
Akhirnya akupun membersihkan diriku, dan mengganti pakaianku yang kumal serta kotor dan memakai kasut yang kutemukan. Setelah bersih, aku duduk sambil menikmati hasil temuanku, aku berpikir... kemanakah gerangan para perginya para penduduk?
Hari sudah sore menjelang malam, aku memutuskan menginap malam ini disalah satu rumah. Selain berbahaya kehilangan arah, ditambah lagi banyaknya binatang buas yang keluar di malam hari.
Sambil menyantap makanan dan minuman anggur aku berpikir kembali, mungkinkah telah datang orang-orang yang selamat dari kapernaum dan membawa berita tentang azmaveth, sehingga mereka berkemas seadanya dan lari ketakutan meninggalkan tempat ini?
Sepertinya mereka pergi tadi siang, karena. berberapa dari dapur mereka tungkunya masih hangat, bahkan ada yang masih berasap seperti kulihat dari jauh itu.
Oops...tungku yang berasap! aku langsung bergegas berlari kerumah yang tungkunya masih berasap, dan segera kusiram dan kututupi dengan tanah agar asapnya berhenti. Bila azmaveth melihat asap ini, mereka pasti kemari dan menemukan persembunyianku disini.
Saat aku akan kembali ke tempat makanan yang kutinggalkan tadi, tiba-tiba aku melihat secarik kain yang di gantungkan pada pintu disalah satu rumah yang kulewati. Aku menarik kain itu. Dari jauh sudah terlihat ada tulisanya...
..." Kami mengungsi ke Eklesia, kota para ksatria "...
Tulisan ini pasti sengaja ditinggalkan bagi keluarga mereka yang belum kembali. Lalu pesan di secarik kertas itu segera kukembalikan di pintu, kuselipkan kembali diantara celah-celah kayu, dimana aku tadi mengambilnya.
Kembali kerumah yang kutinggalkan tadi, perutku terasa lapar sekali. Dua potong roti dan semangkok kecil bubur sebenarnya kurang. Namun cukuplah dan minum sedikit anggur untuk menghangatkan tubuhku di malam yang mulai larut ini.
Setelah selesai semua ditemani dengan lilin kecil, aku melangkah menuju ke lantai dua, mencari segera tempat membaringkan tubuhku yang sudah lelah. Meski beralaskan jerami cukup enak dan nyaman, jubah yang kutemukan cukup menjadi selimutku dan kasut yang kupakai setidaknya telapak kakiku tidak kedingingan.
__ADS_1
Besok,pagi-pagi aku harus segera beranjak dari rumah ini menuju Eklesia...kota para ksatria. Dan akupun mulai bermimpi....
Dalam mimpiku terlihat sangat jelas dari mana asalku, namun aku masih belum dapat mengingat siapakah namaku. Mimpiku terulang kembali, aku berada dalam medan pertempuran yang dahsyat, rekan-rekanku, keluargaku, sahabat-sahabatku berguguran. Melawan penguasa kegelapan Tinggal aku seorang diri. Hanya berbekal belati serba guna, aku berhasil mengubah wujud belati tersebut menjadi pedang kecil yang mampu menebas habis pasukan kegelapan. kuingat betul perkataanku " ya ABBA berikan aku kekuatan penuh untuk menghancurkan batalion kegelapan, "
Saat aku bertempur dan bertempur lebih dalam melawan musuh-musuh kegelapan, bukanya tambah habis malah semakin banyak berdatangan. Hingga pada akhirnya, sampai titik darah penghabisan dan nafasku. Akupun ikut gugur.
Tiba-tiba aku terbangun dengan terengah-engah. Tubuhku penuh dengan keringat. Ternyata masih malam, namun di luar hujan deras sekali dan langitpun mengeluarkan petirnya beberapa kali. Udara malam ini menjadi dingin sekali. Tapi anehnya, walapun kedingingan aku bisa berkeringat deras seperti ini.
Dan aku teringat ketika mimpi aku memegang belati serba guna, dan langsung saja aku mengambil dari kantong pinggang sebelah kiriku. Dan semakin bingunglah aku ketika aku melihat belati serba guna ini, bagaimana bisa belati ini ikut bersamaku, di bumi yang berbeda ini?
Yang pasti aku hidup kembali. Disaat aku bertempur melawan para feral dengan refleks dan dengan mudahnya aku bisa mengeluarkan gerakan seperti meninju dan menendang dengan sigap, apalagi sampai mengeluarkan pukulan yang bercahaya juga. Ternyata aku pernah berlatih berat di kehidupanku sebelumnya.
Sontak saja aku langsung bangun kembali dan segera mematikan lilin kecil, sambil melihat bayangan dibalik celah-celah dinding kayu di lantai atas.
Dan benar saja, perasaanku tiba-tiba mengatakan ada bahaya menghampiriku. Namun harus kupastikan lagi, beberapa kilatan petir yang lebih terang diluar sana, membuat bayangan itu menjadi kelihatan lebih jelas dan bertambah mengerikan.
Sesosok binatang besar berjalan perlahan mengelilingi rumah yang sedang kusinggahi. Dia memiliki gigi-gigi yang tajam, telinga yang runcing dan bulu tengkuk yang kaku berdiri bagaikan landak.
Aku mengenalinya dengan baik. Sebab aku baru saja bertarung dengan sosok itu kemarin malam. Tidak salah lagi, itu...feral...!
__ADS_1
Wah gawat ini, kelihatannya keberuntunganku sudah habis malam ini. Aku diam tidak bergerak sama sekali sambil memperhatikan dari lantai atas. Makhluk itu mengendus-endus, dari rumah yang satu kerumah lainnya. Tidak hanya satu feral tapi ada beberapa feral lainnya ikutan datang.
Mungkin mereka mencari orang-orang yang masih hidup dan tertinggal di kampung ini. Dan itu berarti cuma aku saja.
Situasi semakin mencekam dan gawat ada lima feral menghampiri dan mengitari rumah yang kusinggahi ini.
Akupun segera beranjak dari tempat tidurku, segera memakai jubah dan kasut. Bersiap-siap segera kabur dari rumah ini.
Seharusnya makhluk-makhluk ini tidak peru kutakuti, karena aku pernah mengalahkan mereka. Tapi entah kenapa, perasaanku mengatakan ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan, sedang berada di kampung ini bersama dengan mereka.
Sepertinya, mereka belum mengetahui kalau ada manusia di dalam rumah ini, meski mereka sudah mendengus-dengus curiga.
Tidak ada jalan lain selain kabur dengan membuka bagian atap rumah, lewat jendela sudah tidak mungkin. Aku mengendap-endap dan keluar lewat atap rumah. Hujan lebat setidaknya mengacaukan pandangan mereka, dan langsung saja aku melompat tinggi, menuju ke gelapnya hutan sambil memakai jubah untuk menutupi kepalaku dari derasnya hujan.
Seketika sampai dan bersembunyi di pohon dan agak jauh, aku mengintip kembali ke arah dusun yang baru kutinggalkan. Ternyata dusun itu sudah dipenuhi dengan puluhan feral. Entah apa yang sedang mereka cari disitu. mungkinkah mereka mengejarku atau sekedar lewat.
kupikir sudah aman dari mereka meski sudah bersembunyi di atas dahan pohon yang tinggi. Pertanyaan itu sepertinya harus kusimpan dahulu, karena tiba-tiba ada seekor feral yang sempat melihat kelebatan tubuhku dibalik dahan pohon yang besar dari kejauhan. Langsung menatap ke arah pohon dimana aku bersembunyi.
Feral itu menggeram perlahan dengan curiga, dan hal itu menarik perhatian kawan-kawanya. Ada lima feral yang lain kemudian mengikutinya, menuju ke arah pohon dimana aku bersembunyi saat ini. Langsung saja akupun melompat pindah ke dahan pohon besar yang lain.
__ADS_1