Penggemar! Ya,penggemar berat psikologi!" Reaksiku menampilkan kernyit pada wajah Jae.
__ADS_1
"Kalau begitu, apakah kau tidak keberatan untuk makan malam bersama kami?"
walau terdengar ramah dan menyenangkan, tapi entah mengapa aku merasa tak yakin. Semoga si Atlaraka bakal keluar dengan selamat!
###
Sudah kuduga Jae dan Ryn berkelebat di dapur kecil dengan bak terbuka. Di saat-saat seperti ini, saudara-saudaraku yang lain tak keberatan untuk mengadakan pesta barbeque di pesisir pantai.
Aroma harum dengan kepiting panggang menguar begitu Rue dan Ulrich sibuk membolak-balikkan seafood yang ditusuk rapi. Simetris dan teratur. Sudah menjadi bagian dari diri Rue.
Dan aku pribadi dilarang duduk terlalu dekat dengan Atlaraka. Joy selalu sengaja mengajakku berceloteh; membiarkan cowok warna rambut merah itu membisu dipojokan.
"Pokoknya pertandingan gulat kemarin luar biasa!" Ya ya, tak jauh-jauh dari olahraga. Joy seorang atlet yang multitalenta dan cemerlang untuk mampu mengoleksi dua lemari penuh piala dan medali. Walau wajahnya bisa dikatain standar tapi dia keren.
"Hei Atlaraka kalau-"
"Kau harus mengikuti olimpiade catur, Kanra! Kujamin kau pasti bakal bertemu dengan cowok bertampang keren dan baik-baik!" Dia menyelaku dengan seenaknya, "ada sejuta cowok pemain catur yang bisa mengalahkanmu di dunia ini!"
Aku mendengus, "ya ya terserah deh,"
"Makan malam siap!"
Suara sumbang Jae membuat saudara-saudaraku yang lain melingkar- berkumpul. Walau tanpa kehadiran ibu dan ayah, namun makan malam ini terasa hangat dengan dentingan piring dan sendok.
Hm, udang goreng tepung, tiram rebus, kepiting asam manis, salad buah dan cumi saus tiram. Tidak ada yang aneh?
"A-ah, Kanra kau paling suka tumis sayur bukan? Nah kau makan ini saja ya," Aneh. Jae menuangkan nyaris separuh tumis sayur dalam piringku.
"Ada yang tak beres dengan masakanmu?" selidikku.
"Diamlah! Porsinya tidak cukup tahu, terlebih kamu bawa pacar!" Ryn menyendok udang goreng tepung. "Kalau kau mau makan seafood bilang saja pada Jae, dia pasti bakal membuatkannya lagi,"
Malas ah, aku tak berselera untuk berdebat lebih jauh lagi.Ku sendok tumis sayur dengan lahapnya.
"Nah, sebagai hadiah nih ku beri kepiting yang paling besar!" Ryn malah berbaik hati mengambilkan hidangan hingga memenuhi piring milik Atlaraka. "Ayo semuanya! Selamat makan!"
Aku meringis mendapati Atlaraka yang dengan datarnya menerima perlakuan aneh kakak-kakakku.
"Pss, dia Atlaraka Nusantara kan?" menjatuhkan tubuh diatas kursi sebelahku. "Kalau tidak salah, dia pernah muncul lima kali dalam koran tiga belas tahun yang lalu,"
Database. Walau usianya yang baru menginjak dua belas tahun, cowok berambut dan mata lrgam itu hampir menguasai separuh isi perpustakaan. "Dia anak terjenius yang menghilang,"
"Menghilang?" aku berbisik demi tak mengganggu kakak-kakakku yang berceloteh minta ampun.
"Tak ada yang tahu apapun setelah dia menghilang, tapi koran ternama sempat membahas faktor-faktor kepergiannya. Mereka bilang kalau dia diculik oleh tokoh terkemuka di kota,"
"Aduh, perutku sakit banget nih," Ryn menghambur meninggalkan meja makan.
"Sudah kuduga, ada yang tak beres ya?"
Ulrich melontarkan cengiran lebar, "ada yang keberatan dengan kejutan seafood super pedas ala Jae?"
###
Atlaraka baik-baik saja. Cowok itu bahkan menghabiskan makan malamnya dengan tenang, walau satu persatu kursi yang melingkari meja makan bundar itu menjadi kursi kosong yang ditinggalkan penghuninya demi merebut toilet.
Mungkin kari kadaluarsa membuatnya kebal.
"Saudara-saudaramu berniat membunuhku," tandasnya dingin.Cowok itu menengadah memainkan rambutnya hingga pewarnanya meluntur. "Sudah kubilang kan, bersosialisasi bersama orang lain itu memuakkan! Makanya aku sempat tidak tertarik lagi,"
Aku menggigit bibir tanpa respon pasti. "Kakak-kakakku ini walau br*ngs*k, tapi mereka sangat menyayangiku, makanya aku tak bisa berbuat apa-apa saat mereka mengambil sebuah tindakan bodoh untuk dilakukan,"
"Aku tahu," tanggapnya singkat.
"Ngomong-ngomong, mukamu merah banget lho, cat rambutmu meluber di muka atau.... Kau alergi?"
Atlaraka meringis, "kalau soal cat rambut yang meluber dimuka rasanya tidak mungkin, tapi kalau alergi-"
Bruk! Cowok itu kehilangan keseimbangan tubuh, tersungkur dengan tubuh merah. "Kayaknya aku memang alergi deh,"
####
"Keterlaluan!" aku nyaris memekik sekeras-kerasnya di hadapan Ryn. "Sial ,kalau dia mati bagaimana?"
"Aku tidak tahu bakal ada kejadian begini kok," tungkas cowok itu dengan cueknya. "Lagian Jae dan Rue sudah membawanya beristirahat di kamar atas,"
"Itu kamarku tahu!"desisiku geram. "Parah!"
"Sudahlah, kau bisa tidur di kamarku, oke?" cowok itu mengulurkan tangannya dan menarik-narik kunciran rambutku seenaknya. "Setelah membawa adik cewekku minggat, dia harus tahu rasanya dengan membiarkan kakak si cewek menculiknya seharian,"
###
Kutarik selimut hingga mencapai kepala, tenggelamkan diri. Tak bisa... aku mengalami insomnia berat. Kutarik knop pintu kamar dengan hati-hati, menelusuri tangga dengan perlahan demi tak menimbulkan deritan kasar di tengah malam.
Si Atlaraka itu apa kabarnya ya?
"Masih belum tidur?" Zoel dan Ulrich memunculkan diri di balik punggungku.
"Mau apa kalian?"
"Justru lebih mencurigakan lagi jika seorang cewek mengendap-endap menemui pacarnya sendirian," Zoel menusukku dengan kecaman. "Aku mau memastikan,"
"Atlaraka Nusantara bakal terkena radang kalau tidak segera ditangani dengan serius," Ulrich mengangkat kotak P3K tinggi-tinggi. "Aku sempat menelepon pada ibu untuk menanyakan cara penanganan pada orang yang alergi seafood,"
"Ayo!" Zoel menarik knop pintu perlahan, sosok Atlaraka yang tengah memias mengerang dengan wajah pucat.
Zoel dan Ulrich mendekati cowok itu dengan langkah memburu. "Obatnya!"
"Periksa suhu tubuhnya!" Zoel tampak kelabakan menangani obat-obatan yang menyembul dari kotak P3K.
"Aku?"
"Ya iyalah! Memangnta siapa lagi?"
Buru-buru kutaruh punggung tanganku di atas dahinya. Panas. butiran-butiran dingin mengalir deras.
"Jangan sentuh aku!" dia menghindar.
"Ada yang salah?" Urlich beranjak menyodorkan segelas air dan obat anti alergi. "Buruan minum dan setelah ini beristirahatlah,"
#####
"Dia hilang?!" Mendapati kamar kosong dengan jendela terbuka lebar, seluruh anggota keluargaku tertegun. Melompat dari jendela atau melarikan diri dengan sprei?
Ah, ya helikopter... mendadak benakku menunjuk serangkaian ingatan random. "Dia bakal baik-baik saja kok,"
"Benarkah? Hff, syukurlah,"
Aku menghela nafas, menanggalkan kamar yang penuh sesak .
"Kanra?" Zoel disana.
"Ya? Kurasa aku semakin yakin kalau kalian merupakan pasangan terabsurd yang pernah ada," cowok itu cekikikan.
"Aku dan dia tidak berpacaran!"
"Atlaraka menyukaimu, aku yakin itu!" Tuturnya menyebalkan, "dia merupakan pacar yang luar biasa!"
__ADS_1
######