
Dalam keadaan pingsan total aku diangkat kesalah keledai mereka. Ketika aku mulai sadar dan melihat dalam remang-remang pandanganku yang masih dalam pengaruh obat, aku sudah berada di kota astaroth. Kekuatanku mulai berangsur-angsur pulih namun untuk melarikan diri belum bisa.
Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti rencana mereka. Aku melihat sekeliling penduduk kota astaroth sangat berbeda dengan kapernaum, bagaimana tidak. Aku melihat begitu banyak patung berhala di setiap rumah mereka, dan beberapa dari penduduk tersebut memberikan persembahan berupa makanan atau apapun itu buat dipersembahkan, setelah penduduk itu pergi menjauh aku melihat sesuatu yang ganjil, ada makhluk-makhluk menyeramkan kecil mengambil itu makanan. Ukuranya seperti anak berumur satu tahun berwarna hijau, lalu berputar-putar mengitari itu orang, rumahnya besar dan bagus, namun sepertinya orang tersebut tidak melihatnya atau memang tidak bisa melihat.
Akupun sendiri jadi bingung banyak sekali makhluk-makhluk azmaveth disini, namun berbaur dengan penduduk disini. Lalu aku melihat pemandangan yang aneh lainya. Salah satu penduduk minta diramal nasibnya oleh penyihir itu. Entah kenapa sepertinya ada yang keluar dari tubuh orang itu, tak lain adalah jiwanya. Dan si penyihir itu terlihat berbicara dengan makhluk menyeramkan lainnya untuk berkomunikasi dengan jiwa dari orang itu.
Masih keadaan belum pulih sepenuhnya kekuatanku aku melihat pemandangan aneh lainnya. Kulihat sebuah pohon tua dan layu, sepertinya telah mati. Namun anehnya banyak sekali makhluk-makhluk azmaveth disitu.
Gawat... aku masuk kandang ular ini. Para orang-orang azmaveth sambil tertawa tidak sadar bahwa aku telah siuman.
Tiba-tiba ada bunyi seperti suara seruling yang panjang, dan bersamaan itu pula muncul asap tebal dari gerbang arah lainnya. Dan tiba-tiba juga para makhluk azmaveth yang berbaur dengan penduduk lenyap begitu saja entah kemana.
" Kapten ada asap besar sekali dari gerbang lainnya " kata salah satu orang tersebut.
" Apa pandanganku tidak salah, gerbang sebelah selatan astaroth membumbung asap begitu tebal? coba kau lihat! " kata si pemimpin dengan nada cemas.
" Ada yang tidak beres dengan kota ini, semua ayo kita pergi dari kota ini CEPAT!! " sahut si pemimpin.
Seketika itu para pemburu budak langsung kabur keluar dari kota astaroth dan menjauh, sejauh mungkin.
__ADS_1
Mereka terus memacu keledai mereka, menuju hutan gelap dan pekat. Setelah menjauh dari kota astaroth si kapten menyuruh anak buahnya untuk memeriksa kembali keadaan kota astaroth dari kejauhan.
" Apa itu Gilath? cepat periksa! aku mendengar suara gemuruh yang begitu keras. "
Orang yang dipanggil Gilath itupun segera turun. Tubuhnya gendut dan pendek bagaikan makanan bulat yang turun dari keledai. Ia segera tiarap, merapatkan telinga ke atas tanah dan memejamkan matanya beberapa saat, dan diam sebentar. Setelah itu dia bangun dan terlihat sangat gugup.
" Mengerikan...mengerikan kapten ada pasukan, bahkan berlaksa-laksa banyaknya sedang menuju kemari! " ujar Gilath dengan wajah panik.
" Aku akan lihat dari atas bukit itu!" ujar seorang yang lain sambil memacu keledainya gundukan tanah yang disebut bukit.
Sesampainya di sana, ia berusaha melihat dengan matanya jauh kedepan. Kemudian sepertinya terkejut dan menggelengkan, mengucapkan sesuatu yang tidak jelas dan ia sangat ketakutan. Segera si pemimpin mereka menyusulnya dan melihat apa yang dilihat anak buahnya. Kemudian menarik anak buahnya supaya lekas turun.
" Apa itu kapten?!! " tanya seseorang yang lain lagi, dengan ekspresi tegang saat pemimpin mereka itu tiba ke kami.
" Apa...?!....mereka menyerang ?! berarti para budak itu benar! "
" Ayo lekas kita lari menuju hutan untuk bersembunyi. Semua menuju hutan...! " ujar sang kapten panik.
" Apa...?! tidak! jangan ke lembah itu, kau tahu di baliknya kapten?...LEMBAH SALMAVETH !" protes salah seorang dari mereka
__ADS_1
" Salmaveth sama dengan azmaveth, sama-sama mengerikan. Terserah kalian, mau dihabisi pasukan azmaveth di padang rumput ini, atau memperpanjang hidup di hutan itu, pilijan di tanganmu sendiri! " ujar kapten itu bergegas segera bergerak.
Orang yang bernama Gilath itu ragu-ragu dan tetap diam tidak bergerak, dibenaknya harus memutuskan pilihan yang sama-sama resiko kehilangan nyawa.
Namun setelah melihat seluruh rekan-rekannya meninggalkannya, Gilath pun mengikuti rombongan tersebut.
Semuanya masuk ke hutan, anehnya keledai-keledaipun tidak ada yang protes. Setelah akupun mulai pulih, kekuatan dan kesadaranku telah pulih namun efek racun piseah masih terasa namun tidak terlalu berpengaruh.
Setelah rombongan pemburu budak itu bersembunyi, tidak lama mereka kembali memperhatikan dari arah yang sangat jauh, si kapten mengeluarkan teropong di balik kantong kulit yang dibawa oleh keledai tersebut.
" Lihat kapten! gerbang osher dibuka...! " ujar fargot salah satu nama dari pemburu budak. Akupun juga melihat arah kota dengan menggunakan kekuatan ksatria, aku bisa melihatnya dengan jelas. Sambil pura-pura masih belum siuman, terlihat bagiku sebuah pintu raksasa yang lapisanya seluruhnya dilapisi oleh emas. Ada dua patung emas raksasa berbentuk yang satu berbentuk manusia yang satu lagi seperti berbentuk setengah manusia, yang menjadi tiang di pintu gerbang itu. Dua patung emas raksasa itu setengah berlutut memikul sebuah palang emas yang lebih besar dari punggungnya, dan terukir nama " ASTAROTH ".
" Demi aven, bagaimana mungkin, terkutuklah mereka, padahal kami selalu mempersembahkan korban bakaran berupa sesaji buat azmaveth. Aku tahu sekarang, pasti para mamon telah mengkhianati kita. Merekalah yang membakar kota dan membuka pintu gerbang utama! " ujar kapten itu marah sambil terus mengatakan sumpah serapah mengutuki pars azmaveth.
Namun si kapten itu harus segera meredam kemarahannya karena suara gemuruh itu semakin bertambah keras mendekat, sehingga mereka mereka harus merapatkan persembunyiannya karena ketakutan dan akupun ditinggalkan begitu saja agak jauh masuk ke dalam hutan dekat bersama para keledai.
Mendadak di depanku melesat ratusan feral dan ditambah lagi makhluk menyeramkan jenis yang lain dengan jarak lima puluh langkah didepanku dari tempat aku duduk pura-pura pingsan. Bagaimana kalau salah satu dari mereka menoleh kemari?
Segera aku bergegas melangkah mundur pelan-pelan masuk ke dalam hutan jauh lebih dalam. Dalam ketakutan para prajurit astaroth sekaligus pemburu budak itu tidak menyadari kalau aku kabur dari mereka. Aku tidak mau berlama-lama ditempat ini, lambat maupun cepat para feral dan makhluk menyeramkan lainya kearah sini.
__ADS_1
Sambil berlari menjauh dan masuk kedalam hutan, tanpa kusadari aku masih sempoyongan, efek racun piseah masih terasa.
Gawat! aku baru teringat, orang bernama fargot itu bilang aku akan mati jika tidak minum setengah dosisnya lagi. Aku berhenti dengan putus asa sambil bersandar dahan pohon yang besar, pandanganku bergoyang dan berat. Seluruh tubuhku sudah di gerakkan dan dadaku sesak. Apakah aku akan mati disini? oh Raja Avalon, apa yang harus kulakukan? jika saja kau ada disini......