
Sambil kudekap bayi perempuan tersebut aku mencari kain atau pakaian yang masih bisa dipakai untuk menyelimuti dan kain kubuat menggendong setidaknya tangan kiriku memeluk dan tangan kananku masih bisa bebas membawa belati berjaga-jaga jika pasukan azmaveth datang lagi.
Mataku waspada dan menerawang melihat sekeliling puing-puing kota astaroth. Aku melihat beberapa patung emas yang sudah berjatuhan. Sisa-sisa kemewahan dan kejayaan kota ini hancur dalam sekejap.
Di sana-sini kutemui kereta-kereta perak yang terbalik dan hancur, kuda-kuda yang terluka meringkik mati perlahan-lahan. Aku berjalan lebih jauh mencari jalan keluar ke perbatasan pintu gerbang kota astaroth.
Dalam perjalanan, ternyata disana ada beberapa. Semuanya wanita setengah baya.
Mereka sedang menangis meraung-raung keras disamping sosok mayat orang-orang yang dikasihinya. Mereka hanya melihatku namun tidak memperdulikan kehadiranku, mereka seperti orang gila, mengucapkan kata-kata yang tidak jelas.
Seorang ibu menjeri-jerit sambik menggendong anaknya yang tubuhnya penuh debu dan berdarah. Ibu itu memanggil terus nama anaknya, tetapi anak itu sudah mati. Disaat ia melihatku menggendong bayi perempuan yang baru kutemukan, ia langsung menghampiriku dan berusaha merebut anak yang kubawa.
Awalnya aku ragu, apakah dia mengenal anak itu. Namun seketika bayi perempuan menangis keras, akhirnya aku mempertahankan. Kami saling tarik menarik, dan tidak sengaja aku mendorong agak keras serta berlari menjauhinya. Ibu itu menjerit-jerit melontarkan sumpah serapah yang tidak jelas, dan melempari aku dengan batu-batu yang dipunggutnya dari tanah.
Seorang ibu yang lain sibuk menaburkan debu keatas kepalanya, padahal ia mengenakan kerudung yang terbuat dari sutra dan sangat indah, berwarna ungu. Ada semacam hiasan berupa mahkota kecil terbuat dari emas diatas kepalanya. Pastinya tadi pagi ia masih orang yang kaya raya.
Kini ia hanya menangis meraung-raung, mengucapkan kata-kata tidak jelas. Di depanya terbaring beberapa mayat yang dikumpulkannya, tidak lain adalah mayat-mayat dari seluruh keluarganya.
Kesedihan hatiku memuncak, sambil melihat kembali bayi perempuan yang lucu didalam gendonganku yang baru saja kehilangan ibunya membuat hatiku menjadi penuh dengan kemarahan dan kebencian. Azmaveth...bila aku berjumpa denganmu, tidak ada kata ampun. Kalian membantai orang-orang tidak bersalah, membunuh keluarga yang mereka kasihi termasuk orang tua dari bayi perempuan yang kugendong ini. Kalian pernah membantai rekan-rekan, keluarga dan kerabatku di kehidupanku masa lalu, akupun pernah membantai kalian, dan kali ini aku akan membantai kalian lagi.
Tiba-tiba terdengar jeritan-jeritan ketakutan, beberapa ibu berlari melewatiku berteriak-teriak " mereka datang lagi, mereka datang lagi, tolong....! "
Segera saja aku bersiaga, mengambil belati serba gunaku dari kantong dan kuselipkan dibalik lengan baju yang panjang di sebelah kanan. Namun aku tidak boleh gegabah, apalagi aku sedang menggendong bayi perempuan yang kini tertidur lelap, lemah dan kelelahan di gendonganku.
Akhirnya aku memilih untuk bersembunyi di balik reruntuhan bangunan rumah yang cukup besar, ingin melihat apa dan siapa yang sebenarnya yang sedang datang sebelum bertindak lebih jauh lagi.
__ADS_1
Tidak lama kemudian aku melihat apa yang di takuti oleh ibu-ibu tadi. " Cih...nekroth? ternyata ada juga itu makhluk di dunia ini dan feral. " desisku dalam hati.
Makhluk halus berwujud roh jahat dan tiga ekor serigala besar berwarna kelabu ikut muncul sambil mengedus-endus.
Hatiku sudah geram melihat mereka dari kejauhan, namun untuk makhluk jenis nekroth ini tidak bisa di bunuh dengan serangan biasa. Apalagi aku menggendong bayi perempuan yang sedang tidur lelap, akan sangat berbahaya jika sampai ketahuan dan akan jadi mangsa ketiga feral itu.
" Raja Avalon apa yang harus kulakukan? " lirihku dalam hati.
Tak lama kemudian perasaan dari pedang Revelation yang ada dalam tubuhku berbicara " Sebab bagi Raja Avalon tidak ada yang mustahil, jikalau engkau mempercayai dengan sepenuh hati dan segenap jiwamu. "
Seketika itu muncullah pedang Revelation di tangan kananku, dalam bentuk serpihan sinar berwarna keemasan. Kemudian kulihat lagi bayi perempuan ini dalam hatiku berkata lagi " harus kusembunyikan dimana agar para makhluk azmaveth tidak mengetahui keberadaan bayi ini? "
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri siapa tahu menemukan kotak atau keranjang yang seukuran dengan bayi ini. Dan aku mengendap-endap mencari benda seperti yang ku ingini. Akhirnya kutemukan di puing rumah besar keranjang yang terbuat dari anyaman, di lantai atas. Lalu kutaruh bayi perempuan tersebut, dan hatiku masih mengganjal bagaimana jika sampai terendus oleh makhluk nekroth? karena mereka bisa tembus tembok.
Pedang Revelation mendengung seolah-olah berbicara padaku, pada lapisan pedang muncul tulisan " getlekh pratektiv shild erikhomai..! "
" Getlekh pratektiv shild erikhomai..! " seruku.
Seketika muncullah cahaya dalam bentuk perisai berwarna putih halus melingkupi dan melindungi seluruh tubuhnya.
Lalu akupun keluar dari bangunan rumah besar itu, lalu kudengar jeritan lain. Mereka sepertinya menemukan tubuh seorang pria yang masih hidup, tapi terluka parah dan sekarat. Salah satu feral segera menggigit dan mengoyak tubuh orang itu, dan segera temannya juga berusaha menggigit anggota tubuhnya yang lain.
Orang itu melolong kesakitan saat tubuhnya diremukkan oleh gigitan gigi yang tajam para feral.
Dan " Skrakk....." tubuh pria itu terbelah dan robek menjadi dua bagian, berhamburan semua organ tubuh dan darah berceceran di tanah, sampai akhirnya orang itu terdiam, mati mengenaskan. Lalu kedua feral itu memakan daging sampai menyisakan tulang dan tengkorak saja.
__ADS_1
Kurang ajar, binatang terkutuk, aku sudah tidak bisa menahan amarahku terhadap pasukan azmaveth. Segera saja aku melakukan gerakan kuda-kuda, kaki kiri agak condong kedepan, kaki kananku menahan beban dan badanku agak sedikit kebelakang untuk melakukan ancang-ancang menebas feral. Pedang Revelation kuarahkan lurus kedepan.
Satu tarikan hirupan nafas yang panjang dan melepas " whizzz...." Aku langsung melesat ke depan dan dalam sekejap aku tebas leher feral sebesar sapi yang ada didepanku.
" Slassh..."
Feral lainnya sangat terkejut, dan feral yang kutebas lehernya dengan secepat kilat sempat terkejut juga dan melihat ke arahku. Namun dalam hitungan detik, lehernya bermuncratan darah hitam dan terbelah menganga lebar.
Kepala feral itupun jatuh ke tanah, tersisa tubuhnya yang masih berdiri kaku dan tak lama kemudian ikut jatuh. Feral-feral lainnya ketakutan saat melihat ke arahku, terutama pada pedang Revelation yang berdengung-dengung perlahan di tanganku.
Feral-feral itu segera menundukkan kepalanya, melolong ketakutan dan kemudian berjalan mundur. Hatiku sudah tidak ada belas kasihan terhadap para iblis azmaveth, mereka harus mati sampai musnah tidak berbekas.
Aku berdiri tegap dengan tatapan mata yang tajam dan siap menghabisi. Dari tubuh sampai pedang Revelation, mengeluarkan energi aura dan membuat tanah yang kupijak retak, serta batu-batuan di sekelilingku pecah dan hancur dengan sendirinya.
Segera saja dengan melesat secepat kilat, menendang ke salah satu feral dan melancarkan serangan tebasan beruntun.
" Duaaghhh....slassh....slassh... duaaghhh....jleb....krkk....krakkk "
" Musnahlah kau binatang iblis azmaveth, dengan cara sama seperti orang yang kau koyak...HIIAATT!! " teriakku.
Feral itu hanya bisa berteriak " KAING... " sambil matanya melotot ke atas, kaku dan kedua bola matanya terlepas, bersamaan juga anggota tubuhnya terbelah menjadi dua bagian, beserta darah hitam bermuncratan.
Kemudian feral satunya lagi lari terbirit-birit, namun tidak kubiarkan lolos. Dalam sekejap langsung berada di depan feral lalu aku melepaskan tinju dengan keras pada tangan kiriku dan mengenai dada.
Langsung saja feral tersebut muntah-muntah darah hitam, lalu tidak kusia-siakan kesempatan. Aku melancarkan serangan dari tendangan salto mengenai kepala feral sampai mencium tanah, kemudian tusukan pedang, tepat menembus dada, lalu kubelah jadi dua. Dari dada sampai ke bagian kepala seperti membelah daging.
__ADS_1
" Duaaghhh....jleb....slassh...."
Seketika matilah feral yang lain, dan kuinjak sampai hancur kepalanya hanya tersisa tubuh bagian pinggang ke bawah.