
Bohong kan? Cahaya-cahaya terlihat samar tertutup air mata. Sial, aku salah. Ini salahku. Aku memeluk lutut untuk menghalau suhu dingin; terisak didalamnya. Rasanya aku tak sanggup lagi untuk kembali menatap wajahnya yang tak mengerti apa-apa.
Ah, Kanra dimana mana otakmu saat ini? Kenapa aku..
begitu bodoh dan lemah.
Kring-kring.. Ponsel ku berdering.
"Kanra Anastasia, di mana posisi anda saat ini? Anda telah membawa pasien melewatu durasi yang telah ditentukan!" Kemarahan. "Bawa dia pulang atau kau dipecat!"
"Maaf, saya akan-" membawa dia secepatnya. Hanya tertahan di ujung lidah, cengkraman tangan dingin membanting benda itu hingga hancur berkeping-keping. Sosoknya tampak kontras menarik lenganku tanpa aba-aba, menyeretnya seolah tak memberi kesempatan agar langkahku berpijak dengan benar. Atlaraka kesal.
Cowok itu menembus hiruk pikuk keramaian dengan mudahnya.
"Masuk!" Bianglala. Pandanganku membulat seketika. Tidak. Jangan lagi. Keringat dingin menetes tak terkendali. Aku takut ketinggian semenjak hari itu. Hari penghancuran menara. "Jangan membuatku kesal!"
Cowok ini.. kenapa begitu pemaksa dan kasar. Lengan logamnya mendorong kasar. Tak ada pilihan selain sekuat tenaga melawan rasa trauma yang melanda.
Bianglala mulai naik. Atlaraka tak bicara apa-apa selain membuang muka menerawang dataran. Kemarahannya tak kunjung menyurut, terkadang aku tak tahu harus bicara apa. Hanya menatapnya yang mengacak rambut dengan kasar.
"Kau mempermainkanku," dia mendengus. "Apa maksudmu, huh?"
Dia bilang aku yang mempermainkannya? Menurutmu siapa yang mengawali semua ini?
Pandanganku naik menatapnya dengan sorot tegas. Menantangnya, membuktikan bahwa aku tak selemah apa yang ia kira.
"Aku cuma berharap yang terbaik untukmu!"
Benar. Demi dia. Air mataku menjadi sia-sia.
"Dan kau sama sekali tak peduli denganku?"
Sial, apa-apaan ini.. Jelas-jelas aku .. "Aku cuma ingin kau hidup dengan bahagia hiks, aku tidak bohong!"
Ketakutan, rasa pahit, dan keraguan semuanya terkikisnya ketika tanganku bergetar tak terkendali sedikit menghangat. Kenapa dia begitu mengesalkan, sih? Selalu saja membuatku salah paham dengan segala pemikirannya.
"Bahagia?" Atlaraka tersenyum getir. "Definisi bahagia macam apa yang kau inginkan? Justru dengan ingatanku yang setengah-setengah seperti ini, aku merasa seperti orang bodoh! Aku merasa tak memiliki siapapun dipertahankan!"
Tetaplah menjadi alasanku untuk terus hidup. Semua itu hanyalah kebohongan belaka semenjak ingatanya terhapus.
"Kau tak akan mengerti, sesakit apa ingatanmu dulu! Lebih baik kau tidak mengingatnya sama sekali,"
Benar, aku tak ingin melihatmu terpuruk lagi.
"Ini lebih baik ketimbang dikelilingi oleh kumpulan manusia penuh manupulasi!" Sekali lagi Atlaraka menbuang muka. Lapisan bening menaungi pupil abunya yang berpendar. "Dan kau lebih suka aku yang seperti ini, hmm? Cerdas sekali pemikiranmu itu!"
Akupun benci.
Namun sekuat tenaga menahannya. Kau hanya tak tahu Atlaraka, sebesar apa kesedihan yang kau tempuk dalam batin. Kau yang absud itu.. mata yang menatap dengan sinar tak terbaca.. Seringai. Semua selalu terbayang bagitu teringat.
Dunianya abu-abu. Gak seputih lembaran kertas atau sehitam tinta pena. Dia seorang pembunuh, namun lain di mataku. Atlaraka seorang kawan yang menyenangkan. Aku menyukai apa-apa yang ada padanya.
Aku menyukai cowok ini.
"Maafkan aku," senyum getir terlukis di wajahku. Ya , salahkan aku yang tak berguna ini. Tak pernah bisa berbuat banyak untuk menolongnya. Aku tak seperti dirinya yang selalu mengerahkan selalu kemampuan terbaiknya hanya untuk aku.
Ku tarik tubuh itu tanpa aba-aba. Menenggelamkan wajah dan terisak di pundaknya. Terserah. Setelahnya dia mungkin akan lebih membenci ku. Tak apa, aku tak akan memaksa lagi, aku akan menghentikan langkahku untuk terus mengusik hidupnya.
"Aku tidak tahu mana yang terbaik, sialan, kau selalu ku bingung setengah mati.. kau tahu apa, Atlaraka?" Tangisku membuncah mendekapnya lebih erat. Setelah ini aku menjadi takut, lebih takut lagi saat Atlaraka memutuskan pergi. "Kau punya aku. Aku melihatmu walaupun tak kau sadari.., aku memikirkanmu dan aku-"
Cowok itu bergeming. "Kalau begitu kita kembali. Kau bakal dipecat bukan?"
Ya benar. Aku mengangguk samar. Terlalu naif jika aku terlalu banyak berharap padanya. Perasaan itu telah musnah tak bersisa.
Bianglala yang bergerak turun. Kilau lampu kota berpendar.
"Menarik ya?" Dia membuka mulut dengan tatapan tak berfokus.
"Apanya?" Benar-benar...
Pupil itu beralih memandangku lamat. Seringai halus menampakan taring kecilnya. "Menurutmu?"
####
__ADS_1
"Whoaa, tumben kau datang!" Cowok berambut hitam itu nyaris tak percaya. "Ada perlu apa, hmm?"
Dasar cowok perpus. "Baca buku lah! Memangnya apalagi?" Aku mendengus dengan nada tak bersahabat.
"Ah, ya ya, tak usah berisik seperti biasanya," Ulrich menjatuhkan buku-buku tebal dari rak-rak tinggi.
Perusahaan terbesar dipusat kota. Raknya mencapai langit-langit. Manuskrip dan tabloid tersedia memenuhi lemari buku berbahan kayu jati. Atap-atapnya menyerupai kubah berwarna hijau topaz dengan gaya vintage kental dan corak kayu natural.
"Kemarin bagaimana?" Dia melirik, menuangkan teh kedalam cangkir kecil. Manusia perpus itu memang telah lama direkrut sebagai perpustakawan ilegal.
"Buruk," paparku singkat. Halaman demi halaman buku bercover tebal kujelajahi cepat. Mungkin membaca akan sedikit mengikis rasa kesal.
"Oh berarti masih tidak tidak ada perubahan ya?" Dia mendengus menyodorkan kudapan ringan. Cukup menghibur.. kudapat yang dibawakan penggemar rahasia Urlich kebanyakan berupa makanan manis, aku jadi berpikir untuk memanfaatkan hadiah penggemar saudara-saudaraku sebanyak mungkin. Benar-benar keluarga yang diberkahi.
"Masih ada teh?" Aku meniup-niup cangkir tehku yang tinggal tersisa sedikit. Aroma rempah mawar mengudara nikmat.
"Jadi kau berniat mengunjungiku untuk mengemis makanan, huh?" Urich tertawa getir. "Dasar nenek lampir!"
Aku menaikkan bahu tak peduli. Entahlah, yang terpenting untuk saat ini hanya perasaanku sendiri bukan yang lain, mengurus cowok itu terlalu menguras energi. Atlaraka.. Entah hidup yang seperti apa yang diinginkanya, hingga detik ini aku tidak paham.
Definisi bahagia.
"Hei Ulrich, menurutmu definisi bahagia itu apa?" Ujung cangkir ku menyentuh tumpulnya permukaan meja. "Karena aku tak paham sama sekali,"
####
Hujan deras. Semenjak hari itu aku memutuskan untuk mengambil cuti sementara. Awan kelabu menaungi angkasa, seakan membutuhkan tetesan-tetesan bening serupa jarum. Terlalu dingin, angin yang berhembus menyibak tirai dengan liarnya.
"Ah, Rue, sudah kubilang kan, kunci saja jendelanya!" Ryn mengomel. Cowok itu menjadi lebih sibuk sekarang, terutama pasca Jae meninggal.
Ubin ubin kayu terlanjur basah terkena cipratan air.
"Oi oi, Ryn tersayang, lihat aku sedang mengurusi Son!" Rue mendelik tak peduli. "Nah nah, Karna! Kau saja yang kunci jendelanya,"
Sial, lagi-lagi... Aku nafas kasar. Kutaruh celemeku, masa bodoh dengan hidangan makan siang yang setengah jadi. Lidahkuku sekarang disibukan dengan rasa-rasa aneh yang simpang siur menuju ke kerongkongan.
Di luar badai. Pemandangan luar jendela hanya berupa kabut putih polos tanpa hiasan. Omong-omong si Atlaraka sedang apa? Ruangannya lumayan dingin walau tidak di luar terik.
"Hoii, Kanra, masakanmu gosong, tuh!"
Sialan.
###
Uap-uap putih menguar melalui mulut dan hidung cowok itu. Namun ia tak peduli, lengan logamnya yang lain mulai merakit. Tumpukan silikon dari puluhan benda elektronik yang dicuri menggunung diaturnya untuk menyempurnakan lengan baru.
Hampir selesai, hanya perlu memasang kulit elastis buat sebagai penutup akhirnya.
Bruk!
Pintu bercanda dibaliknya muncul sosok Kanra dengan tubuh basah kuyup. Rambut hitamnya tampak jatuh dengan tetesan air hujan di ujung. Ia menggigil hebat.
Tanpa kata dihamburnya seisi tas besar. Napasnya tampak tak teratur menciptakan uap putih. "Aku sudah membawakanmu air panas, minumlah sedikit,"
Tangannya yang dingin terjemah begitu sistem sensorik didalamnya mulai bekerja. Atlaraka menelan ludah. Ada sesuatu yang asing menjalar menyesaki dada. Kenapa ia benci melihatnya seperti ini? Menyakitkan, begitu menyaksikan cewek itu mulai kepayahan.
"Ah, kau sedang merakit lengan barumu ya?" Tangan itu menyentuhnya, tanpa kata menjahit ujung demi ujung kulit elastisnya perlahan. Atlaraka bergeming, sekarang ia mulai merasakannya...
Kupu-kupu yang bertebaran dalam dada.
Tangan dingin keadaan namun menciptakan reaksi hangat dalam dalam dirinya. Seolah Atlaraka telah merindukannya begitu lama.
"Sakit?" Sesekali wajah itu menengadah untuk memastikan.
Sakit. Lidahanya kaku tanpa kata yang terlontar. Alexithmia? Sekarang dia tak bisa merespon apa-apa, hanya air mata yang perlahan jatuh membuat tubuhnya terguncang hebat.
Seseorang itu.
Seseorang yang selalu memikirkannya.
Selalu.
"Tetaplah disisiku!" Kegundahan yang menumpuk terutarakan dengan ambig. Atlaraka memeluknya dengan tatapan berkaca-kaca. Perasaan itu tak pernah hilang, selalu bersemayam didalam dada. Bodoh, kenapa ia baru menyadarinya? "Jangan jauh-jauh! Aku tidak memiliki siapapun untuk kupercayai!"
__ADS_1
Kanra adalah jalan pulang untuknya. Gadis aneh yang selalu melebarkan tangan, merengkuhnya dengan kata-kata. Dan Atlaraka membutuhkannya. Gadis keras kepala, Karna.
"Hei, sudahlah.. Jangan bersikap lemah seperti ini," bohong, gadis itu sendiri terisak membalas peluknya. "Aku jadi takut untuk melepasmu,"
"Aku tidak akan pergi," bisikan samar. Dekapannya bertahan. "Karena kau satu-satunya alasanku untuk terus hidup,"
####
###
"Perubahan secara pesat? Wah wah, psikiater muda yang hebat," wanita bergincu merah pekat dengan sorot penuh intimidasi itu mencibir. "Tapi sayangnya tahanan yang satu ini spesial, Kanra,"
Aku menelan ludah kasar. "Tapi, saya rasa Atlaraka berhak untuk bebas! Dia bukanlah seorang tawanan!"
"Ya, tapi dia seorang pembunuh! Mafia yang paling dicari karena kecerdasan yang luar biasa,"
"Atlaraka Nusantara bukanlah sosok kejam, dia hanya diperalat! Dan bodohnya lagi kalian membuatnya terpukul dengan suntikan penghilang ingatan! Apa yang kalian inginkan?!"
Aku tak mengerti dengan pola pikir itu. Primitif! Aku menghela napas berat, andai mereka tahu bahwa aku telah mengenalnya sekian lama. Ya, aku kenal dia!
"Naif kau, Kanra," dia mendesis marah.
Dia cuma tidak tahu apa-apa.
"Silahkan ambil seluruh gaji dan tabungan saya.. Tapi tolong.. lepaskan saya dan Atlaraka dari tempat ini!" Seluruh penghasilanku. Tanpa bersisa sepersen pun dipakai untuk menebusnya. "Permisi!"
###
"Ini Kamar Jae, dan kamar mandinya yang ada di dalam," Setelah sekian lama berputar-putar mencari tempat tinggal baru untuk cowok itu ujung-ujungnya ku putuskan untuk membawanya tinggal di rumah.
Ryn setuju walaupun dengan setengah hati. "Pokoknya jangan berbuat macam-macam ya!" Ancamnya galak. Sial, lama-kelamaan dia bisa makin mirip dengan Jae- seperti seorang papa muda dengan banyak anak.
Atlaraka cuma tersenyum samar, cowok berambut putih itu malah terlihat asyik menyuapkan hidanganya tak peduli. Sesekali ia melirik ke arahku. " Ini makanan apa?"
Benar-benar sosoknya yang tak suka diatur. Ryn mendengus, cowok itu beranjak meninggalkan meja makan gusar.
"Kakak ipar!" Sialan, kuharap yang tadi itu cuma delusi. Atlaraka menyeringai, pupil kelabunya berpendar memancarkan ketulusan. "Terima kasih banyak,"
Ryn tergugu. Senyum asimetris terbentuk menyebalkan. Dia berbalik perlahan. "Adik ipar payah,"
####
Tampilan baru Atlaraka. Cowok itu menggunakan hoodie dan celana training putih. Rambutnya putih kontras selalu tampak acak-acakan walau dirapikan berulang kali.
"Kenapa?" Dia memandang sinis begitu aku tertawa dengan sorot meremehkan. "Aku tahu ini sedikit aneh, tapi kau tak usah terbahak-bahak seperti itu, dong,"
Cowok itu tampak normal. Tak seperti dirinya yang kulihat pertama kali, dan sekarang aku merasa bodoh dipermainkan oleh waktu. Aku senang pada ujungnya dia kembali berada disisiku.
"Mungkin aku takkan tinggal lama di tempat ini, aku berencana membangun rumah di suatu tempat,"
"Rumah?" Aku mengernyit, "waktu itu kan tinggal dan menara. Kau tahu, kau seperti kisah Rapunzel dalam dongeng!"
"Oi oi, jangan mengingatkanku pada hal-hal seperti itu, " Atlaraka tertawa getir. " Kalaupun ada, itu artinya kau lah ibu tirinya,"
"Aku pangerannya! Kau masih mau mengelak, putri rambut putih?" Menyenangkan. "Dasar abstrak!"
Cowok bermata kelabu itu mengangguk samar. "Kenapa tidak? bukankah kau juga selalu mengelak perasaanmu sendiri, Kanra? Kau selalu mengelak bahwa kau suka padaku,"
Deg!
"A-a," gagap. Pasti gara-gara lampion itu.. Aku tersenyum dengan pandangan lurus menatapnya hangat. Pupil abu-abunya yang terkadang tampak pudar bertabrakan. Ketulusan, kehangatan, dan kasih sayang semua itu terpancar disana. Mata milik seorang pembunuh.
"Kenapa kau diam? Masih berniat mengelak, hmm?"
Tidak. Dasar cowok ini.. benar suka mengujiku. "Aku suk-"
"Aku aku lebih dari sekedar suka." Cowok itu memotong, mengukir senyum halus di bibirnya. Jemari itu menyentuhku, menyibak rambut hitam yang terurai. Ada kuncup mawar merah merekah di sana. Aku membeku saat Atlaraka memasangnya diantara rambutku yang hitam. Bunga itu.. kontras.
"Manis," dia berbalik tanpa menoleh lagi.
Dan aku.. perasaan hangat macam apa ini? Aku tidak mengerti.
Tbc. 😊
__ADS_1