Aurora : And the Endless of Love {DM}

Aurora : And the Endless of Love {DM}
BAB 17 - Dragon


__ADS_3

Hari-hari berganti begitu cepat dan kini adalah hari sabtu dimana Aurora, Ernie, Hannah dan Justin kembali mengunjungi desa hogsmeade, mereka kini sudah berada di toko Zonco yang merupakan salah satu toko favorit mereka setelah Three Broomstick dan Honeydukes


Toko itu sangat ramai dengan murid Hogwarts yang berdesakan didalamnya, Aurora membeli sekotak bom kotoran dan cangkir peng-gigit hidung untuk dibawa pulang, walau sebenarnya dia juga tidak tau untuk menjahili siapa nantinya


Sore harinya, angin bertiup sepoi-sepoi, mereka kini sudah kembali ke kastil, ditengah jalan Aurora menuju dalam kastil ia dikejutkan dengan Draco, Crabbe dan Goyle yang berlari terbirit-birit melewatinya, wajah Draco sudah kotor penuh dengan lumpur, rambut pirang platina terlihat acak-acakan dan bau kotoran


"Kenapa dengan mereka", tanya Aurora kepada diri sendiri


"Aurora, mungkin kau bisa gunakan bom kotoran untuk rambutnya itu", ucap Ernie disusul tawa Justin dan Hannah


"Boleh juga", ucap Aurora hanya tersenyum tipis


Mereka kembali berjalan melewati tangga pualam kastil dan hingga kemudian Hermione mencegat Aurora dengan tangan menggenggam secarik kertas


"Aurora....", ucap Hermione dengan nafas tak teratur karena habis berlari


"Tenang, ada apa ?", ucap Aurora bingung kemudian ia melihat Air mata di kelopak mata Hermione yang hampir jatuh, dengan cepat Aurora membawa Hermione pergi kembali ke menara Gryffindor


"Kalian kembalilah dulu, aku akan mengantar Hermione", ucap Aurora mendapat anggukan oleh teman-temannya


Mereka berdua kini berjalan menyusuri anak tangga hingga sampai di depan lukisan Nyonya gemuk, kalau kalian bertanya dimana Sir cadogan, dia sudah dipecat dari tugasnya karena tidak becus menjaga Asrama Gryffindor


Hermione mengucapkan sandinya dan lukisan itu bergerak terbuka, Aurora dan Hermione duduk dikursi dekat perapian yang sudah mati, ia memberikan secarik surat yang terlihat formal kepada Aurora kemudian dibaca olehnya


"Ini tidak mungkin....", ucap Aurora lirih tak percaya dengan menutup mulutnya


"Kita gagal membantu hagrid, Buckbeak akan dihukum mati", kata Hermione kemudian terisak, yang kemudian mendapat pelukan oleh Aurora


Beberapa saat kemudian pintu Asrama Gryffindor terbuka kembali menampakan Harry dan Ron berjalan bersebelahan, Hermione langsung berdiri dan menghampiri mereka berdua dengan menggenggam surat tadi


"Mau apa ?, menertawakan kami?", ucap Ron dingin menatap Hermione


"Tidak.... Ini, kurasa kalian ingin mendengar ini", ucap Hermione memberikan surat itu dan diraih oleh harry


"Hagrid kalah, buckbeak akan dibantai", ucap Hermione


"Mereka tidak bisa melakukan itu, buckbeak hewan yang tidak berbahaya" ucap Harry


"Ayah Draco, Mr Lucius Malfoy sudah membuat komite ketakutan, sehingga mereka memutuskan itu", ucap Aurora


"Kita masih bisa naik banding, tapi hanya saja aku tidak yakin itu akan berhasil dan kita tidak ada harapan lagi", ucap Hermione


"Ada", ucap Ron yakin, Aurora dan Hermione saling berpandangan kemudian menatap Ron

__ADS_1


"Kalian tidak perlu mengerjakan sendiri lagi, aku akan membantumu Hermione, Aurora", ucap Ron


"Oh Ron", ucap Hermione kemudian memeluk Ron, merangkulkan tangannya ke pundak Ron dengan tersedu-sedu, Ron terlihat terkejut juga takut tapi kemudian dia membalas pelukan Hermione dan mengusap rambutnya canggung


Aurora dan harry yang melihatnya hanya tersenyum, harry menggaruk hidungnya dengan telapak tangan yang sudah kotor dengan bekas lumpur, sementara Aurora dia sudah tersenyum lebar menampakan gigi putihnya


"Aku minta maaf soal Scabers Ron...", ucap Hermione yang masih terisak kemudian melepas pelukannya


"Oh--ya, tidak apa lagipula dia juga sudah tua, dan tidak berguna.... Mungkin dengan begini Mom and Dad bisa membelikan ku burung hantu", ujar Ron kemudian mengusap air mata Hermione dengan ibu jarinya walau ia terlihat sangat canggung


Beberapa hari kemudian, setelah Black berhasil masuk ke kastil dua kali, pengamanan kastil kali ini semakin diperketat, keempat anak itu kini tidak dapat menyelinap menuju Pondok hagrid saat malam-malam sehingga mereka hanya bisa berbicara dengan Hagrid saat jam pelajaran sudah usai


"Itu semua salahku, lidahku kaku saat berada didepan anggota komite", ucap Hagrid dengan menangis tersedu-sedu dengan melempari batu kearah danau, sementara Keempat anak itu hanya berdiri mematung menjadi pendengar dengan sesekali membahas cara lain jika dimungkinkan


"Masih ada naik banding!", kata Ron tegas, "tenang dulu, kita akan mengurusnya!", sambung Ron


Aurora juga akan mencoba membantu hagrid dengan lewat Ayah Aurora yang memang cukup berpangkat dan berpengaruh di kementerian sihir, ia juga akan mencoba bicara dengan Draco untuk mau mencabut tuntutan ayahnya itu


"Hagrid, aku tidak berjanji, tapi aku akan mencoba bicara dengan ayahku, semoga saja dia bisa membantu dalam kasus ini, dan akan kucoba bujuk Draco, agar dia bisa mencabut tuntutan ayahnya itu", ucap Aurora memecah keheningan dan mendapat tatapan harapan dari mata Hagrid dan juga teman-temannya itu


Namun di balik itu, Aurora juga tidak berharap banyak dengan kedua cara itu, karena jika hanya mengandalkan pengaruh dan pangkat ayahnya, itu saja tidak akan cukup, karena Aurora yakin anggota komite itu akan tunduk kepada Lucius Malfoy jika uang sudah bicara


Setelahnya merekapun kembali ke kastil, tepat diundakan tangga, mereka melihat Draco,Crabbe dan Goyle yang sedang tertawa dengan mengolok-olok hagrid


"Sudahlah, semuanya akan percuma, komite itu tunduk dibawah cengkeraman Lucius malfoy, sebaiknya aku memberi Beacky hari-hari indah untuk terakhir kali", ucap Hagrid setelah mendengar Draco sedang mengolok-oloknya kemudian ia menangis sambil kembali menuju pondoknya


"Bagaimana bisa makhluk konyol sepertinya menjadi guru kita", gelak tawa semakin keras


Ron dan Harry maju sudah siap perkelahian tapi langkahnya disusul oleh Hermione yang lebih cepat kemudian memukul kepala Draco keras, Aurora membulatkan matanya, sementara Ron dan Harry terdiam dan cukup terkejut


"Jangan berani-berani kau mengatai hagrid konyol lagi !!, dasar kau anak brengsek---- jahat!!", ucap Hermione kemudian mengeluarkan tongkatnya, sementara Crabbe dan Goyle sudah ketakutan dan sekaligus bingung


"Hermione", ucap Ron lirih kemudian menggenggam tangan Hermione agar menghentikan aksinya itu


"Lepas ron!",


Draco kemudian berdiri memandang Aurora sebentar dan kemudian berlari kembali ke ruang bawah tanah, "Ayo!", ucap Draco kepada Crabbe dan Goyle, bisa Aurora lihat hidung Draco memerah dan dia yakin pasti itu akan berdarah


"Hermione", ucap Ron lagi mendapat tatapan kagum olehnya


"Seharusnya kau tidak menghentikan ku ron", Ucap Hermione


"Harry kau harus balas Anak brengsek itu di Pertandingan final Quidditch, kalahkan Slytherin!!", ucap Hermione, yang diangguki oleh Harry

__ADS_1


Setelahnya mereka berpisah menuju asrama masing-masing. sebelum kembali ke asrama Aurora memutuskan menemui Draco di Asrama Slytherin, dia membawa nampan yang terdapat satu mangkuk berisi air dingin, obat salep dan juga kain bersih dan tisu


"Pureblood", ucap Aurora ketika didepan pintu Asrama Slytherin


Ia sudah pernah masuk ke asrama ini sebelumnya ketika di tahun ke duanya, sehingga dia tidak terlalu kaget dengan kondisi common room yang terlihat gelap dan dingin itu


"Oh lihat siapa yang datang", ucap Theodore Nott, yang sedang duduk bersama Daphne, Blaise dan Pansy di sofa common room


"Apa kalian tau dimana Draco?", tanya Aurora menghampiri keempat anak itu


"Dia masuk dengan memegangi hidungnya dan langsung masuk ke kamarnya diatas", ucap Blaise


"Terimakasih Blaise", kata Aurora, baru selangkah berjalan kedepan, pansy memanggilnya


"Aurora...", ia menoleh dan melihat Pansy berdiri kemudian menghampirinya


"Aku ingin minta maaf soal waktu itu, seharusnya aku tidak merendahkan keluargamu", ucap Pansy walau gerak tubuh dan gaya bicaranya masih tetap menyebalkan


"Aku sudah memaafkan mu dari lama",


"Oh, baiklah kalau begitu, kita teman lagi?", tanya Pansy


"Tentu saja", jawab Aurora dengan senyum dibibirnya


Aurora beranjak dari common room dan menaiki tangga keatas menuju kamar Draco, hingga kemudian berhenti didepan pintu kayu berwarna hitam legam, yang terdapat tulisan dipintunya, bertulis :


'jangan pernah membangunkan naga yang sedang tidur'


Aurora terkekeh membacanya kemudian tangan kanannya terulur mengetuk pintu kayu itu


"Siapa ?"


"Ini aku, Aurora", beberapa saat kemudian pintu terbuka menampakan Ruangan luas yang berwarna serba hijau dan hitam, kasur king size milik Draco dan meja yang tersusun rapih ditempatnya, jika boleh jujur kamar Draco sedikit lebih besar daripada kamar Aurora yang ada di Asrama Hufflepuff


"Bagaimana hidungmu, Pretty boy", ucap Aurora dengan nada mengejek lalu menutup pintu kamar, dia berjalan mendekat kearah Draco lalu duduk disebelah Draco yang sedang duduk di pinggir kasur dengan menempelkan kain ke hidungnya


"Beraninya mudblood sialan itu memukulku!", kata Draco dengan suaranya yang bindeng karena ia bicara dengan menutup hidungnya


Aurora kembali terkekeh mendengarnya, tangannya terulur meletakan napan itu disisinya kemudian tangannya terangkat menyingkirkan kain itu dari hidung draco


"Sapu tangan ini terlalu kasar Draco, akan berbahaya untuk mengobati luka dengan ini", ucap Aurora kemudian mengambil kain halus di nampan miliknya, mencelupkannya ke air dingin di mangkok


Tangan Aurora mulai terulur mengelap bercak darah di pipi dan hidung Draco, mengompres hidung lebamnya dengan lembut dan mengobatinya dengan salep, tatapan Draco terus tertuju kepada Mata biru laut milik Aurora, sementara Aurora Ia tidak menyadari tatapan Draco padanya karena fokusnya mengobati hidung draco

__ADS_1


"I love you Aurora", ucap Draco tiba-tiba memecah keheningan dengan memandang mata Aurora, seakan akan dia telah terhipnotis setiap kali menatap Aurora atau berada dekat dengannya


Aurora menatap Draco sekilas kemudian ia hanya tersenyum malu dan kembali melanjutkan aktifitasnya mengobati hidung Draco.


__ADS_2