
Malam ini kami mengadakan pesta barbeque. Dapur dengan bak terbuka ramai begitu Ryn berkoar memanggil seluruh pelanggan untuk ikut serta dalam memeriahkan perta ulang tahun Atlaraka.
Usianya yang ke dua puluh empat. Dan Atlaraka perlu menunggu selama itu untuk merayakan ulang tahun.
"Mau coba sausnya?" Aku menyeka pelipis. "Sumpah, sambal dan saus bikinan Rue selalu juara pedasnya'"
Urlich mengangguk, kemudian berdesis kepedasan begitu mencoba sedikit. "Parah, dia berencana menghabisi pacarmu lagi!"
"Hei hei, berhentilah memanggil dia pacar ok, Atlaraka. At-la-ra-ka," ini pasti ulah si Zoel yang sialan itu. "Dan omong-omong Zoel dimana?"
"Hm, kudengar dia wedang mempersiapkan trik bersama Atlaraka," wah wah, apalagi ini, memangnya merayakan pesta dengan makan besat saja tidak cukup?"
"Oi, Karna! Tusukannya tidak raya, nih!" Rue berteriak gusar. Dasar cowok sistematis. Biarkan sajalah, dia tampak lucu begitu kewalahan melayani pelanggan yang notabenenya perempuan.
"Urus saja, urusanmu sendiri!" aku mengigit bibir menahan tawa. Beruntunglah paparazi tidak sedang tertarik untuk meliput, jika tidak tak terbayang, hari ulang tahun Atlaraka akan menjadi viral, ah tidak lebih tepatnya karena sang cover boy, Rue Eltasia tengah kerepotan membuat tusukan barbequenya simetris.
"Sang pesulap hadir!" Teriakan nyaring memecah kegaduhan. Dibaliknya sosok Atlaraka muncul dengan pakai ala pesulap. Mungkinkah.. Aku merasa dihantui berbagai ingatan sekaligus. Cowok itu berambut perak itu menyeringai.
"Oke, trik pertama." Dia menjentikan jari. "Kita nyalakan sumbunya, oke?"
Hf, terbyatamasih amatiran seperti dulu.
Lampu-lampu berpendar dengan ritmeneh. Langit berbintang berpadi. Entah cuma ilusi atau trik. Lentera-lentera dalam meja mengambang diudara. Setiap lenteta memunculkan tulisan-tulisan samar.
"Berikutnya, saya membutuhkan seorang asisten," cowok itu beranjak melangkah dengan irama teratur. Sepatu yang berdecit terhenti begitu jarak kami perlahan terkikis. "Tuan putri?"
"A-Atlaraka sialan, sudah kubilang aku benci menjadi bahan sorotan!" Aku mendengus.
"Oi oi, aku hanya sedang mengajakmu kabur, lho!" sulit ditebak. Jemarinya terjulur mengenggam tanganku hanya. Berjalan menuntun cewek tukang pukul ini. Dirinya. Yangg hanya mampu kutatap lamat punggungnya.
"Alfa," puluhan lampion berkumpul diatas kepala. Aku panik begitu benda itu meluruh menghujani kepala dan tubuh. Sialan, awas saja nanti..
"Ahaha, kenapa tuan putri? Kau takut?" Aku melontarkan tatapan jengkel, ternyata cuma bulu-buku putih yang berhamburan. Dan parahnya lagi melekat kuat bersama blus coklatku.
"Kau mempermainkanku?"
"Menurutmu?"
###
Kami berlari. Hanya berdua begitu melarikan diri melalui kotak tembus. Suara debur ombak terkecap jelas dalam rongga mulut. Pasir-pasir yang lembut dan tangan keras yanh menuntun.
"Disini," cowok itu berbalik menghentikan langkahnya. Karang-karang memecah ombak berbusa. Tempat favorit Jae?
"Pejamkan matamu,"
"Bodoh, awas saha jika kau berniat membodohiku lagi," aku mendelik.
"Sudahlah," Atlaraka menaruh jemarinya diatas kelopak mataku. Terakhir sempurna. "Kau tahu, Kanra, saat aku merasa tak sendirian lagi dunia terasa terang,"
Dia melepasnya. Sensasi dingin merasuk menembus pori-pori. Lainnya bercahaya! Warna merah dan kebiruan.
"Terutama saat dipertemukan denganmu," angin semilir menyibak rambut dan pakaiannya mengudara. "Saat itu aku merasa yakin bahwa dunia sedang berpihak padaku. Aku masih bisa menjadi seorang cowok normal,"
Syukurlah, rasanya mataku memanas. Kegundahanku menguap menghapus kegelisahan yang membuat darahku berdesir.
__ADS_1
"Besok aku akan pergi.. Membangun menara yang baru," tuturnya perlahan. Dia menelan ludah kasar, sorot matanya itu naik menatapku lama. "Dan kau-"
Perkataannya menggantung begitu mendapati liontin kecil sewarna topaz tergantung dileherku. Hadiah ulang tahun darinya, entah dia ingat atau tidaknya.
"Benda ini dari seseorang yang kusuka," Gumaman kecil membuat cowok itu tertegun. Menghubungkan senyum setengah-setengah.
"Dia pasti berharga buatmu," Astaga.. Dia bahkan tak sadar. Sialan, aku jadi sangat tertarik untuk mempermainkanya!
"Ya,"
"Dia selalu ada buatmu!"
Ya. "Hm," Aku mengangguk kecil.
"Dan sekarang dimana dia berada?"
Disini. Aku mengulung senyuman, "entahlah,"
"Dan kau masih menaruh hati padanya?"
Hh, dia bercanda? "Mungkin,"
"Inisialnya?" Dia memiringkan kepala tertarik.
"Mau apa? Melacaknya?"
Tidak mungkinlah!
Atm menunjukkan cekungan halus dipipinya. " Kalau begitu aku tak keberatan untuk menjadi yang kedua buatmu. Karena.. Kau jatuh cinta dua kali pada orang yang sama bukan?"
###
"Masih memikirkan?" Suara dentingan membuat konsentrasi buyar. "Seharusnya kau bicara pada ibu agar beliau mengizinkanmu bersamanya,"
"Ini rumit," aku tertawa. "Mana mungkin, kehilangan Jae saja rumah terasa hampa,"
Rue mengernyit. "Hidup itu terus berputar, Kanra. Kau tak akan selamanya tinggal dan bermanja-manja disini. Aku tahu kau seorang cewek yang mandiri tapi.. Semua ini tetap akan menjadi keputusan yang harus kau pilih,"
Keputusan yabg kupilih.
Definisi bahagiaku.
"Pergilah," Rue mengelus rambutku. "Dia menunggumu, dan berhentilah membuatnya berharap,"
###
Atlaraka menatap tumpukan bukunya. Menara yang seperti dulu. Dengan ingatan yang masih setengah-setengah entah mirip atau tidaknya. Cowok itu berjalan melewati rumpun-rumpun anyelir segar. Dendalion putih mengudara berlabuh dalam permukaan kolam biru jernih.
Kehidupanya yang begitu monoton. Dan sekarang cowok itu tak tahu mesti berbuat apa. Dia merindukannya. Beberapa kaliii mengungkapkan perasaannya Karna tak akan pernah datanya.
Atlaraka memikirkannya.
Selalu.
" Atlaraka!" Dan sekarang gadis itu bak ilusi semu. Berlari dan menghampiri dalam dekapnya. Pakaiannya koyak tergores ranting kering dan ilalang. Gadis itu selalu membuatnya chess mate. Mempermainkan dengan cerdik. Meluruhkan kastil pangeran beserta bidak-bisanya.
__ADS_1
Dan sekarang memeluknya.
Atlaraka menyulurkan tangan membalas peluk. Denganya kemenangan tak lagi berharga. Cowok itu hanya perlu dia. Gadis itu semata. "Tetaplah disisiku. Karena aku begitu mencintaimu,"
Kanra tersenyum, dengan sorot berkaca-kaca gadis itu menjawab perlahan. "Aku akan terus berada disisimu, karena aku juga mencintaimu."
Last Epilog
Gadis berambut legam itu berlari menerobos semak semak dan rerumputan. Terlampau senja, sinar keemasan di ufuk barat nyaris kehilangan cahaya.
"Ck," dia berdecak begitu mendapati lengannya yang tergores. Sinar matanya pekat melebar mendapati ilalang tinggi menjulang. Sekali lagi dia mengumpat dengan nafas terengah-engah.
"Butuh bantuan?" Entah dari mana suara samar itu.
Dia mengabaikannya, melangkah dengan jantung berdegup tak terkendali. Harum lavender menguar dan menara itu terlihat. Mengintip malu-malu diantara celah ilalang.
Gadis itu tertegun, menganga takjub. Langkahnya mengintari kolam-kolam penuh teratai ungu. Tempat itu bagai tak terduga. Sinar rembulan yang menggantung di angkasa memancar menjamah atap gazebo pucat.
Dibaliknya seorang cowok menyeringai. "Butuh bantuan, tuan putri?"
Gadis berambut panjang itu melangkah mundur; terantuk ujung kolam. Basah.
"Oi oi, tak perlu setakut itulah!" Dia tertawa getir menyadari ketakutan yang melanda. "Aku cuma cowok normal, bukan hantu,"
Benar-benar.. Sosok bertunuh tegap dengan rambut dan mata kelabu. "Atharika Nusantara. Dan kau?"
###
Aku mau memegang ujung cangkir gemetar. Sialan anak ini! Entah mengapa rasa gemas membuatku tak bisa diam memantaunya melalui kaca jendela menara. "Cowok macam apa yang melakukan pendekatan absurd begitu!"
Atlaraka tertawa getir. "Ayolah, mungkin ini bisa menjadi awal buatnya,"
"Hh, semoga saja," gumamku perlahan. "Kelihatannya dia sedikit tomboy, ada urusan apa dia kemari? Mencari bidak catur?"
"Entahlah," Atlaraka menggeleng, beranjak merangkulku dari belakang. "Tertarik untuk menyambutnya?"
Dasar Atlaraka yang satu ini.. "Aku akan memasak kue buatnya, dan kau... jangan coba-coba untuk menakut-nakutinya, Raka!"
"Kenapa? Lagi pula dari awal aku memang cuma tertarik denganmu, tuan putri," tangan logamnya menggenggam erat. "Cewek bawel yang misterius, ah ya, galak pula!"
"Diam!" aku mengeretak kesal.
"Ya ya," Atlaraka kembali tertawa menunjukkan taring kecilnya." Aku suka kau yang pemarah,"
Sumpah pujian macam apa itu? "Terserahlah,"
"Jadi sambutan macam apa yang akan kau rencanakan?"
"Yang pasti tak seabsud penyambutanmu dulu!" Aku menggurat senyum lembut. Kalau saja hari itu aku tidak pernah datang.. kita tidak akan pernah dipertemukan Atlaraka..
"Kau pasti mengingatnya ya?" Atlaraka merengkuhku sekali lagi. Hangat. Cowok itu menenggelamkan wajah di pundakku lama.
"Berbeda. Dulu aku tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapmu," aku membalas pelukannya dalam. "Tapi sekarang aku selalu mencintaimu,"
Tamat.
__ADS_1
End of Atlaraka: Silver Chess
20 September 2017 sampai 7 September 2018