ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
15# PERMAINAN YANG SESUNGGUHNYA


__ADS_3

Hari minggu pagi, aku dan Zoel sibuk menguras akuarium hingga mengkilap. Arwana- arwana besar dipindahkan sejenak kedalam wadah khusus. Sembari menggosok permukaanya Zoel terkadang berceloteh soal karirnya di dunia musik.


"Ku kira cuma lelucon, tapi ternyata undangannya manggung di konser ternama itu bukan mimpi!" Tutur cowok itu menyembunyikan keantusiasannya. "Ngomong-ngomong kau boleh menontonku Kanra dan jangan lupa ajak pacarmu untuk ikut,"


Aku mendengus, menyibakan rambut demi mengusir hawa panas yang mengusik. "Bukan pacarku, bodoh! Dia Atlaraka! At-la-ra-ka!"


"Ha? Benar-benar cewek bergengsi tingkat dewa, sampai kapan kau akan menutupi hal itu?" Zoel terkikik kecil hingga rambut kemerahannya terguncang. "Kembaranku yang bego ini ternyata payah, ya?"


"Ck, terserahlah," si Zoel itu memang benar-benar tipe cowok menyebalkan!


"Em, ngomong-ngomong pas hari ulang tahunmu aku dan Ulrich  sempat mengunjungi menara, lho! Ku pikir disitulah Atlaraka tinggal, tapi ternyata tidak ada pemukiman di sekitarnya,"


Glek! Gawat.. Entah apa yang terjadi jika menara itu bongkar.. Berapa mayat yang cowok itu sembunyikan? Ah, tidak jangankan itu, kalau dia tahu sosok asli cowok itu aku bisa apa?"


"Menara itu kelihatannya sudah lama tidak ditinggal,"


Memang benar, sih, sepertinya cowok itu sengaja membuat menara yang tampak kotor dengan dinding-dinding berlumut.


"Tapi..,"


Kumohon jangan.


Jangan.


Jantungku berdetak jauh lebih cepat ketimbang biasanya. Tanpa sadar cipratan air menciptakan noda-noda pada serat pakaianku.


"Ada taman ada taman bunganya! Ku yakin cewek sepertimu pasti bakal terpesona dengan tempat itu!"


###


Insiden hipnotis terjadi beberapa hari yang lalu, namun sama sekali tak menyurutkan perang dingin dalam keluargaku, pasalnya aku kembali setelah tiga hari menghilang. Beberapa kali ku telepon Jae berharap Lumia baik-baik saja bersamanya.


"Dia baik-baik saja, kok, mungkin hanya sedikit lelah tapi dia tak terluka sama sekali. Tenanglah, Kanra. Beristirahatlah, kalau saja aku berada di rumah sudah kutarik tanganmu agar tidak keluyuran dijam tidur!"


"Ahaha," tawa palsu tanpa nada. Sumpah, hingga detik ini  laku tak berani bilang. Tidak. Terlebih untuk merealisasikan keinginan Lumia agar Jae meninggalkannya. Ku yakin Jae pasti akan sangat terpukul begitu suatu waktu ku katakan hal yang tak beralasan itu.


"Sudah ya, Kanra, kau jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak-tidak. Kudengar kau masih kurang sehat, makanlah yang banyak dan istirahat yang cukup, sewaktu-waktu mungkin akan ku kirim banyak tumis sayur favoritmu itu,"


"Ya," cukup sampai disini saja.. sekarang kerongkonganku mendadak kering. Benar-benar tak bisa...


"Omong-omong, Kanra, belajarlah yang rajin.. bukannya begitu lulus nanti kau ingin menjadi seorang insinyur?"


" Ah ya,"


"Karena itu bersemangatlah, jangan terlalu disibukkan dengan hubunganmu dengan-Ah, siapa namanya? Atlaraka?"


Aku menelan ludah kasar. "Dia cuma teman,"


"Ahaha, ya, tapi berhati-hatilah dengannya, bukannya perempuan dan laki-laki yang selalu sering bersama itu mustahil jika salah satunya tidak menyimpan perasaan lebih?"


Aku mendelik kesal, "itu hanya berlaku bagi Jae dan Lumia saja,"


"Apa salahnya berhati-hati, Kanra..,"  seraknya getir, "aku mencemaskanmu,"


Ah tidak,  Jae. Justru sekarang akulah yang mencemaskanmu.


###


"Pergi dengan Joy nih?" Zoel memicingkan mata sejenak, mungkin dia sedikit kecewa atau bisa jadi memang kecewa berat. "Memangnya Joy yakinlah tidak akan meninggalkan Kanra sendirian? Di sana banyak perempuan cantik nya, lho!"


Jangan memancingnya seperti itu, bodoh! Rasanya tanganku mulai gatal untuk melakukan pukulan langsung yang akan mendarat bebas dipipi kembaran payahku.


" Tidak ah, lagipula aku sudah punya pacar," balas Joy sekenanya. Cowok itu menyibakkan rambut hitam eboninya kasar.


"Palingan cuma jadian selama seminggu," dengus cowok itu dengan nada tak acuh.


"Kali ini aku serius, dia idamanku banget! Seorang cewek pemain catur cantik!"


Terserahlah. Tak ada seorangpun yang mempercayai Joy begitu berkenaan dengan urusan cewek. Tapi kali ini aku merasa tak punya pilihan lain! Jae yang tak lagi di sisiku, kemudian Rue yang mulai menyibukkan diri dengan tugas kuliah, Ryn yang sibuk berkutat bersama si kecil Son dan Ulrich yang sibuk dengan buku-buku perpustakaan. Tidak ada pilihan lain.


"Ini tiketnya, masuk saja karena kalian mendapat tiket VIP gratis," cowok berkulit eksotis itu menyerahkan dua selebaran tiket berwarna platinum. "Berangkat sore saja, soalnya taman hiburanya bakal penuh begitu malam tiba. Sekarang kan, malam pergantian tahun,"


"Ya ya, tenanglah, serahkan saja pada kakakmu ini,"


####


Alat sensor ini berbunyi nyaring. Lampu kecil berkedip. Menara jam itu diintari tangganya yang lapuk dan berdebu. Terkadang menyimpan ranjau tersendiri begitu pijakannya retak,  habislah seluruh tangga ambruk tak bersisa.


Atlaraka memposisikan langkah yang hati-hati. Lebih rumit ketimbang tangga menaranya. Tangga lapuk itu tak hanya berputar melingkar tapi juga terkadang berundak. Kaca-kaca mozaik besar menyeludupkan bias-bias cahaya warna-warni. Cahaya itu  menerpanya, menciptakan gradasi warna luar biasa pada bola mata dan rambutnya yang kontras dalam kegelapan .


Harus cepat membasminya. Dengan nafas terengah-engah dan uap putih mengudara- dipijakinya anak tangga bermaterial kayu willow  satu persatu.


Bangunan megah yang ditinggalkan. Sungguh disayangkan, ubinnya yang dilapisi sutra bercorak retak menciptakan pola baru. Kubah-kubah warna merah ruby berpendar samar tertutupi debu dan jaring laba-laba.


"Mati .... mati...," dia tertawa menghancurkan keheningan. "Dan gadismu juga harus mati!"


###

__ADS_1


"Tidak asik, ah, gayamu begitu-begitu saja!" Kritik Joy begitu mendapatiku berpakaian biasa. Masa bodoh, yang penting ku tepati janji kepada Zoel. "Nih, jadilah cewek walaupun cuma sehari,"


"Kenapa?" Aku mengerling tak sabaran.


"Kejutan besar buat Zoel nanti," cowok itu menarik bibir asimetris, "dan siapa tahu teman cowok Zoel bakal terpikat pada mu nanti!"


Sialan, kakak ku yang satu ini masih saja.. Tanpa kata ku tarik stelan berwarna cerah itu. Sia-sia banyak terlibat dengan cowok itu, yang ada waktu dan energi terkuras tanpa hasil.


"Ets, Kanra, jangan lama-lama ya, ku tunggu di depan,"


"Terserah,"


####


Menjelang senja, stand-stand dengan corak vertikal menyesaki sudut-sudut tempat. Bianglala raksasa menjulang tinggi nyaris melebihi menara-menara besar yang dibuat dengan bata dan bebatuan bernuansa merah berkilauan.


Tampak padat kalau saja bukan Joy yang menarik lenganku kasar, mungkin tubuhku sudah tertelan keramaian. Joy memiliki tinggi tubuh diatas rata-rata, tegap, dan atletis. Wajarlah jika tiba-tiba kakak ketiga aku ini menjadi bahan sorotan. Joy merupakan seorang atlet terkenal yang sedang naik daun, perhatian menjadi hal yang biasa buatnya.


Dengan kaos olahraga berwarna hitam pekat dan bawahan training panjang  menonjolkan seorang atlet dengan sisi gentlenya sekaligus. Ya, kalau saja dia tidak menarikku seperti hewan peliharaan kecil yang kehilangan rantai pengikatnya.


"Masih dua puluh menit lagi, kau lapar?" Melalui ekor matanya ia melirik.


"Boleh, asalkan yang murah saja, uang saku kita tidak banyak bukan?" Teringat uang jajan yang diberikan Ryn tadi pagi, rasanya cowok itu cukup perhitungan dengan memotong seperempat uang jajan masing-masing dari kami begitu tahu harga beras naik.


"Kalau begitu tunggu di sini saja dulu, kau yang menjaga tempat duduk dan aku yang mesan,"


Dasar suka seenaknya.. tahu-tahu punggungnya menghilang ditelan keramaian. Senyum samar tergurat halus.


###


"Sate buah?" Suara khas yang menyerupai  rasa markisa menguar melalui rongga mulut membuyarkan lamunan.


"Lama sekali sih? Kau pasti keasyikan ngobrol dengan pelayan cewek ya?" Desisku begitu mendapati gadis cantik tengah melambai. " Katanya kau sudah punya pacar ?"


"Ngobrol doang seharusnya takkan menjadi masalah kan?" Dia menggigit nanasnya tak peduli, "lagian aku lebih suka pacarku, dia paling jago bermain catur sepertimu,"


"Cantik?"


Lagi-lagi Joy terkekeh. Membuat rasa markisa terkecap kuat berpadu bersama saliva.


"Sebenarnya ketimbang cantik, aku justru cukup terkesima dengan-"


"Dasar otak konslet!" Ku potong cepat.


" Hei hei, kau memotong seenaknya. Aku suka pada pemikirannya tahu! Aluna itu walau bertampang rata-rata tapi memiliki keinginan kuat untuk mewujudkan mimpinya! Kuyakin  gadis seperti itu layak diperjuangkan, terlebih dia cukup dingin dan cuek,"


Benar nih, Joyku yang tertarik pada seorang gadis karena hal lain selain tampangnya. Ya, semoga saja ini yang terakhir.


####


Sulit dipercaya. Sosok di hadapannya menyerupai seseorang. Dia menyeringai lebar merusak cita sang pemilik identitas asli. "Kenapa Atlaraka, kau ragu?"


Mirip.. bahkan suaranya pun.


Cowok itu melangkah mundur, perangkat teknologi nano terhempas menciptakan suara dembuman kecil begitu membentur lantai. Sedikit lagi.. namun ia merasa tak sanggup.


" Ada apa, Raka? Sosok dihadapanmu ini hanyalah ilusi," perempuan itu melangkah ringan. "Ayo bunuh aku, bunuh aku Raka anakku!"


Rajukan halusnya memunculkan air nata disudut matanya yang berair. Ingatan-ingatan merasup berputar dalam benak.


"Ayo, ikut aku Raka, kita mati bersama-sama. Ibumu iniakan memberimu banyak teman di alam sana,"


Hatinya mencelos. Jemari itu menyentuh pipinya halus.


"Jangan main-main dengan jasad ibu!" Teriakan. Seolah melukiskan sedikit demi sedikit yang emosinya meluap. Goresan luka pada sepasang kelopak mata, jahitan memanjang, semuanya... "Berhenti! Berhenti!"


"Anak bodoh kau pantas mati!"


###


Lampu sorot berkedip menyilaukan, efek 3D bertebaran mewarnai sudut ruang. Bagaimanapun juga konser musik besar-besaran ini pastinya tak pernah bermain-main dengan perfroma. Luar biasa memang, namun yang menjadi kendala adalah rasa. Ku telan ludah kasar, entah mengapa aku sedikit tak bersahabat dengan petikan gitar dan drum. Rasa itu memuakkan mengoyak isi perut sekenanya.


"Mari kita sambut band ternama kita, Zet Boys!"


Syukurlah, setidaknya suara Zoel mampu meredam rasa memualkan ini sejenak. Kari tawar, walau ku akui aku tak begitu menyukai rasa kari yang pedas dan tajam namun tetap saja.. suara merupakan suara yang pertama kali tangis kami membuncah.


"Bagus, Zoel," Joy mengulas senyum puas yang nyaris tak pernah kulihat. Walau terlihat akur, namun ku tahu dibaliknya mereka berdua bersikap saling peduli satu sama lain. Zoel yang selalu ingin diandalkan dan Joy yang tak peduli walau dirinya kurang bisa diandalkan. Bertolak belakang.


"Ini merupakan para perfroma spesial saya, saya persembahkan khusus untuk kakak saya Joy Eltasia yang menyebalkan  dan kembaran payah saya, Kanra Anastasia!" Diatas panggung Zoel menggurat senyum asimetris. Penuh percaya diri tapi ...


"Sialan!" Aku dan Joy berucap bersamaan.


####


Mustahil. Cowok itu membentur dinding bebatuan keras tanpa melakukan perlawanan. Beberapa kalipun l tubuhnya dibanting keras tapi rasanya ia tak sanggup melukai jasad wanita itu. Tubuh itu milik Ibunya. Bisa jadi si rambut abu-abu itu menguliti nya dan menjadikannya sebagai bahan awetan. Tapi ini keterlaluan!


"Ada yang salah, Raka? Atau kau ingin mati lebih cepat, huh?"  Sembilah pisau teracung menghantam ujung lengannya. Robek, cairan merah pekat membasahi lantai. Logam-logam perak berkilat menyembul bergerak perlahan. Tanpa tulang-belulang. Tulang-tulangnya telah retak dan hancur sebelum insiden ini tiba.

__ADS_1


"Argh!" Hanya mengerang menahan rasa sakit yang luar biasa begitu uliran pisau merobeknya perlahan. Bagaimanapun keadaannya, ia tetap memilih menghindar- merangkak memburu jendela atau menjatuhkan diri dari atas tangga-tangga.


Itu lebih baik ketimbang melukai tubuh ibunya sendiri. Terbayang rasa hina begitu tubuh itu sempat di koyaknya sedikit. Rasanya air matanya tak terbendung jatuh menghujani pipi.


Jika saja ia masih bisa, pasti akan kembali direngkuhnya tubuh itu. Meluapkan seluruh kerinduan sebagaimana sang ibu selalu menghiburnya karena ia tak memiliki teman.


Mustahil nenghancurkan tangan itu .. kulitnya milik seorang wanita berparas lembut yang selalu membantunya mengayun-ayunan sepulang berjalan-jalan dan mengunjungi taman bermain. Milik perempuan tersayang yang mengelus kepalanya, membingkai tubuhnya dengan lembut.


Dan suatu kesalahan bila dirinya berani merusak wajah itu. Senyum lembutnya terbayang- menatapnya seolah berkata agar dirinya tak pernah sendiri; selalu ada sang ibu yang mempercayainya, menjadi tempat bersandar yang nyaman buatnya.


"Bodoh," sekali lagi tubuhnya menghantam ujung kusen jendela, menghantar rasa pening melanda. Sakit, tapi tak pernah sesakit hari itu. Pandangannya kembali memburam dipenuhi air mata.


Ia ingin hidup.


Hidup dengan bahagia.


Hidup dengan normal.


" Bunuh aku!" Benda berujung runcing itu dijatuhkan menyentuh ujung kakinya. Dia menyeringai menanti perlawanan.


Dengan tangan bergetar Atlaraka menutup mata dan meraih benda itu. 'Bunuh' dia bilang? Seulas seringai miring tergurat di wajahnya. Ia mempersiapkan ancang-ancang dengan sepasang kaki goyah. " Kalau begitu aku tidak akan setengah-setengah,"


"Bagus dengan begitu-" perkataannya tercekat begitu Atlaraka berlari melewati dirinya. Menghantam kaca mozaik hingga hancur berkeping-keping. Tubuh itu jatuh terlontar ke udara, menyibak rambutnya yang putih dan berakhir menghantam permukaan trotoar. Hilang setelah.


Tentu saja. Ketimbang membunuh malaikat pelindungnya, pasti tidak akan setengah-setengah... untuk melarikan diri darinya.


###


"Sialan, si Joy itu !" Cowok itu keasyikan mengobrol dengan pramusaji hingga melupakanku. Bianglala penuh dengan untaian lampu menjadi satu-satunya patokan. Menyenangkan begitu melihatnya, mungkin menaikinyabakal sedikit tegang menyadari betapa dekatnya dengan langit dan jauhnya permukaan beton di bawah sana.


Kapan-kapan harus ku ajak salah satu saudaraku atau Atlaraka mungkin?


Ah, parahnya beberapa hari ini ia menghilang, tak ada di dalam menara. Apakah ia baik-baik saja? atau memang sengaja.. usai berani-beraninya mencium keningku dia sempat sampai tak berani menunjukkan muka karena takut dihajar.


Teng.


Teng.


Benda aneh yang membuatku tertegun. Sialan, cowok itu ternyata memasang penyadap! Benda itu nyaris transparan dan berkedip begitu berbunyi.


Tidak bisa dilepas. Apa- apaan sih, benda ini? Dan parahnya benda ini menarik perhatian. Sembari berdecak sebal ku langkahi jalanan padat. Cara mematikannya mungkin hanya cuma Atlaraka yang tahu. Tapi di mana? Cowok itu hilang entah dimana.


###


Dingin. Air sungai itu meresap membasuh pori-pori. Kelopak mata Atlaraka terpejam tenang, kehilangan kesadaran. Tubuhnya terapung mengikuti arus.


Lebih baik. Setidaknya ia sempat berguling menjatuhkan diri dalam derasnya aliran sungai. Masih ada kesempatan untuk terus hidup dan bertahan dalam ketidakberdayaannya.


Masih ada seseorang yang menjadi alasannya untuk hidup. Ya, tak menghilang sepenuhnya. Sesaat tubuh itu terdampar menyentuh tepian dingin. Tak ada tenaga untuk berdiri, kesadarannya telah direnggut.. Ia hanya perlu berharap dan menunggu waktu. Semoga ia cepat tersadar hingga tubuhnya tak membiru kaku, dan semoga saja tenaganya pulih untuk bisa berdiri dan pulang menuju menara. Menyenduh mie instan dan menunggu menungguinya mendingin sambil mengerjakan proyek besar. Atau mungkin menunggui Kanra.. Ah, sudah berapa lama.. tapi sekuat tenaga ia mengubur rasa rindu yang meluap menyesaki dada. Demi dirinya.. jangan dulu..  dia tak ingin gadis terluka.


Dalam keheningan suara derap kaki memburu menciptakan domino-domino bersama aliran sungai deras. Semoga saja sosok yang baik berbelas kasihan untuk mengulurkan tangan pada makhluk senista dirinya. Semoga saja.


"At-la-hiks," sesuatu yang hangat menyentuhnya. Memeluknya erat. "Bangun, bodoh!"


Dia kenal dengan suara ini. Kanra?


####


Cowok itu makhluk macam apa? Yang kutahu anatomi manusia tak bercampur dengan mesin. Harus kuapakan? Rasa cemas bergulir mendapati sosok itu tak kunjung tersadar. Sial, dia pasti merasa kedinginan.


Cukup sulit untuk membawanya pergi. Dia terperangkap dalam saluran bawah tanah. Hanya menariknya menuju tempat yang kering jadi satu-satunya opsi  terpilih. Pakaiannya basah, cairan merah merambas mengotori warnanya yang putih. Alat serupa kerangka didalamnya bergerak naik turun dan selebihnya patah.


Aku tak boleh bersikap lemah. Tidak!


Kuhapus air mata perlahan. Sejak kapan aku berubah menjadi cewek cengeng?  Menangis tidak akan menyelesaikan masalah!


Tapi kenapa.. kecemasan yang melanda membuatku merasa cemas takut kehilangan.


"Tidak apa-apa," bisikan lemah. Mata bermanik abu menatap sayu. "Jangan mencemaskanku.. jangann..,"


Bodoh! Andai saja cowok tengik itu bisa membaca kepelikan yang membuat benakku terasa diputar hingga buntu.


Andai saja...


Aku merosot, kepalaku menyentuh dada biangnya. Jantungnya berdetak sesekali. Kunaikkan wajah, menahan tangis yang membuncah. Dia mempermainkanku. "Mau mencoba mati, heh?"


Seenaknya mengatakan hal yang sulit seperti itu. Benar-benar tak habis pikir!


Seringai lemah terukir, "tadinya,"


Bagus, dia gila! Benar-benar gila!


"Tapi sekarang.. seorang cewek bawel memandangku dengan sinis," pelan namun entah  mengapa terasa menjengkelkan. Jemarinya menggapaiku, menyibak sebagian rambut. " Tetaplah menjadi alasanku untuk bertahan hidup,"


"Dengan begitu kau tidak akan mencoba mati?" Lirih. Seakan rasa takut meluap.


"Ahaha, ada apa denganmu, Kanra?" Dia tertawa getir, cowok itu membuang ludah kasar. " Padahal aku suka kau yang biasanya,"

__ADS_1


Tbc.


###


__ADS_2