ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
11# MYTOMANIA


__ADS_3

Sial, kejadian macam apa ini? Aku mulai panik begitu sadar bahwa aku tengah terpencar diantara kerumunan orang banyak.


Bau amis yang menusuk berpadu dengan uap pembakaran yang merambah pasukan udara. Dengan tubuh yang nyaris terjepit keramaian rasa pening menjalar membuyarkan konsentrasi. Ah sinestesia sialan ini...


"Ikan buntal! Ikan buntal!"


"Timun laut! Teripang, semua ada!"


Argh, rasanya tak bersahabat! Aku mempercepat langkah, di saat-saat seperti ini pandanganku terasa kabur oleh asap. Masa bodoh dengan gerbangnya, yang terpenting adalah caraku untuk melarikan diri dari tempat ini.


Ck, di saat-saat seperti ini kaki ku malah terinjak, gila melawan arus dengan kondisi 0,5 persen kemungkinan. Persis seperti orang bosan hidup yang rela didorong arus.. Seketika sepasang kakiku terasa tak lagi berpijak.


"Butuh bantuan, tuan putri? Suara ini! Tangan pucat muncul secara tiba-tiba dan menarik kuat. Sosoknya beranjak lihai dan menerobos kerumunan tanpa berbalik . "Satu hal yang tak pernah berubah darimu Kanra, kau selalu gagal dalam memanfaatkan kesempatan!"


###


Tak habis pikir, mengapa takdir selalu mempertemukan kami, tak peduli dimana pun kami berada dan rasanya memang sudah nasibku untuk terus berada di sisinya sebagai seorang teman.


Atlaraka. Cowok misterius itu terus menerus bergeming menatap langit, kusadari sesuatu yang lain pada dirinya. Ya, walau mungkin hanya sekilas.. bola mata bulat leci itu sangat sulit untuk dibongkar.


"Nih," tak peduli dia sedang apa tapi dari tadi perutku sedang tak bisa diajak kompromi, " teh tarik, kau belum pernah minum kan?"


"Hm," dia mengangguk dan tersenyum tipis. "Kau sedang apa di sini?"


"A-ah, berbelanja bahan mentah, dan kau sendiri?" Sialan, ada apa dengannya? Kenapa hari ini dia jauh lebih aneh daripada sebelumnya.


Atlaraka membuka mulut, tanpa sepatah katapun yang muncul buru-buru di urangnya cepat. Iris mata abunya sedari tadi disana; menatap langit kelam tanpa berkedip. "Hei, Kanra.. aku ini aneh ya?"


"Hh, kau baru sadar ya? Kau ini cowok terabsurd yang pernah kutemui!" Cicitku dengan semangat. " Ayo katakan, sebenarnya ada urusan apa kau kemari? Tunggu.. Kau tidak sedang menguntitku kan?"


Di luar dugaan cowok itu tertawa kecil, "untuk apa? Aku bahkan tak tahu kau sedang disini.. dan untuk apa aku harus membuang hari berhargaku demi seorang cewek kasar sepertimu,"


Sialn, cowok yang satu ini memang tak layak untuk dikasihani sedikitpun!


"Melihat kembang api," bisiknya begitu aku nyaris beranjak meninggalkan Atlaraka sendirian. "Setiap perayaan festival laut, aku pasti datang kemari untuk menyaksikannya, bahkan deni hal ini aku sampai harus menunda misi,"


Melihat kembang api? Apa apaan, sih? Memangnya apa yang istimewa dengan kembang api pada perayaan festival laut?


" Hai, apakah kau.. bersedia menceritakan alasannya padaku?" Ragu-ragu tapi kuharap cowok itu mengerti rasa penasaran yang memenuhi benakku saat ini.


Hening. Atlaraka meneguk minuman kalengnya cepat. Apa aku salah?


"Sebenarnya dari dulu dulu aku selalu takut.., takut begitu bertemu dengan orang asing, takut terpapar blitz kamera, dan terlalu takut untuk bersosialisasi," Atlaraka menghela napas panjang. "Dan sekarang kau memintaku untuk mengungkit masa lalu? Rasanya aku kembali takut,"


"Takut.. padaku?" Aku menunjuk diriku sendiri . "Kenapa? Karena aku galak ? Ah, atau karena kakakku mengacammu?"


"Hff, ya enggak lah, mana mungkin aku mau memikirkan masalah yang sepele seperti itu," tuturnya dengan nada menjengkelkan. " Aku cuma takut, setelah ini aku mungkin bakal membuat sebuah keputusan yang sulit,"


Keputusan? Ah, apa yang ada di dalam kepalanya, sih? Sendari tadi omongannya terasa berputar-putar tanpa penyelesaian yang jelas dan lugas.


"Hei Atlaraka, berbagilah sedikit denganku ya?" pintaku.


"Apaan? Minumanku? Kau kan punya sendiri,"


"Ceritamu bodoh! Lagi pula untuk apa aku meminta minuman bekas yang tinggal sedikit,"


" Lain kali saja, oke? Kembang apinya sudah mau mulai, dan.. ngomong-ngomong, kau tidak kembali kepada saudara-saudaramu itu?"


Argh, ia mulai mengalihkan pembicaraan! Tapi memang benar wajah belagunya yang datar itu.. dan seringainya yang walaupun menyebalkan hilang begitu saja.. pastinya..


"Takut. Kau sedang ketakutan kan?" Tanpa sadar kugenggam jemarinya erat. Hangat. " Kenapa kau tidak mau berbagi sedikit pun bebanmu denganku?"


Seketika kesunyian terasa mencekam. Angin laut berdesir mempengaruhi rongga mulut. Menyibakan ujung pakaian dan helaian rambut hingga menari-nari di udara. Rambut keperakan itu terkibas bagai helaian bulu bulu merpati putih.


"Empat belas tahun yang lalu, saat umurku menginjak tujuh.. tahun rasanya detik-detik itu terasa mencekam," Atlaraka memulai dengan ragu. "Aku tak pernah bersekolah, orang tuaku bilang level pemahamanku berbeda. Menjadi seorang diatas rata-rata bagi orang yang tak mengerti adalah sesuatu yang perlu dihindari,"


Orang di atas rata-rata.. Ah, si Atlaraka memang jenius, sih..


"Aku tak pernah memiliki teman dan benci perbuatan yang mencolok. Menyendiri dan selalu takut akan dunia luar dengan kemampuanku ini tanpa sadar aku justru menarik oknum-oknum yang ingin memperalat ku."


Kekosongan itu teelihat. Sesuatu yang tak pernah ditunjukkan cowok itu sebelumnya.


"Pada hari ulang tahunku yang ke tujuh, bertepatan dengan perayaan festival laut. Aku sangat senang.. aku diberitahukan bahwa saat ini namaku terpilih untuk mewakili daerahku dalam bidang teknologi, kedua orang tuaku berjanji untuk membantuku berbaur dan berteman bersama orang lain. Dengan kata lain, dengan begitu aku tidak lagi sendirian,"


Kuharap ini cuma ilusi, lapisan bening yang melapisi sepasang bola matanya. Sorot mata itu.. entah mengapa terasa begitu penuh dengan kebencian.


"Hei, Kanra, aku pikir hari ini aku bakal bahagia..," dia terguncang hebat. "Saat ku hitung aba-aba kembang api, entah mengapa ada apa yang ku miliki hilang satu persatu." Seraknya.


Atlaraka menangis? Sumpah, baru ke dengar suara separau ini


. Cowok itu bercerita dengan nada terisak. "A-apa kejeniusan ini merupakan kutukan? Kutukan yang membuatku kesulitan berteman? Kutukan yang membuatku kehilangan kedua orang tuaku dan kehidupanku yang sesungguhnya?"


Sial, aku tak bisa berbuat apa-apa.. cuma sepasang mata yang perih dan kian memanas. "Hari itu aku diculik dan kedua orang tuaku dibunuh di depan mataku." Air mata yang meluncur jatuh merembes mengenai pakaiannya. " Kenapa kembang api yang kutunggu pada malam itu malah menjadi merah dan menakutkan? Membawaku menuju hari gelap di dalam menara..,"


"Tidak ada jalan keluar, mereka hanya memaksaku untuk melakukan berbagai hal yang tak mengerti, menyekapku, dan memukulku sampai pekerjaanku tuntas. Kau mengerti keadaanku saat itu, Kanra? Aku.. cuma bocah yang diperalat tanpa henti! Jemari-jemari yang rusak terlindas mesin, kulit melepuh tersiram air keras.. mataku yang hampir buta.. dalam keadaan seperti itu pun mereka memaksaku merangkak dan terus menyelesaikan pekerjaan."


###


Malam perayaan festival laut.


Sang Walikota menyeringai lebar mendapati bocah yang terikat rantai. Atlaraka Nusantara, bocah terjenius itu kini berada di hadapannya dengan sorot mata penuh ketakutan dan air mata.


"Tampilannya tak jauh berbeda dari bocah ingusan biasanya," ditariknya rantai-eantai itu kasar. Paparazzi memanggil-manggil namanya bersama kilatan blitz yang menyilaukan.

__ADS_1


Bias rembulan yang keperakan dan angin dingin yang menembus kulitnya secara langsung terasa menusuk. Kaos tipis hitam yang tak mampu meminimalisir suhu. Anak dengan rambut dan mata hitam pekat itu meronta kuat; mengerang berkali-kali begitu lecutan cambuk merobek kulit.


"Anak ini memiliki potensi yang luar biasa! Saya yakin, selanjutnya daerah ini akan aman dan terbebas dari ancaman bahaya! Bocah ini akan menjadi pembunuh para pendosa!"


Dirinya yang berumur tujuh tahun itu? Diam-diam Atlaraka berdecak menghina. Kepalanya yang tak bisa menengadah melontarkan tatapan meremehkan pada para penjilat di hadapannya. Tak bisa.. ia cukup kapok dengan sengatan listrik yang membuatnya tak bisa berkutik. Biarlah begini, setidaknya ia mendengar basa-basi memuakkan itu.


"Kita hanya perlu seorang pendosa untuk menghancurkan para pendosa lainnya!" Sang walikota mengangkat tangannya yang lemah.


Anak kecil yang dipaksa untuk membunu. Mengoyak seisi perut jenazah dengan air mata berlinang di ujung pipi. Bagaimana mungkin? Anak mana yang tega membongkar organik orang tuanya sendiri? Dari sudut logika anak kecil pun tahu.


"Lakukan!" Kerah bajunya ditarik kuat, sorot mata bengis itu membuatnya bergetar takut. Air mata yang jatuh itu tak berarti... walaupun sampai menangis darahpun tak akan berguna... "Bodoh! Dasar sialan!"


Kepalanya dihantamkan bertubi-tubi mengundang rasa perih yang menjalar. "Lakukan!"


"Ibu... ibu.., hiks," cuma mayat yang tak utuh. Rambut sehitam eboni yang terpotong berantakan, luka tusuk di perut, dan bola mata yang dibongkar sembarang. Bocah itu hanya mampu memeluk tubuh kaku dan bersimbah darah. " Ibu.. bangun! Mana teman untuk, Raka? Kenapa Ibu diam saja? Hiks, mana teman untuk Raka, bu? Hiks, ibu pembohong!"


Digenggamnya tangan pucat itu erat, "i-ibu sakit ya? Hiks.. Hiks.. Raka tidur di sini ya, di samping ibu.. Ibu, boleh ya Raka tidur sambil memeluk Ibu?"


Sepasang mata yang membengkak. "Di sini dingin... Ibu juga dingin, tapi tenang saja Raka tak sedingin Ibu, kok.. makanya Raka peluk ibu ya, agar Ibu tidak kedinginan,"


Dan kesedihan yang tak berarti.


###


"Alat apa ini? Kau pikir dengan teknologi serendah ini kau bisa membunuh?!" Lagi-lagi pukulan itu, Atlaraka ampai merasa muak dengan rasa sakit yang berkepanjangan. "Perbaiki lagi!"


Tempat gelap, berundak penuh dengan tangga melingkar dan sunyi... dalam menara yang ditinggali seorang diri itu tangan-tangan mungilnya mulai mencoba untuk terus bekerja. Benda-benda yang menghantarkan reaksi dingin atau atau terkadang malah panas membakar. Tanpa makanan yang layak atau bahkan tak makan sama sekali. Matanya nyaris tak pernah terpejam bekerja sendirian dalam ruang sunyi sambil menangis tanpa henti.


"Sakit kau bilang? Tidak ada waktu untuk berlibur!" Tanpa tasa ampun dan belas kasihan tubuh mungil rapuh yang dibentur keras dan injakan kuat adalah bukti bahwa rasa sakit mesti raib dari dalam dirinya.


Tubuh pucat dan kurus itu merangkak melubangi menara dan menaruh pada besar berkarat untuk menampung air. Membuat perangkap untuk menangkap hewan dari jarak jauh. Tak bisa mengeluarkan diri dari menara, hanya dengan melempar perangkat melalui jendela dan menariknya dengan tali, cara itulah yang yang bisa dilakukannya.


Tahun berikutnya tragedi terjadi. Demi menyelesaikan projek berat, anak delapan tahun itu dipaksa untuk membuat alat pembunuh sulit, entah berapa kali tangan terjepit, jemarinya yang hilang satu persatu; terpotong benda itu.


"Tidak apa-apa, Raka," tanpa air mata yang jatuh, Atlaraka merangkak menyusun kerangka mekanik dengan bantuan mulut. Perih. Tapi tak sepedih hari itu.


"Pelajari itu!" Buku-buku tebal dijatuhkan kasar hingga membentur lantai, "pelajari bagian anatomi, dan mulailah membedah!"


Rasa trauma. Namun tak ada alasan untuk menghentikan semua it. Walau mayat di hadapan yang merupakan jasad seorang pencuri atau pelaku kejahatan, tapi merusak ketenanganya merupakan sesuatu yang tak ingin dilakukan bukan?


"Sakit ya? Saat ku keluarkan usus-ususmu ini... Apakah kau merasa sakit?" Bisikan lugu yang entah berguna atau tidak. Maafkan aku ya? Aku ini seorang pembunuh, lho,"


"Dan karena aku seorang pembunuh itu artinya aku sedang menjadi orang jahat. Ibu bilang anak jahat tidak boleh memiliki teman... Padahal aku ingin punya teman ... Ingin..," lirihnya lugu. "Aku ini jahat ya?"


###


" Kalau kau mau berhenti menjadi temanku, aku tidak akan memaksa, kok," omongan macam apa itu? Bukannya dia sendiri yang rewel soal pertemanan? Tapi lagi-lagi cowok itu selalu menghindari kontak mata. "Seorang pendosa sepertiku tak layak untuk mendapatkan teman, jadi kalau kau ingin pergi dari sisiku ..Aku tak punya alasan untuk menahanmu bersamaku,"


Ck, sial, "sudah deh, aku pergi,"


Cowok itu kelihatannya benar-benar terpukul. Seorang pembunuh yang menunjukkan sisi terlemahnya dihadapanku.


Hff, Kanra, aku mohon jangan bertingkah bodoh di saat-saat seperti ini.. Jika kau masih menginginkan si Atlaraka itu di sampingmu, seharusnya kau.. Argh, lupakan!


Ku tarik tali pengikat rambutku turun menutupi telinga seerat mungkin. Jangan dengarkan suaranya... karena rasa manis itu ternyata palsu!


####


Ulang tahun yang ke dua puluh satu. Sebelum letupan kembang api tiba detik itu juga dia sudah kehilangan. Walaupun menyakitkan tapi tak apa-apa.. Atlaraka pasti bakal mengusahakan dirinya agar terus bertahan. Terus menerus membohongi dan percaya akan kebohongannya sendiri menjadi bagian dari dirinya sebagai seorang mythophobia.


"Tahun lalu kehilangan indra pengecapan, sampai harus buat sensorik dan menanamnya di lidah, dan sekarang... teman? Apa harus kubuat juga teman bohongan?" Cowok itu menahan rambut depannya yang tersibak lirih. "Kau teman buatan dari plastination terlalu beresiko..Tapi kalau bahan silikon..,"


Atlaraka menghela napas panjang, "tapi mereka tidak memiliki perasaan, Raka..,"


Benar, benda mati tetaplah benda mati. Mereka akan bekerja di bawah sistem kontrol dan terkendali. Tak ada yang bersikap keras kepala dan pembangkang... tak ada yang mengejutkan dan tak terduga. Bagaimanapun juga ketimbang itu rasanya fishpot lebih baik.


"Ah, sudah mau mulai, ya?" Atlaraka tersadar, menengadah menatap angkasa. Tidak apa-apa dirinya memang sudah mengikhlaskan... walaupun berusaha mengulur tapi ujungnya pasti bakal seperti ini.. Dan yang terpenting, apakah harus ia menyeret cewek yang tidak tahu apa-apa ke dalam kehidupannya yang nyata yang dikutuk itu?


"Kalau tahun depan aku kehilangan nyawa... bagaimana?"


###


"Lho, Kanra.. sudah kubilang kan, jangan jauh-jauh! Kalau kau hilang Ryn pasti bakal mengomel sampai telinga kubudeg!" Zoel menarik tanganku kuat-kuat, " barang-barangnya sudah kubeli, jadi-"


" Hei Zoel, kalau kau berada di posisiku, apa yang bakal kau lakukan?" Ku yakin wajahku memucat sekarang.


"Ha?" Dia mengernyit, " sudah lah, kalau terlalu malam bisnya keburu berangkat, lho! Besok pagi kita kan perlu bekerja lebih ekstra!" Sial, kurang peka.


"Zoel, ini gawat! Apa yang harus aku lakukan?"


####


Letupan kembang api di angkasa menarik seluruh arah fokus cowok itu. Dengan sorot mata sayu senyumnya mengembang mendapati percikkan api di udara. Dingin. Saat itu, angin yang berhembus cukup kencang menyibak rambut dan pakaiannya liar.


"Tidak apa-apa," Atlaraka bergumam kecil. Sudah tidak ada air mata lagi untuk mengusir kepedihan. Dirinya yang tak berharap apalagi untuk melawan ketetapan. Tidak, cukuplah waktu yang perlahan mengubur dirinya dalam kesendirian.


Kesepian memang telah menjadi bagian dirinya yang tak terpisahkan. "Kau dia pergi juga tidak apa-apa buatku,"


PLAK! Tamparan kuat meluncur tanpa menunggunya berbalik. " Pembohong!"


Dengan nafas tak teratur dan airmata yang jatuh derasnya gadis itu melangkah mendekat dengan mantap. Rambut panjangnya tergerai; menari-nari di udara... Raut muka itu.. kenapa begitu tak terduga?


"Maaf tapi-" tercekat. Cowok itu membuang pandangan mendapati sosok dihadapannya sampai seemosi ini. Menatapnya dengan marah dan gestur penuh kekhawatira. Ia tak mengerti.

__ADS_1


"Kenapa kau selalu membohongi dirimu sendiri?! Kenapa cowok di depanku yang mengaku-ngaku sebagai teman ini masih mempertanyakan keberadaanku disisinya?!"


"Aku tak ingin melibatkanmu-"


Terputus. Begitu Kanra yang tiba-tiba menariknya ke dalam dekapan, cowok itu tak bisa berkutik lagi. Hangat. Tubuh yang saat ini memeluk; bergetar merengkuhnya erat-erat. "Hiks.. Hiks,"


Walau dulu saat dirinya belum mengenal Kanra lebih jauh, ia sering melakukan pelukan kilat. Tapi kali ini kenapa terasa berbeda? Apa karena perasaan yang kian bertumbuh itu? Perasaan yang membuatnya gugup begitu Kanra tak kunjung beranjak dari dan sisinya.


"Katanya kau memutuskan pergi?" Gumaman samar tanpa nada namun hal itu malah membuatnya terasa mendominasi.


"Bodoh, aku kan, tidak bilang akan pergi selamanya. Sial, ku kira kau tidak sebodoh itu," masih terisak. Air mata hangat yang jatuh merembas mengenai kulit leher. "Ada aku, walaupun aku tak terlalu bisa diandalkan.. tapi dirikulah yang bisa kau andalkan. Berbagi bebanmu padaku, aku tidak takut apa-apa! Lupakan statusmu yang membuatku muak begitu kau ungkit-ungkit tanpa henti itu! Bagiku hal itu tidak penting,"


Benar-benar.. Sepasang tangan bergerak membalas peluknya dalam. Kenapa gadis itu selalu menamparnya dengan kata-kata? Menunjukkan bahwa dirinya masih mampu bertahan ditengah porak-poranda dunianya hitam.


Ingin menangis. Begitu memberanikan diri menggelamkan wajah di atas pundak gadis itu. Seolah-olah beban hatinya yang sedikit demi sedikit mulai menyurut. "Jangan pergi dari sisiku..," tumpah juga air mata dan kata-kata yang tercekat di ujung lidah, nafas yang tak teratur; campur aduk antara lega juga gugup. "Tolong jangan...," kata-kata yang penuh dengan harap.


"Aku akan selalu disisimu," bisikan lemah namun mampu merasup dalam. "Jangan takut, aku pasti akan membantumu bangkit, membuang belenggu yang menghalangimu itu. Disisimu hingga kau tak perlu membohongi dirimu sendiri lagi."


###


" Dari mana saja, sih? Lihat sudah berapa lama Son rewel minta pulang?" Ryn penampakan raut kesal, dalam gendongannya Son kecil terlelap dengan sisa air mata dipipi.


"Maaf, tadi si Kanra merengek ingin melihat kembang api," tukas untuk mencairkan suasana lihat Zoel mencairkan suasana. "Tuh, lihat saja matanya yang sembab begitu,"


"Siala, Zoel, kau ini benar-benar menyebalkan!"


Sorot mata peringatan ditunjukkannya kepadaku. "Sudah kubilang kan, suara kembang api itu rasanya tidak enak, kau ini masih saja ingin melihatnya!"


Ryn mengernyit. "Jadi kau menangis cuma gara-gara itu?"


Cuma gara-gara itu. Gara-gara kejadian yang tak terduga didetik-detik terjadinya kembang api yang meletup-letup; sebelum sinarnya yang merekah indah meredup dan terbakar habis begitu jatuh- menghilang dari pandangan.


" Kalau kau mau menonton kembang api setidaknya kau bilang dahulu kepadaku, pasti bakal kuatur tiket busnya supaya kalau bisa melihatnya lebih lama," dia menarik ujung rambut ku yang terberai tanpa ikatan." Dasar adik merepotkan,"


" Merepotkan sih, tapi kau sayang dia kan?" Ah, Zoel, Cowok itu terkikik halus, merangkulku hangat seolah-olah mengisyaratkan melalui telepati."Adikmu ini walaupun banyak bertingkah, tapi dia ini membanggakan, lho!"


" Ah sudahlah," ku tangkis rangkulan kembaran belaguku. "Ayo cepat pulang!"


"Benar, nih? Kau tidak berminat menonton pertunjukannya lagi?"


Langkahku terhenti seketika, menatap Ryn dengan tatapan hangat. "Sekali melihat saja sudah cukup kok, aku sudah puas melihatnya,"


Ya, senyuman itu. Kelegaan tergurat dalam mata abu pekatnya. Mata yang menatapku dengan rasa penuh terima kasih. Dan itu sudah cukup, dia telah mempercayaiku dan mengeluarkan seluruh kepahitan menandingi rasa manis suaranya. Cukup.


####


"Kau melakukan apa yang ku sarankan?" Zoel berbisik perlahan begitu bus melaju mengintari hutan bakau.


" Terima kasih, ya. Sepertinya dia sudah sedikit tenang," aku menerawang jauh. "Aku bingung begitu melihatnya terguncang sampai seperti itu, tapi dia malah mengira aku melarikan diri darinya,"


Ryn dan Son tertidur. Terdapat kelegaan tersendiri karena kami bisa dengan bebas berbicara berdua.


"Jangan menyia-nyiakannya, Kanra, dia itu cowok yang bisa mengimbangimu." Cowok itu menghela nafas.


" Apa maksudmu?"


" Ingat saat kita satu sekolah? Saat kau diperlakukan sebagai kurir oleh teman-teman perempuanmu.. saat itu juga aku -"


####


"Hei berikan suratku kepadanya! Kau tidak dengar ya?" Cowok berseragam kotak-kotak itu menggeretak, membanting barang-barang kecil pada cowok bermata tajam itu.


" Aku tidak mau!" Penolakan dingin selalu dikatakannya berulang kali, "kau pikir kau siapa? Memerintahku seenaknya begitu?"


" Kurang ajar!" Pukulan keras menghantam wajahnya." Kau itu kembaran macam apa? Padahal Kanra sendiri sering membantu teman-temannya mengungkapkan perasaannya padamu kan ?"


"Hh," seringai terbentuknya miring begitu mendapati perkataan itu. Murid-murid perempuan berteriak heboh begitu dengan nekatnya ia menghabisi sosok menjijikkan di hadapannya. "Aku ini berbeda tahu! Kau suka dia karena Kanra cantik kan? Tak akan kubiarkan dia bersama cowok sepertimu!"


"Selanjutnya... begitu ku tahu cowok manapun yang menginginkan kembaranku hanya karena tampang, pasti bakal kuhabisi!"


Cowok itu beranjak menggeledah loker dan membuang isinya. Resiko bagi orang yang banyak dicintai sudah pasti banyak dibenci. Setiap hari ia harus melakukan hal yang sama, mengosongkan loker Kanra dan membuang sampah-sampah itu satu persatu.


Kebencian, perasaan semu, caci-maki, dan pujian palsu semua itu haruslah musnah tak bersisa. Kembarannya haruslah menjalani hidup sebagai dirinya sendiri. Walaupun kemampuan sosialnya sangatlah payah, tapi ia ingin melihat bagaimana gadis itu berjuang mendapatkan teman.


"Zoel, setelah ini..," mata itu berbinar dengan senyum lebar. " Aku bakal pindah ke SMA Edelwis, lho!"


Dentuman hebat. "Kalau dengan pindah sekolah saja sudah membuatmu senang sampai seperti ini bagaimana kelanjutannya nanti?"


Kau bakal berjuang sendirian Kanra! Sendiri karena cowok itu tak lagi berada di sisinya.


"Kau tak bisa mencontek PR-ku, menonton ku menyanyi sambil bersorak-sorak seperti orang gila, bikin repot saja,"


"Aku tak peduli," cicitnya lemah, sorot mata itu naik bertabrakan dengannya. "Aku tak ingin membebanimu lagi.. Tidak. Aku ingin berjuang mengandalkan diriku sendiri,"


Bodoh, kalau saja dia tidak bertemu Atlaraka... cewek itu akan habis; hancur berkeping-keping.


####


"Hai Kanra! Yah, kok malah tidur duluan!" Cowok itu mengomel keras, "besok pagi awas saja-Argh!"


Malam itu atmosfer terasa melenggang. Hening dan damai, dalam mimpiku aku melihat letupan kembang api yang berpendar bersama sosok Atlaraka yang tak lagi sendirian.


###

__ADS_1


Next chapter: 11# KEPING INGATAN


Lihat bagaimana cara Atlaraka membongkar sisi traumatis Kanra!


__ADS_2