
Mendadak aku melihat keledai-keledai itu yang sudah bersembunyi di gelapnya hutan yang dalam. Ohya bukankah tadi fargot memasukkan pil-pil itu beserta belati serba gunaku didalam kantong yang digantungkan pada pelana keledainya?
Keledai-keledai ini terlihat gelisah, berusaha lari namun begitu gelapnya hutan membuat para keledai ini bingung dan ketakutan, sama takutnya terhadap berlaksa azmaveth yang sedang datang.
Hmmm mana ya keledai yang ditunggangi fargot? kalau tidak salah warna hitam ini. Cuma belati serba gunaku! waduh gimana ini?!
Ada satu lagi keledai lainya yang berwarna hitam, kuharap plihanku ini benar, aku sudah tidak tahan menahan gerak badanku semakin berat. Segera kuperiksa kantong itu dan benar ini adalah obat penawarnya. Tinggal dua butir dan segera saja aku menelannya.
Sambil duduk dan bersandar sebentar menenangkan diri. Serta memulihkan tenang. Baru beberapa saat menenangkan diri dan mulai pulih kekuatanku, tiba-tiba aku merasakan aura ketakutan dan menyesakkan. Apakah feral? tidak, aura feral tidak seperti ini namun makhluk menyeramkan lainnya.
Seketika itu aku mengeluarkan belati serba gunaku. Dengan refleks aku melesatkan belati dan menghunuskan tepat bagian dahi sambil bersuara keras "Robboh"
" JLLEEBBB.....PRAKHHH..."
Belati tersebut mengeluarkan cahaya cukup terang dan aku bisa melihatnya siapakah musuh yang baru kuhunuskan? saat kulihat satu makhluk menjijikkan namun lebih lemah dari feral. Dan kulihat dengan jelas ini hantu yang dikirim oleh azmaveth, dalam keadaan lumpuh dan hantu ini masih berusaha bergerak dan menyerangku dengan menggigit. Hantu ini mengintai aku sejauh ini, tubuhnya hanya kepala berbentuk tengkorak dan organ-organ vital manusia seperti jantung, paru-paru, lambung ,limfa juga tulang belakang yang berjuntai terbang melayang. Saat itu juga aku mengacungkan tangan kananku dan bersuara keras kembali " Robboh " seketika Itu dari kedua ujung jari telunjuk dan jari tengahku mengeluarkan bola sinar terang seperti tembakan.
" BLAST...BLAST....BLARR...BLARR "
Dua bola sinar mengenai kepala dan satu lagi organ vital berbentuk jantung. Seketika itu kepala dari hantu itu hancur jadi asap dan tubuhnya jatuh ke tanah melepuh dan meleleh. Akupun terkejut, sampai sejauh ini tanpa kusadari aku diikuti. Celaka...aku harus bergegas lari lebih dalam masuk ke hutan yang gelap dan jalan yang menyempit, jika tidak pasukan azmaveth akan ke arahku dengan membawa pasukan lebih banyak.
__ADS_1
Satu makhluk hantu yang menyeramkan ini sudah menjadi penanda dan mengetahui keberadaanku. Aku harus berlari. Lalu kuambil kembali belati serba bisaku dan kumasukkan kedalam kantong pisau dibalik jubahku. Akupun lari dan setengah melompat jauh. Melompat diantara dahan pohon-pohon.
Hutan ini terasa sangat berat untuk dilalui, begitu banyak semak berduri, sudah tiga hari semenjak dari kapernaum, aku keluar masuk hutan yang kelihatan menyeramkan. Tetapi hutan ini berbeda dari hutan-hutan sebelumnya. Hutan ini terlalu sepi, tidak ada suara binatang maupun serangga, tidak ada suara burung. Bahkan anginpun kelihatannya enggan berhembus disini.
Pohon-pohon tersebut seperti kaku dan diam. Warna kulit pohon dan daunnya, semua berwarna hitam karena ditutupi lumut yang berwarna kehitaman juga. Tapi anehnya bagaimana mungkin daun-daun dari pepohonan tersebut ikut berwarna hitam juga?
Semakin aku turun menuju lembah hitam itu, semakin pekat pula kengerian yang kurasakan. Hutan ini terasa semakin gelap, bahkan sinar mataharipun tidak bisa menembus sampai ke tempat ini. Nafasku menjadi semakin sesak, karena udara disini pun semakin tipis dan pengap. Aku mulai khawatir, karena kegelapan semakin pekat. Jangankan untuk melihat jalan di sekelilingku, kakiku sendiri saja pun tidak dapat kulihat. Apakah ini yang dimaksud oleh orang-orang dari astaroth itu lembah salmaveth?
Sekitar empat ratus langkah berjalan, perlahan di dalam kegelapan yang pekat ini, akhirnya aku melihat sedikit cahaya di depan sana. Aku lega karena hutan gelap ini segera berakhir.
Akhirnya aku keluar dari hutan itu. Pepohonan sudah tidak ada lagi, tinggal semak-semak yang rendah, namun didepanku terpampang dinding batu yang sangat terjal menjulang ke atas. Di sebelah kiri dan belakangku terbentang hutan yang gelap dan baru saja kulewati, tidak mungkin menempuh jalan itu lagi kalau tidak mau kembali dikejar-kejar orang astaroth atau pasukan azmaveth.
Dalam remang-remang kegelapan aku membiasakan diriku. Aku duduk sebentar sambil melihat sekeliling, begitu gelapnya aku tidak bisa membedakan apakah hari ini sudah pagi atau masih malam, disebelah kananku ada celah sempit diantara dua gunung batu itu.
Baiklah aku tidak punya pilihan. Hanya ini satu-satunya jalan disini. Kalau memang jalan itu buntu, nanti baru akan kembali atau mencari jalan lainnya. Dan segera kutetapkan hati dan ku beranikan diriku melangkah masuk menuju ke dalam celah sempit itu.
Cukup lama juga aku berjalan melalui celah yang sempit ini. Batu-batu yang berserakan dijalanan terasa licin akibat di selimuti lumut yang cukup tebal, sehingga membuat kakiku beberapa kali terpeleset.
Semakin kedalam, mendadak aku mendengar ada suara orang yang bernyanyi bergema memantul pads dinding-dinding ini. Aku sangat terkejut dan ingin berlari menjauh. Namun entah kenapa nyanyian ini begitu merdu dan mendamaikan hatiku, juga berusaha menguatkanku untuk terus berjalan menuju asal nyanyian itu.
__ADS_1
Nyanyian lirih itu berkumandang lagi, membuatku begitu tegang. Karena sumber nyanyian itu terasa sangat dekat sekali. Tak lama kemudian, di depan pemandangan yang berkabut Itu,... aku melihat seseorang duduk diatas sebuah batu yang besar.
Siapa dia? apakah dia itu hantu, monster, atau bayanganku saja. Ia memakai jubah kelabu, rambutnya yang putih dibiarkan terurai, tersambung dengan jenggot yang panjang dan kumis juga berwarna putih. Ia duduk dengan santainya diatas batu besar sambil memegang sebuah tongkat besar setinggi dadanya.
Dia menyadari kehadiranku dan menghentikan nyanyiannya. Tiba-tiba karena terkejut, seketika dia bangun berdiri, menggengam tongkat itu dengan kedua tangan, sambil mengacungkan ke arahku.
" Habergeon Tehilim " teriaknya menggema.
Mendadak muncul sinar dari ujung tongkatnya, keluar memanjang membentuk sebuah pedang panjang. Menjadikannya senjata yang amat indah dan gagah, sebuah pedang yang memiliki gagang panjang sekali, mirip sebuah tombak.
Kemudian sinar berwarna kelabu itu juga langsung melilit seluruh tubuhnya, dan dalam sekejap telah membuatnya mengenakan baju ksatria perang.
" Siapa kau?! " teriakku bertanya.
Seperti menjawab pertanyaannya itu, mendadak sinar yang sama berwarna kristal keemasan keluar dari tangan dan dadaku, berkilauan melilit pelan-pelan seperti selendang yang halus, dan berubah menjadi baju zirah ksatria lengkap dengan pedang yang muncul dari telapak tanganku sebelah kanan.
" Hah.... Revelation!! " desis orang tua itu terkejut, sambil mengerenyitkan dahi serasa tidak percaya.
Keterkejutannya sama denganku. Pedang itu telah kembali dan ada di tanganku, entah bagaimana caranya, bersama dengan baju zirah perang ksatria ini.
__ADS_1
Orang tua itu kebingungan, menjadi serba salah, ingin menyerangku namun matanya tak lepas memandangi terus menerus pedangku.