ATLARAKA: SILVER CHESS

ATLARAKA: SILVER CHESS
17# PERMAINAN YANG BERAKHIR


__ADS_3

Brash!


Cairan pekat menodai dinding. Aku tahu siapa yang harus berakhir. Bodoh, dengan mudahnya mereka membodohiku dengan permainan konyol. Suara itu bukanlah milik Atlaraka. Sebab sebenci apapun aku padanya, rasanya akan selalu terkecap manis, tak akan berubah menjadi memuakkann. Mereka menipuku!


Wajah Atlaraka palsu meleleh bak tersiram air keras. Perempuan. Dan wajah ini.. Ibu Lumia dan Lumina?


"Wah.. Wah.. alat yang berguna. Kau menghabisi istriku yang malang," gema memantuli dinding-dinding. "Tidak apa-apa dia sudah tua dan tak berguna... aku memerlukan alat yang baru yang masih muda dan cerdik sepertimu,"


"Sialan!" Aku mengumpat marah.


"Ku harap kau gila sebelum waktunya anjing kecil," dia melenggang menutup seluruh akses. "Aku pergi sekarang dan jadilah anjing terlatih begitu tuanmu kembali,"


Terkurung. Gelap seluruhnya.


###


Terpasang. Peledak kecil namun dasyat ditanam dalam tiap-tiap bagian sudut. Dan sekarang ia hanya perlu mengeluarkan gadis itu beserta kakaknya.


Atlaraka meringis. Lengan mekaniknya belum pulih total. Bagaimanapun kerusakan mesin membuat peredaran darahnya terganggu, bisa saja lengannya menjadi busuk ketika. Tidak ada waktu untuk memperbaikinya.


Ia menelan ludah  memblokir seluruh akses. Setidaknya ia tak akan mati sia-sia jika pria tua itu ikut berperang bersamanya. Tak apa..  jika takdir tak mengizinkannya untuk menjadi sosok normal, setidaknya ia tak berakhir di tangan pri itu.


Mati. Ia merasa siap untuk itu. Tak apa, ia harus segera belajar untuk merelakan. Tak apa. Jadilah seseorang tanpa air mata dan rasa sakit. Sesekali ditahanya anak rambut yang mencuat.


Bayangan gadis itu berkelebat. Kanra. Betapa kasarnya gadis itu.. masih terbayang bagaimana sang wali kota sempat membawanya menuju sekolah Edelweish. Dia sama sekali tak bisa berbaur walau para gadis tampak menyukai kehadirannya. Tapi tidak berminat bicara. Tidak.


Sesekali ia datang untuk sekedar bermain catur bersama para pemain amatir. Dingin. Bagai mayat kaku yang tak bisa tersenyum. Sosialisasi itu menjijikan!  Ia tak bisa datang lagi, mengurung diri di dalam menara selama berbulan-bulan.  Tak berminat kembali.


Hingga hari itu tiba. Gadis yang  datang kepadanya. Kanra yang tak biasa memancingnya untuk mengorek lebih dalam seluruh isi pemikiran gadis itu. Dia penuh taktik dan misterius, memancing adrenalin dan kekaguman sekaligus. Menyenangkan, andai saja gadis itu merupakan alat yang mampu dibongkar-pasang dengan mudahnya. Mempermainkan psikis dan pemikirannya dan berakhir dengan kenyataan dirinya dirinyalah yang dipermainkan.

__ADS_1


Dia jatuh cinta. Walau cinta layaknya perubahan hormon yang diyakini sebagai mitos. Iusi. Seperti gadis itu yang hanya menganggapnya sebagai delusi. Semu.


###


Aku merengkuh Jae.  Dingin. Tangannya selalu menggenggam halus,  Jae yang tak bisa berbahagia. Padahal rasanya baru kemarin ia menelpon dan bercanda, membuatkanku tumis sayur, menjagaku dengan tenangnya. Terkadang bibir kaku itu cerewet. Terlebih saat Ryn dan Joy bertingkah. Pandai membujuk Son begitu dia rewel.


Suara dentuman terdengar memekakkan. Sinar menyilaukan merembas melalui celah-celah. Atlaraka disana.Memasang raut penih kecemasan. Begitu melihatnya rasa kesal membuncah. "Atlaraka sialan!"


"Hh, maaf, aku terlambat ," cowok itu mengurat senyum hambar  begitu mendapati sepasang tangan mekanik yang rusak. Membuat logam-logam menerobos kulit sintetis buatan. "Kita perlu tiga detik sebelum helokoptetnya datang,"


"Apa maksudmu?"  Mendapati lenganku yang ditarik tiba-tiba aku jadi makin tak mengerti.


"Keluarlah, hiduplah dengan tenang tanpa harus terlibat denganku lagi," lirih.  Seolah kepedihan berkumpul dan tiap oktafnya yang rendah. "Bencilah aku sesukamu, sekuat apapun aku takkan pernah menghidupkan bidak yang mati. Terlebih dia adalah ksatriamu yang berharga,"


"Tunggu! Kau bicara apa? Aku tak paham?!"  Air mata jatuh, dia membuat benakku diputar kuat. Kengapa perkataannya selalu sulit dicerna? Cowok ini seabsud apa? Kukira dia yang paling mengerti. Kukira.. tanpa aba-aba kurengkuh tubuh itu erat, membuatnya tertegun dan bergeming. "Aku mempercayaimu..  kepercayaanku jauh lebih besar ketimbang para penipu itu!"


###


"Dan perempuan berambut abu-abu itu?"


"Istrinya ibu dari dua putri berwajah mirip; Lumia dan Lumina. Kurasa dia cuma alat sepertiku, orang baik yang dikecewakan... orang baik yang kehilangan kepercayaa," Atlaraka mengehela nafas kasar. Retakan di bawah tanah mulai terasa menguncang. "Ayo cepat!"


Kenapa rasanya berat. Bagai akan terpisah setelah ini. "Hei.. Atlaraka.. aku selalu memikirkanmu."


walau memalukan tapi berterusteranglah. Aku ingin mengatakan dengan jujur. Memikirkan kehidupan berat yang selalu dipenuhi pemaksaan,"


Aku tertawa getir. Bayagan cowok ini.. saat ia meniup-niup kari panas, dia yang tersenyum halus.. bersikap sok baik dan menyebalkan. Kenapa bayangan itu tak kunjung hilang?


Bagian dari diriku. Bagian diriku yang berharga. Orang absud yang kusuka. "Mungkin sebenarnya..,"

__ADS_1


Aku suka padamu.


"Cari mati anjing kecil?" Suara itu. Bayangan panjang menghantar memunculkan sosoknya. "Mencoba memasang bahan peledak, Raka? Berapa banyak waktumu yang tersisa?"


Pisau. Lelaki itu menyerang bertubi-tubi. Merobek tiap sudut. "Aku muak dengan rambut putih itu!  Seharusnya kau mati saja!"


Tanpa perlawanan sama sekali. Cowok itu menuntunku menaiki tangga.  Berputar berlari dan melangkah terus...


terus..


"Kenapa kau takut? Hah?" Kku yakin lelaki iti gila. " Kau merusak pencitraanku! Jabatanki  dicopot satu persatu! Bedebah kau, Raka!"


Sensasi dingin menghantar. Atlaraka  menutup pendengaranku dan menghantam kaca jendela. Trik melarikan diri yang sama, hanya saja menara ini terlalu tinggi dan mempertipis perkiraan selamat begitu mendarat.


" Pergilah," dia mendorong pundaku perlahan. Lapisan bening melapisi pupil mata yang berkabu. "Aku bahagia dipertemukan denganmu. Kau keberuntungan terbesarku,sumpah, aku tidak bohong!"


Isak tangis ini. Atlaraka memelukku dengan satu tangan, membenamkan kepalanya di atas pundakku. "Aku mencintaimu,"


"Berbahagia tanpa aku," suara dentuman di bawah sana. Ledakan  kecil membuat keseimbangan menara luruh. Dia mendorong pundakku semakin menjauh. "Begitu menaranya hancur... lupakanlah aku. Hilangkanlah semua kenangan bersamaku,"


"Diam.. Berhentilah.. Berhentilah bicara!"


Senyum halus terukir menampakkan cekungan pada pipinya.  Dia mendorongku jatuh; sepasang kakiku tak lagi berpijak. Melayang dengan bebas. "Hei, Kanra, jika tahun ini aku harus kehilangan nyawa... kurasa aku siap,"


Menara itu hancur. Seluruhnya roboh. Puing-puing menciptakan suara dembuman keras berpadu tebalnya asap. Kenanganku mati... Jae... Atlaraka.. Dan seluruhnya telah direnggut seketika. Hangus.


Dan aku belum bilang.


Bahwa aku juga mencintainya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2