
Dua hari berlalu kini Aurora berada di Perpustakaan bersama Hermione, semenjak masalah firebolt dan juga kini Scabers yang hilang atau mungkin di makan Kucing Hermione
Hubungan Hermione dan Ron masih renggang, bahkan dengan Harry juga cukup berjarak karena kejadian Firebolt, walaupun Harry juga sebenarnya memaklumi tindakan Hermione itu.
Aurora dan Hermione kini banyak bertemu, menghabiskan waktu berdua. terlebih lagi mata pelajaran kedua gadis ini bisa dibilang sangat tidak umum banyaknya
"Sudahlah Mione, ini hanya masalah waktu", ucap Aurora menenangkan Hermione yang menangis dalam pelukan Aurora
Mereka berdua sering bersama untuk membantu persidangan Hagrid tentang kasus Buckbeak itu, Aurora membantu sebisa mungkin karena dia tau bagaimana stresnya Hermione menghadapi semua Mata pelajaran yang begitu banyak dan ditambah ada masalah diantar dirinya dengan Ron
Sementara itu harry dan ron justru seakan-akan telah melupakan sidang kasus buckbeak itu
Setelahnya Aurora dan Hermione menuju pondok hagrid untuk membantunya dalam perkaranya
"Terimakasih Aurora, Hermione", ucap Hagrid lalu memeluk Aurora dan Hermione
Usai dari pondok Hagrid mereka berjalan untuk menuju kelas masing-masing, diperjalanan menuju kelas Mantra, Aurora dia bertemu dengan Harry dan Ron
"Harry!, Ron!", sapa Aurora berlari kecil kearah mereka berdua
"Hai Aurora",
"Hermione sering menangis belakangan ini, tertekan karena tugas sekolah, tentang firebolt itu dan sekarang kucing-", ucap Aurora terpotong oleh Ron
"Kucingnya memakan tikus ku",
"Tapi itu sudah naluri seekor kucing ron, yang ingin ku bilang adalah, sebesar apapun amarah kalian kepada Hermione karena Firebolt dan seekor tikus, tolong jangan membuat persahabatan kalian rusak karenanya",
"Hargailah sahabat kalian lebih dari sapu terbang dan seekor tikus. Dalam tekanan itu semua, Hermione juga masih membantu hagrid dalam sidang buckbeak minggu depan", ucap Aurora, sementara Ron dan Harry hanya terdiam mendengarnya
"Eh, seharusnya aku membantu hagrid" ucap harry lirih
"Aku tidak menyalahkan mu, begitu juga dengan hagrid dia tau kau sibuk berlatih Quidditch siang dan malam", kata Aurora
Tentang sirius black yang waktu itu dan sesosok anjing yang Aurora lihat dua hari yang lalu, dia tidak menceritakan semua kejadian itu kepada Harry ataupun kepada siapapun, dia hanya memberikan dugaannya tentang kemungkinan Black tau salah satu jalan rahasia dari Marauders map yang harry punya
"Itu baru dugaan ku, belum tentu benar", ucap Aurora
"Tapi itu masuk akal juga Aurora" jawab harry
"Aku heran, black adalah pembunuh berbahaya tapi ketika berada didepan anak-anak seperti kita waktu itu dia tidak mencoba langsung melukai kita", ucap Ron
"Yeah, dan yang mendapat Grimm adalah aku tapi kenapa dia malah menuju ke kasur mu Ron", kata Harry, ron hanya menaikan bahunya tidak tau
Keesokan harinya Aurora kembali beraktifitas seperti biasanya, menuju kelas mengikuti setiap pembelajaran dari para Profesor
Hari ini ia berada di kelas Ramuan yang kini digabung dengan Asrama Slytherin
__ADS_1
"Ayo kita duduk disana saja Aurora", ucap Hannah tapi kemudian tangan Aurora digenggam oleh Draco yang baru masuk ke ruang kelas
"Kau duduk denganku!", Lalu Draco membawanya ke meja depan dan duduk bersama di satu meja
"Sudah biarkan saja", ucap Justin menghentikan Hannah yang ingin menarik Aurora agar menyingkir dari Draco
Kelas dimulai ketika Profesor Snape datang membawa setumpuk perkamen soal tes yang akan dibagikan ke seluruh murid
"Aku ingin kalian mengerjakan dengan jujur dan jangan ribut!", ucap profesor snape dengan nada lambat, dingin dan tanpa ekspresi
Waktu terus berjalan dan tes telah dimulai dengan seluruh murid disibukan dengan menjawab soal-soal ramuan itu
"Oh ****!", umpat Draco mengucapkan kata kotor, Aurora yang mendengarnya hanya melirik sebentar kemudian kembali mengerjakan soal tesnya
"Aurora", bisik Draco tapi hanya diacuhkan oleh Aurora yang masih fokus mengerjakan soal-soal tes
"Psst, Aurora, aku butuh Pena bulu itu!", bisik Draco
"Diamlah Malfoy atau Profesor Snape akan memarahi kita", jawab Aurora
"Auroraaaaaaaaaaaa", bisik Draco menatap Aurora disampingnya
"Shhhh", bisik Aurora
"I need a pencil", ucap Draco dengan berbisik
"I don't have one", jawab Aurora tanpa memandang Draco
"Kita hanya punya waktu 15 menit lagi Draco", ucap Aurora
"Kalau begitu aku butuh jawaban"
"Ada pena di tasku", jawab Aurora yang mulai kesal
"Aku tidak bisa melewati tasmu", jawab Draco
"Yes you can!", ucap Aurora yang sudah kesal karena terus diganggu olehnya
"My mom selalu berkata untuk tidak melewati tas wanita--- Setidaknya tidak sampai beberapa blok jauhnya", kata Draco dengan senyum di bibirnya
Aurora menatap Draco tajam membuat ia menelan Saliva nya
"Just kidding, dia tidak pernah mengatakan itu", ucap Draco setelah melihat tatapan tajam Aurora
"Tapi itu sebuah saran yang cukup bagus, benarkan", ujar Draco lagi dan menatap Aurora
"Take it and shut up!!", jawab Aurora memberikan pena bulunya ke Draco
__ADS_1
Setelah menganggu Aurora di kelas ramuan, draco terus mengikuti Aurora kemanapun dia pergi, disetiap kelas juga dia selalu membawanya untuk duduk bersama disatu meja dan terus kembali mengganggu Aurora
Kelas selesai, jam makan siang Aurora duduk di meja hufflepuff bersama Susan dan memakan sandwich nya dengan sembari membaca buku, draco datang dan duduk disebelahnya dan mulai mengganggu Aurora kembali
Aurora pergi meninggalkan Draco dan duduk dengan hannah di Taman dibawah pohon yang rindang, Draco dari belakang memanjat pohon itu diam-diam
Justin datang dan mulai ikut bergabung dengan Aurora dan Hannah, mereka tertawa ketika ucapan justin itu dianggap lucu oleh mereka, draco yang melihat itu turun dari pohon dengan melompat dari dahan pohon
'Brug!' Draco lompat dari dahan pohon tepat sebelah Aurora yang duduk di kursi taman
"Apa, darimana kau datang?", ucap Aurora bingung dan juga kaget ketika Draco tiba-tiba datang dari atas dan muncul di sebelahnya
"Huh, sangat lucu bukan darah lumpur menjijikan", cemooh Draco kepada Justin menghinanya terus menerus
Dalam pikir Aurora ini sudah sangat keterlaluan dan menyebalkan, Aurora menarik tangan draco dan membawanya ke ujung koridor yang sepi
"Oh dear", ucap Draco terkejut tapi juga tersenyum senang
"Haha....you know what!?", ucap Aurora yang sudah kesal
"What?", jawab Draco, tersenyum
"kau benar-benar merepotkan, kau bahkan tidak membiarkanku bernafas dengan tenang", ucap Aurora dalam marah
"Nah, tapi aku tidak mencekik mu", ucap Draco, masih tersenyum
"Kau sedang..." ucap Aurora terpotong oleh Draco
"Being a flirty boy......i know", ucap Draco dan menyeringai
"Apa", ucap Aurora tidak percaya dan meraih bahu Draco, mencoba memegangnya erat tapi tiba-tiba berbalik, Draco meraih tangan Aurora dan menjepit Aurora ke tembok koridor
"You know what?", ucap Draco yang kini didepan Aurora, menjepitnya ke dinding dengan kedua tangan berada di bahu Aurora
"What?" jawab Aurora terkejut dan juga mulai panik
"Mom juga memberiku satu nasehat lagi", ucap Draco
"And what is it?", tanya Aurora ragu
"Dia berkata, 'Gadis yang mudah kesal denganmu sebenarnya didalam hatinya dia mencintaimu dengan dalam', itu artinya gadis itu adalah kau", ucap Draco dengan menyeringai
"Apa", ucap Aurora
"Jadi, aku tidak akan membiarkan satu orang laki-laki pun mendekat kepadamu, tak seorangpun", ucap Draco yang mulai protektif
Aurora yang mendengarnya pipinya mulai merah merona, dia hanya tersenyum tipis kemudian mendorong tubuh Draco menjauh dan berjalan pergi meninggalkan Draco
__ADS_1
Draco berteriak "kau akan memikirkan ku setiap hari, dan jika itu tidak terjadi maka ku pastikan aku akan membuatmu memikirkan diriku!!", teriak Draco menggema di koridor
Aurora yang mendengar teriakan Draco dibelakang, ia hanya tersenyum lebar dan mulai terkekeh menahan tawa.