ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
12# KEPING INGATAN


__ADS_3

"Kanra, buku kenanganmu di tempatku nih," Joy mendecakkan lidah sembari membenahi rambutnya yang acak-acakan.Cowok berbadan atletis dengan kulit kecoklatan terbakar matahari itu menguap lebar.


Sejurus kemudian kutatap barang yang disodorkan kakakku lekat-lekat. Sial, kenapa benda yang ingin kulupakan seumur hidup ini muncul? Sensasi menakutkan menjalar begitu kusentuh cover tebalnya.


" Walaupun kau tak suka tapi setidaknya simpanlah benda itu baik-baik," Joy menggeliat sembarangan, tanpa beranjak mencuci muka, cowok itu mencuci tangan dan meraih setangkup roti tawar. "Wah, sejak kapan kita sarapan roti terus?"


Aku menghela nafas, "harga berasnya sedang naik, tahu! Makanya si Ryn sampai ikut-ikutan kerja sambilan!"


Joy menggangguk tak peduli. Kurang peka minus untuk Joy di samping sifatnya yang playboy.


"Ngomong-ngomong hari ini kau mau menemaniku kan? Sebentar lagi libur sekolah berakhir dan aku belum membeli peralatan sekolah,"


"Yang dulu kan bisa? Peralatan sekolahmu masih bagus bukan?"


Argh.. tampang standar menyebalkan pula!


"Pokoknya temani aku, Jae bilang uangnya boleh ku ambil kalau aku sudah menemukan teman untuk pergi bersama," ujarku memaksa. "Hari ini kau tidak sedang sibuk kan? Apa salahnya menemani adikmu ini sambil cuci mata,"


"Cuci mata katamu?"


"Ya," aku mengangguk.


"Boleh tuh,"


###


"Ha? Benar, bu?"


Deringan telepon mengganggu makan siangku dan Joy. Entah apa yang sedang dibicarakan cowok itu sampai terlihat senang. Tapi, ah selama tidak ada kaitannya denganku, aku tak peduli.


"Berita bagus," Joy mengguncang pundakku, membuatku tersentak dengan terbatuk-batuk hebat. "Besok Jae akan bertunangan!"


"Ehm," aku terbatuk lebih keras lagi.


"Seriusan! Sekarang ibu sedang memilihkan cincin untuknya," cowok itu tersenyum lebar, "dan katanya cewek itu sangat cantik, lho!"


Sial, kenapa rasanya aku jadi tak rela begini? Kalau Jae menikah sudah pasti dia bakal meninggalkan kami, dan kakak tertuanya beralih pada Ryn. Mimpi buruk macam apa diperintahkan oleh sosok jahil seperti dirinya.


"Kalau begitu ayo kita bersiap!"


###


Benar, nih bukan mimpi? Pukul delapan pagi. Aku belum bersiap sedikit pun, rasanya aku tidak tahu harus apa, kalau tidak ada Jae keluarga kami tak utuh lagi.


Aku memejamkan mata, menepis pemikiran negatif yang berkecamuk. Mentari terik yang menerpa jendela rasanya tak begitu menyengat lagi. Kamarku yang mendadak kehilangan banyak pasokan cahaya. Gelap.


"Sial, ada apa, sih?" Ku gapai gapai tirai dan menyibaknya.


"Holla, Kanra!" Ini.. helikopter. Ada helikopter di depan jendela kamarku!


Argh, cowok absud ini hampir membuatku menjerit, Atlaraka dengan tampang tak tak berdosa menyeringai lebar.


Kutarik daun pintu dan melontarkan tatapan tajam. " Mau apa, huh?"


"Ahaha, galak seperti biasanya," dia mengulurkan tangan. " Ayo naik, aku sedang butuh bantuanmu,"


###


"Disini?" Kutarik lengan cowok itu eret.


Sial, kenapa harus tepat ini? Bangunan bernuansa putih pucat, dinding-dindingnya berlumut menjalar mewarnai separuh bagian tembok, kaca kaca yang penuh dengan goresan dan hilang bagiannya, juga bangku-bangku penuh coretan lapuk dimakan usia.


Dengan langkah gontai aku mengekori Atlaraka. Bagaimanapun tempat ini mengingatkanku akan kejadian-kejadian yang tak inginku ingat. Tidak, walaupun hal itu tak pernah terjadi padaku.


Sekolah dengan garis polisi melintang mengintari bangunan pekarangannya kumuh dengan air menggenang keruh, rumput dan ilalang tumbuh dengan suburnya. Sinar mentari tak memiliki celah untuk menerobos leluasa.


"s"Sekolah ini ditutup sekitar lima tahun yang lalu," suara Atlaraka terganggu decitan samar engsel engsel pintu yang berderit.


Gelap dan dingin. bolongan-bolongan kecil pembatas kayu menjejakkan sinar lemah. Atlaraka terlihat lebih menakutkan ketimbang biasanya, cowok itu sekarang benar-benar terlihat seperti hantu dengan pupil abu-abu yang terlihat pudar itu diterpa cahaya.


"Penyebabnya adalah pembunuhan berantai, er atau mungkin pembunuhan secara massal. Tapi yang pasti aku ingin segera mengusut dibalik kasus," dia membenahi rambut depan nya begitu menyadari bahwa aku sedikit terganggu dengan mata itu. "Ada masalah, Kanra?"


"Ti-tidak," aku menggeleng dengan gugup. "Ayo teruskan,"


Lorong-lorong memanjang terasa berat untuk jejaki. Debu-debu mengudara menodai ubin dan berkas paparan cahaya.


Ingatan itu... di saat-saat seperti ini benakku terasa buntu. Kusentuh guratan kapur tulis beserta percikkan darah yang telah mengering. Cecaran darah yang memadat pada tembok dan kusen kusennya.


"Kau baik-baik saja?" Tahu-tahu cowok itu menyentuh pundakku cemas.


Sial, aku jadi takut. Takut pada rambut itu dan iris matanya yang melebar. Menatap. Derap langkahnya membentur lantai keras.


" Pergi!" Seruku panik. Atlaraka mengernyit tak mengerti. Aku tahu sosok yang tengah menghantui ini bukanlah dia.. Yapi hanya saja...


" Jangan mendekat!"


Mata itu.. mayat-mayat yang terletak di sekitarnya..


"Kanra?" Cowok itu mengguncang tubuhku panik. Aku seperti orang kerasukan. Menjauh saat tangannya terjulur di depan mataku. Trauma.

__ADS_1


Airmata membuncah begitu saja, mengalir deras bersama teriakan kecil. Sepasang kakiku bergetar membuat keseimbangannya goyah terantuk kaki meja keras. "Pergi!"


###


"Pergi!"


Atlaraka membisu tak mengerti. Entah mengapa gadis itu tiba-tiba menjauh, menatapnya dengan sorot mata penuh rasa takut yang meluap tak terkendali.


Manusia memiliki rasa takut. Rasa takut yang membuat mereka tak berdaya. Tanpa aba-aba tangan pucatnya menjamah kelopak mata itu hingga terkatup dengan sisa air mata merembes menerobos celah-celah jemari.


Penggalan kilas balik traumatis. seketika Atlaraka mampu menyadari hal itu. Ditariknya lengan gadis itu lembut. Membawanya bersandar pada dinding dinding kokoh tanpa melepas tangan yang menghalangi penglihatan Kanra.


"Katakan apapun yang pertama terlintas di benakmu. Katakan apapun itu," tanpa menunggu jawaban Atlaraka menghela nafas. "Darah,"


Hening. Untuk sesaat Kanra menyentuh pelipis kasar. "Mayat,"


"Kelas"


"Gadis dengan rambut abu-abu."  Gemetar. Seolah mengangkat takbir yang terkubur selama bertahun-tahun.


"Luka." Digenggamnya jemari itu erat. Bagaimana tidak? Cowok itu merasa kelabakan mengatur emosinya sendiri, seolah rasa takut itu menular membuatnya ingin berada di dekat Kanra lebih lama.


"Pisau penuh darah,"


Benar. Rangkaian informasi alam bawah sadar yang didapatkannya melalui gadis itu. Kanra adalah korban peristiwa itu. Jadi mungkinkah Kanra pernah bertemu dengan seseorang yang diperalat sebagai pembunuh seperti dirinya? Atau mungkin psikopat yang kebetulan lewat?


"Takut."


"Mata berwarna pucat itu," tangisnya kembali membuncah menghujani pipi. "Pemilik mata yang mengejarku melewati koridor di tangannya pisau penuh darah yang sebelumnya ia gunakan untuk menghabisi guru-guru satu persatu. Rambut yang kontras dalam kegelapan. Darah. Darah dimana-mana!"


"Sak-" ah, tidak. Cukup sampai sini. Direngkuhnya gadis itu dalam. Terlalu beresiko menguak luka psikologis yang masih terbalut basah. Terlalu menyakitkan walau kejadian setelah terkubur lama. "Maaf,"


"Hm," gadis itu masih di sana, menenggelamkannya diri dalam dekapan Atlaraka. Tetes air mata jatuh satu persatu menghantam ubin lantai.


"Masih takut padaku?" Sinar senja menerobos lemah membuat ilusi bayang-bayang mereka. Walaupun tempat itu terasa mencekam namun seolah memiliki pesona tersendiri begitu terjemah cahaya keemasan.


" Apakah kau takut?  Kalau kau takut padaku, kau boleh meninggalkan-"


"Diam!" Sela gadis itu parau. Bagaimanapun Kanra tak memberikan respon pasti, sedari tadi ia hanya meringkuk tanpa membalas perkataan maupun menghindarinya. "Aku hanya sedikit terpukul dan lelah,"


Ah, benar. Sejenak Atlaraka membuang nafas kasar. Menoleh begitu merasakan kepala gadis itu merosot bersandar pada dada bidangnya. Sepasang Mata itu terpejam tenang. Tertidur dengan lelapnya.


" Jadi kau ingin beristirahat Kanra?" Atlaraka tertawa getir. Berusaha bersikap tenang walau kini jantungnya terasa berpacu hebat. Dihapus sisa air mata itu. " Terkadang kau juga membuatku takut, Kanra,"


###


Aku tertegun mendapati Atlaraka yang terlelap seperti orang mati. Dingin. Tanpa sadar si tengil itu bertumpu diatas pundakku. Halah, apa-apaan cowok ini!


Masih mengumpulkan nyawa, kurangangkan tanganku sejenak. Benakku terasa diputar kuat, ingatan samar terkadang membuatku takut.  Kejadian lima tahun silam di tempat ini.


Dan saat itu aku...


##


Gadis berseragam putih biru itu melewati koridor cepat. slSepatu kets merahnya berdecit begitu bersentuhan dengan ubin putih pucat. Gedung itu terlampau tinggi untuk dijamah, menguras energi begitu mendapati tiap-tiap tangganya.


Tas hitam pemberian Jae dilemparkannya begitu saja di atas meja kayu penuh coretan. Ia sama sekali tak berminat untuk mengobrol atau sekedar bertegur sapa.  Ya, terlalu mengganggu.


Sambil menanti detik-detik pertukaran kelas ditariknya buku kecil yang sempat dititiokan Zoel padanya. Kembarannya demam pasca mengikuti lomba band antar sekolah.


"Sudah waktunya bel, bukan? tapi kok, tidak terdengar suara apa-apa?"  Beberapa anak menarik kursi untuk membuat kubu. Berceloteh untuk mengusir kebosanan yang ada.


"Mungkin sedang ada rapat," tanggap yang lain dengan cueknya. "Hei, setelah ini pelajaran olahraga bukan? Kanra, hari ini bagianmu yang mengambil peralatanya,"


Sejenak gadis itu tertegun dan melontarkan senyum palsu. " Ah ya, biar aku ambil,"


Gadis berkuncir kuda itu beranjak menuju koridor. Sambil sesekali merutuki kurangnya pasokan cahaya, jantungnya sedikit terusik begitu rasa asing menjalar melalui indera pengecapannya.


"Bodoh, mana mungkin, ini pasti gara-gara si Rue sialan itu,"


Ruang penyimpanan logistik bukanlah tempat yang sering dijejaki. Koridornya gelap, kotor dan berdebu. Rekomendasi yang tepat untuk mengarang kisah seram di tempat ini.


Derit engsel berkarat terdengar memekakkan tak nyaman. Lambat laun bau amis menyeruak, genangan air menodai lantai merembas membasahi karpet dan matras yang tergeletak.


"Mati... mati...," bisikan samar terdengar. Dengan sisa pasokan cahaya yang tak memadai, tangkapan bayangan yang tertangkap retina membuat pupil mata gadis itu melebar dengan tatapan kosong.


Sosok itu bersimbah darah. Pakaian, tangan, wajah dengan seringai lebar dan tatapan kosong terpancar melalui sepasang mata pudarnya. Mata itu menelisik keberadaan si gadis.


" Para Pendosa harus mati," mendadak rasa menjijikan menguar bercampur saliva. "Kau harus mati,"


Langkah teratur mendekat dengan wajah tanpa ekspresi, rambutnya yang tampak abu-abu menutupi sebagian wajah dan bau amis darah itu kian tercium kua begitu ia mendekat.


" Pergi!" Gadis itu berteriak kencang membuncah kesunyian. Berbalik tanpa menoleh, jantungnya berdebar tak terkendali, bau asiletina bercampur darah yang menguap.


Sesak. Rasa itu membuncah menghimpit dada. Pandangan di hadapannya mengabur dilapisi air mata.


Rasa takut itu menghantar merambati tubuhnya perlahan. Suara derap kaki, sosok itu mengejarnya; menatapnya dengan sorot nyalang dan seringai yang tertarik lebar." Pendosa haruslah mati,"


Ubin kayu yang dipijaknya berderit. Tanpa alas kaki, sepasang kaki itu melangkah, napasnya memburu mengeluarkan uap uap putih di sekitar mulut dan cuping hidung. "Kau mati,"

__ADS_1


Kali keberapa pisau penuh cairan pekat itu teracung menghantamnya kalau saja gadis itu tak cepat menghindar. Gadis itu berlari menghindari koridor penuh mayat bergelimpangan, undakan tangga terblokir. Tubuh tubuh pucat berjatuhan seolah menghujani ubin ubin lantai dasar. Tempat ini jauh lebih menakutkan. Suram dan penuh jeritan kematian.


"Mati.. mati..," langkah itu terseok dipojokan jendela besar yang menjadi satu-satunya opsi terpilih. Mati di tangan perempuan gila atau mati jatuh dari ketinggian. Pilihan yang membuatnya berakhir sia-sia.


Sekuat tenaga menghantam permukaan kaca hingga hancur berkeping-keping. Melompat tanpa berpikir dua kali. Dia akan mati. Kalau seseorang mengacuhkannya kala itu.


###


"Putri anda mengalami trauma hebat,"  orang tua si gadis menatap dengan sorot sendu. "Anda harus segera menciptakan lingkungan baru untuknya, agar proses pemulihannya berlangsung cepat,"


Tak ada pilihan. Mata itu begitu kosong dipenuhi rasa hampa.


" Saya akan berusaha," sang tersenyum hambar. "Dan soal anak yang meninggal itu, tolong segera diurus, kami akan membiayai biaya pemakamanya nanti,"


###


Aku tak pernah kehilangan ingatan. Tidak, hanya saja seorang penghipnotis terkemuka menyembunyikan ingatan itu sejenak. Mungkin mereka khawatir karena memoriku telah menrwkam banyak kejadian tragis.


Dan cowok itu yang masih terlelap bersandar di atas pundakku . Terkadang rasa iba membuat logikaku buntu. Tidak. Aku percaya Atlaraka bukanlah pemuda seperti itu. Walau pupil matanya pudar dan rambut terang perak.


"Setan sialan," aku mendengus, memainkan rambutnya diam-diam. Hebatnya cowok itu tak terusik, kelopak matanya mengatup dengan nafas teratur. Pasti berat menjadi dirinya, makanya cowok itu begitu keras kepala dan aneh. Aku menghela  nafas menyibakan sebagian rambutnya.  Dengan sedikit penasaran kusentuh pipi yang tirus pucat seperti mayat.


"Maafkan aku," Bisiku perlahan. Wajah itu bagi permukaan gelas kaca yang beku. Sentuhan mendadak membuatku terperangah kaget. Tangannya meraih tanganku lembut. Sial, aku kelabaka,  cowok ini pasti bakal terkikik puas begitu tahu aku tengah menyentuh pipinya jahil.


"Le-lepas," sial, bagaimana bisa cowok itu masih bertahan di posisinya padahal matanya masih terkatup. Digenggamnya jemariku erat.


Ah, aku lupa cowok ini berotak konslet! Sial! Sial!


"Aku tahu kau tidak takut padaku," bisiknya samar. Seringai kecil terlukis, "tapi apakah itu artinya kau suka padaku?"


####


Bonus: Silsilah keluarga Kanra.


Kakak pertama :Jae Ethasia


Karakter: Penyayang, bijak


Umur: 23 thn


Kakak kedua: Ryn Eltasia


Karakter: Jail, kekanakan


Umur: 21 thn


Kakak ketiga: Joy Eltasia


Karakter: Playboy, atletis


Umur: 20 thn


Kakak keempat: Rue Eltasia


Karakter: Aneh, rajin


Umur: 19 thn


Anak kelima dan enam (kembar tak identik) :


1: Zoel Eltasia


Karakter: pekerja keras, sok cuek


Umur: Otw 18 thn


2: Kanra Anastasia


Karakter: Keras kepala, kasar


Umur: Otw 18 thn


Anak ketujuh: Ulrich Eltasia


Karakter: Cerdas, netral


Umur: 13 thn


Anak kedelapan (bungsu): So


Karakter: Lugu?


Umur: 2 thn


Siapakah karakter favoritmu?


Next chapter: 13# ALEXITHMIA


Menghadiri pesta pertunangan Jae, Kanra yang tomboy dipaksa berpenampilan feminim dan bagian puncaknya Atlaraka muncul ditengah pesta pertunangan, apa yang terjadi ya?

__ADS_1


__ADS_2