
Kegelapan mulai menghampiriku, membuat dadaku sesak dan tidak bisa nafas dengan leluasa. Membuat dadaku sesak dan tidak bisa bernafas dengan leluasa. Lendir dari kulit sulur yang licin itu terasa sangat dingin di kulitku. Dan sulur-sulur itupun semakin erat mengikatku, siap meremukkan semua tulang-tulangku.
Seluruh badanku terasa sakit, dalam beberapa detik lagi, aku pasti diremukkannya. Sementara itu aku sudah tidak bisa berteriak lagi, karena wajah dan seluruhnya sudah tertutup oleh sulur-sulur tersebut. Aku sudah lemas tak berdaya, sebentar lagi akan mati dalam kesunyian tanpa teriakan.
Dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan sulur-sulur tersebut menyentak-nyentak, diiringi suara raungan kesakitan dari makhluk itu. Dan lilitan dari sulur-sulur yang keluar dari makhluk itu mulai melonggar, membuatku bisa bernafas kembali.
Aku masih belum sepenuhnya sadar, aku berusaha bernafas normal kembali dan menghimpun kekuatanku. Sambil berusaha melepaskan diri dari sulur-sulur yang sudah tidak melilitku lagi, dengan segenap tenaga yang masih ada. Seluruh tubuhku beserta pakaianku basah kuyup oleh cairan lendir dan menjijikkan tadi.
Jangankan berdiri, merangkak saja rasanya sulit karena licinnya lendir itu. Sambil berdiri bersusah payah dengan memegang dahan pohon sekenanya dan menenangkan diri, aku mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi di sekelilingku. sulur-sulur yang melilitku tadi ternyata sudah putus, sepertinya dipotong oleh sesuatu. Sosok hitam itupun juga sudah tidak ada lagi. Wah, menakjubkan siapa yang telah menghabisi sosok hitam dan menyeramkan itu? Apakah ada seseorang yang menolongku?
Masih dalam keadaan setengah berdiri dan sambil memegang dahan pohon sekenanya, aku baru menyadari jika di depanku samar-samar terlihat cahaya putih. Semakin lama semakin terang seiring dengan pulihnya sedikit demi sedikit penglihatanku. Sosok manusia yang tegap, berwibawa, memakai jubah zirah yang tidak pernah kulihat dimanapun termasuk Shemmer. Diliputi oleh sinar putih dan memakai mahkota emas, telah berdiri enam langkah didepanku.
Rambutnya yang putih sama seperti cahaya panjang sampai sebahu, berkilauan berkibar-kibar termasuk jubahnya ikutan berkibar dengan kemilaunya. Pasti dia yang telah menolongku mengusir makhluk tadi, ataukah mungkin dia juga telah menghancurkan juga sampai musnah?
Pandanganku masih agak kabur akibat lilitan yang hampir saja membuatku pingsan oleh makhluk tadi, namun aku masih bisa melihat zirah di dadanya berukir kepala domba. Sebenarnya bukan berukir, tapi lebih cocok kalau dikatakan zirah dadanya berbentuk kepala domba, karena seperti ada seekor domba jantan raksasa dengan tanduknya yang besar dan melingkar keluar dari baju zirahnya itu.
Matanya sangat tajam bagaikan petir dan api, berkilat-kilat seperti hendak menyambar siapapun yang dipandangnya. Siapakah gerangan orang itu? sungguh agung! tidak terasa hawa menakutkan, malah justru sebaliknya. Kehadirannya membawa ketenangan, kedamaian dan kehangatan.
__ADS_1
Siapakah dia? mimpikah aku? hmm...mahkota dan lambang itu! astaga...jangan-jangan..., mungkinkah dia sosok yang disebut-sebut oleh Shemmer dalam ceritanya?!....Raja Avalon sendiri?!
Akupun tersungkur, berlutut, bertelut, hingga seluruh tubuhku mencium tanah dalam kemuliaan yang dipancarkannya. Dengan suara bergema, bagaikan ada tiga orang berbicara dalam suara berbeda, namun berpadu sebuah suara tinggal, sosok Itu berkata :
" Bangkitlah..., menjadi terang di sekitarmu..., sebab terangmu telah datang, dan kemuliaan terbit atasmu. "
Aku berusaha bangkit dan berdiri susah payah, sambil bersandar di dahan, akibat lendir-lendir yang licin dan juga cedera dibelit oleh makhluk tadi. Hati sangat senang dan gembira, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Raja Avalon sendiri telah datang. Pasti menyelamatkan kapernaum dan memukul mundur pasukan monster dari kapernaum.
Setelah berdiri, saat aku mencoba memandangnya kembali, ia sudah tidak ada lagi disana. Hilang mendadak... lenyap tak berbekas.
Kemanakah dia? aku mencari-cari ke tempat ia berdiri tadi, tetapi ia sudah tidak ada disana. Yang ada hanyalah sebuah pedang yang sangat indah dan tertancap di atas tanah. Bermimpikah aku tadi? sepertinya aku cuma bermimpi...
..." Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. "...
Pergi kemanakah dia? mengapa hanya suaranya saja yang terdengar? apakah maksudnya dengan membawa pedang yang kini telah ada didepanku itu?
Apa yang harus kulakukan, bolehkah aku mengambil pedang itu? perlahan, aku mencoba meraih pedang yang sangat indah tersebut, kusentuh gagangnya yang dingin dengan ujing jariku. Hawa kengerian keluar dari pedang itu. Terasa menyesakkan dada, membuatku mundur sebentar, terkejut akan hawa kengerian yang kurasakan.
__ADS_1
Sambil menghirup nafas dalam-dalam, aku menguatkan hatiku untuk kembali maju kedepan dan memegang pedang itu. Dan disaat aku menggegam pangkal pedangnya, tiba-tiba ada sengatan listrik yang keluar pedang itu. Aku tidak bisa melepaskan pedang itu! sengatan listrik terus masuk ke tubuhku, merasukiku, membawa kedukaan yang dalam dan kengerian amat sangat.
Aku bergulat menghadapi bayang-bayang kengerian itu. Disaat yang sama pula, bayang-bayang visualisasi, kehidupanku dimasa lalu bermunculan. Aku melihat diriku di dunia masa sebelumnya, dunia yang lain, bumi yang lain, aku melakukan pertempuran yang sama. Awalnya sungguh kehidupanku tidak berguna, bukan siapa-siapa. Namun ketika hari terakhir tiba. Aku berperang di garis depan, sampai titik darah penghabisan, melindungi keluargaku, saudara-saudaraku, mereka harus hidup, biarlah aku menahan laju gerak musuh-musuh dari kegelapan. Seorang diri. Ketika sampai akhir garis hidupku, menjelang kematianku. Aku sempat berkata " Ya ABBA, jikalau boleh ijinkanlah aku diberi kesempatan untuk hidup kembali, menjadi ksatria, dan mengabdi padamu, "
Sambil menggegam belati serba guna untuk bertahan hidup. Perlahan pandanganku memudar, kehabisan darah, sampai akhirnya, salah satu makhluk yang menyeramkan itu membunuhku. Dan aku lihat mukanya dengan jelas.
Begitu jelas rasa ketakutan yang kurasakan begitu luar biasa, menyakitkan sampai kedalam sumsum tulangku, mengoyak otot-otot dan seluruh organ tubuhku. Perih menyengat kepalaku membuat otakku serasa hendak pecah.
Tak lama kemudian, sengatan-sengatan itu berhenti, menjadi lebih lemah dan hanya menyentak sesekali saja. Kini sedikit demi sedikit aku mengingat masa laluku, hingga terbangun di lembah yang asing, dekat dengan kota khorazim.
Terengah-engah, aku berusaha mengendalikan seluruh perasaan itu. Darahku bergejolak terlalu hebat karena kekuatannya. Terasa ada darah yang keluar dari hidung dan mulutku.
Dan kini aku bisa mencabut pedang Itu dari tanah. Walau masih berusaha menjernihkan pandanganku. Namun aku masih melihat detailnya dengan sangat indah.
Gagangnya terbuat dari emas dengan bentuk kepala domba, seperti yang ada pada zirah Raja Avalon yang kulihat tadi. Tanduk domba jantan yang panjang dan melingkar, menjadi pembatas antara batang pedang yang tajam dan gagangnya. Ada ukiran bintang-bintang di sepanjang batang pedang, yang putih seperti cermin, aku menghitungnya, dan ada tujuh bintang terukir disitu.
Aku bertanya-tanya dalam hati, apa ya kira-kira nama pedang yang sangat indah ini. Setiap pedang Logos pasti memiliki nama, mungkinkah ini salah satu pedang sakti yang di ceritakan oleh Shemmer?
__ADS_1
Kemudian, sesuatu terjadi pada pedang itu. Warna putih seperti cermin, perlahan-lahan memudar, dan kemudian muncullah awan-awan yang bergerak dengan cepat di sepanjang batang pedang tersebut. Persis seperti pedang Shemmer saat mengeluarkan tulisan-tulisan itu. Aku terkejut, melotot dan serasa tidak percaya, memandangi tulisan yang tiba-tiba keluar dari pedang itu. Sebuah tulisan yang diukur indah berwarna emas. perlahan-lahan muncul tertulis di situ,... Revelation.