ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
8# TEMAN RUE


__ADS_3

Cowok itu menjatuhkan buku hingga membentur lantai. Rak-rak yang tinggi dan sulit untuk dijangkau membuatnya perlu menyediakan tangga khusus untuk mencapai bagian tertentu.


Psikologi jatuh cinta, lagi-lagi ia ingin memastikan hal yang sama. Atlaraka mengacak rambut keperakannya, melirik sedikit pada ikan kecil dalam akuarium kaca.


"Hei, menurutmu bagaimana? Apa aku terlihat seperti seseorang yang sedang jatuh cinta? Atau orang gila yang terlewat gila?" Atlaraka merentangkan tangan; menggeliat dan menjatuhkan tubuh berbaring di atas lantai marmer. "Tangan kotor tak berhak untuk dicintai siapapun,"


"Hei, fishpot.. kira-kira Berapa lama ia akan bertahan? Maksudku.., untuk terus berteman denganku," cowok itu menerawang rembasan cahaya yang menerobos melalui celah-celah atap. Sinar lemah namun terasa menyilaukan menyengat. Bagi Atlaraka yang memiliki tubuh nyaris tak sempurna, terkadang dunia bisa jadi tak berarti lagi.


Lengan yang bergerak nyaris tak terlihat buatan ini merupakan lengan yang tak sempurna dari alat mekanik silikon, kulit elastis palsu yang ditanami chip-chip data.


Iris abu-abu yang tak alami. Bukti kerja keras berlebihannya yang membuat Atlaraka nyaris buta. Cowok itu pernah merasakan betapa nelangsanya saat organ-organ tubuhnya tak mampu bekerja dengan baik.


Terpuruk dalam frustasi yang berkepanjangan. Siang dan malam terjebak dalam urusan yang sama, tanpa berkomunikasi dan terisolir menciptakan labnya seorang diri. Tujuannya adalah... untuk membunuh Atlaraka merupakan anak kecil yang diperalat berkat kejeniusannya.


Saat sang tuan membebaskannya dari menara, Atlaraka yang berusia dua puluh tahun itu malah kehilangan kemampuannya untuk terus bersosialisasi. Sebuah pintu yang terbuka lebar untuknya, namun tak pernah dijamah.


Bagai telah terbelenggu di tempat yang sama, di dalamnya Atlaraka mulai menciptakan surga kecil tanaman-tanaman penuh flora yang merekah indah dan kolam kolam jernih yang tentunya disisipi berbagai teknologi buatan.


Awalnya ia merasa baik-baik saja, walau dirinya tak memiliki teman. Merepotkan untuk seseorang yang tak punya hati menghilangkan selembar nyawa.


Atlaraka memejamkan mata, mungkin hanya dengan gadis itu, keberadaannya membuat cowok itu kembali merasa normal.


\#\#\#


"Rue, kiriman dari penggemar mu, nih!" seruku antusias. Ah, bagaimana tidak? Kue coklat dipenuhi krim dan irisan buah yang menggoda selalu menjadi santapan rutin tanpa mengeluarkan kocek.


Saudara-saudaraku yang populer tentunya menghasilkan keuntungan tersendiri buatku. Misalnya Jae yang terlihat sederhana dan penyayang biasanya disukai oleh gadis-gadis kaya, Joy yang atletis dan tak kalah saing dari Rue cover boy aneh. Terus Ryn yang terkesan agak bad boy atau Zoel yang terkesan berani kotor dan pekerja keras, dan Urlich yang pandai lengkap dan sempurna jika Son yang menggemaskan tumbuh menjadi oemuda kece.


"Ah, dia lagi ya? Rue membenahi dasi, "aku agak kesal dengannya, dia itu sama saja seperti gadis lain. Tidak berbobot!"


"Jangan begitu, berbaik hatilah sedikit dan berterima kasih padanya," tukasku cepat, "walaupun kau tak pernah berniat berpacaran, tapi tak ada salahnya kan kalau kalian berteman ?"


"Ah, itu benar Kanra, Rue terlalu penyendiri," tambah Ulrich sambil menggigit kuenya, "saat sekolah mengadakan kunjungan ke perpustakaan, dia terlihat asyik sendiri membaca buku-buku tentang UFO,"


"Berisik!" Jitakan keras di lontarkan Rue kasar, "jangan mencampuri urusanku dan membuat kesimpulan sendiri, dong!"


"Tapi-"


Cowok itu menarik piring kue dan membuangnya, "jangan terpengaruh oleh sogokan seperti ini, masa depan Kakak kalian jauh lebih penting!"


"Hei, Rue!" Sialan, temperamennya sedang tak baik.


"Sudahlah," Ulrich menopang dagu, "sayang sekali ya, oadahal tadi kuenya sangat enak,"


"Dia memang benar-benar keras kepala!"


\#\#\#\#


"Imperialisme kuno dipengaruhi oleh berbagai faktor,"


Hff, membosankan! Di saat-saat seperti ini, aku malah berharap si Atlaraka datang untuk menyelamatkanku. Ah, ngomong-ngomong cowok itu sibuk ya?


"Kanra Anastasia!" Sebuah kapur tulis dilempar sempurna hingga mendarat mengenai kepalaku. " Perhatikan gurumu!"


"A-ah, maaf," kusunggingkan cengiran lebar.


Ya, sudah kuputuskan, siang nanti cowok tengil itu harus membantuku untuk mempertemukan Rue dengan temannya!


\#\#\#


"Kekurangannya adalah kelebihan tersendiri Di matamu," cowok itu membuka lembar demi lembar bukunya secara acak. Sambil menikmati hangatnya teh rosemary benaknya terasa diputar kuat-kuat. "Hm, bisa jadi, buktinya aku tak pernah keberatan dengan penampilannya amburadul dan gaya makan yang berisik,"


"Mudah memaafkan walaupun ia telah melakukan hal yang fatal sekalipun," cowok itu menghela nafas dan menerawang. "Sudahlah,"


Merasa telah membuang-buang waktu dengan hal yang tak berguna Atlaraka menutup bukunya kasar. Cowok itu tertegun begitu menyadari selembar halaman yang terlipat.


"Saat dia tersenyum... sosoknya membuatmu tak bisa berpaling,"


\#\#\#\#

__ADS_1


"Fishpot? Kau bercanda?" Aku tertawa meremehkan, "tunggu-tunggu, penamaan itu membuatku salah paham!"


"Kau memberikannya padaku dan seharusnya terserahku, dong, mau menamainya apapun!" Ketus cowok itu.


"Ya terserah, deh. Ngomong-ngomong... tinggal tersisa satu? Yang lainnya tidak terselamatkan?"


"Begitulah," balasnya cuek "Hei, Kanra, ada urusan apa mencariku?"


Aku mengernyitkan kening, menanggapi sikap sok cuek cowok berambut putih itu. "Aku butuh bantuanmu, kita harus mencarikan teman untuk Rue!"


Atlaraka tertegun, "kau tidak berkaca pada dirimu sendiri? Memangnya sudah berapa banyak teman yang kau miliki di sekolahmu?"


Ah, sial! Dia itu.. "Tolong jangan menghakimiku! Kau sendiri seperti aku... tidak punya banyak teman untuk berbagi bukan?"


"Seperti.. dirimu?" pupil matanya melebar seketika, "tapi keinginanmu itu berbeda Kanra, kita tak bisa bertindak egois seperti itu, menjadikan seseorang sebagai teman bagiku bukanlah sebuah perkara yang main-main!"


Kutarik kerah kemeja cowok itu emosi, bicara dengannya memancing amarahku naik hingga ke ubun-ubun. "Kau kira aku sedang bermain-main, huh?


"Hei, Kanra, kita mungkin ditakdirkan untuk berteman, mengingat kau sendiri yang mengusik kehidupan tenangku di menara terlibat lebih jauh lagi," cowok itu menahan tanganku dan menariknya menjauh. "Maksudku, dengan tindakan gegabah seperti itu kau yakin akan membuat Si Rue nyaman dengan seseorang yang dipaksakan untuk menemani hari-hari bersamanya?"


Benar juga, kenapa aku baru menyadari satu hal ini. Seenaknya saja memilihkan seseorang yang belum tentu cocok untuk Rue. Persis aku yang mempertemukan dengan Mily si ketua klub catur, walau aku begitu cinta mati pada catur tapi kenyataannya .. aku tak begitu cocok untuk berinteraksi bersama orang-orang yang sama-sama-sama mencintai catur, selain suara mereka yang mengganggu pastilah tercipta suatu dinding kecanggungan yang sulit untuk ditembus.


"Jika diibaratkan aku dan menara ini, sebagai tuan rumah tak akan kubiarkan orang asing masuk tanpa kuizinkan terlebih dahulu, walaupun ia memohon dan mengemis.. Tapi tetap saja tak akan berguna, hanya orang terpilih seperti dirimulah yang bisa keluar masuk menara tanpa takut gerbangnya tertutup, pemilik menara membiarkannya masuk karena telah mempercayai dan merasa nyaman berbagi bersamamu,"


Sebuah pengajaran yang panjang, "aku paham sekarang,"


"Sudahlah, "Atlaraka menyesapi tehnya tenang "ngomong-ngomong, Kanra, kali ini aku butuh bantuanmu lagi,"lho!"


\#\#\#\#


Aroma rumah sakit. Entah mengapa selalu menimbulkan reaksi tersendiri dalam diriku. Obat-obatan yang terasa memualkan, nuasa putih, lorong-lorong gelap,dan yang terparah raut muka orang-orang yang menangis.


Rumah sakit Bunga. Gedung putih dengan delapan lantai ini menjadi tempat terpilih untuk diungkit. Berita pembunuhan yang belum lama tersebar di media, namun masih menjadi misteri yang belum terpecahkan hingga detik ini.


"Pembunuhan delapan pasien dalam waktu semalam," Atlaraka seolaj membuka topik, sembari menekan tombol lift. " Satu korban untuk satu lantai yang berbeda,"


"Lebih rinci?" aku mengekori lajunya yang terburu-buru.


. ####


Tiap-tiap lantai diwakili oleh lambang bunga. Lantai satu anggrek, kemudian anyelir, cattleya, krisan, daisy, lily, mawar dan tulip.


Walau si Atlaraka sedikit meragukan, tapi cowok itu memiliki ingatan yang bagus, sekali melihat simbol yang tertera dia bisa langsung dan mengolah berbagai data. Mengagumkan! Apa yang diserapnya mampu dicerna dengan begitu sempurna.


"Ikuti aku," dia melenggang berjalan memimpin, sekilas mungkin kami terlihat seperti orang-orang bodoh yang tengah mencari sensasi dengan memamerkan pertunjukan sulap konyol dan aku sebagai asisten nya. Ya, kurang lebih seperti itu.


"Ada apa?" mendapati langkahnya terhenti tiba-tiba di hadapan sebuah pintu ruang rawat inap.


"Aku perlu memeriksa tersangka,"terangnya dengan ekspresi serius, terpampang jelas dimataku bahwa cowok dengan topi tinggi putih itu tengah memutar otak. "Siapkan strategmu,"


Memangnya semudah itu? Dia pikir aku secerdas dirinya?


Kugelengkan kepalaku tegas, "aku belum bisa bermain, lawan mainku masih membereskan letak pion pion yang terserak,"


Atlaraka tersenyum miring, "kalau begitu ayo, kita cari tahu orang yang dalam ini akan menjadi lawan atau sekutu bagi kerajaan putihmu itu?"


\#\#\#


Deritan pintu rasa memekakkan, didalamnya hanya ada pembahasan sinar mentari yang menyilaukan dan tirai- tirai tipis yang tersibak dimainkan angin. Tembok yang dilapisi cat putih bersih, tempat tidur bersprei putih dan seseorang berambut merah yang tengah berbaring di atasnya.


"Selamat sore, Tuan Cakrawala Saga," Atlaraka memberi salam dengan raut muka tak berubah sedikitpun. "Maaf, bila waktu istirahatmu sedikit terganggu,"


"Aku tahu," potongnya dengan nada bariton. "Aku tahu apa yang ingin kau dengar dariku, pastinya terkait kasus itu kan?"


"Ya, kurang lebih seperti itu," cowok itu menarik pergelangan tanganku seenaknya. " Bolehkah kami mendengar cerita itu darimu?"


Saga mengatupkan mata. Entah sangat lelah atau sedang berusaha mengingat. Walaupun terlihat guratan lelah tapi orang ini terasa terlalu mencurigakan untuk seseorang yang sakit kemudian menjalani rawat inap.


"Semalam. Tepatnya pukul dua dini hari, seseorang masuk dan menikam tetangga kamarku, ia berteriak dan menjerit minta tolong. Kemudian aku terbangun, berlari menuju kamarnya dan memukul pelaku dengan raket listrik sekuat tenaga. Tapi sayangnya pelaku berhasil melarikan diri,"

__ADS_1


"Memukul pelaku?" Kutekkan kalimat itu kuat-kuat, berharap Atlaraka mampu menangkap arah pembicaraanku. "Kau bilang, kau memukul dengan sekuat tenaga?!"


Ah, memang sekuat apa tenaga seseorang yang terbaring sakit dan menjalani rawat inap? Dia bilang berlari? Seseorang yang tengah menjalani perawatan berlari dan memukul pelaku dengan sekuat tenaga? Luar biasa!


"Ngomong-ngomong, kau sakit apa?" Dengan nada meremehkan kutatapi cowok itu dengan tatapan mengintimidasi. "Lepaskan tanganmu Atlaraka! Aku bukan hewan peliharaan yang kau ikat agar selalu berada dalam genggamanmu!"


"Tidak, Kanra. Jangan salah paham," cowok itu menyeringai."Aku menahanmu agar kau tidak bersikap gegabah kepada narasumber kita kali ini,"


Sial, entah apa yang tengah dalam pikirannya. Tapi si Atlaraka itu pasti menyadari setiap sikap tak nyaman yang ditunjukkan Saga diam-diam.


"Ah, maaf, bisa kita lanjutkan?" :-Dia menarikku menuju kursi dengan sikap lebih santai. Cowok itu melonggarkan cengkraman. Aku menyadari satu hal, sendari tadi dia mengeratkan cengkraman begitu tahu sikapku yang selalu blak-blakan dalam menerka. Ck, kecerobohan yang tak bisa dihindarkan dari diriku!


"Oh, soal penyakitku, entah mengapa dokter bersikeras tak mampu menganalisis penyakit yang tengah kuderita ini, tapi aku selalu mengeluhkan rasa sakit yang mendera dan menjelaskan rasa sakit yang aku alami ini,"


Tuh kan, mencurigakan... aku membuang nafas kasar.


"Mungkin ini sesuatu yang mistis atau semacam penyakit baru yang belum ditemukan, tapi yang pasti... Dokter selalu memberiku obat dan menganjurkanku pulang begitu rasa sakitku hilang," tuturnya lancar, "tapi yang terjadi sekarang malah menjadi fatal, aku mendapat tuduhan bahwa akulah yang membunuh pasien yang lain!"


"Kalau begitu, bolehlah aku memeriksa obat milikmu?"


"Ah, ya tentu," sebotol kapsul diserahkan terburu-buru. " Silahkan, kalau kau tak percaya, kau boleh melihat daftar obat yang telah kutebus. Sumpah aku tak bersalah!"


Kriek.. Ah, ada orang asing yang masuk, ke condongkan tubuh demi mengintip sedikit.


"Saga, maaf, aku sedikit terlambat, tapi... -lho Kanra?"


Mataku membulat seketika, mengapa seseorang yang paling tak ingin kutemui malah memunculkan diri di sini!


\#\#\#


"Jadi, sedang apa kalian di sini?" Rue melenggang masuk dengan langkah tak acuh. Cowok itu seolah mengabaikan statusku sebagai seorang adik perempuan satu-satunya. " Dan Kanra, bukannya sudah ku beritahu agar... kau tak perlu lagi bermain-main bersama siluman kucing cacat,"


"Ah, Rue, kau sendiri sedang apa disini?" buru-buru alihkan topik pembicaraan. Bahaya, dia pasti akan segan-segan melapor pada Jae atau Ryn!


Rue melirik dingin, beranjak mengganti vas dengan bunga-bunga segar. "Seperti yang kau liha,t aku sedang menjenguk teman lamaku,"


"Eng,"


"Izinkan aku untuk meminjam adikmu," Dan lagi, apa apaan Si Atlaraka ini.


"Untuk apa? Kau akan melibatkannya dalam bahaya? Dan tangan menjijikkan itu... tolong kau lepas, atau aku sendiri yang akan menyingkirkan tulang-belulang tanganmu agar tak menyentuh adikku!" Sinis seperti biasa. "Pulanglah Kanra, aku akan menelepon Joy agar dia segera menjemputmu,"


"Rue!" Tandasku, "tolong beri aku waktu!"


"Untuk apa? mencuri kesempatan agar kau bisa berduaan? Dengar, seharusnya kau banyak belajar!"


"Tapi ini-"


"Tolong beri beri aku kesempatan. Aku akan menjaga Kanra agar dia selamat, dan.. izinkan kami membantu kawanmu agar terlepas dari tuduhan,"


\#\#\#


Bagai keajaiban Atlaraka diizinkan menuntaskan misi hingga akhir, mungkin karena iming-iming itu .. harapan agar Saga terlepas dari tuduhan. Tapi bagaimana bisa? Justru bagiku dialah sosok yang paling mencurigakan ketimbang lainnya.


"Sindrom munchausen," Atlaraka berbisik perlahan," alasan mengapa aku berani menjanjikan Saga terlepas dari tuduhan,"


"Maksudmu?"


"Cowok itu tak sadar bahwa dirinya hanya berpura-pura sakit demi mendapatkan simpati orang-orang sekitarnya. Menurutku, dia mengalami suatu hal yang membuatnya tertekan hingga mengalami sindrom ini." Jelasnya, " tak ada tanda-tanda dia sedang berbohong, peristiwa ia terbangun dan memukul pelaku dengan raket listrik juga terbilang logis bagi seseorang yang pada kenyataannya normal seperti dia,"


Benarkah? Lalu obatnya palsu?"


Atlaraka tertawa ringan," seharusnya kau tahu hal dasar seperti ini, saat pasien berasumsi bahwa dirinya sakit padahal ia baik-baik saja, maka dokter tak jarang melakukan placebo,"


"Argh.. Jangan menjelaskan hal yang masih rumit seperti itu, dong !" Pintaku geram, sialan, memangnya ahli pisikologi sampai membahas hal ini juga?


"Placebo, ada kebohongan yang dilakukan dalam dunia kedokteran, Kanra. Mereka memberikan obat yang pada kenyataannya hanya berupa vitamin, air, susu, atau bahkan gula dengan harapan mampu memberikan asumsi kepada pasien, agar ia beranggapan akan sembuh dengan meminumnya,"


"Jadi yang tadi itu-"

__ADS_1


Cowok itu tertawa, menampakan taring kecilnya," gula dalam kapsul. Kau mau coba, tuan putri?"


__ADS_2