
Jae diserang. Begitu mendapati kabar itu, malam buta Ryn, Joy dan Rue segera menyusul menuju rumah sakit. Luka tusuk di bagian perut, semoga saja Jae selamat.
Di saat yang sama aku mencoba menghubungi Lumia, namun sama sekali tak tersambung padanya, mungkin belum ia mulai sibuk mengurusi Jae.
"Kemungkinan mansionya dirampok," Zoel mencoba menganalisis . "Tapiku dengar luka-lukanya sangat parah, seharusnya perampok tak sampai berbuat hal seperti itu kan, ya kecuali dia berniat membunuhnya, sih,"
Ah, benar. Peringatan itu. Peringatan yang diberikan Lumia agar aku menjauhkan Jae diri darinya.
"Um, Kanra kau dapat surat undangan dari konseler yayasan Edelweish," Urlich membuyarkan seluruh lamunan. "Mereka mengkhawatirkan nilaimu yang anjlok dan... kemungkinan beasiswamu akan dicabut,"
###
Kutelusuri undakan. Tenang, Kanra.. ini bukan sesuatu yang buruk. Beasiswaku direnggut bukanlah akhir dari segalanya.
Aku gemetar, memutar knop pintu perlahan. Aroma mawar menguar bersamaan dengan munculnya gadis berambut coklat yang kukenal.
"Pagi, Kanra," ini.. Benar-benar Lumia, kan? Dia terlihat baik-baik saja tanpa luka.
"Nah, Kanra, mari kita bicarakan hal ini ..,"
###
"Anjing gila!" Sang walikota membentur kepala lelaki berambut putih itu kuat-kuat. Kebenciannya meluap terlukis dalam sorot matanya yang gelap.
Atlaraka diikat. Cowok itu tak mampu berkutik begitu vaksin beracun berpadu bersama darahnya. Kekuatannya melemah. Rasa sakitnya menjadi sia-sia.
"Peliharaan yang berani menentangku semestinya segera dihabisi!" Ia mendesis penuh kemarahan. "Sejak kapan kau berani menantangku? Kau diciptakan untuk membunuh! Bunuh, Raka! Biarkan mereka mati!"
Cowok itu menyeringai, "aku bukan budakmu! Aku juga bukan alat ... aku manusia! Aku cuma manusia normal! Berapa kali kutegaskan agar kau menatapku sebagai manusia?!"
"Anak gila yang berharap belas kasihan..," dicengkramannya dagu itu kuat-kuat. Seolah ingin meremukan yang berkeping-keping. "Baiklah, aku akan melepaskanmu.. tapi setelah kau melihat pertunjukan yang satu ini,"
###
Kenapa tempat ini? Kenapa Lumia tahu menara milik Atlaraka? Rumpun-rumpun anyelir dan lili mendadak kering tak terurus. Mungkin cowok itu terlalu sibuk hingga lupa mengurus kebunnya.
"Jadi apa hubungannya.. tempat ini dengan nilai, hmm?" Aku mulai mendelik tak sabaran.
"Lho, bukankah ini tempat tinggal Atlaraka-mu, Kanra?" Suara lembut itu entah mengapa terdengar mengintimidasi. "Kawan pembunuhmu yang mencelakakan Jae,"
"Tapi-" kerongkongan tercekat begitu selembar foto ditunjukkan.
"Bukti autentik ." Benar kakak Jae. Dan atas dasar apa Atlaraka ada disana? "Diambil dari CCTV mansion, dan aku punya videonya,"
Mustahil, rasanya dunia menipu. Ku raih ponsel, menghubungi nomor siapa pun yang tertuju. Tolong angkat! Aku tak sanggup lagi... Air mataku menetes jatuh menghujani pipi, rasa sesak di dada. Jae-ku yang kusayang.. yang paling mengerti aku.. Seharusnya dia masih berada di sana.. Di rumah sakit bersama Ryn dan Joy!
"Halo, Kanra?" Suara panik.
Kumohon. Amarahku semakin memuncak. "Jae-"
"Hilang, pihak rumah sakit dan kepolisian tengah mencarinya," Rue di sana. "Kanra, kau jangan pergi kemana-mana! Kumohon.. terutama jangan menemuinya. Jangan, Jangan menemui Atlaraka! Cowok itu membunuh Jae!"
####
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Dingin. Setiap perkataannya seolah menikam.
"Kau hanya perlu melihat. Dimana dia tak mampu melihatmu dan kau bisa melihatnya dengan jelas," seolah tiap-tiap lidahnya dipenuhi ranjau. "Ah, dia datang,"
Pintu menara berderit, mengundang dentuman pada tiap-tiap anak tangga. Gadis itu berlari, meneriakkan namanya dengan penuh kemarahan. Tidak. Berbahaya. Jika saja bisa, pasti pintu itu akan ditutupnya rapat- rapat. Dia tidak boleh datang.
__ADS_1
" Jangan melakukan hal bodoh padanya!" Panik.
"Kalau begitu berharaplah, Atlaraka," seringai yang tak kalah culas. "Karena dia adalah alat pembunuh selanjutnya,"
###
Gah tidur menghambur. Atlaraka hanya mampu melihat bagaimana gadis itu diikat dan didudukan pada sebuah kursi. Diarak menuju laboratorium pembedahannya.
"Triknya, Atlaraka.. gunakanlah penyamaranmu dengan sebaik mungkin," wanita berambut abu-abu melontarkan tatapan meremehkan. "Kau pembangkang, Raka! Pendosa harus dihancurkan! Kau telah merusak reputasi tuanmu sendiri!"
"Suamimu bukanlah tuanku! Dia cuma iblis yang tega menghabisi dan manfaat keluarganya sendiri demi jabatan!" Atlaraka berteriak." Kalau kau mau, habisi saja aku !"
"Wah..wah.. jadi kau tahu ya, semalam itu aku yang menyelinap membunuhan anakku sendiri agar mampu ku pakai wajahnya dan melukai kakak gadismu sekaligus? Tapi saat ini bukan aku, Atlaraka. Bukan aku yang dalam wujudku tapi pembunuh itu adalah kau!"
"Pantas dia terlihat benci padaku," Atlaraka membuang muka.
"Nah, itu dia sayang. Yang ku hancurkan itu bukan ragamu melainkan mentalmu,"
###
Gila. Ini gila. Mendapati diriku yang terikat kewarasanku menurun pesat. Cowok itu disana, bergerak menusuk-nusukan pisau pada mayat yang terbaring.
"Kau tidak pernah melihatnya membunuh bukan? Terlebih orang itu adalah Jae, kakakmu," Suara itu. Suara berat milik ketua yayasan. Terbayang bagaimana Jae tersenyum bangga, dengan percaya diri menceritakan diriku yang melebih-lebihkan di hadapan lelaki beruban ini.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Aku seperti orang gila. Meronta berusaha melarikan diri.
"Tidak, sebelum kematian kakakmu tiba." Lelaki itu menyeringai. " Kau cerdas, Kanra, orang cerdas itu merusak jika dibiarkan begitu saja,"
Lampu-lampu kebiruan berpendar. Dihadapannya Atlaraka menatap picik. Cowok sialan! Kotak itu dibuka. Sosok Jae didalamnya setengah sadar meronta, menyusihkan air mata namun tak mampu bicara.
Jae. Kakak pertamaku yang paling kucintai.
"Lepas!" Tangisku pecah. Aku mulai berteriak seperti orang tak waras. " Jangan sakiti Jae!"
Bagaimanapun lelaki itu tak sekalipun melukaiku, menyentuh kepalaku dengan lembut dan menuntunku seolah aku hanyalah barang rapuh yang perlu dijaga dengan hati-hati.
"JAEEE!!" Ku teriakan namanya. Rahasanya perasaanku bercampur aduk murka. Aku tak bisa berbuat apa-apa! Pandanganku menyamar dipenuhi gundukan air mata.
###
"Bagus, Kanra,"sekali lagi Jae memujiku. Mata hazelnya berpendar menatap lembut. " Aku bakal mengantarmu pulang perginya nanti, bersemangatlah! Kau hanya perlu belajar untuk menjadi seorang insinyur seperti yang kau inginkan,"
"Benar, nih? Jae sanggup mengantarku nanti? Jalan menuju SMA Edelweish susah ditempuh, lho," benar-benar gadis lugu. Rambunya yang lurus rambut yang diikat asal.
" Aku bakal berusaha," Jae tersenyum. "Aku bakal sering-sering latihan supaya kau bisa kembali dengan selamat,"
Setelah itu Jae selalu menyempatkan diri. Membiasakan dirinya menempuh jalan terjal berundak. Dan aku hanya mampu melihat bagaimana Jae berjuang lebih keras lagi.
"Rue, coba kamu hitung hasil perkalian. Perhatikan nominalnya baik-baik,"
Begitu makan malam lewat, kesibukan Jae bertambah. Orang tua kami jarang pulang. Terkadang Jae perlu menjadi sosok ibu dan ayah sekaligus. Jae memang hebat.
"Ryn, kau membuat masalah lagi, Hmm? Ayolah, perlu aku perjelas berapa kali agar kau berhenti bertingkah," Jae selalu bersikap lembut. Kadang aku bertanya, seberapa besar kesabaran itu.
"Aku cuma bermain, dumpah aku tidak berbuat sesuatu yang berlebihan!" Ryn membela diri.
"Bohong, tadi Ryn sempat menyembunyikan sepatu milik seorang gadis, kan?" Joy menimpali, cowok itu basah oleh keringat. Baru pulang, betapa sulitnya mengatasi cowok yang satu ini.
"Joy.. Kau juga juga dari mana saja? Lihat, sudah jam sembialb malam! Cepat mandi! Kau bakal melewatkan jam makan malam, tuh. Ah, Zoel tolong hangatkan sisa lauk untuk Joy!"
__ADS_1
Aku tak pernah sanggup memikirkan begitu Jae direnggut dari kehidupanku. Rasanya hampa. Jae uang selalu menyayangi kami dengan caranya sendiri.
"Jangan bersedih karena kau kehilangan teman, tapi bersedihlah karena kau harus kehilangan jati dirimu sendiri." Mint dan lemon yang terkecap kuat. "Pastinya akan ada seseorang yang mampu menerimamu apa adanya."
Jae benar. Aku tak bisa menjadi orang lain. Tidak. Sekuat apapun aku berusaha menjadi sosok yang orang lain inginkan yang ada hanyalah lelah yang memperjuangkan standar teman yang ditetapkan orang lain.
" Berjuanglah sedikit lagi, mereka cuma ngoceh tanpa berpikir, maka kau pun harus meladeninya tanpa hati," Jae yang selalu berkata bijak. Seluruh waktunya tersita untuk mengurusi seorang tukang pukul seperti aku... "Seharusnya jika mereka menjatuhkanmu karena kau berbeda, kau hanya perlu tertawa karena mereka sama saja, tak seistimewa dirimu,"
Seluruhnya tentang Jae. Tangisku yang selalu dihapus cowok itu. Kegelisahan yang hilang begitu Jae datang menghibur.
Jae-ku yang lembut, senyumnya memancar pada paras sederhana itu.
Dia bekerja paling keras demi menghidupi keluarga kami.
Jae tersayang.. kenapa harus aku... yang menyaksikanmu tersiksa saat ini?
###
Cpratt!
Cipratan darah memercik, menghantam separuh wajahku. Hangat. Darahnya Jar bercampur dengan tangis kepelikan. Mata itu menatap lembut sebelum pada akhirnya terkatup rapat. Napas yang terengah-engah.
"Mau lihat yang lain?" Sang walikota merunduk berbisik dekat. "Kuliti dia, Atlaraka!"
Aku gila. Pemikiranku buntu menyaksikan perut Jae dirobek dengan mudahnya. Cairan pekat kembali merambah.
Kenapa kau tidak bangun lagi Jae?!
Jae, lihat adikmu ini menangis tanpa henti! Buka matamu! Kembalilah bernafas! Kumohon..
Sialan si Atlaraka itu. Wajahku memanas, amarah memuncak hingga ubun-ubun. Sesekali dia menoleh menunjukkan seringai lebar.
"Kubunuh kau nanti!" Benar-benar.. dia mengambil cahayaku.. Bodoh, begitu aku mempercayai dan menjadikannya sebagai teman.
"Bunuh dia, Kanra, dia seorang pendusta!" Pisau lipat kecil. Benda keperakan itu disematkan, seluruh tali pengikatnya lepas. aku melangkah terhunyung dengan tangis kemarahan. Aku marah. Ini peristiwa terburuk yang pernah kualami, terlebih saat cowok itu mengindahkanku membongkar isi tubuh Jae dengan asyiknya.
Jantung Jae yang di lucuti tempatnya. Rasa sesak di dada mendapati sorot teduh itu terpejam dengan tenang. Apakah itu sakit, Jae? Kenapa hidup mempermainkan lelaki berhati malaikat sebaik Jae?
Tanpa aba-aba kutarik kerah cowok itu. Memojokannya di ujung sudut ruangan. " Jelaskan! Kenapa kau seberani itu, Atlaraka!"
Nafasku bergerak tak teratur. Kenapa cowok ini begitu mengujiku? Air mata membuat sepasang tangan gemetar. Dasar orang gila sok pisikiater! Pertemuanku denganya merupakan kesalahan! Kesalahan terbesar yang pernah kulakukan!
"Ada yang salah, Kanra? Dari awal memang inilah yang kuinginkan. Kau cewek bodoh, dan orang sepertimu layak untuk dihancurkan," dia menyeringai.
Kutelan saliva. Aku memalingkan muka. Sial, aku dipermainkan!" Jadi, kau berharap mati, hmm?"
"Oh, tidak sekarang, Kanra," sosok itu menghindari hantaman pisauku cepat. "Aku tak ingin mati sebelum kau menjalani tugasmu sebagai seorang pembunuh!"
###
Cukup Sudah. Cowok itu cukup tersiksa dengan perusakan mental seperti itu. Atlaraka menjetikan jari berpikir. Masih ada satu cara namun beresiko.
"Kumohon.. setidaknya biarkanlah cewek itu selamat," ia bergumam, berbisik merangkak mencari celah.
Satu cara untuk membuat semuanya berakhir.
Satu cara saja.
Ya, menghancurkan menara.
__ADS_1
Tbc.