ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
7# SELEMBAR NYAWA


__ADS_3

Jika penyelidikan dilakukan secara membabi buta rasanya perlu memakan waktu, sendari tadi pandanganku tetap di sana, menatap lamat layar mungil yang muncul begitu ku pakai alat pemindai serupa jam tangan.


Ada berpuluh-puluh orang yang layak dicurigai. Sendari  tadi otakku terasa diputar keras. Jika seandainya sosok itu memiliki temperamen yang buruk dia pasti bakal blak-blakan menunjukkan emosinya di hadapan khalayak.


" Hei Atlaraka," kupanggil cowok yang tengah asik-asiknya menyeruput kari instan yang diam-diam diselundupkannya dalam saku. "Kecuali aku, kira kira apa yang memungkinkan orang terganggu dengan suara?"


Cowok dengan pewarna rambut setengah meluntur ke abu-abuan itu cuman terkikik, "mungkin gara-gara seseorang yang menyantap makanan dengan berisik,"


"Hei hei, jangan menyidirku oke?" Aku mendengus kesal. "Ah, tapi tunggu, kenapa ini sangat menarik ya?  Oi, menurutmu psikopat itu mengalami sesuatu yang unik?


Atlaraka tertegun. "Apa dia... Mengidap misophonia ya?" Dia meletakkan karinya perlahan di atas meja, pupil matanya yang membulat menatap kosong ubin-ubin mengkilap. "Di dunia ini beberapa orang yang terganggu dengan suara berisik saat makan, kau mengerti maksudku, Kanra? Ku rasa ini cukup masuk akal,"


Aku mengangguk puas . "Biar ku perjelas, dalam restoran kedap suara dengan posisi tempat duduk yang diatur secara acak, kurasa pelaku sengaja memilih tempat yang selalu dijadikan opsi terakhir untuk dipilih." Runtutan kepingan dalam benakku mulai tersusun, "karena pelaku merupakan seorang misophonia, kurasa jelas sudah mengapa dia memilih tempat ini. Namun, keramaian memang tak bisa dihindari kan? Jadi korban yang terbunuh oleh pelaku adalah tak lain orang yang pernah duduk sejajar dengan pelaku yang memiliki kebiasaan makan secara berisik,"


"Hmm, mungkin,"


####


"Holla, Kanra," suara samar terdengar begitu ku taruh alat bantu pendengar telinga. Kisaran tiga meter ke depan Atlaraka mengatur posisi dan mulai mengoleskan cairan fosfat di berbagai tempat. "Ada yang aneh disini,"


"Aneh? Tunggu, aku akan segera menemuimu,"  Argh, sial! Sepatu bethak tinggi membuatku kepayahan.


"Ada pecahan piring di tempat kejadian," sepertinya Atlaraka sedang memastikan, "Kanra, kau tak perlu datang kemari,"


"Tapi-"


" Tunggu aku diluar, dan kasusnya sudah selesai,"


"Ha?"


" Tunggu aku di luar, aku akan segera kembali setelah ini,"


####


Sialan, si Atlaraka   memang suka berbuat seenaknya.


Kubenahi rambutku yang acak-acakan, pewarna merah muda mencolok membuat tampilanku sedikit aneh. Ah, tidak, sangat aneh.


"Mohon ikuti saya," seorang pria klimis membungkuk sopan.


"Saya sedang menunggu seseorang," tolakku cepat. Apa lagi ini...


" Tuan Atlaraka meminta saya untuk menjemput anda,"


"Atlaraka?"


Pria itu mengangguk, menunjukkan jalan menuju tempat rahasia di bawah tanah.Entah saat ini masih mempercayai ataukah tidak, benaku sudah terlanjur buntu. Lorong-lorong mengeluarkan suara dan rasa yang berbeda untuk dikecap.


"Silahkan,"


Pintu terbuka dan Atlaraka  hadir bersama sebuah jasad kaku.


####


"Ini tunangan saya Selina Magenta," cowok itu berapi-api di hadapan seorang pria, "Selin, ini owner restoran, Rupert Horizon,"


Sial, dalam keadaan seperti ini aku cuma bisa mengangguk-angguk mengiyakan, dengan senyum palsu yang mudah untuk baca. Tunangan katanya? Katakan sekali lagi maka aku akan menghajarmu sampai mati.


"Salam kenal Selina, anda cantik sekali,"  pria itu menyodorkan tangannya hangat.


"Sayangnya kau harus tahu bahwa aku seorang pria pencemburu, Rupet," apa-apaan sih, cowok ini?  Mendadak ia menarik lenganku dan mendorongnya untuk mundur. " Nah, jadi kalau kau tidak keberatan untuk kami mewawancarai?"


"Tidak, silakan saja," Rupert menyandarkan tubuh rileks.

__ADS_1


"Ah sayang, jangan jauh-jauh begitu, dong. Kau masih marah dengan insiden makan malam tadi ya? Sudahlah, aku sudah menyedihkan kari cup untukmu."


Grr.. apa-apaan drama sok dramatis ini. Aku beranjak menginjak kakinya dengan sengaja. "Terima kasih," aku akan menghabisimu setelah ini.


"Ruper, ku mohon izinkan tunanganku menyantap makan malamnya, sepertinya dia sedang kelaparan,"  si Atlaraka menyalakan alat perekam beserta notes kecil. "Ayo kita mulai, dan er, sayang, kau juga sudah boleh menghabiskan kari instanmu,"


Lagi lagi expired. Betapa niatnya cowok ini untuk meracuniku. Ah, sudahlah.. apa Rupert pelakunya? Kusantap kari yang masih panas dengan hati-hati. Sial, rasanya sangat tidak enak.


"Terkait dengan kasus pembunuhan di restoran ini, apakah kau mencurigai seseorang ?" Selidik Atlaraka dengan oktaf meninggi.


"Sepertinya dia merupakan seorang pengunjung yang entah siapa,"


"Hmm, sayang, sepertinya kau kurang berselera makan ya?" Atlaraka menoleh sejenak dengan tampang menyebalkan.


Aku mengerling sebal. Misophonia , apa Raka sengaja memperalatku untuk menjebak pelaku? Makan dengan suara sebersik mungkin, itulah yang diharapkannya.


"Apa tadi? Maaf bisa kita ulang? Aku terlalu mencemaskan Selina,"


Masa bodoh, ah. Aku menyeruput kari cepat. Lagian kalau Atlaraka yang lebih cerewet ketimbang biasanya, memberikan keuntungan tersendiri karena karinya jadi terasa tak terlalu buruk lagi.


"Atlaraka, sampai kapan anda akan mencurigai saya? Anda seorang pemburu memburu pisikopat handal kan?" Rupert meliriku sejenak. "Dengan tangan kotormu, bagaimana mungkin kau bisa mencintai seorang gadis yang baik-baik?"


Cowok dengan pewarna rambut gelap itu menatap kosong.Bagaikan sebuah saklar berbahaya yang disentuh secara sengaja. Pria ini..memojokkannya.


"Ho? Maaf ya, mengapa arah pembicaraan anda malah condong pada hal yang privasi?" Aku berdecak  sela-sela menghabiskan kari. "Jangan menghakimi tunangan saya, karena kami saling mencintai tanpa melihat masa lalu!"


Ck, apa-apaan omonganku ini? Ah, ini pasti gara-gara Joy yang selalu memuji dan berkata sok manis pada gadis-gadis yang lewat saat ia sedang bersamaku. Bagus Joy, kau baru mengajariku omong kosong yang berguna di saat-saat seperti ini .


Wow, Atlaraka kau mendapat seorang gadis yang luar biasa!"


Tunggu! Ah, tidak, arah fokusku bukan pada Rupet, sekarang ada rasa ganjil yang sampai pada kerongkongan. Ini suara apa?


"Hei, kenapa kau diam saja? Ayo pujilah tunanganmu dan pergilah sekarang juga,"  dia itu menyalakan pemantik api untuk rokok. "Atau jangan-jangan kau mulai memikirkan perkataanku?"


"Hm?" Sialan, dia sedang tak bisa diajak kompromi. Aku butuh berbalik tanpa ditakuti curigai. Biar ku talar,  kisaran duapuluh langkah di tempat ini dua orang dengan langkah ringan menuju kemari, dan ini... suara senapan yang sedikit diguncang.


"Peluk aku," argh... harga diriku terasa dibuang-buang!  Sialan, aku jadi gila karena hal yang sepele.


"Apa?" Sumpah, ini menyebalkan! Tanpa aba-aba ku dekap tubuh cowok itu hingga tak berkutik . "Lihat kebelakang,"


Suara nafas Atlaraka yang terdengar terpatah-patah. "A-apa?"


"Kita sedang menjebak, bodoh," bisikku perlahan. "Dia adalah seorang menteri dengan kedua anak bidaknya. Jebakan yang menggiurkan agar kita terbunuh oleh anak bidak,"


"Oh," aku tahu diam-diam ia sedang menyeringai, "kalau begitu rokok yang sedang menikmatinya merupakan pelatuk dengan peluru, dan dua anak bidang yang sedang mengintai membawa pecahan piring dengan noda posfor, terlihat jelas, mereka tak menyadari betapa mencoloknya pecahan itu dalam kegelapan,"


"Wah wah, sungguh dramatis ya Atlaraka," cemoh Rupet.


Cowok itu buru-buru melepaskan dekapanku. "Terima kasih sayang, kau gadis yang benar-benar jenius ," dia melirik, "kurasa kita tak perlu melanjutkan sesi wawancara, segalanya telah  terkuak Rupet,"


Ia menjentikan jari, " pada kenyataannya kau bukan seorang psikopat, tapi benar adanya jika kau seorang pengidap misophonia, kau tidak bisa membunuh dengan tangan sendiri dan kau membutuhkan pelayan-pelayan untuk bekerja sama dalam proses pembunuhan ini,"


"Hh, atas alibi apa  kau menuduhku? Lagian ketika tunangan menyantap hidangan, aku tak metasakan apa-apa dan terusik,"


" Ruangan ini kedap suara, untuk mendengar suara kau perlu aktifkan alat bantu pendengaran dalam pematikmu,  dan agar kau tak terganggu dengan suara berisik tunanganku mematikan alatnya dengan menekan pematik, dan berpura-pura merokok sekaligus mengaktifkan fungsi pelatuk dalam rokokmu."


"Sialan!"


"Nah,  sayang aku mencintaimu, lho!"  Dia mendekatkan wajah.


"Si-"  cowok itu membekap hidung dan mulutku dengan tangan. Apa-apaan ini?


"Kau sedang apa, Rupet? Pematink api tidak menyala ya? Wah, sayang sekali kalau begitu.. Bagaimana caranya agar kau bisa menembak? Dan... di mana kedua anak buahmu itu?"

__ADS_1


"A-apa?" Wajahnya berubah menjadi pucat pasi.


"Ahaha, tidak apa-apa, kau memang sedang panik, sih.  Biar ku pertegas faktor yang membuat  pematikmu tidak menyala- ah, daripada itu Rupet,aku merupakan seorang profesional dalam mengembangkan ilmu teknologi, dan alat ku terlebih dahulu bergerak cepat untuk menghisap seluruh oksigen dalam ruangan, makanya pematik api tidak berfungsi. Dan.. Aku turut berduka cita... kedua pelayanmu telah terlebih dahulu pingsan kehabisan nafas,"


Jadi yang tadi itu... ku kira si Atlaraka bersikap kurang ajar, tapi ternyata..  diam-diam ia memasang alat bantu pernapasan yang terlihat tak kasat mata.


"Uang membuatmu buta, Rupet," Atlaraka menaruh tangan di atas meja, seolah menikmati penderitaan pria itu. "Dari awal aku mencurigaimu satu hal, kau seorang penjual organ ilegal,"


####


"Sebelum itu ... Jadi kau sudah mencurigai Rupet?" kulirik cowok yang sedang asyik mengemudikan helikopter itu.


"Tidak, aku hanya sedang menduga-duga saja . Rupet ketakutan saat pertama kali melihatku,"


" Kenapa?"


Atlaraka tak segera menjawab, iris abu pekatnya di sana; menatap kosong lampu-lampu yang berpijar di bawah. "Karena aku merupakan seorang pembunuh,"


Pembunuh. Bagai menciptakan reaksi tersendiri yang sulit dicerna. "Turunkan aku disini saja,"


Cowok itu melirik, "Kenapa? Kau kecewa denganku?"


Aku menggeleng cepat. Walaupun begitu aku tetap saja ingin berteman dengannya. Walau ku tahu bahwa dirinya seorang pembunuh. "Kakak-kakakku aku pasti marah,"


"Oh," dia ber-oh datar.


Helikopter mendarat tepat di sebuah lapangan luas, aku sedikit bersyukur selain kedap suara baling-balingnya tidak menimbulkan reaksi berlebihan yang mengganggu tetangga.


"Kalau begitu aku pulang," pamitku cepat.


"Kanra," dia menghentikan langkahku dan mendorong pundak untuk berbalik. "Maaf sudah melibatkanmu dengan berbagai macam kejadian,"


Aku tertegun, "kau bicara apa, sih? Aku serius tidak keberatan dengan sikap kurang ajarmu itu.


Dia tersenyum halus dan lagi-lagi bukan seringai. Mengacak rambutku dan melunturkan warnanya. "Aku mencintaimu,"


"Ha?"


"Hanya bercanda," tungkasnya kecil, "sudah sana, pulanglah, aku akan mengawasimu dari atas,"


Dia mendorong pundak lemah. Apa hanya perasaanku saja? Kenapa dia mendadak tambah aneh didekatku?


Lambat laun aku tak bisa melihat bayanganku sendiri,  tertutup sempurna oleh bayangan halikopter Atlaraka. Apa ini akan baik-baik saja? Aku yang memutuskan untuk tetap berteman dengannya, walaupun dia seorang pembunuh ?


####


"Apa yang terjadi? Dan dimana seragammu ?"


Ck, sial, aku lupa dengan seragamku.


" Sudahlah, Joy. Dia lelah, dan soal seragam mungkin ketumpahan jus atau tinta saat mengerjakan tugas di rumah temannya," Jae membelaku." Ayo, cepat mandi dan beristirahatlah,"


"Kau tidak sedang marah padaku kan?" Tanyaku memastikan.


Jae  tersenyum samar, "untuk apa? Zoel dan Urlich sudah terlebih dahulu menjelaskan padaku."


Gawat!


"Aku rasa mereka benar, tidak ada salahnya melepasmu dan membiarkanmu berteman dengan gadis sebayamu, dengan begitu mungkin kau akan-" cowok itu meraih anak rambutku dan mendapati sisa pewarna yang melekat, "er, sedikit lebih anggun?"


"A-ah, itu tadi... temanku mengajakku bermain salon-salonan!" Argh.. Sumpah, aku mulai kelihatan gugup.


"Baguslah, kau mulai membuka dirimu, kapan-kapan kau bisa mengajaknya berkunjung kemari,"

__ADS_1


###


__ADS_2