Avalon Knight

Avalon Knight
NYANYIAN RATAPAN


__ADS_3

Nahaliel benar, tidak lama setelah aku berjalan di lembah itu, ternyata ada persimpangan jalan, ke kanan mengarah benteng Eklesia dan kiri menuju arah kota astaroth, namun asap hitam membumbung tinggi dan terlihat dari kejauhan.


Bukankah itu astaroth yang sedang terbakar habis. Apakah penduduk di situ masih ada yang selamat atau azmaveth sudah membantai habis para penduduk semuanya? Haruskah aku menuju ke sana? bukankah sangat berbahaya, karena begitu banyak monster, hantu dan berbagai macam makhluk mengerikan lainnya yang masih belum ku kenali?


" Jangan takut...pergilah, lihatlah astaroth. "


Dengan cepat aku menoleh kebelakang untuk melihat siapa barusan bicara....oh, ternyata Nahaliel! bagaimana bisa? ia kini sudah berada di belakangku?


" Kau harus melihat astaroth untuk terakhir kalinya, " kata Nahaliel lagi menegaskan kata-katanya lagi.


" Kau harus melihat bagaimana sebuah kekayaan dan kejayaan akan musnah dalam sekejap oleh. maut. Agar nanti dapat kau ceritakan pada anak cucumu. " ujar Nahaliel


" Aku mendengar dari orang astaroth, katanya mereka punya perjanjian dengan azmaveth. Tapi kenapa azmaveth memunahksnnya? " tanyaku lagi.


" Kota astaroth seharusnya sudah musnah dari dahulu, mereka memberikan upeti kepada kerajaan azmaveth, dan mengikat perjanjian dengan dewa-dewa mamon yang tak lain adalah makhluk dari azmaveth yang menyamar. Mereka kira setelah itu azmaveth akan membiarkan mereka hidup dengan aman. Tidak! azmaveth tidak hadir untuk melindungi, dia hanya untuk satu tujuan,... KEBINASAAN..." lanjut Nahaliel dengan murung.


Kami berdua tercengang melihat asap hitam tebal yang naik tinggi di balik gunung itu. Membuatku teringat kembali akan kota kapernaum....kota kenyamanan. Dan kini astaroth, kota kekayaan pun ikut hancur.


" Kau harus melihatnya, walaupun nanti nyawamu sebagai taruhannya. Hal itu pasti akan sangat berharga. Jika kau tetap hidup, maka kau akan mewariskan dari generasi ke generasi, dimana kau melihatnya sendiri saat kota-kota itu jatuh. Itupun bila ada generasi yang masih ada dan bertahan, namun aku menyangsikannya. " kata Nahaliel.


Dan dia pun mulai bernyanyi kembali dengan lirik yang sedih...


..." Oh kapernaum yang bersahaja..., Tidak ada lagi tawa putra-putrimu di sore hari, Tidak ada lagi senyum gadis-gadismu, saat mereka menimba air di sumur-sumurmu......

__ADS_1


...Mata airmu itu telah kering;...


...Tidak ada lagi minuman menyegarkan bagi para musafir yang lelah....


...Tegar tengkukmu telah menghancurkan engkau; Engkau melihat tapi tidak mau melihat, Engkau mendengar tapi tidak mau mendengar. Sekarang engkau tidak akan melihat dan mendengar lagi, sampai selamanya....


...Oh astaroth yang mulia, kekayaamu terdengar di seluruh bumi, menjadi dambaan setiap pahlawan, Kilau emasmu membutakan para musafir. Engkau telah membelenggu pendudukmu, Kini terbelenggu dalam perjanjian terkutuk. Tidak ada lagi batu mulia astaroth, halus sutranya, dan kemilau kereta-keretanya....


...Kecongkakan dan kesombongan,. telah memabukkanmu;...


...Membuatmu terjatuh, terpuruk begitu dalam. Dan engkau tidak akan bangkit lagi;...


...Kekayaanmu dijarah, dan seluruh milikmu kini telah menjadi debu....


...Engkau tidak akan bangun lagi dari kemabukkanmu; Tidak akan bangun lagi sampai selama-selamanya "...


" Penghancuran telah dimulai, mereka harus diberi peringatan..." kata Nahaliel


" Metaneos, aku akan pergi lagi, tapi tidak ke Eklesia, kemana aku pergi, engkau tidak perlu tahu, akan tiba saatnya, engkau akan mengetahui. Tapi untuk sekarang ini, sampaikanlah semua yang kau lihat disini pada para ksatria di Eklesia. "


Nahaliel tertunduk sedih, tapi kali ini lebih sedih dari yang tadi.


" Waktunya sudah tiba, " ujarnya sambil berlalu dan bernyanyi;

__ADS_1


..." Eklesia oh Eklesia...Kota para ksatria dan para pahlawan; Tembok-tembokmu yang tinggi akan menghancurkan kau sendiri,...


...Sungguh rindu Rajamu menyatukan engkau kembali, Akan tiba saatnya engkau dipulihkan kembali seperti engkau diciptakan. "...


Dan Nahaliel pun berlalu dari hadapanku, berlalu jauh. Ia mash bernyanyi diiringi suara dengungan pedangnya. Setelah Nahaliel berlalu, kini aku sendirian lagi. Dan aku sedang mengumpulkan keberanian untuk melangkahkan kakiku kembali menuju kota astaroth yang sedang dihancurkan.


Terik matahari menjelang tengah hari, namun mendung tebal dan gumpalan asap membuat sinar cahaya matahari enggan menembus sampai permukaan tanah. Aku berjalan dengan kekuatan ksatria sampailah di puncak gunung, memandang dari kejauhan, kehancuran kota astaroth.


Aku mengintip dari pohon-pohon yang menjulang tinggi di puncak pegunungan, untuk memastikan bahwa kota itu telah aman. Jangan sampai masih ada pasukan azmaveth yang berkeliaran di kota itu.


Setelah yakin bahwa semuanya aman, aku keluar dari persembunyianku dibalik puncak gunung, dengan cepat aku terbang melayang tidak lebih dari sepuluh langkah diatas permukaan tanah, dan melangkah masuk ke puing-puing astaroth. Bagaimana mungkin kota sebesar itu bisa hancur secepat itu? benarkah seperti yang dikatakan oleh pemimpin prajurit atau pemburu budak, juga Nahaliel. Bahwa ada makhluk yang bernama mamon yang sudah lama menjadi penguasa di kota ini, tidak heran sewaktu aku masih dalam keadaan lemah terkena racun phiseah. Aku melihat berbagai makhluk halus keluar masuk rumah-rumah penduduk tersebut.


Ternyata berjalan diantara puing-puing yang penuh dengan debu dan asap untuk melihat tanda-tanda kehidupan yang masih tersisa ini, sangat memedihkan hatiku.


Bergelimpangan tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi dimana-mana, tersebar memenuhi puing-puing kota, ada yang hilang kepalanya, tangan bahkan terbelah menjadi dua bagian, namun kebanyakan hangus terbakar. Melihat wajah-wajah mereka yang kini jadi mayat, membuat hatiku bertambah pedih.


Aku membayangkan wajah mereka disaat masih hidup, ada canda dan tawa terutama anak-anak, namun sekarang harus mati dengan cara mengenaskan.


Sayup-sayup kudengar suara tangisan seorang anak kecil. Ada yang masih hidup di tempat ini! Dengan aku mencari dari mana asal muasal suara tadi, dan akhirnya kutemukan seorang bayi perempuan kecil, masih berusia 2 tahun kebawah. ia sedang menangis di samping sosok wanita yang sudah tidak bernyawa. Mungkin itu ibunya. Bayi itu sangat lemah dan tidak berdaya, ia menangis karena lapar dan haus serta berusaha mencari air susu ibunya, hatiku hancur dan pedih.


Dan disaat bersamaan pula, tiba-tiba bayangan masa lalu dikehidupanku sebelumnya muncul kembali. Aku...punya anak perempuan masih bayi dan istri sangat kucintai.


Tak lama kemudian akupun sadar kembali, tanpa berpikir panjang akupun mengulurkan tanganku dan menggendong bayi tersebut membawa menjauh mencari tempat sembunyi diantara rumah-rumah yang sudah menjadi puing-puing. Mencari sisa-sisa makanan yang masih layak dimakan juga kuberikan botol minumku yang kubawa, setidaknya jangan sampai haus dan kelaparan.

__ADS_1


Lalu kutemukan puing-puing tempat makan dan kucari bagian dapur tersebut, berharap ada makanan yang masih bisa dimakan. Tak lama kutemukan bubur didalam kuali yang masih tertutup dan hangat meski dapur sudah runtuh. Aku mengambil botol minumku yang ada airnya lalu ku masak dengan sisa-sisa api, setidaknya air tersebut menjadi hangat dan bisa diminum oleh bayi tersebut. Bayi dalam gendonganku menangis karena lapar dan haus. Segera kuberikan bubur sedikit demi sedikit dan minum air.


Akhirnya bayi perempuan tersebut sudah tidak menangis. Kugendong dan kudekap, punggungnya sambil ku usap untuk menenangkan bayi itu.


__ADS_2