ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
13# ALEXITHMIA


__ADS_3

"Aku sedang sakit!" Teriakku parau. Apa-apaan ini, rona wajah ku tak kunjung berubah. Sialan, sepertinya aku masuk angin. Semenjak cowok itu menyatakan perasaannya perutku terasa diaduk, demam tinggi mendadak dan rasanya... aku tak memiliki keberanian untuk menatapnya lama.


"Kanra?" Jae menarik knop pintu. Cowok itu menghampiriku dengan semangkuk bubur yang masih mengepul panas. "Sudah agak baikan?"


Aku menutup wajah dengan selimut. Parahnya aku baru mengingat bahwa hari ini merupakan hari pertunangan Jae dan Lumia.


"Sudah ku buatkan bubur nih," Jae tersenyum lembut. Kakakku yang satu ini.. aku yakin dia bakal kecewa jika aku berhalangan untuk menghadiri pertunangannya. Seharusnya Jae tak disini. Ada rasa ganjal yang menghantar membuatku merasa terbebani. Seharusnya Jae mempersiapkan pesta pertunangan bersama Lumin.


"Jae," kutarik tangan kekar itu lemah. Raut wajah cowok itu selalu menyenangkan untuk dipandang. Jae tak pernah membentak tanpa alasan. Hatinya lembut dan selalu memikirkan orang lain. "Aku sudah baikan, kok. Aku baik-baik saja,"


"Benarkah?" Kenyit Jae dengan seulas senyum geli. Belaian hangat di lontarkan kepadaku. " Jangan memaksakan diri begitu, Kanra, aku tak suka kau mengorbankan dirimu hanya karena keegoisanku,"


Jae tidak egois ..justru akulah yang egois.


"Lumia pasti sangat beruntung ya, dan kau pastinya merupakan pasangan yang serasi untuk dirinya," kataku antusias. "Aku ingin bertemu Lumia. Aku ingin berada disana karena keinginan ku sendiri, karena keegoisanku pribadi bukan salah Jae!"


Kakakku Jae. Aku benar-benar tak bohong, aku merelakanmu bersama perempuan yang bisa membuatmu bahagia.


###


"Lho, katanya kau sakit?" Zoel menaikkan alis curiga. Cowok itu bersama Urlich bersantai sembari membersihkan akuarium kecil. Hanya perlu dilap beberapa kali untuk membuatnya berkilau jernih.


"Sudah agak baikan," balasku acuh. "Ngomong-ngomong kalian tak bersiap? acaranya nanti sore kan?"


"Hm, kau tidak tahu? Tunangan Jae itu gadis kaya. Kita hanya perlu berangkat saja, nanti urusan perjamuannya telah diatur."


Sepertinya di rumah ini hanya aku satu-satunya yang tidak tahu apa-apa mengenai pertunangan Jae. "Lumia telah mengirimimu  gaun. Harus dipakai kalau tidak kau bakal menjadi pusat perhatian nantinya,"


"Mencoba menipuku?"


" Zoel tidak bohong , Lumia bahkan mengirimimu korset untuk dipakai bersamaan gaunnya nanti," tutur Urlich. "Berjuanglah Kanra, ini untuk Jae!"


###


"Uhh, benar-benar," Ibu menarik korsetku berkali-kali agar pas. Apa Jae tak pernah cerita jika adik perempuannya ini bukanlah tipikal gadis yang betah dengan gaun. Halah, apa yang terjadi dengan diriku? Bagai lawakan konyol. Seorang Kanra Anastasia dengan gaun bernuansa putih dengan renda emas motif motif sulur dan berbunga anak kecil menghias bagian ujung kain. Benar-benar ribet!


" Putri ibu yang cantik,"


Ha? Aku menghela napas tak berani mengelak. Selama ini aku dikenal sebagai gadis tukang pukul . Pujian yang satu itu rasanya..


"Seharusnya ibu memujiku sebagai gadis yang tangguh," aku tersenyum samar menatap pantulanmi di hadapan cermin. " Aku ini Kantak si tukang pukul,"


"Tapi sekarang kau berubah buka? Ibu dengar semenjak kepindahanmu ke SMA Edelwis sikapmu jadi lebih manis daripada sebelumnya,"  jari-jari lembut itu memainkan rambutku, memilihnya dengan penuh kasih. "Jangan-jangan.. kau sedang jatuh cinta?"


Glek!


"Si-siapa bilang? Aku cuma bosan dikatai terus!"


"Benarkah?" Paras cantik itu menatapku teduh. Rambut hitam yang menawan menurun padaku dan Urlich, mata violet gelap seperti milik Rue, kulit berwarna cerah, alis melengkung sempurna dan suara ini. Sungguh ibu merupakan sosok yang sempurna.


"Jika," kata-kata itu terputus, seolah memang dibiarkan menggantung. "Suatu hari kau jatuh cinta, tetaplah gunakan logikamu. Jadilah gadis yang baik dan rendah hati, ealaupun jika seandainya orang yang kau sukai membenci sikapmu itu,"


###


Luar biasa. Sebuah restoran mewah menyerupai bangkai kapal pesiar dengan gaya vintage kental. Panorama pesisir pantai begitu memukau terpampang jelas dari atas geladak. Lampu lampu kuning menggantung bagai lampu kristal mewah lantai terbuat dari batuan amber dengan atap topaz hijau. Sinar senja berpendar sempurna di langit jingga.


"Hei lihat, ada preparat kerang laut raksasa di sana!"  Rue antusias, sepertinya cowok itu lebih tertarik dengan barang awetan ketimbang lainnya. Rasa malu sendiri menatap mendapati cowok cover boy dalam balutan jas mewah tengah mencermati toples toples berisi kerang laut.


"Kuenya, tuan putri?" Aku menoleh, sialnya, krim krim manis menempel melekat di pipiku. Ryn terbahak dengan puasnya. "Wah.. Wah.. Apa itu riasan baru? Cocok lho,"


"Sialan," ku usap krim dengan punggung tangan.


"Sikap frontalmu bisa dikurangi sedikit? Adikku yang pemarah ini bisa-bisa tidak akan mendapat pasangan di pesta dansa nanti!"


"Hff, memangnya aku peduli?" Dengusku cuek. "Aku bisa berpasangan dengan Zoel!"


"Memangnya Zoe mau denganmu? Cowok populer seperti dirinya pastinya-"


"Sudah- sudah! Tak usah diteruskan!" Dia menjebakku.


###


Lumia sangat cantik. pipinya yang kemerahan bersemu begitu Jae menggandeng tangannya tanpa ragu. Rambutnya yang kecoklatan berombak diberi hiasan bunga-bungaan kertas berwarna putih. Gaun anggun berwarna cerah memiliki aksen mahal yang tak biasa.

__ADS_1


Kakakku dan tunangannya. Dari atas balkon dalam ruangan mewah ini kami memandangnya dengan sorot tak terdefinisikan. Seperti mimpi , Jae direnggutdari kehidupan kami dan berakhir bahagia bersama tuan putri.


Lampu kristal gantung, ubin-ubin berpola berkilau dilapisi minyak. Jae pernah bilang bahwa dia merupakan putri pemilik perguruan Edelweiss. Seharusnya aku mengenalnya, menjadi dekat dengannya sebelum ia menjadi kakak iparku.


Gesekan biolq mengalun. Sialnya, mataku memberat mengantuk.


"Mau ke mana?" Ryn menahanku.


"Bosan, aku bakal menunggu acaranya selesai digeladak,"


###


Zoel mengayuh sepeda cepat. Dengan nafas terengah-engah ditinggalkannya sepeda secara sembarangan begitu Urlich  terlebih dahulu beranjak menerobos tingginya ilalang. Ide gila di antara keluarga mereka yang menolak kehadiran cowok bermata abu-abu, dua bersaudara ini memiliki memilih untuk menjemput cowok itu untuk Kanra.


"Seharusnya kisaran setengah meter lagi,"Ulrich menyisihkan ilalang perlahan. Tempat yang sulit dijamah. Seolah tempat itu tak berujung. Namun Urlich begitu mendapati artikel menarik mengenai penyekapan Atlara Nusantara. Cowok itu berusaha melacak keberadaannya.


" Whoah, banyak ranting keringnya," keluh Zoel berusaha menyeimbangi adiknya agar langkah mereka seirama. " Terbongkar sudah alasan si Kanra rajin menjahit sobekan seragamnya!"


"Tapi apa tidak apa-apa? Kita tidak pernah tahu pasti siapa Atlaraka itu? Mengenai aku juga cukup khawatir terkait pekerjaannya,"


Zoel tertawa getir. "Lupakan, rumor bisa saja salah, bukan? Jika Kanra saja mempercayakan pacarnya itu, lantas kenapa kita tidak?"


###


Aroma harum masakan menguar, beragam hidangan terata cantik di atas wadah bertumpuk, teh-teh mahal seperti early grey tersaji dalam cangkir-cangkir ponselan putih pucat. Terdapat banyak kudapan ringan, tapi sialnya aku sedang tak berminat untuk mencicipinya satu persatu.


Mengapa kehidupan orang kaya begitu manipulatif dan penuh basa-basi, sih? Dari tadi aku merasa terasing tak mampu mengimbangi lawan bicara. Terlebih tinggal diriku sendiri yang masih menghabiskan sisa makan malam dalam piring hitam mengkilap.


Setelah ini ada pesta dansa yang berlanjut pada pembagian hadiah. Sesekali aku melirik kotak besar berisi kado dengan kertas mengkilap. Berapa biaya yang dihabiskan Jae dan Lumia untuk mempersiapkan pesta pertunangan ini?"


"Binggo! Bagaimana dengan steaknya?" Rasa familiar menyeruak memenuhi rongga mulut. Cowok bertopeng perak menyunggingkan cengiran lebar. Sial, apa jangan-jangan dia ini...


Cowok itu menyeret ku tanpa aba-aba. Apa di Atlaraka? Sosok bertubuh jangkung ini entah mengapa membuat jantungku berdetak tak terkendali. Sialan!


Ubin marmer itu mendadak kosong begitu cowok itu melintas, seolah-olah mereka menepi untuk menciptakan tempat tonton khusus. "Bersedia menjadi asistenku, tuan putri?"


Ha? Dia sedang membuat lelucon atau apa?  Lontaran sentun samar membuatku bergidik. Tanpa aba-aba lengan pucat itu tanganku cepat. "Bisa menari walz ? Tango? Atau mungkin dansa?"


"Aku tak bisa, bodoh!" Desisiku galak. Lagipula kenapa dia tiba-tiba muncul di saat-saat seperti ini sih?


"Kalau begitu kau harus mempercayakan semuanya padaku," cowok itu menundukkan tubuh; berbisik dekat. "Taruh tanganmu disini  dan ikut iramanya,"


Kalau saja bukan di depan umum, pasti sudah kuhajar raut muka tanpa dosanya itu. Dan sekarang apakah harus kuturuti pintanya yang menjengkelkan itu?


"Putri yang sedang menari tidak boleh menunjukkan raut muka masam begitu, dong! Tersenyumlah," dia mulai bergerak menciptakan gerakan kaki yang terpaksa mestiku ikuti."Terenyumlah untukku, untuk saudara-saudaramu dan terlebih... tersenyum untuk dirimu sendiri,"


"Hff, membosankan," rutukku dengan sengaja. Parahnya tanpa sadar sikap sarkastisku muncul tak terduga. Cowok ini entah mengapa membuat suhu tubuhku mendadak naik drastis, padahal aku yakin aku sudah agak baikan.


"Sedang flu, tuan putri?" Tahu-tahu punggung tangan pucat itu tengah menempel diatas dahiku. Entah mengapa aku yakin raut berubah tertegun walau sosoknya terhalang topeng perak yang berpendar.


"Sudahlah kau ini mau apa, sih? Aku benci menjadi bahan sorotan,"


"Baiklah kita selesaikan dan kabur secepatnya,"


Dasar aneh. Dia ini memang benar-benar absud sampai-sampai aku tak mengerti dengan isi kepalaku yang menjadi terbawa aneh ini.


"Sembilan puluh derajat ke kiri, setelah itu tiga langkah lurus dan berputar tiga kali."


Apa itu aba-aba? Aku merasa terlalu malas untuk berpikir. Mungkin sesekali aku harus mempercayainya tanpa banyak tanya , terlebih caranya menggenggam ku ini.. Sepertinya dia memang cemas-Ah sudahlah, berhentilah berpikir bodoh, aku ingin ini cepat selesai!


Ubin yang ku pijak terasa bergeser sedikit demi sedikit, hujan kertas mengkilap warna warni menghambur di udara memancing suara tepuk tangan para pengunjung yang terkagum-kagum.


"Selanjutnya..," ah ya, aku harus berputar sebanyak tiga kali sebelum semuanya berakhir.


"Hati-hati," seraknya penuh kekhawatiran.


Ah, sial dia terlalu mengkhawatirkanku. Selengkung senyuman tanpa sadar tergurat di wajahku. Si Atlaraka ini tanpa sadar malah memancingku untuk untuk membuktikan bahwa aku tak selemah apa yang ia kira.


Tiga kali. Diputaran terakhir helai putih bersih berhamburan dari tiap sudut. Pandangan ku telah tertutup seperti sepenuhnya, hanya tangan kekar yang terasa dingin perlahan menaungi bahuku dan membawaku pergi. Semuanya putih. Putih tanpa cela.


###


Melalui ketinggian geladak ini sorot lampu lampu kota yang berkedip terlihat bagai bintang. Debur ombak berbusa menciptakan sensasi tersendiri untuk dikecap. Dari atas tempat ini cowok itu malah terlihat sibuk sendiri.

__ADS_1


" Yoo, Kanra, kemarilah sebentar!" Atlaraka menyunggingkan senyum misterius. Dia menarik sebuah kursi dan menumpuk-nepuknya seolah memberi isyarat untuk menduduki tempat itu .


"Ada apa sih?" Tak biasa tak bisa kutahan rasa penasaran yang meluap ini.


"Em, apa ya? Memangnya kau tak ingat sama sekali?" Dengan acuhnya cowok itu seolah kembali mengabaikanku. Lilin-lilin aromaterapis berpendar. Warnanya merah pekat dengan sumbu terbakar percikkan api.


"Ayolah, jangan bersikap sok misterius seperti itu!" Dasar si tengil ini.. selalu saja menyulut emosiku.


Cowok itu tertawa renyah. "Kalau begitu, happy birthday!"


Hari ulang tahunku? Sial, kenapa aku sama sekali tak ingat?  Bahkan jenapa harus Atlaraka yang pertama kali mengucapkan selamat padaku. Semua orang selalu sibuk memperhatikan Jae dan melupakan ku sejenak.


"Kuenya, tuan putri?" Cowok itu menyodorkan kotak kue.


Sumpah kue macam apa ini? Bentuknya terlihat asimetris dan berantakan, krim kue yang tak tertata. "Parah banget!"


"Oi oi, tidak usah menertawakanku begitu, dong, bagaimanapun juga ini merupakan makanan pertama yang masak sendiri setelah mie instan dan kari instan!" Potongan kue itu dipotong dengan simetris. "Ternyata memberanikan diri berbelanja di antara kerumunan orang banyak begitu menakutkan!"


Ya ya, teruslah mengoceh, dia bahkan tak menyadari krimya tumpah mengenai pakaian.


"Tumpah tahu!" Komentarku gusar. "Sini berikan padaku!"


Tak terlalu parah,walaupun potongan buahnya tampak aneh dan tidak beraturan menyurutkan selera. "Enak kok,".


Atlaraka tak berkutik. Cowok itu terlihat senang begitu kusikat habis potongan kue pertama buatannya. Apa perasaanku saja? Atau memang matanya yang perlahan berkaca-kaca?


Mendadak kue dalam mulutku berubah pahit. Mengapa aku selalu bersikap egois dan  mementingkan perasaanku sendiri tanpa memikirkan perasaan cowok itu?


"Atla-raka? Kau mau coba?" Gugup tanganku bergetar tak karuan, kau sodorkan sesendok penuh potongan kue dengan mata berkaca-kaca.


Dia bilang selalu kehilangan apa yang dimilikinya dan setiap letupan kembang api membuncah di hari ulang tahunnya.n. Ia bilang hidupnya selalu kesepian.. Dan mungkin ini pertama kalinya dia merayakan ulang tahun bersamaku.


Cowok itu membuka mulutnya ragu. Alih-alih menerima suapan kue, sepasang tangan terulur merangkul tubuhku erat. Rasa sesak menghantam dada. Seolah-olah tak bituh lagi penjelasan.


Alexithmia. Atlaraka selalu bilang bahwa ia mendadak menjadi seorang alexithmia begitu mengenal dunia luar. Mungkin pada awalnya aku.. selalu menganggapnya sebagai suatu hal yang sepele.  Kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan perasaannya sendiri. Bodoh, tapi pada kenyataannya hal itu juga terjadi pada pada diriku sendiri.


"Sumpah kau harus coba," disela-sela tangis ku alihkan pembicaraan. "Rasanya seperti adonan tepung dan buah kalengan,"


"Aku tahu," lagi-lagi cowok itu tertawa. "Tapi yang penting kau senang kan?"


Bukan, yang penting kau tak merasa sendirian lagi, Raka. Ku telan ludah,  entah sampai kapan hubunganku dengannya terus berlangsung baik seperti ini. Aku mulai merasa kosong tanpa cowok absud itu. Seperti sesuatu yang menghilang tiba-tiba; ditarik paksa dari hidupku.


"Dan hadiahmu, Kanra," Cowok itu menyodorkan corong kecil.


Ha? Apalagi ini? Sensasi dingin menghantar begitu kulitku bersentuhan dengan benda itu. Permukaannya retak dan hancur berkeping-keping.


"Trik lagi, hmm?" Cukup menghibur walau selebihnya membuatku kesal.


Kupu-kupu berwarna cerah menghambur, sayapnya berkilap memancarkan sinar keemasan mengudara dengan bebasnya. Dalam jemariku hanya tersisa satu. Liontin sewarna topaz; kontras dalam pekatnya malam.


"Atlaraka."


Nama itu.


Nama yang selalu membuatku kesal setengah mati.


Nama yang membuat perasaanku bercampur aduk.


Nama.


"Atlaraka, terimakasih,"


Atlaraka  tertegun. Senyum halus tergurat menampilkan taring kecil miliknya. "Tidak, tapi.. aku yang seharusnya berterima kasih padamu,"


Sentuhan hangat membingkai jemariku. Tangan itu terasa keras bak logam. "Terima kasih banyak tuan putri,"


Tbc.


###


Next chapter: 14# Pangeran dan Bidaknya


Musuh yang sesungguhnya baru saja muncul dan kira-kira apa yang terjadi pada Kanra dibawah pengaruh hipnotis?

__ADS_1


__ADS_2