ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
9# PANGERAN CATUR ADALAH PANGERAN SULAP!


__ADS_3

TKP digeledah. Tanpa ragu Atlaraka menyentuh mayat mayat dengan sarung tangan khusus . Selain ruangan yang berantakan, tak ada kejanggalan dalam tempat itu.


"Tusukkan bertubi-tubi di bagian kepala," gumam cowok itu. "Hei, Kanra, menurutmu, benda tumpul apa yang dipakai untuk melukai korban?"


Aku menggeleng pelan, "entahlah, ukuran luka ini terlalu kecil untuk ukuran pisau,"


Sial, kenapa masih terasa runyam ya ? Sendiri tadi memeriksa tiap-tiap ruangan rasanya sama sekali tak menghasilkan apa-apa, cuma kamar berantakan dengan mayat bersimbah darah yang terbujur kaku di atas lantai. Hanya saja, ada aroma yang berbeda bercampur dengan bau amis darah yang menyeruak. Ah, apa ya?


"Lho, bunga di dalam vas itu... Tiap ruangan berbeda-beda ya?" Menyadari vas cantik dengan setangkai bunga krisan kuning yang merekah indah.


"Sepertinya karena kita sedang berada di lantai empat, maka simbolnya bunga krisan kan?"  Cowok itu menyadarkan tubuh pada sofa empuk. " Tapi, bukannya simbol bunga krisan putih ya?  Atau tiap ruangan berbeda-beda?"


" Ayo, kita lihat kamar lain!" Seru antusias.


"Ya ya, akan ku okuti apa katamu," Atlaraka bangkit berjalan mengekor dengan gaya menyebalkan seperti biasanya.


Terkadang ada rasa takut yang menyergap begitu kulewat koridor rumah sakit. Biaya rumah sakit yang terbilang mahal membuat keluarga kami berpikir dua kali untuk memijakkan kaki menjalani perawatan di tempat ini.


"Putih," mendapati bunga krisan yang menyembul dalam vas membuatku terasa sedikit terhibur. Ya, pion-pionnya sudah mulai terlihat, pion-pion yang disusun dan dimainkan musuh. " Putih,"


"Kesimpulannya- Lho,  Atlaraka?" Menyadari keberadaan cowok yang mendadak raib ku tolehkan kepala. Ah, sial cowok itu...


" Tapi janji, ya,  setelahku tunjukkan sulapku, kau akan masuk menuju ruang pemeriksaan?" Sejak kapan? Dia disana, menghibur anak kecil yang baru saja menangis.


" Y-ya, tapi tunjukkan dulu sulapmu itu!"  Ah, dasar gadis kecil yang mudah terpedaya.. Ada rasa geli yang menyelinap dalam diriku. Sial,  aku terlalu menilai si tengil tu makhluk yang buruk. Tapi sumpah, adegan yang tak terduga terjadi di depan mataku sendiri.


"Dalam hitungan tiga, keajaiban akan muncul dalam topiku. Ayo, kita itu bersama-sama... Satu.. Dua.. Tiga!" Apa-apaan itu...tapi sejujurnya aku lumayan terkesan dengan sikapnya yang terlihat sahabat seperti itu. Mungkin aku yang salah kaprah memikirkanya sebagai seorang cowok malang yang hanya menghabiskan waktu dengan meniupnya kari instan kadaluarsa.


"Wah, bunga!" Gadis itu memekik  girang. "Ini bunga apa?"


"Krisan merah," Dia... bukan Atlaraka yang biasanya." Bagaimana? Kau suka?"


Gadis itu mengangguk senang," lucu,"


"Kalau begitu tepati janjimu ya, ibumu sudah menunggu lama, lho!" Adegan macam apa ini.. Cowok itu mengelus rambutnya- Ah, tidak! Mengacak-acak rambutnya seperti kucing!  Namun tak kuduga, si gadis kecil mah mencium pipinya kilat.


"Dadah Om!"


Atlaraka? Om ? Sialan, ku tak bisa menahan tawa.


"Apa?!"  Cowok itu melirik sinis kearahku.


"Aku tidak, kok.  Hei, dia melambai, tuh!"


Atlaraka berpaling, membalas lambainya dengan senyum tulus. Senyum tulus yang simetris dan membuat otot bibirnya terangkat. Asli bukan manipulasi.


"Jadi sampai mana-" sesaat kata-katanya terpotong dengan iris abu pekat yang memlebar, tertahan di wajahku. Lama.


"Hei, Atlaraka bunga krisan kuning itu...  bermakna apa?" entah apa yang mengganggunya tapi aku tak perduli.


Dia terdiam sejenak, menjatuhkan pandangan dan menelan ludah kasar. "Perasaan yang bertepuk sebelah tangan,"


####


Bagai takbir yang mulai tersibak secara perlahan. Dalam notes kecil kutulis kejanggalan pada tiap ruangan yang baru kami sadari. anggrek ungu, anyelir pink, cattleya sewarna lavender, krisan kuning, daisy putih, lily jingga, mawar hitam dan tulip kuning.


"Biar ku simpulkan," sembari menyesap kopi panas cowok itu membalik notesnya, "dengan ini, jenis kelamin pelaku terungkap. Gadis dalam ruangan krisan adalah seseorang yang disukai oleh pelaku, namun sayangnya dia mengalami hambatan dengan ketujuh pasien yang lain juga dibunuh,"


" Anggrek unggu bermakna misteri dan ketidakpastian, kemudian Anyelir merah muda bermakna 'aku tidak akan melupakanmu', cattleya lavender untuk ketenangan, krisan kuning untuk cinta yang bertepuk sebelah tangan, daisy putih kepolosan, lily  jingga untuk kebencian,  mawar merah berarti perpisahan atau mungkin juga kematian dan tulip kuning untuk kehilangan harapan,"


"Begitukah?" Rue mendelik dengan raut muka tak percaya. "Jadi apa kesimpulanmu?"


"Kesimpulanku mengenai pelaku adalah... dia seorang laki-laki yang diperkenalkan diperkenankan untuk sering keluar masuk kamar inap, bisa dibilang dia bekerja disini," papar Atlaraka dengan tenangnya. "Dan itu artinya, temanmu tetap bebas dari tuduhan itu,"


###


"Sindrom munchausen, Atlaraka bilang, Saga terkena penyakit psikis yang berujung pada sindrom itu,"


"Dan kau percaya?"


Aku mengangguk mengiyakan tanpa ragu. "Aku percaya apa yang dikatakannya, Atlaraka itu.. walaupun kurang ajar tapi berhati emas,"


"Baguslah dengan ini kau sudah membuka hatimu untuk seorang cowok seburuk dia," air rendaman besi terkecap kuat. Ya, aku tahu Rue akan marah. Aku tahu...


"Dia itu temanku yang berharga.Dan.. apa salahnya mempercayai seseorang sebagai teman, seperti kau yang selalu mempercayai Saga sampai tidak membuka hatimu untuk orang lain?"


Iris sewarna violet itu menatapku lamat. Rue mengelus kepalaku perlahan. Aku paham, diantara semua saudaraku yang lain, aku dan Ruelah yang paling banyak memiliki kesamaan. Keras kepala, tak mau mengalah.. sama-sama bermulut tajam dan sama-sama tak pandai bersosialisasi. Payah.


" Tapi dia berbeda, Kanra..," bisiknya halus.


"Dan sempurna bagi seseorang yang terisolir seperti aku," elakku dengan oktaf rendah. " Jangan pernah memaksaku untuk kehilangan senyumanku lagi,"


####


Atlaraka menuang air panas dalam cup mie instan. Pukul  tujuh malam. Jam makan yang terlewatkan membuatnya terpaksa meluangkan waktu untuk mengisi perut sejenak. Kanra tak sedang bersamanya, sedari tadi cowok itu sengaja menyisihkan jarak dengan gadis itu.


Pertama kakak cewek itu membenci kehadirannya, dan yang kedua bayangan gadis itu terus mengganggu .


"Hm, jadi itu ya.. maksud dari senyuman yang membuat seseorang tak bisa berpaling?" Sambil bergumam kecil dilahapnya cepat mie yang masih mengeluarkan uap panas itu. Sudah terbiasa. Sendiri dulu ia terlalu sibuk berlarut-larut dalam pekerjaan sampai tak peduli akan lidahnya yang seringkali melepuh terlalu sering dihujani kuah mie atau kari instan yang masih panas.


Ada kepuasan tersendiri saat dirinya mengenal cewek itu lebih dalam. Menggali apapun yang berkaitan dengannya melebihi siapapun. Dan kali ini... bagi sebuah hadiah istimewa Kanra yang tersenyum tanpa disadari. "Sumpah ,rasanya lebih beruntung ketimbang melihat komet halley melintas,"


Sibuk dengan pikirannya sendiri, sosok lain tengah berdiri tak jauh darinya. Menarik kursi dan duduk berhadapan di sebuah meja bundar kecil yang sama.


"Hei, menurutmu adikku itu orang seperti apa?" Cowok rupawan dengan rambut hitam kecoklatan halus menopang dagu dengan tampang datar.


Seolah-olah malas merespon, Atlaraka kembali menyeruput kuah mie atau peduli. Jendela besar yang membiaskan pantulan sinar rembulan menerpa iris abu pekatnya yang menakjubkan.


"At-la-ra-ka," Rue mengeja nama itu kesal. "Kau itu-"


"Unik," potongnya dengan nada acuh. Pandangan cowok dengan setelan formal nuansa putih itu kini terfokus pada sosok dihadapannya, "sekarang aku mengerti, kenapa kau tak ingin melepaskannya walaupun fadis itu galak, tapi sebenarnya dia bukan tipe orang yang selalu berbasa-basi untuk menarik perhatian kan?"


"Mungkin pandanganku padanya hampir sama dengan pandanganmu. Cewek itu walaupun cerdas tapi terkadang merepotkan, membuat kalian kelabakan dengan sikap blak-blakan dan keras kepalanya,"


"Aku paham,"Rue menelan ludah,"sebagai adik perempuanku satu-satunya, kami terkadang memperlakukannya sedikit berbeda. Terlalu kasar dan tidak ada feminimnya sama sekali, membuatnya sulit untuk mendapatkan teman... di tambah lagi dengan gejala sinestesia rasanyanya-


Atlaraka menghela nafas panjang," makanya, sudah kubilang kan, kalau dia itu unik,"


"Unik ya? Bagiku ketimbang unik, dia itu termasuk sosok yang spesial dalam keluarga kami. Pelit senyum, tapi saat kau melihatnya  senyum itu bagaikan keajaiban, bahaya jika orang sepertimu tahu, bakal kupukul kalau kau sampai melihatnya!" Lagi-lagi sorot mata penuh kebencian itu... Atlaraka tak henti-hentinya melontarkan seringai demi merespon.


"Kau sudah menghinaku?"


Cowok dengan pewarna rambut kebiruan itu menggeleng perlahan," tidak, aku sedang menyimak pemaparan itu, buku psikologi bilang saat seseorang yang sedang mencurahkan perasaannya, sesekali kau perlu melontarkan senyuman hangat dan mengangguk agar ia merasa diperhatikan,"

__ADS_1


"Dan kau sedang menyeringai, bodoh! mau mencandaiku, ya?" tawanya menguar tanpa terduga. "Sumpah, tak habis pikir ada seorang maniak psikologi membuat lelucon separah itu!"


Benar-benar mirip..  sekarang ini dia tak menyadari, lambat laun benang-benang yang di jalinnya hati-hati telah merangkai sebuah pilihan sempurna untuk menjamah lantai selanjutnya. Sosok sosok di hadapannya  tak menyadari  bahwa Atlaraka tengah menggeledah ruang kosong dirinya dan tiap jengkal kepribadian cowok itu.


###


Arlojiku berdetik. Rue maupun Atlaraka sama saja kurang ajarnya! Sedari tadi aku ditinggal untuk menjaga Saga. Sembari malah melahap makanan cepat saji yang dipesankan Rue, sesekali ku benahi letak selimut Saga yang berantakan.


Akhirnya Rue bersedia berterus terang denganku. Dan kurasa perlahan aku mulai mengerti mengapa Rue memperjuangkan cowok seperti dia. Cakrawala Saga merupakan putra tunggal yang perlahan mulai dilupakan kedua orang tuanya pasca mereka bercerai.


  Sindrom muchausen untuk menarik simpati. Jika aku menjadi dirinya, kurasa bisa jadi berpura-pura sakit dari mengemis perhatian menjadi opsi terpilih yang kupilih. Tak terbayangkan bila seseorang yang terbiasa kasih sayang mendadak dicampakkan ke dalam kehampaan seketika.


Duak!


"Ah, maaf, sepertinya saya menjatuhkan sesuatu," cleaning servis yang dari tadi membenahi furniture menunjukkan raut penyesalan. "Saya akan segera membereskannya, mohon maaf mengganggu,"


"Ya ya," Di saat-saat seperti ini benakku malah buntu, "eh, ngomong-ngomong kasus pembunuhan itu.. kau tau sesuatu?"


" Oh, sedikit," dia mengangguk kecil, "berkat kejadian itu sistem keamanan diperketat. Setiap karyawan dan medis akan diperiksa oleh pihak berwajib tiap satu jam sekali ,"


"Untuk apa?"


" Pencaharian barang bukti dan senjata tajam,"


####


" Bagaimana? Kau sudah bisa memulai permainannya, tuan putri?"


"Sedikit. Langkah-langkahnya sudah mulai bisa kuterka," jawabku dengan cueknya. "Hei, Atlaraka, barusan aku mendapati sebuah informasi penting, lho,"


Cowok itu mengernyit, "Apa?"


Sial, dia tidak tahu... berarti aku berhasil melampauinya!


"Fakta bahwa pihak berwajib ikut campur dan memeriksa staf-staf untuk mencari barang bukti," tutur lancarnya, "biar ku perjelas. Asumsiku, diantara para staf terdapat orang-orang yang diizinkan untuk tidak mengikuti pemeriksaan kan, sebut saja dokter yang sedang mengoperasi pasien dan bisa jadi seorang pekerja lepas langganan rumah sakit.


Bidak-bidakku mulai bergerak."Dan sendiri tadi, aku mulai menyadari satu hal furniture furniture sebagian ruangan kehilangan paku penguatnya,"


"Jadi maksudmu?" Pupil matanya melebar seketika.


"Entah logis atau tidak... Tapi aku berani menyimpulkan bahwa pelaku ketakutan begitu mendapati penjagaan ketat dan pemeriksaan tiap-tiap penghuni rumah sakit, sehingga... paku paku yang menjadikan pembunuhannya... ditelan,"


####


" Pica syndrome,"Atlaraka  berbisik, "kelainan dimana seseorang suka memakan sesuatu yang bukan untuk dimakan,"


"Contohnya?" Lagi lagi, seperti orang dungu saatku berbincang dengannya.


"Sabun, lilin, kertas, batu dan semacamnya," jelas cowok itu, dia menerawang panorama di luar kaca jendela," ngomong-ngomong Kanra,  kau bisa bernyanyi?"


"Ha? Apa maumu, sih?" aku mengernyit tak mengerti. Jujur saja pola pikir aneh Atlaraka kadang membuatku gusar dengan  sikap sok misteriusnya itu.


"Bisa tidak?" Dia menoleh tiba-tiba.


"Se-sedikit," gugupku.


Dia menyeringai lebar, "kalau begitu, ayo kita mulai pertunjukannya"


###


" Are you sleeping ... are you sleeping ... Na na na... Let's gether to my dream,"-parade dalam rumah sakit. Memang gila,  tapi terdapat kebahagiaan tersendiri muncul begitu binar anak-anak kecil dengan selang infus dan kursi roda terlihat kegirangan menyaksikan parade ini .Walau sedikit memalukan, terlebih menjadi vokalis dadakan dengan mikrofon dan pakaian sedikit aneh tapi tidak apa-apa, rasanya terbalas dengan penuh kepuasan.


Aku tahu, dari tadi cowok itu tengah bernegoisasi untuk acara ini, syukurlah, ruang ruang rumah sakit rupanya telah terstruktur dengan rapi. Pasien-pasien dengan penyakit yang terbilang parah dialokasikan di lantai atas . Walaupun terbilang hampir malam tapi acara ini terbilang meriah.


"Lets gether to my dream,"


####


Di depan mataku Atlaraka beraksi dengan begitu lihainya. Dalam aula kedap suara ini penghuni rumah sakit dijinkan berpartisipasi, beberapa alat pengatur oksigen dipasang cowok itu dengan alasan tak ingin membahayakan siapapun karena sesak nafas.


"Hitungan ketiga boneka matryoshka akan muncul!" Dasar pintar memanipulasi. dalam iris  pekatnya tak terlihat sedikitpun bahwa dirinya seorang pesulap amatiran.


"Ini matryoshka terbesar dan kita masukkan ke dalam kotak," cowok itu mengunci kotak kayu dan membacakan mantra,"mathrio.. matryoshka! Lalala trilili matryoska!" Ah sial,dia bisa tidak, sih, membuat lelucon yang lebih baik dari ini.  Beberapa anak tergelak dan meniru ucapannya.


Sosok matryoshka, boneka asal Rusia bermunculan dengan ukuran bervariasi, mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil begitu kotak dibuka. Bagaimana bisa? Memangnya kotal ekecil itu bisa diisi oleh berapa orang?"


" Lihat topiku! Kosong? Ah, tunggu sebentar, sepertinya ada sesuatu," cowok itu menjentik- jetikan jari, mungkin hanya aku lah yang mampu menangkap triknya itu. Itu bukan sulap, tapi cowok itu mengkolaborasikan dengan teknologi.


"Wah keren!" Penonton berdecak kagum mendapati merpati merpati putih yang terbang mengudara melalui topi itu.


Sedikit aneh, tapi itu.. Drone? Walau tak akan terlihat secara kasat mata terlebih dengan pencahayaan minim seperti ini orang awam manapun pasti tidak akan tahu. Tapi untuk apa?


###


"Tertangkap!" Dia tersenyum puas. "Dengan foto ini sudah jelas siapa pelakunya... Terlebih orang ini terlampau cocok dengan hipotesa kita sebelumnya,"


Selembar foto rontgen di serahkan padaku. Baru kutahu ada selembar foto ajaib seperti ini, saat foto nyata sedang terkena cahaya foto itu hanyalah foto biasa tapi saat mengatakan cahaya lilin di bawahnya foto itu berubah menjadi selembar foto rontgen memperlihatkan struktur tulang tulang manusia.


Laki-laki, pekerja keras dan yang terpenting dengan pecahan kaca dan paku dalam tubuhnya.


"Aku sudah mencari tahu tentang pria ini," Atlaraka mengacak rambut, melunturkan pewarnanya. "Surya Putra, dua puluh delapan tahu,  pekerja lepas, dengan keahlian memperbaiki listrik saluran air dan berbagai perabot. Bisa jadi dia telah mengenal Nona Elisa sebelum memiliki koneksi dengan rumah sakit ini,"


"Nona Elisa?" Aku mengernyit bingung.


Atlaraka mengangguk mengiyakan, "er, mungkin, perempuan yang disukai Surya namun bertepuk sebelah tangan,"


Cinta itu memang selalu berakhir tragis dan membuat gila. Aku mulai memahami situasi yang terjadi sekarang, Surya seorang pekerja lepas yang memiliki koneksi dengan rumah sakit ini tentunya tak hanya bekerja untuk hari saja kan? pastinya ketujuh pasien yang terbunuh juga berkaitan dengan dirinya.


Ah, sembari memperhatikan data dalam notes, aku berpikir berpikir keras.


"Ho? Jadi sudah mulai ya.. Analisis permainanmu itu?"


" Diamlah! Mungkin penjelasanku bakal sedikit sulit," Ketus gusar, "berdasarkan kecocokan dengan data korban Elisa sepertinya menyukai Mr. Tara, hubungan mereka oleh si anyelir merah muda, maka maknanya 'aku tidak akan melupakanmu' begitu kan?"


Cowok itu menaikkan bahu, " teruskan,"


"Kurasa si cattleya ungu ini ikut campur,  dengar-dengar  Miss Regina merupakan ratu gosip yang terkenal dan sisanya merupakan hubungan Surya bersama klien-kliennya."


" Benarkah? Kalau begitu ayo kita tutup kasusnya,"


Tunggu!Apa semudah itu? Mengapa aku sangat meyakini definisi akhirnya terlalu sederhana untuk diusut seperti ini?


"Atlaraka!" Panggilku menghentikan langkahnya yang mulai menjauh memburu pintu. "Kembali, duduklah!"

__ADS_1


"Kenapa?" Dia memutar tubuh dengan sering lebar.


"Aku memiliki firasat bahwa..," ayolah begitu kudapati sosok Surya yang terpotret menyiratkan raut muka yang tak bisa didefinisikan. "Biarku perbaiki,"


"Apanya? Bukannya tadi sudah jelas?"  Atlaraka menopang dagu, mengamatiku lamat melalui iris matanya yang berpendar.  Terlalu dekat, sampai-sampai kutarik kursiku mundur.


"Elisa dan Surya tidak saling jatuh cinta, walaupun telah lama mengenal dan mungkin hubungan mereka sedikit spesial tapi bukan karena perasaan!"


Ya, benar. Seorang pekerja lepas pasnya tidak memiliki hubungan untens yang membuatnya  terjerat bersama delapan korban secara bersamaan. Terlebih tugas yang terbilang tak suka berlama-lama sampai mengenal pasien lebih dalam lagi.


"Berapa lama Nona Elisa dirawat?"


Cowok itu menghela napas, menyandarkan tubuh berusaha mengingat, " satu bulan. Ah, durasi rawat inap mereka terbilang panjang, dan lagi baru kusadari mereka berdelapan memiliki data penyakit yang membuatnya perlu menjalani terapis secara bersamaan."


Yes! Dengan begitu dataku terasa lebih akurat. "Konfliknya baru dimulai, Atlaraka. Nona Elisa menyukai Mr. Tara, tapi kelima orang yang tengah menjalani terapi bersama yang telah menentang, Regina terang-terangan mempermalukannya depan umum dan Anggita membantunya, dua orang lagi si mawar hitam Lady Nana dan merah dan kuning, Marina. Secara logika kedua orang ini terbilang sulit bertahan dengan penyakit seperti ini mengingat usia mereka yang terbilang senja dan satu lagi masih terlalu muda, tapi nyatanya mereka memiliki hubungan yang cukup baik dengan Elisa,"


Atlaraka mengernyit.


Aku tetawa merendahkan. "Bersabarlah, Elisa mengetahui suatu hal, furniture furniture dalam rumah sakit ini tak terpasang dengan sempurna. Dia memanggil Surya dengan alasan memintanya untuk memperbaiki furniture ruangannya beserta ketujuh temannya itu. Sudah saling mengenal tentunya membuat Elisa paham kinerja Surya, pria itu selalu menyelesaikan pekerjaan secara spontan teratur, dan melakukan pekerjaan yang sama kemudian barulah beralih menuju tahapan berikutnya begitu Tahapan pertama selesai,"


"Maaf, Kanra. Tapi aku merasa belum paham,"


"Sudahlah, bawalah Surya kepadaku dan temui aku di rumah di ruangan Nona Elisa sekarang juga,"


####


Baru ku dapati Rue yang sekeras kepala ini begitu kupaksa agar dia membawa Saga menuju ruangan Nona Elisa. Inikah yang namanya hubungan pertemanan?


" Jadi kau memukulnya dengan kerasnya?" Mendapati ekspresi Saga yang terlihat takut,ku turunkan oktaf bicaraku .


"Aku sudah membawanya," Atlaraka menyeret Surya masuk.


Helaan nafas terdengar jelas. "Biar ku perjelas. Malam itu Elisa membunuh ke-enam kawannya, Rudolf yang masih berumur dua belas tahunkemungkinan melihat, sifatnya yang pastinya Seperti daisy putih-polos. Khawatir dibeberkan anaknya dibunuhnya juga,"


"Jadi yang waktu itu ku pukul?" ekspresi Saga sedikit cemas, mungkin ia mengetahui dirinya telah memukul wanita.


"Tidak tidak, bagaimana mungkin? Tapi barang buktinya ditelan Surya kan?" pria dengan sinar mata lemah itu memias.


Jelas sudah, goresan luka di sekitar mulut ada bukti bahwa dirinya dipaksa untuk menelan paku-paku itu. "Nona Elisa tahu bahwa saya seorang pengidap Pica sindrom,"


"Lantas kenapa kau diam saja disaat psikopat itu mengancammu!" Seruku dengan emosi meluap, "kalau saja saksi satu-satunya ini bersuara, pasti akan menjadi serumit ini!"


"Hentikan Kanra!" Bentakan Rue membuatku  berpaling mengamati sorot mata tajam yang pernah dilontarkannya. " Bersikap sopan santunlah sedikit,"


Atlaraka hanya membisu, seharusnya membantuku!


"Tak usah khawatir, anda bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa rasa takut," di saat-saat seperti ini cowok itu malah berhasil menunjukkan senyuman tulusnya, medekatkan kursi dengan memposisikannya menghadap lurus ke arah Surya. "Abaikan saja cewek galak di sana, sekarang lawan bicara anda adalah saya,"


Kurang ajar! Dasar si tengil  itu.


"Elisa adalah saudari saya, Wmwalaupun saya benci, mengatakannya tapi Elisa memanglah seorang pengidap kejiwaan. Sendari kecil ibu menyuruh kami merahasiakan hal ini dari semua orang," tuturnya kaku.


"Dan anda bermaksud membantunya, menutupi kasus pembunuhan ini? Anda memelan barang bukti agar sidik jari Elisa tidak tertangka dan namanya tetap bersih, begitu?" Lagi-lagi  cowok membuat kesimpulan cepat.


"Benar, saya menelanya dengan terburu-buru begitu menyadari saudari saya bunuh diri,"


"Tuan Saga, dibagian mana anda memukul pelaku?"


Cowok berambut kemerahan tergugu. "Eh, punggung,"


Sreet! Tanpa diduga, kaos berbahan nilon itu ditarik Atlaraka hingga robek. " Anda juga terlibat pembunuhan ini bersama saudari anda kan, Tuan Surya?"


###


"Sialan, kenapa kau tahu sih?" Decakku kesal.


"Hh, sudah kubilang kan, aku bisa membaca pikiran," terang cowok itu dengan sombongnya, " dari awal hubungan Surya dengan Noma Elisa tidak akur, maka momen ini merupakan momen yang tepat untuk membunuh dengan berpura-pura membantunya,"


"Merepotkan," sedari tadi kepalaku terasa diputar-putar tanpa henti. "Ngomong-ngomong Rue?"


"Bersama Saga," balas Atlaraka cepat.


" Kenapa dia begitu akur ya?" Aku merasa sedang menertawakan diriku sendiri tapi. Tapi tidak apa-apa, jika Rue nyaman berteman dengannya, pastinya akan kuterima itu dengan apa adanya. "Aku menjadi cemburu padanya tahu,"


Suara decitan sol sepatu terasa menggema. Pukul dua dini hari, sirine ambulans dan polisi meraung-raung memecah sunyi. Seluruh korban telah dievakuasi tuntas.


"Ada sesuatu di rambutmu tuh," langkah cowok itu terhent,  menyeringai lebar. Ia menyibakkan rambutku begitu baru saja ku balikkan badan.


"Apaan sih?"


Ditariknya benda itu perlahan-lahan, "nih, apresiasi atas senyuman sok mahalmu hari ini,"


Sial, apa-apaan sih cowok ini..tawaku meledak begitu mendapati Anyelir putih disodorkan ke arahku. Senyum kok mahal katanya? "Lain kali bakal kutunjukkan seringaiku padamu,"


"Silahkan kalau itu bisa membuatmu bahagia berada disisiku,"  ucapnya ringan, iris matanya tertahan sebentar begitu beradu pandang. "Walau hanya sekali melihat ,tapi aku sangat puas,"


" Argh, dasar otak konslet! Kau sedang berpikir yang tidak-tidak ya?" Entah sampai kapan... Tawa ini akan bertahan.


####


"Jadi cowok itu sudah pergi ya?" Saga menyapukan pandangannya pada langit-langit kamar.Rue memintaku menunggu sejenak sebelum dia mengantarku pulang. "Ngomong-ngomong bunga itu-"


"Ah, iya! Apa artinya?" Tanyaku antusias.


"Dari siapa?"  Cowok berambut kemerahan itu memiringkan kepala penasaran.


" Atlaraka,  dia bilang apresiasi buatku!"


"Kau menyukainya ya? Atau kalian saling suka?"


"Aku-"


" Ayo, Kanra, kita harus bergegas pulang sebelum Jae marah dan hukumku!"  Rue menutup pintu toilet dan beranjak menyampirkan tasnya. Aku tahu hari ini Rue sudah mati-matian berbohong demi membelaku. Dia bahkan mengatakan bahwa dirinyalah yang memasa membawaku menjenguk Saga. Kebohongan putih yang menjengkelkan.


" Baiklah," ku anggukan kepala dan tersenyum samar.


Baru beranjak beberapa langkah, Saga menyahut dengan lantangnyan "Hei Kanra!  Dia bilang kau cewek yang manis!"


Ups! Habislah sudah... Rue melontarkan raut muka sinis. Celaka!


###


Author Note: ups, ada yang merasa pusing dengan part ini? Hehe panjangan nulisnya.

__ADS_1


Next chapter: apakah kamu penasaran dengan masa lalu Atlaraka. Selanjutnya sang pangeran catur akan membongkar kisah hidupnya!


__ADS_2