Avalon Knight

Avalon Knight
METANEOS


__ADS_3

" Revelation telah muncul, Chuza benar....saatnya sudah tiba hari terakhir itu " orang tua itu bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan memandang ke bawah, seperti memikirkan sesuatu dengan sedih, dan akhirnya melonggarkan posisi tempurnya.


" Apakah Eklesia mengirim orang ke astaroth? siapa kau dan apa tugasmu? "


Sinar-sinar tadi muncul kembali, kali ini menghilangkan baju perang dan pedangnya, menjadi tongkat biasa kembali.


Revelation juga bereaksi sama, ia menghilang dalam bentuk sinar yang seperti selendang berwarna keemasan berkilau dan masuk kedalam tangan kananku, beserta baju zirah yang kukenakan ikut menghilang dan masuk kedalam dadaku. Aku bingung, apakah pedang ini akan muncul bila dirasa akan ada pertempuran? dan hilang bila sudah tidak ada ancaman lagi?


" Aku bukan dari Eklesia, aku seorang pengelana dari tempat yang jauh, dan aku tidak tahu asal usulku juga tempatku berasal, seseorang memberikan baju zirah pada saat di kapernaum dan pedang Revelation pemberian Raja Avalon disaat aku terjebak dan hampir mati menolong penduduk kapernaum melarikan diri ke dalam hutan dari kejaran pasukan azmaveth


" Apa?? Raja Avalon jadi kau sudah bertemu dengannya secara pribadi? jadi kau seorang metaneos. "


" Metaneos? " tanyaku bingung.


" Hmm, belum ada yang memberitahu engkau mengenai hal itu? Metaneos adalah seseorang yang baru menjadi ksatria dan mendapat pedang langsung dari Raja Avalon itu sendiri. "


" Bagaimana rupanya Raja Avalon anak muda? seumur hidupku aku belum pernah bertemu langsung dengan Dia " tanya orang itu dan menjadi sangat tertarik dengan ceritaku. Nada suaranya yang semula dingin dan bermusuhan, kini berubah menjadi nada yang hangat.


" Sulit menggambarkan saat aku bertemu dengannya dalam waktu yang sangat singkat. Tapi yang kutahu ia sangat hebat, luar biasa... bersinar...agung...penuh kasih...kuat... " jawabku perlahan tanpa sadar dengan mata berkaca-kaca.


Apa yang terjadi denganku, mengapa saat membayangkan kembali Raja Avalon, ada perasaan kuat dan rindu yang menggelora menyebar di dadaku.


" Ya...ya...ya, dia masih sama seperti dahulu, tidak pernah berubah..." ujarnya Nahaliel sambil mengelus-ngelus jenggotnya yang sebagian besar sudah berwarna putih. Lalu ia tersenyum dan matanya bersinar menerawang jauh.


" Aku juga ingat pengalaman pertama itu. Terjadi puluhan tahun lalu, sudah lama sekali dalam hitungan waktu manusia, tapi sampai sekarang perasaan itu masih bergetar di hatiku, membuatku ada di sini sekarang ini. "


" Apakah anda dari Eklesia? "tanyaku.

__ADS_1


Dia tidak langsung menjawab, tapi berpikir sebentar dan berkata " Apakah itu penting bagimu? "


Seketika aku jadi bingung dengan pertanyaannya. Orang tua ini menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Tapi dari raut mukanya, sepertinya ia memang orang Eklesia, namun ia enggan menjawab pertanyaanku.


" Benar tuan, aku ingin ke sana, apakah kau tahu tempat itu ada dimana? "


Wajahnya yang penuh keriput itu menatapku dengan senyuman dan tatapan yang lembut dan kemudian ia tersenyum kembali sambil menerawang pandangannya lagi, kali ke atas langit yang masih subuh.


" Eklesia itu ada di hati setiap ksatria nak. " ujarnya lembut.


" Setiap orang yang bersahabat dengan Raja Avalon dan berjuang bersamanya adalah Eklesia. "


" Namun jika yang kau maksud adalah benteng-benteng tinggi juga disebut Eklesia, tapi hati-hati, kota astaroth yang berada tidak jauh dari Eklesia bisa mengubah arah tujuanmu dan membuatmu terjebak disana, " ujar Nahaliel.


" Apakah pedangmu juga adalah salah satu dari enam puluh enam pedang sakti yang ada di dunia ini? apa namanya? " tanyaku kepadanya dengan antusias.


Kemudian dia pun terus duduk berdiam diri dengan mata terpejam, seolah-olah mau berkomunikasi secara batiniah namun entah dengan siapa, dan juga sepertinya dia tidak lagi memperdulikan kehadiranku.


" Ohya tuan, siapa namamu dan apa yang sedang kau lakukan disini? " tanyaku lagi karena sudah tidak tahan dengan keheningan seperti ini.


" Nahaliel... " jawabnya tanpa membuka matanya.


" Aku disini duduk meditasi berkomunikasi secara batin dengan Raja Avalon, sambil menantikan kehadirannya. bayang-bayang ketakutan dari lembah ini membuatku merasa sangat dekat, dan selalu dekat dengan dia. "


" Aku juga yang menjaga lembah sempit ini dari pasukan azmaveth, lembah yang tidak mau dilewati oleh mereka yang melakukan perjalanan Karena sempit. "


" Dan orang-orang sepertimu, yang mengambil keputusan untuk melewati lembah sempit ini daripada kekayaan astaroth, memang layak untuk pergi ke Eklesia. Untuk itu pergilah metaneos, semua pertanyaanmu akan terjawab disana. "

__ADS_1


Kemudian ia berdiam diri lagi dan sepertinya tidak mau di ganggu.


" Tapi tuan, aku memang tidak bermaksud untuk lewat jalan ini. Tapi pasukan azmaveth sedang menyerbu astaroth, sehingga membuatku lari lewat kemari. Dan tak lama lagi mereka pasti juga akan sampai di lembah ini, sebaiknya tuan menghindar secepat mungkin, mungkin ribuan pasukan azmaveth sedang bergerak menuju kemari! "


" Hmm, pantas saja..." ujarnya tanpa membuka matanya.


" Aku mendengar ada begitu banyak jeritan maut. Ternyata pembantaian itu sudah dimulai, mereka membangun pasukan. Oh...Raja Avalon, hambamu ini tidak dapat berbuat apa-apa untuk jiwa-jiwa yang malang itu. " dia menunduk dan menggelengkan kepala dengan sedih, setelah membuka matanya ke atas langit, menerawang seperti memandang sesuatu yang sangat jauh dan matanya berkaca-kaca.


" Lalu apa yang harus kita lakukan, tuan? " tanyaku.


" Kita? tidak ada! kau harus terus melakukan bagianmu untuk pergi ke Eklesia. Aku juga akan melakukan bagianku. "


" Apakah engkau tidak pergi ke Eklesia bersamaku? "


" Tidak metaneos, tembok Eklesia membuat Tehilim tidak bisa bernyanyi lagi, mereka menempatkan kuk yang berat keatas kami..."


" Sukacita hilang...persekutuan hilang...dan kerinduanku pun hilang juga. Untuk Itu lebih baik aku keluar dari benteng Eklesia untuk menyepi, dan menyendiri, agar kerinduanku bisa bertemu kembali dengan Raja Avalon, sebelum tembok-tembok itu memadamkannya. "


" Pergilah Metaneos Revelation..., tinggalkan aku sendirian disini. Para ksatria Eklesia sedang menantimu, walaupun mungkin engkau akan menjadi kabar buruk bagi mereka. " ujar Nahaliel


Kabar buruk, apa maksudnya? aku melangkahkan kakiku kembali meninggalkan orang tua yang bernama Nahaliel. Dan kurasa tidak ada gunanya menganggu dia lagi dengan berbagai pertanyaan dariku. Dia benar, sebaiknya aku sendirilah mencari jawaban, akan semua kejadian yang masih membingungkan di kehidupanku yang baru ini. Bumi yang lain.


Terdengar ia menyanyi lagi, diiringi musik entah darimana. Kali ini kata-katanya terdengar dengan jelas olehku.


...Engkau penuntunku, aku tidak akan kekurangan. Engkau membaringkanku di rumput yang hijau. Menuntunku ke sungai yang tenang. Engkau memulihkan jiwaku......


...Menuntunku di jalan yang benar. Walau dalam lembah bayangan maut. Aku tidak takut, sebab engkau besertaku. Tongkat dan gada yang kau berikan, itulah penghiburanku.......

__ADS_1


__ADS_2