Avalon Knight

Avalon Knight
DUEL MONSTER LEON


__ADS_3

Dan disaat aku mengangkat pedangku, tiba-tiba aku merasakan hempasan serangan dalam bentuk angin menyerang dari arah punggungku. Secara refleks aku melompat dan salto ke samping untuk menghindar. Dan suara berdebum yang keras terdengar mengenakan tembok-tembok bangunan yang masih berdiri. Membentuk cakar panjang.


Makhluk apa lagi ini? kini aku aku melihat sosok yang menyerangku dari belakang. Sosok makhluk raksasa yang wujudnya lima kali lebih besar dari feral, berwujud seperti singa dan berwarna hitam. Badannya sangat kurus sampai terlihat tulang-tulangnya. Rambutnya terurai hitam dan tidak beraturan. Matanya merah dan gigi-giginya menonjol keluar.


Makhluk raksasa menyeramkan itu memandang tajam ke arahku. Aumannya sangat keras, hingga gerombolan feral yang lain terpental dan lari ketakutan.


" HHOOARRMM... "


Revelation yang berada di tanganku berdengung lebih keras, seakan mau berkata kepadaku. Lalu aku melirik pada pedang itu dan muncul tulisan " leon... " lalu muncul tulisan lainnya.


..." Sadarlah dan berjaga-jagalah...musuhmu, azmaveth sedang berjalan berkeliling, dan leon yang mengaum-aum, mencari orang yang dapat di telannya. "...


Leon memandang tajam kepadaku dengan sinar pembunuhnya. Singa raksasa mulai mengelilingiku perlahan-lahan, persis seperti yang dikatakan Revelation.


Ia mengaum lagi dengan auman yang sangat memekakkan telinga. Dan saat berusaha menutup telinga, dia memanfaatkan kelengahanku, dan mendadak sebuah terjangan cakaran yang tidak dapat kuhindari.


Refleks pedang Revelation, menghalau cakaran, pedangku beradu dengan cakaran dari tangan leon yang tebal dan keras.


" BLAMMM... " permukaan tanah yang kupijak bergetar seperti membentuk gelombang udara terkumpul


Aku beradu kuat dengan leon, sambil menatap tajam ke arah leon. Kemudian permukaan pedang Revelation muncul tulisan kembali " Thorax Apokalipsus Erikhomai. "


Segera habis beradu, aku melompat mundur dua puluh langkah, kemudian melompat keatas melakukan serangan menghujam dari atas, sambil mengucapkan " Thorax Apokalipsus Erikhomai!!! "


Dalam keadaan melakukan serangan menghujam, dari dadaku, keluar sinar cahaya membentuk serpihan-serpihan berwarna keemasan seperti kain sutra, menyelimuti seluruh tubuhku. Dari ujung kepala hingga kaki dan....


" BLAAMM....BLARRR...."


Seranganku berhasil ditangkis oleh monster leon. Dan disaat bersamaan pula, baju zirah ksatria dan jubah warna putih terpasang sempurna di tubuhku.


Amarah monster leon makin brutal menjadi-jadi, ia melancarkan dua kali sabetan cakar dari jarak sepuluh langkah dalam bentuk gelombang udara. Akupun dengan sigap, membelah dan memecah dua sabetan cakar tersebut dengan pedang Revelation.

__ADS_1


Cakar dalam bentuk gelombang udara tersebut, kupecah dan gelombang cakarnya menghantam dan merobohkan tembok-tembok rumah yang masih berdiri.


Lalu monster leon melakukan serangan berikutnya, dengan memukulkan tangannya keatas permukaan tanah, menimbulkan retakan dan permukaan tanah tersebut pada beterbangan melayang ke udara, diikuti dengan lompatan monster leon yang tinggi pula. Gunanya mengacaukan pandanganku agar aku lengah.


Akupun ikut melompat tinggi memijak permukaan tanah yang sedang melayang keatas. Mengejar monster leon. Monster leonpun tidak mau kalah, diapun melakukan gerakan menghujam kearahku dengan cakarnya yang sangat tajam.


" GROWL... " auman monster leon.


" HEEAA!!!... " teriakku sambil melakukan gerakan sabetan pedang.


" BLAM... BLAM... BLARR... BLAR... BLAR... BLAM "


Pertarungan kecepatan tinggi di udara tak terelakkan lagi, saling membalas, dan monster leon melancarkan tinju auman yang cukup besar, sehingga akupun menangkis dengan pedang Revelation, seketika dorongan dari pukulan leon, membuatku menghujam ketanah kembali.


" HUAA.... DUARRR "


Badanku kesakitan akibat jatuh ketanah sekaligus menahan pukulan auman dari monster leon. Tanpa ada celah dan kesempatan, ia melakukan tinju juga cakaran beruntun. Dan aku terdesak tanpa bisa bangun, hanya bisa menangkis dan menahan dengan pedang Revelation.


Lagi-lagi seranganku gagal mengenainya, di saat dia menghindar. Akupun secepatnya bangun sambil berguling ke arah kanan dan berdiri.


Namun gerakan monster leon ini sudah direncanakan. Tiba-tiba langsung berdiri di belakangku, menerjangku kembali. Dengungan pedang Revelation semakin keras, sepertinya bersemangat. Dan aku mengikuti gerakan pedang tersebut. Disaat monster leon melakukan serangan cakaran dari belakang punggungku, pedang tersebut langsung melakukan gerakan menangkis. Dan antara pedang dengan tangan leon beradu kembali.


" DUAAGHHH... "


Tangan kiriku dengan cepat mengambil belati serbaguna, lalu kuhunuskan dan mengenai bagian mata kirinya.


Seketika monster leon mundur lima belas langkah kebelakang, sambil menjerit kesakitan akibat tusukan pedangku tepat mengenai bola matanya yang berwarna merah.


" HOAGHRMM... HOAGHRMM... HOAGHRMM... "


Darah hitamnya mengucur dengan deras. Dan dia terdiam sebentar namun mata kanannya melirik sesuatu dan... tiba-tiba sekelompok nekroth muncul, mereka berdiam sebentar sambil mengucapkan mantra kutukan berwarna hitam dan merah. Menyelimuti dan merasuki tubuh mayat-mayat yang sudah tidak lengkap. Lalu bangun kembali menjadi zombie dan menuju ke arahku untuk ikut mengeroyokku.

__ADS_1


Nekroth yang lain malah menuju ke arah bayi perempuan yang kusembunyikan tadi. Sepertinya mereka tahu dimana aku sembunyikan bayi tersebut


" Licik...trik licik " desis ucapanku. Tanpa berpikir panjang aku terbang dengan cepat menuju tempat aku menyembunyikan bayi perempuan tersebut, sambil menyabet pasukan zombie yang mengarah kepadaku.


Disaat bersamaan pula, monster leon ikut mengejarku. Sambil terbang, akupun langsung mengambil bayi perempuan tersebut. Tidak peduli sakitnya badanku menerobos dan menjebol tembok lantai atas. Begitu kudapatkan langsung ku gendong dan kuikatkan ke tubuhku.


Tanpa di beri kesempatan sedikitpun monster leon melancarkan serangan cakarnya lagi dengan kuku-kukunya yang sangat tajam. Tangan kananku berhasil menangkis serangannya namun sabetan tangan kirinya membuatku terlambat menghindarinya, karena tangan kiriku sambil menggendong.


" SPLAT...CRAKK..." cakarnya berhasil mengenai dahi sampai pelipis alis kanan, ketopongku terlepas dari kepalaku. Darah Segar segera membasahi wajahku. Pandanganku mulai tidak begitu jelas.


Aku kehilangan banyak darah membuat keseimbangan tubuhku goyah. Masih belum berakhir belati serba gunaku yang menancap di matanya, dilemparkan kembali ke arahku. Namun dengungan pedang Revelation membuat pisau serba gunaku melambat dan akhirnya, beresonansi dan menyatu pedang Revelation.


Gerakanku menjadi lebih lambat karena menggendongnya. Segera pasukan zombie ikut menyerang juga nekroth ikut menyerang dengan mantra kutukannya.


" TRRAAGNNGG... JLAB.... SWISH "


Aku menangkis dari serangan monster leon juga menghajar para pasukan zombie, juga melompat mundur sejauh-jauhnya. Namun sia-sia belaka, tebasanku yang kuarahkan ke pasukan zombie tidak mempan, mereka tetap bergerak menuju kearahku meskipun sudah ku tebas berulang-ulang. Harus sumbernya yang mesti kumusnahkan yaitu nekroth.


Jangankan untuk menyerang, bertahan saja sudah cukup bagus, apalagi monster leon menghujam kan serangannya bertubi-tubi tanpa belas kasihan mengarah padaku. Dalam kesesakan aku bisa mengucap dalam hati " Raja Avalon tolong aku, tidak apa aku mati tapi jangan bayi ikutan terbunuh!! "


Lalu munculah kembali tulisan di pedang Revelation yang berisi " shtraln khbud Erikhomai, "


Segera aku mengucapkan dengan lantang " shtraln khbud Erikhomai!! " maka keluarlah sinar cahaya kemuliaan dalam bentuk api, dan menerjang serta membakar habis para zombie, nekroth juga monster leon. Tapi monster tersebut berhasil menghindari dan bersembunyi sebentar dibalik reruntuhan tembok.


Ah...tenagaku sudah habis, pandanganku makin kabur, aku terengah-engah. Setengah berlutut, lutut kiriku mencium tanah, dan lutut kananku masih berusaha untuk berdiri. Sambil memegang Revelation, agar jangan sampai rebah, aku harus bertahan demi bayi perempuan malang ini, dia masih tidur lelap saat aku masih bertempur.


Monster leon itu makin marah karena cederanya. Lalu ia menyerangku kembali dengan sabetan cakarnya yang tajam sambil mengaum keras dan melompat tinggi.


Aku sudah tidak bisa menghindar tebasan cakar merobek jubahku dan menembus baju zirah ksatriaku dan hancur. Hingga tinggal kasut dan zirah yang terletak di sepanjang kakiku. Disaat yang bersamaan pula aku melakukan tebasan pula secara vertikal dari bawah ke atas. Hingga kami berdua sama-sama cedera.


Punggungku terkena cakarannya begitu dalam, rasa sakit yang luar biasa. Membuatku terhempas ketanah sambil merangkul dan melindungi bayi perempuan itu. Samar-samar monster leon melompat dan menyerangku lagi. Sementara aku sudah tidak kuat menyerangnya lagi bahkan mengangkat Revelation. Dalam keadaan setengah berlutut kesadaranku menghilang semua, menjadi gelap...

__ADS_1


__ADS_2