ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
4# GADIS EROTOMANIA


__ADS_3

"Setan! Buka pintunya!!" Aku lupa untuk mencapai tempat keramat ini memerlukan perjuangan yang lumayan berat, tanpa bantuan helikopter seperti kemarin, aku tiba dengan seragam yang lagi-lagi koyak dan lecet di tubuh. Ck, perih.


"Whooa, manusia menyebalkan ini... seberapa sibuknya sampai tak mendengar jeritan tamu depan rumah, sih,"semburku dengan wajah terpampang jelas.


"Maaf, tapi kali ini aku sedang mempersiapkan sebuah proyek, pulanglah teman, aku pasti bakal meluangkan waktu untuk menanti," dia nyaris menutup pintu. Kurang ajar!


"Tunggu! Kau tak lihat ? Aku sampai meluangkan waktu dan merelakan almamater baruku demi memakimu!" Protesku yang sepertinya disambut dengan baik oleh Atlaraka. Cowok itu bergeming walau sama sekali tak menampilkan raut muka bersalah.


"Oke oke, " dia menarik lenganku dan membawanya mengintari koridor-koridor, "lagi-lagi kau menerobos kehidupanku tanpa izin,"


" Siapa suruh kau menaruh kari instan kadarluasa lokerku? Kau mau meracuniku ya?" Cemohku tanpa henti.


Saudara-saudaraku bilang aku punya segudang tanggapan pedas yang mampu membuat lawan bicara ku tak berkutik. Dan sekarang aku baru meyakini hal itu.


Atlaraka tiba-tiba membalikan badan, "kalau begitu kau bersedia terlibat lebih jauh lagi dalam kehidupanku?"


"Ah maksudku-"


" Kau kuterima sebagai partner untuk-proyekku kali ini,"


Sial, dia menyela...


"Nah, jadi Kanra bergabunglah bersamaku,"


####


Aku tak pernah paham seaneh apa daya pikir cowok itu. Sambil sesekali meneguk kari kadaluarsa dalam  cup Atlaraka mengamati silikon silikon yang diletakkan sembarang. Sorot mata abu jernihnya memantulkan sinar biru pantulan layar laptop.


"Alfa," lagi-lagi adegan yang sama terulang dalam benakku. la menjentikkan jari, membawa troli raksasa yang mengangkut jenazah. Tunggu jenazah?! Sial, aku jadi merasa takut sendiri begitu cowok itu membelah isi perutnya dan membongkarnya dengan tangan.


"Dasar gila!" Aku mengumpat membuat pandangannya tertahan sebentar dan mengukir seringai. Dia ini psikopat atau bagaimana?


Di depan mataku dia menuang cairan bening berbau menyengat demi meluruhkan lemak lemak yang menempel melekat pada jasad itu, memasukkan silikon dan menekannya pada isi perut yang telah kosong tak berisi. Menakutkan!


"Hei, ada apa?" Dia menyadari rasa takut yang bergelayut memaksa air mataku menghujani pipi.


"Apa?!" Refleks langkahku mundur perlahan.


Adegan-adegan pembunuhan yang pernah kutonton bersama Rue berkelibat, kufikir Rue  selalu berkhayal aneh soal ahli kejiwaan yang sebenarnya gila. Tidak tidak....


Cowok itu menggantikan jari, membawakan sebuah kotak raksasa yang  membawa sosoknya menghilang ditelan isi kotak. Apa itu alat untuk membunuh? Keringat dingin mengucur hebat membasahi pelipis. Di mana jalan keluarnya? Mendapati aku yang terkepung dalam ruang tertutup dengan suhu udara lembab, sepasang penopang tubuhku lemas seketika.


"Sudah kubilang kan, jangan takut," rangkulan hangat menyelimuti punggungku, "Kau cuma perlu terbiasa,"


Mataku membulat, cowok di hadapanku... Atlaraka tanpa jas putih kotor dan noda darah yang menodai pipi dan tangannya. Menelungkupkan tangan pada wajahku, memaksanya menatap "Jangan takut,"


#####


Mungkin akal sehatku telah hilang. Setelah berteman dengan monster jadi-jadian, kini kami tengah menyantap makan malam. Ya, walaupun dalam lemari makanannya cuma tersedia makanan instan yang cukup tinggal seduh. Trauma akan kari kadarluasa, masih sempat-sempatnya kuperhatikan kode expired yang tertera pada kemasan. Setidaknya aku mati bukan karena keracunan makanan kadaluarsa.


"Jadi?" Cowok itu menaikkan alis di sela-sela menyeruput mie.


"Jadi apa?" Ah, otaku benar-benar sedang tak bisa diajak kompromi.


"Kau tidak akan bertanya apa-apa lagi tentangku?"


Aku menghela nafas, meletakkan mi yang masih mengeluarkan kepulauan uap panas di atas meja. "Sudah cukup, kesimpulanku adalah kau bukan cowok normal!  Dan kita... tak bisa berteman lagi!"


"Hei jangan begitu, dong," kata cowok itu panik."Oke, apa karena masalah pekerjaanku?"


"Bisa kau sebutkan umurmu?" aku mengalihkan, pekerjaan? Jelas-jelas psikopat!


"Dua puluh tahun," ah benar tebakanku!

__ADS_1


"Dan aku masih tujuh belas tahun, perbandingan usia seharusnya membuatmu sadar bahwa aku bukan teman sebaya yang bisa kau ajak berkelana bersama eksperimen-eksperimen sadismu! Pokoknya kita tidak bisa berteman!"


"Dengar, aku tak peduli soal usiamu, tapi yang pasti kau satu-satunya orang yang membuatku tertarik untuk kembali berkomunikasi berbaur bersama yang lain dan kembali menjadi cowok normal!"


"Hh, sudah kuduga bahwa kau itu freak!" Tanggapanku membuat cowok itu menghembuskan nafas kasar . "Wow, jangan salahkan aku, kau sendiri yang mengakuinya!"


Kring.... dering telepon membuat obrolan kami terputus ketika.


"Alfa ," Atlaraka menjentikkan jari cepat, menggerakan troli dengan telepon aneh di atasnya. Dia menggerakkan tangan, seolah mengoperasikan sensorik jarak jauh. Layar bening memunculkan sosok pria tanpa wajah.


"Terdeteksi, psikopat di daerah X, harap untuk segera menghabisinya!" Suara disamarkan.


Buru-buru kuteguk kuah mie instan demi menyingkirkan rasa menggelikan yang menguar bercampur bersama saliva.


"Laporan diterima, aku akan segera menyelesaikannya," Atlaraka beranjak, menanggalkan hidangan yang terbilang... Hm, sederhana? Ini bahkan jauh lebih parah ketimbang makan malam buatan Joy yang kurang mahir memasak, lebih tepatnya makan malam kali ini cocok untuk orang semalang Atlaraka.


"Ayo!" cowok itu melumuri rambut dengan pewarna dan menarik lenganku cepat.


"Buat apa? Aku tidak-,"


"Kau temanku dan kau harus tahu pekerjaanku,"


###


Kadang aku paham mengapa Atlaraka dipuja cewek-cewek predaktor walau pada kenyataannya dia aneh. Cowok ini memiliki sinar mata dan senyum memikat-walau seringnya penampakan seringai. Dengan hanya melihat sekali senyum cowok itu.... Rasanya sungguh sulit dihilangkan dari ingatan. Di bagian wajah kanannya terdapat lesung pipi dalam yang membuatnya terkesan kalem, berlawanan dengan bagian kiri yang menampilkan taring kecil yang menonjolkan sosok usil Atlaraka.


Selera fashion Atlaraka pun  terbilang anti mainstream dengan favorit setelan kemeja formal dan topi tinggi yang membuatnya terkadang tampak kikuk dimataku, untuk cowok berusia dua puluhan, tak menjadi masalah buatnya yang terlihat seperti seorang pesulap amatiran yang terjebak kondisi.


"Toko kudapan? Hh, kau bercanda?" Tanyaku dengan nada meremehkan.


"Sstt, diam," Atlaraka memasang bahan peledak kecil di depan pintu.


Aroma kayu manis tercium kuat, aneka kue-kue cantik yang dipajang di etalase memancing gejolak dalam perut yang hanya terisi setengah porsi mie instan. Tempat bernuansakan merah muda pucat Itu tampak normal. Apa otak Atlaraka yang....


Ha? Apa tadi? Memangnya....


"Toko ini bakal menjadi medan laga bagi kerajaan putihmu,"


Lagi-lagi dia membuatku bingung.


###


Bagaimana bisa dia membobol seluruh pintu dengan hanya mengandalkan sebuah kunci duplikat saja? Dan apa-apaan dengan pengepungan yang dilakukan secara terang-terangan ini? Hff... siap-siap saja malam ini kami diseret menuju penjara.


"Coba lihat," Atlaraka menunjuk rangkaian foto-foto cowok yang di silang merah layar monitor, komputer di otak-atik nya dengan sensorik jarak jauh."Jangan pernah mencoba menyentuh apapun, begitu sidik jarimu tertinggal, kau bisa mati,"


"Terserah deh," tangkap layar monitor berkedip menampilkan informasi terakhir yang diunggah sang pemilik. Ah, ini kan cuma kumpulan status kacangan yang sering ku baca di novel novel. Beberapa cowok berbeda mengunggah status yang sama dalam media sosial.


"Erotomania,"  cowok berkemeja hitam pekat itu bergumam perlahan, "cewek ini mengidap erotomania,"


"Ha? Apalagi itu?" Sumpah aku mulai muak.


"Kondisi kejiwaan dimana seseorang merasa dicintai oleh orang lain yang pada kenyataannya bersikap biasa saja padanya.


"Ah, aku tak paham,"


"Contohnya,


seorang cewek yang memiliki idola cowok, dia merasa yakin bahwa cowok yang diidolakannya memiliki perasaan berlebih padanya, merasa status atau kalimat-kalimat yang ditunjukkan memang buatnya,"


"Oh, istilah lainnya peda akut?" Aku mulai mencerna, " oke, aku paham garis besarnya,"


"Aku sudah memasang kamera tersembunyi dan penyadap, aku bakal kembali besok untuk memastikan," dia menarik tanganku dan menggenggam seenaknya.

__ADS_1


"Jadi pekerjaanmu?" Aku mengernyit tatkala cowok itu menoleh.


"Ahli kejiwaan, sekaligus... pemburu psikopat,"


###


Rangkaian slide berkedip membuat arah fokusku berpaling. Pukul tujuh pagi dan aku masih di dalam keadaan belum siap. Sejujurnya dalam benakku strategi catur sudah mulai kususun, mendapati sorotan kamera tersembunyi tengah mengawas lamat.


"Sudahku tentukan, cewek erotomania ini menduduki posisi .. Hm, benteng?" Aku nyaris memekik sendiri; antusias menyadari sosok yang masih terlelap dengan pulasnya di atas sofa. Sial, aku malah kecanduan untuk menuntaskan pekerjaannya!


Buru-buru kuraih tas selempang ku dan bergegas memburu pintu, baru ingat kalau guru killer membuat nyaliku menciut untuk mencoba membolos. Jae pasti bakal kena masalah gara-gara pemanggilan wali pengasuh nanti. Sesibuk apapun cowok itu pantang untuk mengganggu orang tua kami yang super sibuk.


Kets kumalku berdecit begitu susunan anak tangga berhasil kupijaki. Omong-omong tangga menara ini bagai tak ada habisnya! Melingkar, memutar dan menciptakan rasa lelah yang berkepanjangan.


"Kutarik knop pintu hati-hati. Sinar mentari merambat menyilaukan, bunga bunga merekah mengintip berseri. Aku menghela napas berbalik dan menutup pintu tanpa menimbulkan deritan memekakkan.


" Cowok itu pasti masih tidur," gumamku nyaris merutuk pelan."Sudahlah, lagian...,"


"Selamat pagi tuan putri, butuh tumpangan? Cowok berkemeja gelap dengan rambut bercampur pewarna hitam yang tersisir rapi menyeringai lebar. Atlaraka.


Sial!


####


Dentingan bel membuatku memekik dalam hati, runtutan pelajaran membosankan berakhir bersama lelah. Aku mengibaskan ujung rok hitamku demi menepis debu debu yang menempel. Rambut panjang legam seperti biasa aku ikat tinggi. Setiap hari begini, penampilanku yang lebih terkesan tomboy walau berambut panjang.


"Sudah selesai?" Atlaraka memunculkan diri tiba-tiba.


Anggukan kecil kulontarkan dengan malasny, "cewek itu menduduki posisi benteng,"


Cowok itu menyeringai lagi," benar barusan baru kutangkap motif pembunuhannya, cewek erotomania itu meracuni kudapan dengan berbungkus bungkus silica gel, mencampurnya dan menghadiahkannya pada cowok yang dianggap menyukainya."


"Alasannya?" Aku mulai tertarik menanggapi ocehan Atlaraka.


"Ada dua faktor. Pertama, dia tahu cowok itu ternyata tak mencintainya. Hmm, mungkin dia melihat si cowok berpaling atau jalan sama cewek lain," Atlaraka menyapukan pandangan datar, "atau dia merasa terganggu karena merasa dicintai oleh orang yang kurang disukainya,"


Aku mengangguk paham, " jadi?"


"Posisi benteng hanya mampu memakan anak bidak yang segaris lurus dengan tempatnya kan? Kurasa dia juga begitu, tak terlalu berani memunculkan diri dan membunuh melalui kiriman kudapan yang terlebih dahulu diberi racun, dalam kata lain dia tak membunuh dengan langsung korbannya."


Aku terdiam membisu. Entah mengapa kata-kata yang dilontarkan cowok itu selalu membuatku merasa nyaman untuk berlama-lama berbincang dengannya, jika Jae mempunyai suara yang nyaris menyerupai mint dan campuran lemon, Ryn yang terasa lebih mirip teh chamomile, dan Rue yang walaupun terkadang terasa seperti air rendaman besi namun memiliki suara yang nyaman untuk didengar.


Atlaraka ini memiliki kriteria seperti kakak kakakku, dengan suara serak basah yang menghadirkan rasa manis yang menguar memenuhi rongga mulut. Walau perkataannya terkadang terasa kurang ajar tapi nyatanya... diriku mampu menerima keadaannya dengan baik .


Ah sudahlahlah...


"Aku pulang ya," pamitku dengan tampang datar melangkah mendahului laju Atlaraka, "sampai jumpa tiga hari kedepan,"


"Tiga hari kedepan?" Dia mengernyit.


"Sekolah bakal libur," sahutku.


Tanpa jawaban cowok berkemeja gelap itu cuma merespon menganggukan kepala. Rambut dicat hitam hitamnya tersibak angin. "Itu artinya.."


"Apa?"


"Tidak jadi, deh," lagi-lagi cowok itu menggeleng, melontarkan pelukan kilat yang selalu membuatku bersusah-payah mengatur nafas. "Sudah sana, kakakmu menunggu, tuh,"


Bola mataku membulat seketika begitu mendapati sosok Ryn dengan raut muka tak bersahabat.


Sial, si setan itu terang-terangan mempermainkanku di depan kakakku! Aku menghela napas, berjalan cepat dan menyesali kebodohanku.


####

__ADS_1


__ADS_2