Avalon Knight

Avalon Knight
BENTENG EKLESIA


__ADS_3

Ada suara orang saling berbisik-bisik, namun disekelilingku terlihat gelap. Kucoba membuka mataku, namun seberkas sinar masuk ke mataku dan sangat menyilaukan, memaksaku untuk memejamkan mata kembali. Setelah beberapa kali kukejapkan mataku perlahan, pemandangan disekelilingku terlihat lebih jelas.


Ternyata aku berada di sebuah rumah kecil, yang terbuat dari susunan bati yang rapi dan halus permukaannya. Ruangan dimana sinar mentari dengan bebas bisa masuk melalui jendela-jendelanya yang lebar. Sinar halus dan lembut mengenai kulitku di pagi hari.


Aku baru sadar, kalau ada dua orang yang sedang menatapku, seorang gadis yang duduk di sebelah kiriku dan seorang pria yang berdiri disampingnya.


Si gadis tersebut berambut panjang itu tersenyum melihatku, mungkin ia gembira karena aku telah sadar. Gaun ungu muda panjang yang di pakainya, membuatku harus mengakui, bahwa ia gadis yang anggun. Mata bulatnya yang seperti mutiara bersinar lembut. Polos bagaikan bayi yang lucu.


Di sebelahnya berdiri seorang pria berambut coklat ikal sebahu, mengenakan baju tebal bermotifkan singa dan rajawali, dengan jubah biru tua yang terlesempang di belakangnya, menutupi sampai bagian tengah depan dari dadanya yang kekar. Bola matanya yang biru bersinar menatapku....sambil mengerutkan dahinya, tanda prihatin.


Aku mencoba bergerak untuk menyambut orang-orang asing ini. tetapi rasa sakit di sekujur tubuhku terutama di punggung dan di pelipis mataku sebelah kanan, membuatku hampir kehilangan kesadaran. Ahh....sakit sekali!!


" Jangan banyak bergerak dulu, lukamu belum sembuh total.." ujar gadis itu sambil menahan gerakanku. Kemudian ia meletakkan tangan kanannya di dadaku sambil menutup mata. Rasa hangat mengalir ke seluruh tubuhku dan meredakan rasa sakit baik di punggung dan pelipis mata kananku. Dan sekarang aku bisa berbaring kembali dengan lebih tenang.


Tanpa kusadari, ada begitu banyak balutan perban melingkar di seluruh tubuhku, dan pelipis mata kananku hingga pun masih di ikutan diperban juga.


" Aa...apa... yang terjadi...? " tanyaku dengan keadaan masih lemah.


Gadis itu tidak menjawab pertanyaanku, ia masih menutup matanya sedang berkonsentrasi. Menyalurkan energi hangat ke tubuhku. Pria berjubah biru tua itu datang mendekat kepadaku...


" Aku Eleazer, kami menemukanmu hampir hancur diremukkan oleh monster leon. Kami berhasil mengusir leon itu, namun kamu sekarat karena ia sempat menggigitmu, apalagi kondisimu menggendong dan melindungi bayi perempuan itu, untung belum sempat dikoyakannya tubuhmu. Jadi kami membawamu ke sini, ke. Beth-Rapha, agar kau mendapatkan perawatan bersama bayi perempuan yang kau gendong. Dan ini Helen..., dia bertanggung jawab untuk pemulihanmu. "


Gadis yang bernama Helen tersenyum kepadaku. Dia sepertinya sudah selesai menyalurkan tenaga murninya. Ampuh juga apa yang dilakukannya tadi, baik luka di punggung dan sejujur tubuh kini terasa jauh lebih baik.

__ADS_1


" Azz...azma... azmaveth, mereka menghancurkan...kota...kota...bayi...itu... keadaannya.... terluka? " ujarku dengan kondisi masih lemah.


" Jangan khawatir, bayi perempuan Itu baik-baik saja, cuma kelaparan dan sudah, kami tangani, pikirkan saja keadaan sendiri! " kata Eleazer.


" Kami sudah mengetahuinya, dan sekarang kami sedang membuat persiapan. Mereka tidak akan gegabah menyerang kota ini. Disini ada ratusan ksatria yang bisa membuat setiap monster itu ketakutan, seperti binatang piaraan yang jinak, " ujarnya bersemangat.


Helen mendelik kepada pria itu, sedikit menggelengkan kepala. Tanda sepertinya tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Eleazer.


" Besar mulut Eleazer, " desis Helen.


" Aaa...pa...ini... Eklesia? " tanyaku dengan lemah.


" Ya kau sekarang berada di Eklesia. Jangan takut....kau aman disini..." ujar gadis yang bernama Helen itu.


" Nanti jika sudah pulih sepenuhnya kita berjalan-jalan mengelilingi kota ini, " ujar Eleazer sambil bersemangat, sekaligus Helen menariknya keluar dari kamar yang kutempati.


Namun Eleazer tidak mau keluar, ia mash bertahan di pintu dan memandangku. Helen menyerah, karena tidak cukup kuat untuk mendorongnya keluar, sehingga membiarkan Eleazer berdiri di balik pintu, dan Helen kembali ke arahku.


" Kau butuh banyak istirahat, " katanya kepadaku. Sambil telapak tangannya menutup mataku dengan lembut.


" Kathiudo...anaphauo, " ujarnya dengan nada suara yang lembut, seperti mengucapkan sebuah perkataan firman. Setelah dia mengatakan hal Itu, tiba-tiba rasa kantuk menyerangku, sehingga akupun tertidur lagi, walapun pikiranku berontak ingin beranjak dari tempat tidur.


Sayup-sayup kudengar suara Eleazer berbisik pada Helen dibalik pintu.

__ADS_1


" Aku melihat sendiri Helen,...dalam keadaan tidak sadar dan setengah berlutut, dia memegang erat Revelation. Ramalan Chuza benar... peperangan Armageddon akan segera tiba..., " Kemudian terdengar suara pintu ditutup.


Ah... Eklesia, aku telah sampai di kota para ksatria. Tidak ada lagi hal yang perlu kutakuti dan kukhawatirkan. Aku akan beristirahat dengan tenang sekarang. Untuk sesaat aku bisa memulihkan kondisiku.


Sinar matahari di pagi hari, menyilaukan mataku, membuatku memaksa membuka mataku dan terbangun.


Ternyata ada seorang gadis yang baru saja menyibakkan tirai-tirai tebal di jendela yang ada disekeliling kamarku. Perlahan-lahan aku mulai mengenali wajah manis dibalik kilauan sinar yang dari jendela, dia adalah Helen.


" Selamat pagi..." sapa Helen dengan ramah, menyadari kalau aku sudah terbangun. Aku tersenyum sambil berusaha untuk bangun dan duduk di tempat tidurku. Perban-perbanku juga sudah banyak yang di lepas, termasuk perban yang menutup mata kananku.


" Sudah berapa lama aku ada disini? rasanya seperti tidur selama berbulan-bulan..."


" Sudah enam hari engkau ada disini, sejak Eleazer membawamu kemari. Tiga hari engkau tidak sadarkan diri. Dan tiga hari yang lalu engkau sempat sadar, kemudian tidak sadar lembali, dan ini hari ketujuh. Apakah kau mengingatnya? "


Enam hari? wah lama juga aku tidak sadarkan diri, aku mengangguk separuh badan ke Helen sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian Helenpun tersenyum dan melanjutkan kembali membereskan kamar itu.


" Eleazer setiap hari datang kemari untuk melihatmu, aku bilang kepadanya, bahwa kau akan sadar pada hari ketiga. Sebelum itu aku harus membuatmu tertidur sepanjang hari, agar kau tidak banyak bergerak karena lukamu itu. Tapi dia terus saja datang, hanya untuk memandangimu beberapa saat, kemudian pergi lagi, seperti rindu bertemu dengan saudara dan sahabatnya. Entah kenapa dia sangat mengkhawatirkan kondisimu. Nah Itu dia datang kan. "


Pintu di ketuk dan Helen bergegas membukanya. Dan benar saja, Eleazer datang namun kali dia tidak sendirian. Eleazer datang masih menggunakan pakaian yang sama seperti beberapa hari yang lalu saat pertama kali aku melihatnya. Di belakangnya ikut masuk seorang wanita yang berambut pendek, dengan gagahnya memakai kostum biru tua yang sama.


" Masih ingat aku? " tanya Eleazer.


" Ini Arel, dia saat itu ikut juga bersamaku" ujar Eleazer.

__ADS_1


__ADS_2