
Jantungku berdegup sangat keras, akupun bingung ternyata puluhan feral yang lain sudah mengepung dan menutup jalanku. Tidak ada pilihan lain selain berdiam diri saja, sambil mengatur nafas agar jangan sampai panik.
Feral itu semakin dekat, semakin mendekat...dan kini mengendus-endus ke arah pohon yang menjadi tempat persembunyianku. Sementara aku yang tepat di sebelahnya, berusaha turun pelan-pelan dari dahan pohon, bersembunyi dekat dengan akar pohon yang besar, untuk mengindari penciumannya. Belati serba bisaku sudah siap di tangan kananku, dan tangan kiriku siap meninju jika para feral mengeroyok.
Ketika feral itu mengendus-endus tepat diatasku, dan aku sudah siap menyerang. Tapi mendadak dia bersin tepat diatasku.
Ternyata di sebelahku ada bunga hutan dan menebarkan aroma yang tajam...aroma itulah yang membuatnya bersin tepat di wajahku. Ah...sialan air liurnya pas di wajahku, aku membersihkan dengan jijik. Si feral mundur terus sambil bersin-bersin, sementara feral yang lainnya datang menyusulnya. Dan kini mereka datang serentak menuju be ke arahku, meneruskan apa yang sebenarnya dicari oleh temannya tadi.
Mendadak, terdengar suara siulan yang panjang, dan membuat para feral terdiam. Dengan segera mereka berbalik serta berbalik ke sumber arah siulan itu.
Fiuhhh..., akhirnya aku menghembuskan nafas dengan lega, aku selamat! aku mengintip, dan mencoba melihat apa yang terjadi. Siapa sebenarnya yang telah memanggil mereka? Di tengah kampung itu ada sosok hitam yang sedang berdiri, dikelilingi oleh para feral yang berdatangan satu per satu kemudian duduk mengitarinya. Pada jarak sejauh ini, aku masih bisa merasakan hawa kelicikan serta pembunuhan yang disebarkannya.
__ADS_1
Sosok itu...?! bukankah dia makhluk mengerikan yang bisa mengeluarkan sulur-sulur dan hampir membunuhku kemarin?
Benar itu dia, dengan jubah hitam yang menutup seluruh tubuhnya, dari kepala sampai kaki, sekilas aku melihat dia mengenakan topeng emas di wajahnya. Terlihat saat kerudung hitam di wajahnya sedikit tersibak tertiup angin.
Pakaian di balik jubah hitam Itu juga memancarkan kilatan-kilatan cahaya seperti terbuat dari benda-benda berbahan emas. Hujan sudah mulai berhenti, namun kilatan petir masih menerangi langit dan juga kampung itu.
Sosok hitam itu mengambil sesuatu dari bawah dan melemparkan ke arah feral-feral Itu. Ternyata itu adalah tulang-tulang bercampur daging yang masih segar dan masih ada darahnya, untuk makanan para feral. Para feral segera berebut, bahka berkelahi untuk memperebutkan tulang yang berbalut daging segar yang di lemparkan tadi. Tapi setelah sosok hitam melemparkan beberapa tulang lagi, para feral menjadi lebih tenang.
Sepertinya aku mengenal bentuk tulang-tulang itu, tetapi aku tetap saja aku terkejut, saat sosok hitam Itu mengangkat sebuah tulang yang bulat seperti bola dan melemparkan lagi. ASTAGA ITU TENGKORAK..., itu bangkai manusia yang baru saja dibunuh!
Langsung saja kuambil langkah seribu dan berlari, melompat dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lain, berlari lagi. Kemudian kudengar suara peluit panjang ditiup dari belakangku. Dan kini suara gonggongan para feral disertai dengan gesekan suara ranting-ranting bergeretakan di belakangku. Gawat... mereka mengejarku!!!
__ADS_1
Ketakutan mendesak-desak di dadaku, akupun terus berlari, menabrak apa saja yang menghalangiku, kakiku perih tidak dapat berlari lebih cepat lagi, dan aku memutuskan untuk melompat antar dahan pohon. Namun para feralpun lari semakin cepat bahkan beberapa mengejarku juga ikut melompat antar dahan pohon. Jaraknya semakin dekat denganku. Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang ini adalah terbang secepat mungkin menerobos gelapnya hutan. Jika terbangku terlalu tinggi melebihi hutan, pastinya para makhluk itu mengikuti dan mengirim teman-temanya yang dapat terbang. Nafasku tersenggal-senggal menyesakkan dada. Aku berhenti sebentar, sepertinya aku berlari, melompat dan terbang cukup lama dan cukup jauh dari mereka. Tidak terdengar lagi suara para pengejar itu di belakangku.
Aku mencoba melihat ke belakang, terlihat cahaya samar-samar. Cahaya apa itu? ada rona warna merah membumbung ke atas langit, cahaya dari kampung yang kutinggalkan tadi. Hanya satu saja yang bisa kusimpulkan, pasukan azmaveth telah membakar habis kampung kecil itu.
Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk kembali kesana, maka akupun harus melanjutkan perjalananku sambil setengah berlari. Aku harus menghindari para monster itu sejauh mungkin. Untung tadi ada hujan deras, sehingga menyulitkan para feral itu mencium jejakku. Daripada aku meninggalkan jejakku di tanah dengan jelas, sebaiknya aku melanjutkan perjalananku, melompat antar dahan pohon. Tetapi aku harus pergi ke arah mana, menuju ke kota Eklesia? semoga langkahku bisa membawaku bertemu lagi dengan Shemmer atau ke kota para ksatria, seperti yang tertulis pada kain yang kutemukan tadi, atau mungkin keduanya. Karena bisa saja Shemmer berada disana. Bukankah dia juga salah satu seorang ksatria juga?
Tanpa sadar aku kelelahan sekali dan akhirnya tertidur diatas pohon yang besar. Hari sudah agak terang saat aku membuka mataku dengan berat. Aku mencoba menutup mataku lagi, dan melanjutkan kenyamanan tidurku, dibuai dinginnya udara di pagi hari. Bergelung terbalik untuk meneruskan tidurku. Namun aku segera terjaga, karena hampir jatuh saat membalikkan badanku. Ternyata setelah matahari bersinar agak terang, aku bisa melihat dengan jelas, tidur berada diatas dahan pohon yang besar dan lebar.
Oh ya, dimanakah gerangan para feral yang mengejarku?! sosok hitam juga? dimanakah mereka. Segera saja aku mengawasi di sekeliling pohon ini. fuhh... ternyata mereka belum sempat kemari. Tetapi, mungkin saja mereka akan menemukanku, jika aku tidak cepat-cepat kabur dan meninggalkan tempat ini.
Aku rasa terik matahari yang bersinar pagi hari sudah cukup terang. Dari atas ini aku bisa melihat didepanku ada padang rumput yang terbuka, hampir mirip seperti yang kualami kemarin, terperangkap di hutan dengan padang rumput di sebelahnya dan tidak kuketahui.
__ADS_1
Padang rumput itu menghampar luas di sebelab kiriku. Ada danau biru yang indah, dengan permukaan airnya berkaca-kaca diterpa matahari pagi, meski danau Itu tidak terlalu luas namun kilauanya cukup jelas. Berbeda dengan arah sebelah kananku yang kemarin sempat kulewati, ada gunung-gunung terjal berwarna hitam dengan lembah-lembahnya yang gelap. Sinar matahari memang tidak sampai sisi di balik gunung-gunung tersebut hingga bayangan hitam yang luas menutupi hampir seluruh lembah di gunung-gunung tersebut, dan memberi kesan yang menyeramkan. Seperti tidak ada kehidupan disana. Dua pemandangan yang kontras.
Segera saja aku beranjak dan melanjutkan perjalananku dengan melompat antar pohon kembali. Dan tak lama kemudian sampailah di padang rumput yang luas itu.