Avalon Knight

Avalon Knight
SEJARAH EKLESIA


__ADS_3

Keesokan paginya akupun terbangun dari tidurku dalam keadaan meditasi. Tak lama kemudian Arel dan Helen datang berdua mengunjungiku.


" Kau sudah merasa sehat? " kata Arel


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. " Hari ini kau sudah bisa keluar untuk berjalan-jalan agar kau bisa menggerakkan tubuhmu. Mau berjalan-jalan melihat Eklesia? " Pungkas Arel


Aku mengangguk setuju " Sebelumnya ijinkan aku membasuh tubuh dan memotong, serta merapikan rambutku, " kataku.


Tak lama aku membersihkan diriku yang sudah seminggu belum kubersihkan, berbaring sepanjang enam hari membuat tubuhku kaku. Sehabis membersihkan tubuh, aku memotong dan merapikan rambutku yang sudah agak panjang sebahu. Kupotong pendek rambutku persis ketika aku hidup di bumi masa lalu.


Lalu Helen memberikan satu setel pakaian lengkap dengan kasut serta jubah yang baru.


" Baiklah aku sudah selesai, " kataku.


Dan kini Arel mengajakku berjalan-jalan mengelilingi kota Eklesia. Kemudian kami berdua berjalan mengelilingi kota, dan kota pertama yang kutuju pertama adalah kota Sardis.


Dalam perjalanan aku melihat keramaian di jalan-jalan Eklesia, pasar dan bangunan-bangunan yang indah di Eklesia. Aku tidak percaya apa yang kulihat. Ada banyak wilayah-wilayah yang kecil tanahnya melayang diudara dan unik. Ada banyak penduduk di Eklesia ini jika mau ke wilayah-wilayah yang lain harus terbang melayang keatas dan ketinggianya berbeda-beda. Akupun tertegun melihatnya tanpa bisa berkata-kata " luar biasa indah, " hanya kata itu yang bisa kuucapkan.


Lalu Arel melihatku dan bertanya " Apakah diduniamu sebelumnya tidak ada kota melayang seperti ini? "


" Tidak ada, semua itu cuma imajinasi fantasi belaka. Namun ini...sungguh nyata, " sambil terkagum aku melihatnya.


Lalu Arel banyak menjelaskan tentang sejarah setiap bangunan yang kami lewati di kota itu. Kemudian membawaku naik ke salah satu menara di salah satu wilayah yang melayang.


" Kau bisa terbang? " tanya Arel padaku


" Aku sudah bisa, " jawabku.

__ADS_1


Sesampainya di menara Arel menjelaskan satu per satu " Menara ini namanya Shael-Ofel, menara kesukaanku, karena letaknya tepat di tengah Eklesia sekaligus Beth-Rapha dan danaunya. " ujarnya sambil menunjukkan bagian-bagian Eklesia dari atas menara.


Arel menerangkan, bahwa Eklesia sebenarnya terbagi lagi menjadi in tujuh bagian yakni: Ephesian, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia.


Aku melayangkan pandanganku ke seluruh Eklesia. Ternyata....kota ini luas sekali. Pantas saja masih terbagi dalam tujuh bagian lagi. Ini tidak bisa lagi disebut sebagai kota, terlalu luas... lebih cocok bila disebut sebagai sebuah negeri. Aku bisa melihat berbagai kota baik berada di daratan juga, kota yang melayang diudara. Negeri yang dikelilingi oleh benteng-benteng yang tinggi dan tebalnya berlapis-lapis.


Eklesia in lebih tepat disebut sebagai kota benteng-benteng, daripada kota ksatria. Karena didalam negeri itu terdapat banyak benteng yang berdiri sendiri-sendiri, terpisah dari benteng-benteng yang lain. Sebuah kubah putih besar dengan dua bangunan tinggi disampingnya mencuat mencolok di bagian sebelah barat, kira-kira bangunan apa itu? Bangunan itu juga dikelilingi tembok yang lebih tinggi di banding tembok rata-rata bangunan tempat ini.


" Saat didirikan oleh Raja Avalon, Eklesia tidak memiliki benteng, " kata Arel.


" Raja Avalon sendirilah yang telah membangunnya, tepat di atas batu karang yang luas yang di beri nama Petra. Untuk memperingati peristiwa itu, Raja Avalon telah membuat sebuah prasasti..." dia terdiam sebentar.


" Kau ingin melihat prasasti itu? " tanya padaku.


" Yah...." aku mengangguk, lalu kami berdua meninggalkan menara itu. Turun terbang kebawah, bergabung lagi dengan keramaian jalan-jalan di kota itu. Dan tidak lama kemudian kami berjalan-jalan, akhirnya sampailah di sebuah gedung putih yang besar, seperti terletak diatas sebuah bukit.


Ada sebuah tangga yang menjulang tinggi untuk sampai di gedung besar itu. Sekitar seratus anak tangga yang harus kami lewati sebelum mencapai di atas. Tangga itu tidak luas, mungkin hanya dapat memuat dua sampai tiga orang bila berjalan berdampingan. Ketika sampai diatas, di bagian depan gedung tersebut aku melihat terdapat tujuh pilar-pilar besar, sebesar perkiraan lima rentangan tangan orang dewasa.


Prasasti itu terletak di pusat gedung. Pada dinding yang mengelilingi atrium itu terdapat dua belasa patung-patung raksasa, patung orang yang memakai jubah dengan berbagai macam posisi. Ada posisi sedang mengangkat wajahnya dan tangannya ke atas, ada posisi yang sedang berpikir, ada juga posisi yang sedang berbicara dengan tangannya menunjuk ke atas, dan sebagainya.


" Itu adalah Apostolos, dua belas pahlawan dan pemimpin Eklesia pada mulanya, " kata Arel, saat aku terpesona memandangi patung-patung raksasa setinggi pohon cemara.


" Kenapa tempat seindah dan semegah ini sepi, Arel? Hanya kita berdua saja yang berada di tempat ini? "


" Tempat ini akan penuh sesak pada hari raya tertentu. Seperti hari raya Pesakh, Ghennao, Anastasis dan Annabhaino. Sebentar lagi kami akan merayakan Pesakh, akan ada banyak acara disini, " ujar Arel sambil mengajakku menuju ke sebuah prasasti yang sangat besar, hampir sebesar kereta kuda.


Menurutnya, prasasti itu di tulis sendiri oleh Raja Avalon, yang menandakan dibangunnya Eklesia. Disitu tertulis sebuah pesan yang tidak ku mengerti:

__ADS_1


איר זענט פּעטראַ און אויף דעם שטיין איך וועל בויען מיין מענטשן ... עקקלעסיאַ און אַזמאַוועטה וועט נישט הערשן איבער זיי


" Ini bahasa awal Eklesia, yang artinya...


...--- Engkau adalah Petra dan di atas batu karang ini, aku akan mendirikan rakyatku... Eklesia dan azmaveth tidak akan menguasainya, --- "...


kata Arel menjelaskan arti dari tulisan di prasasti putih tersebut.


" Dahulu Eklesia tidak memiliki benteng...namun penduduk Eklesia tidaklah khawatir. Setiap ada serangan musuh, akan muncul sebuah tembok api dan menghalau semua serangan musuh. "


Arel membawaku keluar dari atrium itu, masuk ke salah satu pintu, menuju ke ruangan yang terdapat banyak lukisan didalamnya. Ia menunjuk ke sebuah lukisan besar yang tergantung di sebelah kanan ruangan itu. Sebuah lukisan yang menggambarkan tentang negeri yang terang benderang, dan dikelilingi oleh api di sekitarnya dan membentuk benteng.


Benteng itu membuat musuh-musuh yang di gambarkan lukisan itu seperti naga terbang dan berbagai jenis makhluk yang lain, tidak dapat masuk kedalam negeri itu. Pada bagian bawah lukisan itu tertulis :


איך אַליין בין די פּאַטעטיש וואַנט אַרום איר, און איך וועל זיין דער כבוד אין איר


" Kalau yang ini adalah bahasa dari masa sebelum Eklesia, artinya seperti ini;


...--- Aku sendiri yang menjadi tembok berapi di sekelilingmu, dan akan menjadi kemuliaan didalammu. --- "...


ujar Arel menjelaskan dan terdiam merenungi lukisan itu.


" Beberapa saat kemudian Eklesia menjadi kota yang sangat besar. Pembangunan di Eklesia sampai jauh melewati batu karang. Kemudian tidak ada lagi serangan besar-besaran dari azmaveth. Serangan-serangan azmaveth dapat dihancurkan dan dimusnahkan dengan mudah oleh para prajurit Eklesia, bahkan sebelum serangan itu sampai ke tembok api. "


Akhirnya aku sampai pada sebuah patung ksatria yang gagah. Jubah ksatrianya seperti yang kukenal dan pedang yang dipegangnya itu...dengan tanduk domba pada gagangnya...itu Revelation! sama persis dengan pedangku sekarang.


" Namanya Shen, " ujar Arel yang kini telah ada di sebelahku, turut memandangi patung itu.

__ADS_1


" Lima belas generasi yang lalu, pada jaman Shen, dia menantang Eklesia, padahal dia sendiri adalah penduduk Eklesia dan terlahir sebagai prajurit. Perjalanannya untuk bertarung dengan para pahlawan Eklesia menjadi cerita turun temurun. Ada yang menyebutnya sebagai pengkhianat namun ada juga yang menanggap dia sebagai pahlawan. Dan aku sendiri berpendapat dia adalah seorang pahlawan yang berani. "


" Apa yang telah dilakukannya, dan mengapa dia menentang Eklesia? " tanyaku penasaran.


__ADS_2