
"Kepiting asam manis!" Jae si kakak sulung berteriak bak pedagang pasar. Cowok berambut acak-acakan itu tak ada habisnya mendendangkan suara sumbang yang membuat telinga seisi rumah nyaris pecah.
Aku melepaskan kets kumalku dan beranjak perlahan. Rambut kusutkuterasa lengket berpadu dengan keringat. Sial, penampilanku tampak payah!
"Whoaa, apa yang terjadi dengan siswa sekolah elit? Bahkan lebih buruk daripada penampilan ketika menjual seafood di pasar malam," Ryn terkikik puas, "jadi ini yang dilakukan anak cewek ketika SMA?"
"Berisik!" Aku mendengus tak bersahabat. " Sekolah itu menyebalkan dan aku menyesal mengambil tawaran beasiswa,"
"Whooa, semenyebalkan apa?" Kakak keduaku malah tertarik.
"Sudahlah Ryn, biarkan adikmu makan malam terlebih dahulu. Kau tidak lihat? Dia pucat," Jae menyodorkan seporsi nasi yang ditutupi kepiting dan lumuran saus asam manis.
"Parah, mereka mempermainkanku!" Suara dentingan piring merusak cita rasa kepiting asam manis yang memenuhi mulut. "Permainan caturmu rendahaan.., kau cuma anak uraka! Ah, sumpah! Itu benar-benar memuakkan!"
"Meremehkan permainan caturmu? Luar biasa..., memangnya mereka pernah bertanding melawanmu?"
"Belum, makannya akan kubuktikan kemampuanku nanti!"
####
"Ba-bagaimana bisa?" Si senior keriting tergagap begitu keletakan pian ratu di atas tumpukan bukunya.
"Aku membaca taktikmu," segurat senyum miring terlukis demi merendahkannya. "Bagaimana? Aku diterima di klub?"
Cewek itu menghela napas, mengangguk perlahan. "Baiklah, jadilah seorang anggota yang baik, jangan mempermalukan klub catur di depan umum!"
"Aku janji,"
"Dasar bodoh, janjimu itu tak berarti Kanra Anastasia!" Dia bangkit beranjak mengeluarkan papan hitam putih. "Buktikan kelayakanmu, aku memintamu untuk mengikuti pertandingan catur pada pekan olahraga besok!"
Ah, sial dasar kakak kelas ini..
"Aku akan membuktikannya! Setelah aku menang berjanjilah untuk tidak merendahkanku!" Kecamku berapi-api.
Cewek beralmamater hitam itu mengurat senyum meremehkan. "Jangan harap!"
###
Pandanganku disana, menatap lamat bangunan bercat biru lavender lembut. Sekolah elit. Beban itu terasa menusuk-nusuk pikiranku. Terlebih suara bising yang membuat mood-ku menurun drastis. Rombongan gadis-gadis berseragam olahraga tertawa cekikikan di ujung gerbang, aku tahu... Mereka cuma cewek murahan yang mengunggu munculnya cowok-cowok atlet melintas. Dasar cewek predator...
Ku genggam erat kotak bekal pemberian Jae. Kakak pertama itu selalu mampu ku andalkan kala kedua orang tuaku mulai menyibukan diri pagi buta. Seporsi nasi dan sayur segar. Jae paling mengerti bahwa diantara saudara yang lain cuma aku yang cinta mati pada tumis sayur buatannya.
"Selamat datang di pekan olahraga SMA Edelweish!" Sambutan hangat disertai slogan-slogan memenuhi dinding bangunan; menambah semarak suasana.
Ah, tapi bagiku ini seperti gangguan fatal yang berkecamuk dalam diriku. Hanya diriku.., yang tak pernah dirasakan orang lain. Sungguh sangat menyiksa!
Aku beranjak menuju tangga kelas, cuma di situ tempat yang sunyi yang aman untuk menghabiskan bekal bekal.
"Ini bakal gila!" buru-buru ku teguk sebotol air minuman cepat. Aku terlalu bersemangat untuk berlatih catur semalam suntuk. Jae, Ryn, Rue, Zoel, Joy dan Urlich menjadi lawan main yang menemaniku walau disertai omelan omelan menyebalkan yang memintaku berhenti.
Mereka bilang aku terlalu lihai bermain, ah, tapi aku belum puas. Walau catur membawaku menuju sekolah elit ini secara terhormat, tapi tetap saja... si cowok rambut putih pernah mengalahkanku. Aku tak ingin dikalahkan lagi!
"Whoa, disini kau rupanya!" Si senio berambut keriting yang baru ku tahu namanya Mily, menarik ujung almamaterku secara paksa. Sialan, dia tidak tahu harga almamater yang buat kedua orang tua aku rela menggadaikan toko separuh hari. " Kenapa? Kau takut? Dasar pecundang!"
"Lepaskan!" Kutepis cengkramanya kasar. "Aku tidak sedang lari!"
"Benarkah? Kalau begitu ayo buktikan kemampuan rendahanmu itu dihadapanku!" dia menyeretku paksa. Parah. Dia mempermalukanku di hadapan gerombolan lawan mainku yang lain.
Langkahnya memburu, menarik, menyeret tetkadang menyiksa hingga lenganku memerah. Undakan sekolah elit memang menyiksa, namun untuk saat ini arah fokosku bukan untuk itu.
Permainan catur.
"Ayo tunjukan tekad konyolmu itu!" Mily nyaris memekik menciptakan rasa aneh yang memenuhi rongga mulut tak nyaman.
"Baik, aku siap," kataku dengan tenangnya. Papan catur hitam putih beserta bidak-bidaknya terlihat lebih bersahabat begitu pada kenyataannya taktik lawan main mudah terbaca.
__ADS_1
Hmm, tidak sia-sia. Chess mate yang terlalu mudah untuk dilakukan. Mereka gagal menghadapi seranganku bertubi-tubi hingga benak mereka buntu untuk terus menangkis. Senyum kemenangan memenuhi bibirku. Rasakan Mily... Kau terlalu naif untuk merendahkanku!
"Chess mate!"
####
Aku selalu mencintai catur. Joy mengajariku menghafal fungsi pion-pion. Dia bilang aku tipe gadis yang cepat paham begitu Joy mengajariku dua kali saja aku tertarik mempelajari permainan itu jauh lebih dalam.
Dan detik ini entah berapa lawan yang berhasil kutaklukan. Benar-benar lawan yang mudah!
"Lawan terakhir, kau pasti akan kalah dibuatnya !"
Aku siap. Tak peduli sosok sosok misterius itu belum memunculkan batang hidung. Mereka bilang dia seorang pangeran catur lawan yang sukar untuk ditaklukkan. Dan entah semenjak kapan gerombolan cewek bersorak-sorak mengintari area pertandinganku?
Hff.. Sial, dengan kondisi seperti ini arah fokusku bisa buyar.. aku harus tenang.
Kriek.. Pintu kusen putih terbuka. Sosok itu melenggang dengan tenang. Aku bisa merasakan. Ya, ada rasa manis yang menjalar menyingkirkan pengecapan pengecapan ambigu. Tunggu... Aku kenal dengan rasa ini...
"Jadi kau... lawan mainku selanjutnya?" seringai lebar mengintip di balik topi hitam pekatnya. "Menarik,"
Ah dia...
"Atlaraka Nusantara!" Mendadak gendang telingaku terasa nyeri. Cewek-cewek bersorak histeris. Oh Kanra.... kau kena masalah besar!
####
Aku selalu berharap supaya setan aneh itu berhenti mengoceh. Jangan bicara sama sekali. Bidakku berpindah posisi memakan satu persatu anak pion yang entah karena suatu kesalahan ataukah cuma sekedar umpan.
"Chess mate,"
Sial, aku mulai terancam. Taktik Atlaka sukar terbaca, bagaimanapun hingga detik ini aku cuma menereka arah langkah selanjutnya. Opsi kedua, sang ksatria melompati anak bidak dan membobol serangan.
"Hff, dasar cewek ceroboh," ah, sejak kapan aku bersikap gegabah hingga merelakan ksatria kudaku. "Hei kau ingin memenangi permainanku?"
Aku tersenyum miring, "menurutmu?"
"Aku ingin bergabung bersama klub catur,"
Atlaraka menyeringai lagi. "Oh begitu? Tapi sayangnya... alasanmu ditolak! Cowok berpupil abu pekat dengan rambut putih yang dicat merah kontras meletakkan kunci kehancuran kerajaan putihku.
"Chess mate!"
####
Sialan,aku merasakan hari terburuk seumur hidupku. Kalah dan hujan . Aku lupa membawa payung. Sumpah, tak ada habisnya runtukan yang kulontarkan pada diriku.
Aku berlari kecil, menerobos derasnya hujan. Kabut tebal dan Hawa dingin yang menusuk membuat rasa cemas bergelayut.
Aku harus cepat. Sepatuku terasa lebih berat bercampur genangan air. Disaat-saat seperti ini, jaket tebal milik Jae yang tengah melekat malah menambah beban pada tubuhku.
"Parah," uap putih menguar seiringku bernafas. Basah kuyup dan tak bisa pulang. Rekomendasi yang bagus untuk menentukan bahwa hari ini merupakan hari terburuk yang pernah ada. Aku melangkah gontai menuju halte. Mengeringkan rambut yang terikat berantakan dengan tangan yang menggigil bergetar.
"Sendirian?" Suara itu terdengar mendomino di telinga.
Refleks kutorehkan wajah dan menyadari sosok yang tengah duduk bersandar di bangku pojok halte. Bola mata abu itu menatap seolah mengintai.
"Setan," sahutku dengan nada yang tak bersahabat.
"Hh, cewek aneh," cowok dengan rambut dicat merah terang itu melempar jas tepat dihadapan wajahku. Lantas ia bangkit dan berjalan mendekat seiringan dengan seringai khasnya. "Kau basah tapi itu malah membuatku semakin tertarik,"
"Jangan berpikir macam-macam!" Kutarik kerah kemeja tinggi, "ada yang tak beres dengan otakmu!"
Atlaraka bergeming, sepasang mata bulat lacinya masih tetap di sana; menatap lamat tanpa berkedip. Sial, apa-apaan ini? Perasaanku jadi tidak enak.
"Alis bertaut, rahang mengeras, dan suara yang meledak-ledak.. dalam buku psikologi ini pertanda marah, benar?" Cowok itu memiringkan wajah menyebalkan, "dengan kata lain kau butuh pelukan?"
__ADS_1
Duh, sekotor apa otaknya itu, sih? Aku berdecak membuang muka jauh jauh darinya. "Ah, lupakan!"
"Oi oi, aku sudah memberi jas setidaknya berterimakasihlah sedikit, dong,"
Apa tadi? Dia memprotes? Hh, benar-benar kurang ajar! Seandainya Jae di sini, pasti cowok itu bakal habis dipukul olehnya.
"Seprimitif apa pemikiranmu itu? Aku terlanjur basah dan jas tak akan berguna buatku!"
Mimpi buruk apalagi ini... terjebak dalam hujan badai bersama cowok absud.
"Hei, permainan caturmu tidak payah, kok," gumamnya perlahan.
"Lantas apa-apaan penghinaan mu ini !" Aku nyaris berteriak gusar. Sumpah, rasa kesal membuatku ingin menangis. Aku tak pernah dibuat seemosi ini. "Apa-apaan seringaimu itu!"
"Aku tidak sedang menyeringai kok, buku psikologi bilang, senyum tulus mampu membuat lawan bicara terhibur dan tenang," wajah datar yang buatku tak tahan untuk segera mengejarnya.
"Kau sedang membuat lelucon?"
"Atau mau kupeluk?"
Aku menghela napas, berusaha mengenyahkan sosok itu dari pandanganku. Oke, anggap saja dia tidak ada. Dia hantu. tak kasat mata.
Lapar ku buka kotak makanan pemeran Jae yang belum ku jamah isinya. Jae tak pernah melihatku menyisihkan makanan.
Tidak. Aku pun tak sudi saudaraku yang lain menyentuh bekalku teruratama Ryn.Sepertinya aku yang paling dimanja oleh kedua orang tuaku, bahkan melebihi Son, si bungsu.
Apa perasaanku saja... Dentingan hujan membuat tumis sayur favoritku tidak seenak biasanya. Atau gara-gara cowok menyebalkan yang tak mengenyahkan pandangan dariku?
"Kenapa melihatku begitu?" Tanyaku galak.
Atlaraka menggeleng singkat. "Kau tahu.. aku sengaja membuatmu kalah,"
"Hmm, lagi-lagi kau mengungkit hal itu," decakku acuh.
"Dengar.. aku cuma tak ingin kau terlihat untuk semacam itu," Atlaraka menghela nafas. "Taktikmu terlalu disayangkan untuk disia-siakan bersama orang-orang semacam itu,"
Ah benar... walaupun jika seandainya aku bergabung bersama klub, tapi belum tentu keberadaanku akan di terima apa adanya oleh anggota lain. Aku cuma...
"Istimewa. Cewek semacammu langka," lanjut Atlaraka.
"Kau membaca pikiranku?" Sial, aku merasa sistem keamanan ku terbobol oleh seorang hacker handal.
"Ah, kau tahu, saat kau mampu mengecap suara aku mampu membaca isi benakmu,"
Deg! Aku harus hati-hati. "Dasar..," setan "cowok tak tahu diri!"
"Hh, kau bahkan tak bisa jujur pada dirimu sendiri," Atlaraka menggeledah isi ransel, menarik sebuah payung lipat dan beranjak mendekat.
"Mau apa?" Mendapati lenganku yang ditarik tiba-tiba.
"Pulanglah..," dia mengembangkan payung dan memaksaku mengenggam. "Tak baik seorang perempuan pulang malam."
Pelukan kilat. Lagi lagi membuat jantungku melompat kaget.
"Sudah sana," dia mendorong pundaku perlahan.
"Kau -" mempermainkanku.
Kata-kataku menggantung begitu mendapat senyum halus yang terukir di bibir cowok itu. Cipratan air hujan melunturkan sebagian rambut merah kontrasnya.
"Hati-hati," seraknya menimbulkan sensasi manis yang menguar memenuhi mulut. Aku berbalik membelakanginya.
"Dasar aneh, dia pikir ini jam berapa, masih pukul tiga sore ini," seketika arlojiku terasa melambat.
Tbc.
__ADS_1
####