ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
3# BERTEMANLAH DENGANKU!


__ADS_3

“Tumben kau diam? Sepertinya efek sekolah elit membuatmu bertingkah kalem.” Ryn tergelak, “jadi bagaimana tadi?”


“Aku kalah.” Jawabku pelan nyaris tak terdengar.


“Apa tadi?! Joy adikmu dikalahkan siswa sekolah elit!” Cowok berambut ikal itu berteriak histeris. “ Luar biasa seberapa cerdas taktiknya itu?”


“Hey, bilang padaku kalau itu cuma lelucon!” Joy datang tergopoh-gopoh dengan raut muka tak percaya. “Berapa lama pertandinganmu berjalan?”


“Setengah jam tapi.. dia menghancurkan taktikku dalam waktu tiga menit saja.”


“Wah, kau tak bisa diam Kanra! Cewek mana yang menyusun taktik sehebat itu.” Joy antusias. Aku tahu cewek pemain catur merupakan kriteria cewek idaman Joy. Sangat.


“Dia cowok. Lebih baik kau melupakannya.. ya, kecuali kalau kau ho-.”


“Sial, kau kalah gara-gara terpesona dengannya ya?”


Kata-kata kasarku disela dengan sengaja. Parah, aku tahu Joy sengaja begitu dia ketahuan gegabah mengintrogasiku.


“Enak saja... cowok itu absud.” Timpalku seenaknya.


“Jae, adik kesayanganmu jatuh cinta, nih!” Sumpah, rasanya aku ingin menyumpal mulut besar Ryn!


                     ***


“Ini gila!” Segerombolan anak-anak memenuhi mading. Sialan, mereka membuatku terpaksa berdesakan demi dapat melewati koridor.


“Kanra Anastasia.. si anak sialan baru itu?” Jeritan kecil membuat langkahku kaku seketika.”Lihat ktu dia orangnya!”


Ah, apa lagi ini? Tatapan sinis terlontar padaku. Berpasang-pasang mata mengintimidasi membuatku terpojok.


“Hei katakan sejak kapan kalian mulai berpacaran?!” cewek bertubuh semampai nyaris menarik kerah seragam kalo saja aku tak buru-buru menghindar.


“Apa maksudmu?” Ku tepis tangan kotornya, “maaf, aku tak pernah berpacaran.. kau cuma salah paham aku yakin itu..”


“Hh, ku kira ucapanmu bisa dipertanggung jawabkan?” Si cewek melengks seolah merendahkan. “ lalu artikel itu palsu?”


Artikel apa lagi? Benakku dibuat buntu dengan gumaman-gumaman kecil yang menyesaki telinga. “Minggir! Aku mau lihat!”


Ku singkirkan tubuh-tubuh yang menghalangi penglihatan. Artikel. Pandanganku menyisiri seisi mading dengan awas. Parah, pada minggu-minggu kepindahanku ke sekolah elit aku sudah terlibat banyak skandal. Apa yang akan dikatakan pada kedua orangtuaku saat aku terkena Drop Out nanti?


"Pacar Rahasia Si Pangeran Catur".


Sepasang mataku membulat. Campur aduk antara marah, kaget dan juga kesal. Sialan, siapa yang mengambil fotoku yang tengah dipeluk Atlaraka kemarin?


“Ini..  cuma salah paham!” Tukasku keras. “Itu cuma berita hoax”


“Bohong, aku liat sendiri dia berhasil mengajak ngobrol Atlaraka di pertandinga catur kemarin!” elak siswi berkuncir rendah mengesalkan. “dan foto itu jelas bukan editan kan?”


Suara bisikan terasa memburu, alih-alih memekakan telinga. Salivaku tetasa memualkan mengecap suara-suara random. Pening menjalar membuatku memaksakan diri menerobos kerumunan.


"Hei, kau mau pergi? Jangan harap!" Dorongan kasar membuatku menghantam permukaan dinding. Perih.


"Oi oi, apa yang terjadi, sih?" Sepasang tangan pucat menjamah telinga; mengatupkan pendengaran.


"At-la-ra-ka?"

__ADS_1


"Hm? Ada yang salah?" Tanggap cowok itu dingin.


Cowok itu menarik headset dan menyodorkanya kearahku. "Pakai nih,"


Sial, aku bakal terlibat skandal! Aku membuka mulut mempersiapakan kecaman yang bakal kulontarkan tiba-tiba. Tak habis pikir, apa yang di pikirkan Atlaraka.


"Hei, kubikang pakai ya pakai!" Sial, aku malah kelabakan membiarkanya berakting sok dramatis memakaikan headset. Suara nusik nengalun tenang. Ah, ini.. Instrumen Mozart, aroma mirip vanila menguar membuatku lebih relax.


"....." Diam-diam cowok itu angkat bicara. Dasar sok psikiater, dirinya sendiri malah sering terlihat aneh dan labil oleh teori-teori buku psikologinya.


Penasaran dengan pemaparannya yang membuat lawan bicara diam tak betkutik, nyaris kutarik headset demi mencuri percakapan. Nyaris. Sebelum tangan pucatnya menahan. Pandangan manik abunya tertahan sebentar bersama gurat-gurat raut kesal dan gerak bibir yang masih bisa terbaca. "Jangan-dengar"


Hari ini otakku terasa melambat. Cowok itu mengamit lenganku erat. Apa cuma perasaanku... Ataukah dia memang hanya bersikap kurang ajar padaku saja?


####


De ja vu. Tanganku ditarik melewati undakan cepat. Atlaraka tak sedetikpun berbalik, cowok itu tampak kesal menekan-nekan tombol trasparan pada layar bening. Rambutnya dicat coklat terang tersibak angin... Tanpa topi. Membuat parasnya terpampang jelas.


Hm, mungkin usianya sekitar dua puluh tahun nyaris seumuran dengan Jae. Tinggi baca dan bentuk tubuh yang terbilang atletis dengan paras tegas. Hoodie hitam pekatnya melapisi kaus putih pucat yang menyembul. Celana training dengan plat putih merupakan bukti valid bahwa cowok inu baru saja selesai berolahraga.


"Alfa," cowok itu menjentikan jari cepat.


Apa-apaan drama ini? Aku merasa sedang dipermainkan dalam sebuah drama konyol.


Splass! Sebuah helikopter tanpa awak mendarat, mentisihkan kepulan debu. Baling-balingnya berputar tanpa suara yang kukira bakal menghancurkan rasa Mozart instrumenku. Hening.


"Naiklah, aku bakal menjelaskannya nanti," dan lagi-lagi dia mendorong pundakku halus. Sial!


####


"Jadi...," dia menarik kursi memasang tampang cowok galak tukang introgasi. "Sepertinya kau tidak menerima keberadaanku?"


"Hh, memang," balasku dengan oktaf rendah. "Kakak-kakakku pasti bakal murka begitu mereka begitu tahu adik berteman dengan berandal...apalagi pacaran dengannya,"


"Whoow, Perkataanmu seolah kau sedang mengataiku cowok buronan yang sedang diincar kesiswaan," Atlaraka menyeringai samar . "Dengar, kalau tidak tahu banyak tentang ku,"


"Dan kau juga tahu apa tentang aku?!"


Atlaraka menghela napas panjang. Cowok itu mengacak rambut membiarkan cat warnanya luntur tersisa di telapak tangan. "Baik kau harus tahu sedikit tentangku, aku bukan tipe cowok terbuka oke? Aku... introvert,"


Apa peduliku? Dimataku cowok itu bak mengoceh sendiri. "Mana ada cowok introvert yang terang-terangan menarik perhatian dengan mengecat rambut?"


"Hei hei, dengarkan! Aku terkena marrie syndrom, oke?"


"Jadi..?" Sial, dia selalu menggunakan istilah-istilah yang tak ku mengerti. "Apa itu marie syndrom? Penyakit karanganmu"


Cowok itu bangkit, menjentikkan jari demi memanggil sebuah troli bermuatan kudapan. "Faktor pendorongnya adalah frustasi yang berkepanjangan,"


"Dalam kata lain... kau beruban?" Aku nyaris tergelak menanggapi ocehannya .


"Hei hentikan basa-basi ini..  aku sedang ingin bicara serius!" Atlaraka meneguk cairan dalam gelasnya. "Kanra Anastasia, aku sangat tertarik menjadikanmu sebagai teman,"


Teman? Semalang apa dia sampai meminta cewek frontal sepertiku untuk berteman? "Ha? Apa tadi?"


"Jadilah temanku!"

__ADS_1


Sial, apa-apaan ini...


"Aku tidak pernah berkomunikasi dengan banyak orang, aku merekrutmu sebagai teman, karena... kau sendiri yang memasuki kehidupanku!" Atlaraka yang tak seperti biasanya.


"Baik... baik...tak usah mengemis seperti itu," dengusku datar. Cowok itu gila, aku yakin itu..." Aku menerimamu sebagai teman,"


###


Teman.  Dalam kamusku adalah dua orang yang mengikat hubungan biasa, sekedar basa-basi belaka. Tapi si Atlaraka Ini...


Hari ini entah mengapa seisi lokerku dipenuhi dengan bungkus-bungkus kari instan dengan memo kecil yang diselipkan cowok itu. Luar biasa ini merupakan kejutan yang menjengkelkan.


Dan lagi, begitu pintu kelas dibuka mataku membelalak, seisi mejaku dipenuhi tempelan tampilan post it warna-warni yang menutupi warna aslinya. Aku bakal jadi bahan bully.


"Parah, si setan tengil itu...," kucabut benda yang melekat mengotori tempatku liar."Awas saja nanti..,"


Bel masuk yang berbunyi, membuatku terpaksa menghentikan aksi memuakan ini. Yeah, kecuali jika pada kenyataannya aku merupakan cewek yang tak punya malu untuk terus menjadi bahan sorotan publik. Aku yakin tak berapa lama lagi artikel gosip mading sekolah bakal mengambil topik ini sebagai hot issue "Kanra Anastasia, murid pindahan yang diduga mengalami stres berat,"


Aku melenggang menjatuhkan diri di atas bangku kayu mahoni antik. Masa bodoh dengan meja versi memuakkan ini, aku bakal jadi pusat perhatian. Rongga mulutku mulai terasa tak nyaman seketika.


"Selamat pagi murid-murid,"


Helaan nafas menemani hari-hari membosankanku.


####


"Teori asam basa ini-"


Suara bernada bariton mengundang rasa kantuk yang berkepanjangan, sesekali pandanganku tak di sana. Menerawang panorama di balik kaca.


Terkadang aku bersyukur menempati bangunan kelas di lantai dua ini, di saat-saat menjenuhkan tiba pemandangan lapangan sekolah, taman taman atau cuma sekedar jam besar berhiaskan mozaik akan membuatku sedikit terhibur.


Sekolah Edelweiss, sekolah elit yang tersohor. Bangunan bercat biru lavender yang menyerupai kastil megah di atas bukit. Saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini Jae bahkan perlu bersusah payah untuk memboncengku dengan sepeda. Undakannya cukup curam, walau sering ditempuh beberapa kali tak jarang Jae-atau terkadang Ryn mengalami lecet karena terjatuh dari sepeda saat mengantarku pergi.


Seringkali aku merutuki keberadaanku di sekolah ini, kakak kakakku sangat antusias begitu mengetahui aku mendapat beasiswa penghargaan atas olimpiade catur yang diadakan di pusat kota. Mungkin mereka pikir aku akan menjadi seorang pelajar yang baik dan akan berpeluang sukses, tapi nyatanya....


"Kanra Anastasia!" Namaku disebut dengan nada yang tak menyenangkan.


"Ya pak?" Aku bangkit dengan nada sesopan mungkin.


"Jawab pertanyaan saya, sebutkan tokoh pencetus teori asam basa?!"


Wow sepertinya aku bakal kena masalah lagi, harus jawab apa? benakku buntu seketika.


"Psst.. Arrhenius, Barsted-Lowy, Lewis,"


Ah itu dia!... "Arrhenius, Brasted dan Lewis," jawabku dengan lantangnya, membuat seisi kelas terpaku.


"Saya kira kamu tidak sedang memperhatikan, silakan duduk Kanra Anastasia,"


Hff.. hampir saja. Tunggu.. rasa ini.. buru-buru kutolehkan pandangan. Sial, setan rambut putih itu...  apa apaan cowok itu duduk dengan santainya di atas dahan pohon? Absud parah!


Atlaraka melambai dengan seringnya lebar. Ya, aku tahu pohon-pohon yang menlingkari bangunan kelas terbilang sangat tinggi hingga mencapai gedung lantai  tiga. Rasanya hari ini aku sedang diuji! Kulontarkan tatapan tajam demi merusak raut muka tenangnya yang sedari tadi memperhatikanku dengan wajah tanpa dosa.


Dasar Atlaraka sialan!

__ADS_1


###


__ADS_2