
Setelah pesta pertunangan Jae, aktivitas kami kembali berjalan seperti biasa. Hanya saja Jae memutuskan untuk tak lagi tinggal di rumah, cowok itu meninggali mansion milik keluarga Lumia. Ya, bagai sesuatu yang hampa tersisa di dalam rumah munggil kami.
"Mau cemilan, Kanra?" Rue menyodorkan cemilan biasa dibelinya sepulang dari kampus.
Siaran televisi berkedip. "Sepi, ya? Begitu Jae pergi tak ada lagi cowok cerewet yang bersikap layaknya single parent dengan banyak anak,"
"Hmm, begitulah, hidup ini akan terus berputar, Kanra. Mungkin satu persatu diantara kita akan pergi meninggalkan rumah ini,"
Benar. Dan aku merasa tidak siap menghadapi kenyataan itu. "Rue sendiri akan menikahkan? Rue akan menikahi cewek normal ya, kan? Atau jangan-jangan-"
"Tentu saja, bodoh!" Buru-buru cowok bermanik ameth itu menyela. "Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat, nanti.. saat aku bertemu seseorang yang mampu mengembang diriku sendiri,"
Ya, selalu saja begitu.
###
Kosong. Deburan ombak memecah karang. Tempat itu hanya mengisikan jejak-jejak sol sepatu memanjang Atlaraka hanya menatap kosong; pupil abu pekatnya menyipit seolah silau. Benar-benar merepotkan.. Psikopat satu itu begitu sulit dilacak.
"Menyerahlah," tawa samar terasa mendomino, di sisi lain perempuan rambut abu-abu berjalan sempoyongan pakaiannya berwarna putih pucat berkibar dihempas angin. Dengan kaki telanjang dan rambut acak-acakan perempuan itu menyeringai. "Jadilah seorang pembunuh sejati, Atlaraka, dengan begitu kau tak perlu menjadi semua alat,"
Jangan dengar.
"Diam!"
"Siapa pendosa diantara kita, Atlaraka? Kau ataukah aku? Bukankah itu yang mereka inginkan? Kau hanya perlu menunjukan kebengisan dihadapan semua orang," dia tertawa. "Lepaskan dirimu, dengan begitu kau tak menjadi terobsesi dengan pembunuhan,"
Tidak. Sampai kapanpun ia ingin kembali menjadi sosok normal dan menjalani hidup dengan bahagia, sebegitu sulitnya mewujudkan keinginan sederhana itu.
" Atau harus dipancing? Haruskah aku menunjukkan diriku sebagai sosok yang lain? Kau bodoh Atlaraka, kubunuh kau nanti!"
###
Lagi? Kepalaku terasa diputar kuat-kuat, nilai ulanganku merosot drastis. Ah sebenarnya apa yang kupikirkan? Rasanya aku menjadi tak berminat menyimak penjelasan yang telah dipaparkan guru pengajar lagi. Tidak. Semenjak Jae pergi.
"Uhm, maaf, Kanra buku ini milikmu?" Raff, cowok populer itu tengah menarik buku kenanganku. Buku kenangan sialan itu!
"Oh, maaf, sepertinya tadi-"
"Kau satu sekolah dengan anak pemilik yayasan?" Cowok berambut ikal itu memandang dengan antusias.
Anak pemilik yayasan? Lumia? Ah, tidak adiknya Lumia kah?"
"Anak yang mana?" Kutelan salivaku gugup.
" Yang ini, anak yang meninggal pada insiden lima tahun yang lalu," jari telunjuk Raff terarah pada gadis berambut coklat. Mirip Lumia. Benar-benar mirip, tapi bukankah usia Lumia jauh di atasku.
"Dia memiliki kakak? Ah, maksudku saudari?" Kuharap Raff akan mengiyakab namun sayangnya ia menggeleng tegas. "Lumina itu seorang anak tunggal,"
###
Perempuan cantik bergaun orang cerah itu menungguku. Kehadirannya bagaikan ilusi di siang bolong. Lumia senyum begitu mendapati aku yang memunculkan diri melewati gerbang sewarna lavender pucat.
"Kanra!" Benar-benar nyata bukan mimpi. Rambutnya tergerai bebas tersibak begitu menghampiri. Ada waktu sebentar? Jae tak bisa mengantar, jadi ia memintaku untuk menjemputmu sekaligus mengajakmu berjalan-jalan sebentar,"
"Oh," tanggapan yang dingin bagi orang selembut Lumia. Di sisi lain kecurigaanku meluruh perlahan. Tak mungkin, bila Jae saja jatuh cinta hingga menginginkannya sudah pasti Lumia merupakan seorang gadis baik-baik.
mobil Limousine itu terbuka lebar. Haruskah? Ah, Kanra, jangan bersikap gegabah lagi di hadapan tunangan Jae.
###
__ADS_1
Suaranya tercetar kecap bagai kayu manis. Dengan sikap elegan Lumia menuangkan teh chamomile dalam cangkir ponselen nude. Restoran yang dipilih Lumia merupakan sebuah restoran ternama.
Aksen kayu walnut yang menghiasi atap bangunan, di baliknya terdapat kaca tebal menyamarkan hiruk pikuk jalanan. Sesekali harum aroma kopi mahal menguar berpadu dengan musik jazz yang mengalun.
"Bagaimana sekolahmu tadi, Kanra?"
"Hmm, lumayan walaupun selebihnya pelajaran terasa membosankan," tukasku jujur. "Lumia sendiri?"
Gadis itu menunduk menghela nafas, "akhir-akhir ini aku sedang sibuk hingga menghentikan aktivitasku di dunia entertainment,"
"Lumia seorang artis?"
"Bukan, penyanyi. Tapi mungkin itu dulu," dia tertawa getir menampilkan sepasang lesung pipi dan cekungan bulan sabit terbalik di matanya. "Sekarang Papa melarang dan menyibukkanku dengan banyak hal,"
Sinar Mata itu entah mengapa begitu rapuh dan mudah hancur.
"Bukannya papa Lumia seorang pemilik yayasan Edelweis?"
"Papa asli ku hanya seorang pengawas stasiun. Mama dan papa bercerai, kemudian Mama menikah lagi." Tuturnya tenang, "Setelah Papa kandung ku meninggal, Papa tiri mengadopsi ku untuk menggantikan anak kandung yang meninggal,"
Pantas saja. Pasti berat menjadi dirinya. Ah, kenapa aku selalu bertindak gegabah, sih? Potongan pancake kutelan kasar. Salahku yang mempertanyakan wanita tunangan Jae.
"Berarti Lumia sangat mirip mama ya?"
"Iya," ia kembali mengangguk di sela-sela menghabiskan waffle karamelnya. "Dan adik tiriku juga sangat mirip Mama,"
Ya, benar. Mirip sekali. Mendadak raut wajahnya terbayang dalam benak.
"Ah, sudah jam segini! Ayo kita pulang!" Lumia melirik arloji yang terlingkar di pergelangan tangannya.
" Oh, ya ya," buru-buru kuhabiskan potongan pancake terakhirku.
###
Cowok itu membenahi letak buku-bukunya yang tercecer. Fishpot berenang melingkar seolah tengah mengamatinya. Tempat itu begitu minim cahaya, pembahasan sinar mentari merambat lemah tak sampai menembus dasar ruangan. Sesekali Atlaraka mengacak rambutnya frustasi, setelah ini akan diburu. Entah firasat dari mana namun ia merasa sangat yakin.
"Atlaraka!" Suara itu.. Kanra?
Perasaannya membuncah seketika. Cowok itu mematut diri dan merapikan helai anak rambutnya sejenak sebelum berlari menuju pintu. Cewek itu terlalu sibuk sehingga jarang bertemu dengannya lagi, sumpah walaupun galak dan sok peduli Atlaraka merasa sangat merindukannya.
"Tumben kau tidak berteriak teriak lagi?" Senyum penuh kelegaan terukir halus begitu mendapati sosok itu di ambang pintu. Gadis dihadapannya menatap dengan seringau tanpa aba-aba memeluknya kilat.
Aneh. Walau jantungnya berdebar begitu keras benaknya malah terasa diputar kuat-kuat. Benar Kanra, dari segi manapun gadis berambut legam di hadapannya ini memang benar-benar cewek itu.
"Aku mau lihat pertunjukanmu, ya? Ya?" Dekat. Membuat Atlaraka langkah mundur untuk menyisihkan jarak di antara mereka berdua. Benar-benar tak seperti biasanya, Kanra yang dikenalnya bukanlah seorang gadis yang pandai merajuk dan bersikap seperti itu.
"Kau mau apa?" Ditahannya lengan Kanra begitu tahu gadis itu akan melangkah jauh mendahuluinya.
"Ah, Raka memangnya kau tidak merindukanku? Kenapa sikapmu kasar sekali, sih?"
Benar-benar tidak beres. "Kau salah minum obat ya?" Ditaruhnya punggung tangan di atas kening gadis itu.
"Apaan, sih! Aku sehat, lihat aku bisa berlari tempat selama dua puluh menit, jumping lima puluh kali atau-"
"Ya ya, aku percaya kalau begitu," lagi-lagi jarak di antara mereka menjadi terlalu dekat. "Mundurlah, memangnya kau tidak tahu betapa berbahayanya cowok yang sedang jatuh cinta berdekatan dengan gadis yang disukainya,"
"Kalau begitu kau suka padaku?" Seringai lagi. Gadis itu tertawa mengguncang pundak Atlaraka kasar. "Kalau begitu aku juga suka! Suka sekali malah!"
Pengaruh hipnotis. Sekarang Atlaraka yakin cewek itu tengah mengalami pengaruh hipnotis. Sambil menganalisis ditariknya tangan Kanra erat. Menyelusuri tiap-tiap koridor dan lantai menara yang gelap dan pengap walau terlihat bersih.
__ADS_1
"Kau harus pulih," bisiknya tak jelas.
"Tunggu dulu! Aku lapar, buat aku makanan ya?"
Benar-benar.. Kanra yang seperti ini membuat dirinya terdiam sejenak tanpa berkutik. Bagaimana bisa cewek tukang pukul menjadi gadis manja seperti ini.
Masih ada sisa roti, sembari memanaskan air dalam ketel kecil ditaruhnya berbungkus-bungkus roti di atas meja makan bundar.
"Ayo makan, setelah ini-" kata-katanya tercekat begitu gadis itu malah menariknya duduk. Kanra bangkit menarik celemek yang tergantung.
"Suami duduk saja, aku yang memasak!"
Ha? Apa lagi ini? Senyum geli tak bisa disematkan diam-diam. Dasar aneh.. Walaupun lucu menjahilinya entah mengapa ini seperti lelucon parah.
"Kau pikir kita bisa, Kanra?" Sesaat Atlaraka menenggelamkan wajahnya di atas lengannya yang bertumpu pada meja. "Anak abnormal yang menikah dan hidup bahagia bersama seorang gadis cerdas?"
Gadis itu menganduk masakannya hati-hati. Hebat dalam pengaruh hipnotis pun tak menyurutkan kelihaiannya memasak. Aroma harum mengundang selera.
Atlaraka menatap punggungnya lamat. "Hei, Kanra.. Kalau aku jadi bertambah suka, kau bisa apa?"
###
Sial, kenapa sinat itu begitu menyilaukan? Bau menyengat menghantar begitu ku paksakan kelopak mataku membuka. Sosok samar tengah berdiri dihadapanku.
"Sudah agak baikan?" Rasa manis ini .. Atlaraka?
"Apa yang terjadi?" Rasa pening membuat keseimbangan tubuhku terguncang, namun cowok itu dengan singgapnya menahanku.
"Ups, hati-hati," Seraknya yang disertai seringai lebar. "Kau terkena hipnotis,"
Ha? Bukannya kemarin aku...
"Dasar ceroboh," tanpa aba-aba jemari cowok itu mendarat di atas kepalaku dan membelainya lembut. "Orang yang pernah terhipnotis itu rentan tahu,"
"Lepaskan! Aku bukan anak kecil yang bisa kau perlakukan seenaknya!" Ku tepis lengan Atlaraka hingga menjauh. "Sialan! Seenaknya saja memperlakukanku!"
"Ahaha, begitu pengaruh hipnotis yang hilang kau berubah menjadi galak seperti biasanya ya," Atlaraka beringsut menjentikan jari demi memanggil troli kudapan. "Ada sesuatu yang bisa kau ingat?"
"Sedikit. Atlaraka, ini berkaitan dengan Lumia, ia sedang merasa diikuti oleh seseorang. Dan begitu kami kembali dan restoran seseorang mengancam kami dengan pisau. Sosok itu membawa Lumia pergi." Aku menahan bobot kepalaku yang terasa menberat.
"Minumlah dulu," cowok itu mengulurkan secangkir teh. Aku menggapainya dengan tangan bergetar. Rasanya seluruh tubuhku kehilangan tenaga tiba-tiba. Kepalaku yang pening ini terjelembab, jika saja Atlaraka tak kembali menahanya.
"Kenapa saat itu.. aku..," suara ku menghilang tertutup rasa lelah yang luar biasa.
"Beristirahatlah, jangan keras kepala begitu,"
" Kenapa saat itu aku melihat gadis berambut putih itu, dan kenapa-" Habis. Tubuhku kehilangan tenaga membentur lengan keras milik Atlaraka.
"Beristirahatlah, Kanra.. sisanya biar aku yang mengurus," entah mimpi atau bukan, si setan tengil itu mencium keningku lama.
Mungkin cuma sekedar delusi, ya ku harap begitu.
###
"Sebenarnya aku berharap Jae meninggalkanku,"
Ha? Bukankah Lumia dan Jae telah bertunangan? Kenapa tiba-tiba Gadis itu menunjukkan wajah sendu seolah-olah tengah memohon kepadaku.
"Papa tidak mencintaiku dan aku tidak pernah mencintai papa.. aku memang benar-benar menyayangi Jae, tapi jika dia terus bersamaku maka dia akan terlibat dalam bahaya!" Lumia menangis. Bagai bendungan yang hancur. "Dengar Kanra, Papaku ini merupakan orang yang berbahaya!"
__ADS_1
Tbc.