ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
6# KASUS DAN SEMANGKUK SALAD


__ADS_3

Hujan. Mungkin alasan itulah yang membuat Atlaraka tak memunculkan batang hidungnya selama seminggu ini. Kuharap cowok itu tak menjadi benci padaku gara-gara insiden konyol yang diperbuat kakak kakakku.


Sambil menelan kuah sereal, tontonan televisi yang berkedip menyita perhatian. Rue dan Jae dengan tenangnya menyesapi susu coklat hangat sambil berceloteh ria.


"Pokoknya dia itu freak banget!"cicit Rue disela-sela tawa. Rambutnya yang bergelombang halus bergoyang; menambah pesonanya sebagai seorang cover boy. Aku yakin walau Rue tampak tak acuh pada perempuan diam-diam ia pasti bakal terkesan juga.


"Kau tidak berkaca pada dirimu sendiri? Rue juga aneh tahu!" Komentarku yang kukira bakal ditanggapinya dengan santai. Ah, tapi ekspresi macam apa itu?


"Aku tak seabsud pacarmu,lho!" Balasnya dingin. Sinar mata jutek yang selalu dilontarkannya ketika menolak cewek berkilat.


"Sudahlah," Jae bangkit merogoh kunci motor dari saku celananya. Cowok itu menepuk-nepuk kepalaku perlahan,"kau sudah selesai kan? Berangkat yuk!"


"Jangan membela dia terus, Jae! Dia dia bakalan manja dan bersikap seenaknya!" Dingin. Rue menenteng tasnya gusar. "Bagaimana bisa menjadi seorang siswi berkelas Kalau kerjaannya pacaran terus!"


"Aku tidak pacaran!" Lagi-lagi. Perlu beberapa kali penegasan untuk membuat kakak-kakak percaya.


"Ayo," Jae menarik tanganku lembut. Sampai kapanpun Jae tetaplah seorang cowok yang selalu membenci perdebatan. Dewasa dan tenang, membuat sosok yang bisa diandalkan.


"Jae, aku benar-benar tidak berpacaran, kok!"


Cowok itu menghela nafas kasar. "Aku percaya, aku... bakal berusaha untuk tetap mempercayaimu,"


###


Biasanya Jae mengantarku dengan sepeda, tapi kali ini orang tuaku sepertinya sengaja meninggalkan motornya. Jae lihai, cowok itu berkendara dengan santainya.


"Sebenarnya waktu itu aku khawatir," bisiknya perlahan, "terlalu banyak kasus kriminal yang terpampang di televisi terkait penculikan dan pembunuhan anak sekolahan,"


Laju motornya terhenti, cowok itu membawanya menepi sejenak.


"Ada apa?"


"Maaf, aku takut termakan emosi saat mengungkit soal ini bersamamu. Tapi, sebagai kakak pertamamu, aku berhak peduli kan?" Nae menatapku lama, "aku bakal panik kalau kau mencelakakan atau dicelakakan oleh orang lain,"


Diantara terjanya jalanan dan pepohonan yang bercampur ilalang, dia merebahkan diri dan menutup  mata sejenak. Aku tahu... Dia lelah atas tingkahku akhir-akhir ini.


Entah mengapa aku paling tak tega menyakiti Jae ketimbang saudara-saudaraku yang lain. Omong kosong kalau aku merupakan adik kesayangan Jae, cowok itu selalu adil memberikan porsi perhatiannya. Mungkin karena aku merupakan satu-satunya saudari perempuan yang dimilikinya, makannya cara penyampaian kasih sayangnya berbeda dengan yang lain.


Jae memiliki pembawaan yang tenang, cocok dengan rasa suaranya yang menyerupai campuran mint dan lemon. Pendengar yang baik dan pengertian. Tak bisa dipungkiri walau penampilannya sederhana cowok itu memikat dengan aura cowok penyayangnya.


"Aku minta maaf soal perlakuanku waktu itu, gara-gara kecurigaan yang berlebihan aku menyetujui rencana gegabah yang menjauhkanmu dari teman barumu itu," tuturnya dengan sepasang manik yang masib mengatup. "Harusnya aku bersikap lebih dewasa,"


"Jae kau tidak salah, kok, sumpah!" Tungkasku menepis rasa bersalah yang menghantam dada.


"Dan Kanra, kau bukan gadis kecil lagi. Walau kakak-kakakmu bakal memperlakukanmu seperti itu selamanya, tapi... sewaktu-waktu kau bakal kehilangan saudaramu satu persatu. Suatu saat kakak-kakakmu jatuh cinta dan menikah... kau bakal merasakan yang namanya kehilangan,"


"Jae akan menikah?"


Cowok itu menggurat senyum dan mengangguk, "suatu hari akan ku perkenalkan tunanganku padamu, ya?"


Sakit. Saat perhatian Jae bakal berpaling membicarakan orang lain."Gadis itu harus baik padaku, lho!"


Jae ketawa ringan. "Pastinya,"


###


Tidak muncul lagi, si setan tengil itu tak datang walau tak hujan. Apa mungkin, saking marahnya sampai tak mau bertemu lagi? Ah, sekarang aku mulai merutuki perkataan Zoel yang diam-diam ku pikirkan. Atlaraka menyukaiku dan itu cuman omong kosong belaka.


"Sorry lama ya?" Zoel memarkirkan sepeda cepat. "Hei hei, jangan merengut begitu,dong, cuma lima belas menit kan?"


Ah, sudahlah!


"Kenapa jadi kau yang mengantar, sih?"


"Yang lain sedang ada urusan. Lagian bagaimana mungkin aku menyuruh Urlich atau Son untuk menjemputmu?" paparnya.  "Kenapa kau selalu keberatan denganku, sih? Oh, oke, karena aku kumal?"


"Hff.. nggak juga, sih," gelengku.


"Eng, ngomong-ngomong, dia ke mana?"


"Dia? Siapa yang kau maksud?" Aku mengernyit membenahi letak ikatan rambut yang longgar.


" Atlarakalah!" Zoel melengos. "Kalau begini terus rasanya tidak baik, kau bakal kesulitan perbaikan dengannya,"


"Masa bodoh, ah," geramku malas. Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya cowok itu mengungkit soal ini.


"Nih, datangin dia dan minta maaf ," cowok itu menyodorkan plastik bening berisi ikan hias. "Walaupun gak ada romantis- romantisnya sama sekali, tapi buat cewek seunik dirimu kurasa si Atlaraka bakal senang,"


"Terus?"


" Otakmu udang banget, sih. Sana pergi! Bakal kusampaikan kalau kau sedang kerja kelompok di rumah teman," cowok itu mengayuh sepeda menjauh perlahan, "bakal ku jemput jam lima sore,"


"Ah, Zoel..., Zoel! Argh.. Sial!"


###


Lagi-lagi. Harus kurelakan seragamku koyak demi menemui cowok itu. Namun entah mengapa walau sepasang kakiku telah berpijak dengan sempurna di halaman menara rasanya... aku ragu untuk pergi.


"Ada urusan apa?" Sosok berjas putih dengan topi tinggi senada mengintip melalui celah-celah gazebo.  Walau tampang datarnya seolah menyiratkan sedikit kekesalan, cowok itu masih menerima keberadaanku.


"Hei," aku beranjak menghapus jarak yang tercipta. Berumpun-rumpun krisan memancarkan pesona, siluet siluet yang menampilkan gradasi pada wajah pucat Atlaraka.


"Aku minta maaf soal-"

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu diungkit," Atlaraka membenahi bertumpuk-tumpuk buku psikologinya. "Aku sedang dalam masalah,"


"Ayolah, jangan mengalihkan pembicaraan seperti ini !" Pintaku memaksa.


"Aku serius, ada sebuah misi yang belum dituntaskan selama berhari-hari!"


" Ada yang bisa kubantu? Mungkin otakku bisa kau peralat," pandanganku masih di sana berharap-harap cemas. Namun cowok itu sedang tak berfokus.


"Barang bawaanmu basah, tuh,"


Sial, plastik dalam genggamanku bocor. "Ah, wadah! Buruan bawakan aku wadah, ikan-ikannya bakal mati nih," mendapati raut muka cemas yang sulit untuk mendefinisikan, cowok itu buru-buru beranjak meraih vas dan menjatuhkan isinya. Maaf, tapi aku benar-benar panik begitu tahu air didalamny nyaris menyurut habis.


"Lagian buat apa kau bawa barang yang merepotkan, sih? Rahu jalan menuju menara penuh dengan duri dan ranting kering, kau masih saja...,"


Sial, dia masih saja terus mengoceh tanpa memperhatikan bagaimana perasaanku! Menurutnya sekhawatir apa sampai aku sampai merelakan tubuhku dipenuhi koleksi lecet? Teman yang tidak tahu diri. "Kurang ajar!"


Atlaraka tertegun, pupil abunys membulat sekejap . "Maaf, dari tadi aku cuma mengoceh tak jelas,"


"Setelah ini aku pulang," ku taruh ikan-ikan hias kecil dalam vas. "Menyebalkan!"


"Oi oi, Kanra! Aku sudah minta maaf kan? Ayolah jangan marah-marah seperti itu," cowok itu panik. "Oke, tolong bantu aku untuk menuntaskan misi kali ini,"


####


Tampilan Atlaraka kini lebih rapi dengan setelan jas pekat dan rambut yang disisir licin. Entah sebanyak gel rambut yang melumuri rambutnya hingga mampu berganti gaya tiap waktu.


Bagai sebagai sosok cowok konglomerat dengan gaya-gaya angkuh. Mungkin si Atlaraka ini memang cocok bila disandingkan dengan kostum apapun. Sekalipun yang terkonyol.


Iris abu-abu pekatnya bertabrakan dengan pandangan ku. Tertahan lama.


" Apaan?"


" Ganti pakaianmu, gih," pinta cowok itu dengan seenaknya.


"Bu-buat apa?!" Lagi lagi cowok itu menarik lenganku paksa. Menjentikan jari dan memanggil sebuah kotak berukuran besar.


"Ayo masuk ," dia mendorong pundakku perlahan.


Sial, dasar cowok ini... suara deritan memekik menutup cahaya yang merambat masuk menyinari seisi kotak. "Apa yang-"


"Diperlukan penyamaran hebat dalam sebuah misi," dia menoleh cepat menunjukkan seringai sebelum pada akhirnya pandanganku menggelap kehabisan pasokan cahaya.


###


Dalam hitungan sepuluh detik seisi-isi kotak itu mengoyak tubuh dari ujung rambut hingga kepala . Belum selesai kata  makian yang kulontarkan, pintu kotak setengah membuka. Menghadirkan sosok cowok yang setengah duduk santai di atas sofa.


"Parah... Parah!" Kutarik kerah cowok berkulit pucat itu geram, "benda apaan tadi?"


Tanpa mendengar ocehan Atlaraka bangkit menjentikan jari dan memanggil helikopter kedap . Duara dibukanya jendela berhiaskan mozaik lebar-lebar. Jasnya tersibak dengan kemeja putih yang koyak. "Ayo,"


###


"Setan," makian ku cuma ditanggapi dengan seringai lebar oleh Atlaraka. "Misi apa yang membuatku harus berpenampilan aneh seperti ini?"


"Pembunuhan dalam restoran berkelas, makanya kita tidak bisa berpenampilan seenaknya, lagian apa salahnya, sih? Kau cocok pakai pakaian itu,"


Aku mengerling, "terserah, deh,"


"Jangan marah begitu, dong, kau sendiri kan, yang menawarkan diri untuk bekerja sama," Atlaraka mendahuluiku, sosoknya menghantarkan bayang-bayang panjang.


" Hai!" Mendapati cowok yang tak kunjung terbalik, kukejar punggungnya geram. "Atlaraka! Oi!"


Duak! Sialnya, kakiku terantuk, si setan tengil menghentikan langkah, berbalik dan tertawa lepas.


"Sial! Awas saja nanti!" Rasa kesal meluap menyesakkan dada. "Lau itu teman macam apa, sih ?"


"Maaf, maaf,"  cowok itu beranjak menyejajarkan tubuh dan membantuku berdiri. "Aku cuma mau memastikan,"


Aku meringis menahan lutut yang memar. Dia pikir dia bisa bercanda di saat-saat seperti ini? "Memastikan apa? Memastikan kalau aku bakal mati saat berjalan di belakangmu? Puas, ha? Tertawalah sesukamu,"


Ku tarik kerah kemeja yang menyembul di antara jas necisnya, tapi cowok itu sepertinya memang tak pernah mempan dengan ancamanku. "Apa?!"


"Sakit," ha? Harusnya aku yang mengeluh begitu. Atlaraka menarik tanganku seolah ingin melonggarkan cengkramannya, tanpa kata cowok itu berbalik pergi.


"Atlaraka, sialan!"


####


Sebuah bangunan mewah membuatku berdecak kagum. Kanvas angkasa yang sewarna saga menambah agung pesona bangunan beraksen corak batangan willow dengan sentuhan glamor.


Beberapa mobil limousine atau sekedar mobil-mobil antik melaju menyesaki tempat parkir bawah tanah. Patung-patung berwajah muram mengisi berbagai tempat.


"Luar biasa," mendapati betapa miripnya ukiran-ukiran itu dengan aslinya.


"Jangan sentuh, kau tidak mau sidik jarimu tertinggal kan? Pokoknya jangan membuatku report gara-gara hal yang sepele,"


"Kau marah padaku? Maaf, siapa yang membuatku berlari mengejarmu sampai lututku memar?!" Cam ku galak. "Hari ini kau kenapa?  Ada yang tak beres dengan otak freakmu!"


Cowok berambut kecoklatan itu nenghela nafas kasar, dengan raut muka tak bersahabat dia menuang cairan gel di atas kepalaku. "Sampai kapanpun kau tidak akan pernah mengerti,"


Dia mengacak rambutku asal dan meratakan pewarnanya. "Kenapa aku tiba-tiba bersikap aneh, aku pun tak pernah paham alasannya,"


###

__ADS_1


Kesimpulannya aku sedang terjebak situas.  Oke, Kanra, please tenanglah sedikit. Berulang kali ku benahi posisi duduk. Mengedarkan pandangan pada ruang luar biasa dengan sekat berupa kaca akuarium raksasa. Cukup gelap memang, tapi kurasa ini sengaja untuk membuat sekelilingnya menjadi terlihat lebih bersinar.


Cowok itu bilang, aku tak boleh menyentuh apapun, bahkan kran wastafel ataupun tisu toilet pun tidak boleh. Repot.


Pandangan ku berlari, mengejar sosok Atlaraka yang tengah menyisipkan kamera pengawas dan penyadap di mana-mana. Akhir-akhir ini cowok itu menjadi jauh lebih sensitif, apa aku punya salah padanya? Ah, jangan bilang dia masih menaruh dendam pada kakak kakakku? Tapi di awal kami bertemu dia tak terlihat kesal denganku.


"Permisi," seorang pelayan dengan kostum glamore dan penuh dengan glitter yang membuatnya kontras, menaruh hidangan pesanan Atlaraka diatas meja. "Seporsi salad spesial dan sirup madu,"


Ah, aku hanya melongo mendapati semangkuk salad ditaruh di atas meja tampilannya unik membuatku mengerjap bingung.  Tunggu.. tunggu! Cuma seporsi? Jangan- Jangan si tengil itu cuma minta aku menemaninya makan malam? Lagian cowok semacam dia yang sehari-harinya cuma makan mie instan saja, rasanya mustahil untuk berbaik hati mentraktir.


"Atlaraka!" Kupanggil cowok itu berkali-kali , masa bodoh dengan yang lain , ah,  lagi pula aku terlanjur kesal untuk mengindahkan ocehan-ocehan random yang membuat indra pengecap ku tak nyaman.


Sosok itu sama sekali tak terusik, apa suaraku tak tersampaikan? Sedari tadi suaraku memang terdengar tenggelam di antara kebisingan, dan suara-suara yang jaraknya cukup jauh tak menimbulkan reaksi apa-apa pada pendengaranku.


Aku menyandarkan punggung refleks. Ayo berpikir Kanra...  Jika seorang pembunuh berada di tengah-tengah penghuni restoran maka dia tak mungkin bertindak dengan tangan kosong kan?


Aku butuh data lebih terperinci lagi...


Kring..


" Halo?"


"Ah Kanra, kau di mana?" Ini Ulrich.


Aku menghela napas. "Di rumah temanku, kami sedang kerja kelompok,"


"Bukan begitu,  Zoel dan aku sedang menunggu di depan sekolah, nih, kalian janjian sampai pukul 5 sore kan?"


Sial, aku tepuk jidat gemas,"Jangan menungguku! Pulanglah, aku sedang dan urusan penting!"


"Sepenting apa?" Ah, database  konyolnya aku nyaris melewatkan yang satu ini.


"Hei, Ulrich, kau tahu resoran berkelas di pusat kota?


"Yang mana? Sealand atau Gremory ?"


Mendapati logo restoran pada daftar menu, aku menyaris memekik, "Sealand,"


"Oh, dengar-dengar tempat itu akan ditutup, soalnya dua tahun yang lalu terdapat kasus pembunuhan yang berlanjut hingga sekarang,"


"Motifnya?" Awas saja Atlaraka, aku bakal lebih dahulu menuntaskan kasus dan segera pulang!


"Belum diketahui, tapi rata-rata korban tewas dikarenakan tembakan dan sayatan pada pembuluh nadi, biasanya barang buktinya hilang tanpa jejak," Ulrich menelan ludah, "ah, Kanra kau tidak sedang di sana kan? Zoel mulai tak sabaran, tuh,"


"Bilang padanya bahwa aku akan pulang tiga jam lagi, tiga jam tidak lebih!"


###


Atlaraka menarik kursi dengan guratan lelah, sorot mata abu gelapnya terlihat redup. "Sudahlah, dari tadi tak ada peristiwa yang aneh,"


"Itu karena kalau kurang jeli," cemohku, "ayo, kita mulai permainannya,"


Cowok itu mengernyit.


"Karena ruangan ini kedap suara jadi anggaplah pelakunya adalah anak atau prajurit," aku mulai menuturkan pemaparanku.


"Dan lagi, pembunuhan yang terjadi secara acak bisa jadi pelaku memiliki temperamen yang buruk sehingga membunuh orang-orang yang sekiranya mengganggu. Karena apa? Aku tak tahu,"


"Oke oke, pertanyaannya dengan cara apa dia membunuh dan kemana perginya barang bukti itu? Dua minggu yang lalu, aku menggeledah seisi rumah para pengunjung yang datang tepat pada waktu kejadian, dan polisi melakukan kejadian yang sama. CCTV tidak menunjukkan adanya reaksi aneh ," Atlaraka mengacak rambut sebal.


Aku menelan ludah, "kalau soal itu... aku juga tidak tahu,"


###


Setengah jam, kesempatanku berkurang terbunuh perlahan. " Ngomong-ngomong kau tidak makan?"


Aku melontarkan tatapan mencela, "tidak usah, kau cuma pesan seporsi kan? Dan itupun sudah yang paling murah, salah sendiri menyelidiki kasus di tempat makan yang harganya selangit,"


"Sudahlah, makan sana, aku sengaja pesankan buatmu. Lagian, aku merasa tidak enak melibatkanmu dalam hal-hal seperti ini," cowok itu menarik tisu dan menyodorkan mengkuk arahku, "pakai sendokku, nih, kau tidak mau sidik jarimu tertinggal kan?"


"Hm," aku cuma mengangguk-angguk datar, "kau sendiri?"


"Aku bakal menontonmu menghabiskan salad," tanggapnya asal, "kasus ini membuatku tak nafsu makan,"


Ku sendok tumpukan salad dengan mata berbinar. Mangkuknya bersinar seolah menciptakan cahaya dalam kegelapan.


"Itu cairan fospor, mangkuknya dilumuri cairan itu," sepertinya Atlaraka terlebih dahulu membaca pikiran.


"Oh," bagai orang dungu, aku cuma mengangguk mengiyakan.


"Lucu, saat kau makan suaramu berisik, tidak ada anggunnya sama sekali, benar kata si Zoel itu,"  cowok itu menyeringai lebar.


"Berisik! Terserah aku mau feminin atau tidak!" Ketusku galak. "Lagian aku tak peduli dengan cowok,"


"Oi, jangan menjadi pemberang di saat-saat seperti ini, dong!" Dia tertawa halus, "lagian cowok yang peduli padamu pun, tak peduli kau feminin ataukah tidak,"


"Siapa?"


"Apanya?"


"Yang peduli padaku?" Tambah ku cuek.


Cowok itu mendesah, "ya kakak-kakakmu lah,"

__ADS_1


###


__ADS_2