
Aku mematut diriku di hadapan cermin. Blus kelabu kebiruan dengan bawahan rok hitam selutut. Rambut hitamku terpotong sebahu. Peringatan kematian Jae, dan di umurku yang ke dua puluh ini rasanya keberadaan Jae terasa dekat.
Kelopak mawar merah dalam keranjang tergeletak begitu saja mengeluarkan aroma lembut menaungi kamar.
"Yoo, Kanra, jangan lama-lama!" Ryn menerobos kamarku tanpa permisi, urusan toko diserahkan seluruhnya pada Zoel dan Urlich. "Dan setelah ini kau siap?"
"Apa?" Aku mendelik gusar.
"Ehm, apakah kau siap untuk mengurusi orang gila?" Dia berdehem sambil menarik-narik ujung rambutku, "lagi kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk menjadi seorang pskiater, sih? Bukannya dulu kau bilang ingin menjadi seorang insinyur?"
"Aku masih berharap.. dengan ini aku akan kembali dipertemukan dengannya."
###
Alasanku memilih untuk mengorbankan cita-cita Insinyur ku hanyalah demi sebuah pertemuan gila yang tak pasti ini. Rue bahkan beberapa kali membujukku agar lebih memilih psikologi ketimbang pskiater. Tapi aku tetap bergeming. Demi berada di tempat ini. Gedung terapi para pengidap kejiwaan.
" 119! Psikater dengan nomor urut 119!" Pengeras suara begitu memekakan. Bukan nomorku, berjam-jam menunggu untuk berhadapan dengan klien pertama kami.
"Tidak ada?" Suara itu terdengar bagai cicitan tak berarti.
"Ah, nomormu bukan? Kurasa nomormu terbalik," sial, aku baru sadar begitu seorang memperingatkanku.
" Terima kasih," aku mulai melangkah maju menelusuri aula sewarna aluminium. Semoga saja. Tempat yang kutuju ini merupakan tempat dimana Atlaraka berada.
###
" Anda masih muda," seorang wanita dewasa mengantar. Gedung berwarna putih kebiruan terang di penuhi undangan berkelok dan tangga. Setiap sudut dipenuhi ruang tertutup. "Dan tidak bertanggung jawab atas ketidak ketidakprofesionalan. Jadi berhati-hatilah,"
"Uhm, maaf boleh saya melihat daftar terapis?"
Ku harap ada. Nama itu. Nama yang membuatku kesal setengah mati memikirkannya siang dan malam.
"Oh, ya, dan anda dapat memilih pasien yang akan ditangani,"
Aku kembali mengangguk, menelusuri sederet nama. Atlaraka Nusantara.
"Tolong, saya mohon," air mataku tak tertahan dengan mata berkaca-kaca, pandanganku tertahan di sana. " Pertemukan saya dengan klien pertama saya Atlaraka Nusantara!"
###
Seperti mimpi. Begitu mendapati pintu berjeruji sosok itu bergeming di tempatnya. Rambutnya yang putih itu.. matanya yang menatap kosong dengan pupil abu-abu. Cowok itu bersandar menatap jendela. Kedua lengannya... benar-benat kerangka besi seutuhnya.
"At-la-ra-la?" Ragu. Cowok itu mengacuhkanku. Dalam ingatannya hilang secara permanen. Menyakitkan begitu ku tahan rasa rindu yang menghantui, dirinya justru melupakanku . "Hei?"
Atlaraka menoleh sejenak. Tatapannya begitu dingin, tidak, dia tidak mengenalku. Seringainya yang menyebalkan hilangnya. Seperti mayat yang tergeletak di pojokan. Rasanya aku ingin menangis.
"Um, perkenalkan, aku patner terapismu Kanra Anastasia,"
###
"Tambahan sayur, Kanra?" Rue meletakkannya di atas piringku. "Oi oi, ayolah tidak usah banyak merenggut seperti itu,"
Aku mengerling tak peduli. " Menyebalkan!"
__ADS_1
"Ada masalah apa, sih?" Ryn memunculkan diri bersama sepiring salad buah. "Soal pekerjaanmu lagi? Atau-"
Seperti Ryn paham permasalahan yang melanda tak semudah yang dibayangkan.
####
Dia masih tertidur lelap. Padahal aku menyempatkan waktu untuk berangkat lebih pagi dan membawakan sarapan spesial. Masih tak ada perubahan, terkadang tatapan sinisnya seolah memojokkanku secara tak langsung.
Aku merindukannya. Jemariku bergerak menyentuh liontin hadiah ulang tahunku yang ke delapan belas bersama cowok ini. Mungkin memang bagus membuatnya melupakan masa lalu.. hanya saja.. bukannya aku menginginkan sosok lain dari dirinya. Bukan.
Atlaraka bergerak, mengerjap dan menatap lamat sinar yang masuk melalui celah-celah jendela. Bagai jasad kaku tanpa nyawa. Selama ini ia tak bicara sama sekali bahkan terlihat jijik dan menjauh begitu dekati.
"Atlaraka!" Mungkin ini karma. Hukuman telak atas masalaluku yang suram. Karma atas keegoisan yang kulakukan saat cowok ini belajar memahamiku. "Ayo, sarapan bersama,"
Tanpa ekspresi sedikitpun. Aku melangkah ubin dingin. Menjaga jarak agar ia tak merasa dipojokkan. Setidaknya untuk memendam rasa takut adalah dengan membiasakan dirinya untuk menerima keberadaanku.
"Hari ini kubuat tumis sayur, ah, ada air panas juga," aku mulai meruruki diri sendiri dengan sikap sok bersahabat seperti ini. Atlaraka bergeming. "Ayo di makan,"
Crakk! Wadah makan yang kupersiapkan di pagi buta terpental membentur lantai, jatuh berhamburan. "Sialan! Kau kira mudah membuatnya? Hei, aku sampai tidak tidur tahu!"
Sial, kelepasan!
Sesaat ia terlihat tertegun namun sama sekali tak bereaksi.
Ayo Bicaralah. Setidaknya bergumamlah.. Siara itu.. Rasa manis yang menyertainya.. Bicaralah..
"Sudahlah, masih ada mie instan dalam tas," aku mendengus memudahkan isi tasku satu persatu. Rue sepertinya sengaja membawakannya begitu tahu aku bakal lembur. Memegang cupnya saja membuatku hampir menangis.
Atlaraka.
"Nih, makanlah," di luar dugaan diraihnya benda itu perlahan. Menatapnya lamat isinya dan melahapnya secara langsung.
Setidaknya ia merespon baik.
"Enak kan?" Psikologi bilang waktu makan dan waktu makan malam merupakan waktu yang tepat untuk meluruhkan sisi kewaspadaan seseorang. Kiharap dia sedikit terbuka atau paling tidak bicaralah..
Bicarah.
Bicarah.
"Aneh," sepatah kata, "kau itu cewek aneh,"
"Hh," sialan, tapi entah mengapa begitu rasa itu terkecap, rasanya aku jadi sedikit senang.
###
"Bagus bukan? Dengan begitu dia akan memulai hidup yang baru," sorot mata Ryn disana, menerawang debur ombak yang tampak kebiruan balik kilauan safir. "Menjadi manusia yang normal, bukankah itu yang diinginkanya?"
Benar juga. "Berarti aku harus melupakan dirinya yang dahulu?"
Cowok itu membuka mulutnya namun tak berselang lama kembali mengatupkanya lagi ragu. Aroma ikan panggang yang kami panggang menguar; mengudara. "Nih, makanlah dulu, akhir-akhir ini kau terlihat kurus, Kanra,"
"Terima kasih," ku terima sodoran Ryn.
__ADS_1
"Menurutki.. jika kau memang benar-benar menyukainya-" cowok dengan rambut acak-acakan itu menghela nafas panjang. "Kau perlu mengutamakan Atlaraka ketimbang dirimu sendiri. Dia ingin hidup normal, Kanra,"
Hidup dengan normal.
Atlaraka yang baru.
Aku mendesah menenggelamkan kepala dalam dekapan tangan. Apakah harus ku mulai dari awal? Demi dirinya yang baru.
"A,h sudahlah.. makanlah yang benar, tak usah dibarengi dengan acara melamun segala," Ryn mengacak rambutku liar. Dasar cowok ini. "Kau terlalu mencemaskan dia dan merupakan kakakmu yang satu ini. Memangnya kau tidak peduli padaku ya?"
Aku tertawa. "Memangnya Ryn minta perhatian? Selama ini kau terlihat sehat-sehat saja sih, makanya tidak ada yang khawatir padamu,"
"Oi oi oi, minta perhatian sedikit memangnya tidak boleh? Parah," dia mendengus berapi-api. "Kalau Jae tahu dia pasti bakal mengomel,"
Kami menerawang. Ah, Jae.. sudah berapa lama ya.. aku menjatuhkan tubuh diatas pasir pasir putih hangat. Menatap langit serta awan yang berarak. Rasanya nyaman. Seperti aku bersama keluargaku yang masih utuh.n seperti aku bersama Atlaraka..
"Yang satu ini mirip Zoel," Ryn menunjuk angkasa. Rambutnya agak kemerahan tersibak. Dia menjatuhkan tubuh di sampingku. "Nah, yang jelek itu mirip Kanra, lho!"
"Sialan!" Aku tertawa, "kalau begitu yang paling abstrak mirip dengan Ryn!"
"Yang disana seperti topi sulap, ya?"
Ah, benar juga. Aku memandangnya lamat. Seperti topi sulap yang selalu dipakai cowok itu. Atlaraka. Gumpalan putih itu terisolir dalam birunya angkasa. Sendirian. Kesepian.
###
"Kau datang lagi?" Dingin seperti biasa. Tapi tak apa, setidaknya yang lebih banyak bicara.
Aku menutup pintu dan mengangguk. "Eng, disini dingin,"
"Hh, teruslah mengoceh -" sialan, dia dia meremehkanku.
"Kau juga dingin," buru-buru kututupi pundaknya dengan selimut. Kakalau saja Ryn tak cepat menasehatiku saat itu.. mungkin dia tidak akan bisa sedikit bersabar untuk menghadapi cowok satu ini. " Mau kopi panas?"
"A-" tercekat, dia membuang muka menjauh. "Kau punya teh?"
Sekilas aku memandangnya geli. Raut muka itu.. Tak pernah ditunjukkan Atlaraka sebelumnya. Ya, teruslah begitu. Bersikaplah layaknya orang normal yang tak dihantui perasaan itu selamanya.
"Chrysanthemum atau lemon?" Ku tuang air panas kedalam cangkir porselen.
Dan diriku teruslah.. teruslah bersikap layaknya orang asing.
Ya, teruslah..
"Apa aku salah?" Mendapati air mataku uang lolos terdapat nada kekhawatiran pada oktaf terakhirnya. Apakah mungkin? ia kembali peduli padaku?
"Apa aku menyakitimu?"
Aku merindukanmu.. Sosok yang sama namun terasa berbeda. Wajah yang sama.. rasa yang sama dan dalam raga yang sama. Tapi kenapa...
Hiduplah dengan normal, Raka..
Lupakan perasaanku yang dahulu itu.. Kubur saja seluruhnya demi kehidupan normalmu yang selanjutnya. Ya, tak apa. Aku baik-baik saja.
__ADS_1
Tbc.