
" Siap tidak siap aku harus siap. " ujarku.
Aku berjalan perlahan disamping Eleazer, serasa pernah menjalani tiap langkah, apakah ini dejavu? aku tetap melangkah diatas karpet berwarna biru yang terhampar didepanku. Disekelilingku ada ratusan ksatria yang duduk sambil memandangiku, apakah karena aku memakai pakaian biasa yang dipakai rakyat Eklesia, sedangkan mereka memakai jubah dan zirah ksatria sesuai Ordo masing-masing sehingga mereka memandangku?
Sesaat kemudian barulah mereka kembali mengarahkan pandangan ke depan. Bunyi pintu yang terbuka rupanya menjadi pengalih perhatian di tempat itu.
Aku memperhatikan kembali secara detail para ksatria yang berkumpul, pakaian mereka sama seperti yang di pakai oleh Eleazer, rompi yang tebal dengan lambang singa dan rajawali, serta jubah biru yang terhampar dibelakangnya. Ada juga jubah yang mirip dengan syal, meskipun polanya tidak mirip antara satu dengan lainnya, dengan model dan potongan yang agak berbeda namun bahan dan warnanya seragam.
Terlihat ada bahan-bahan logam yang menutupi beberapa bagian tubuh, seperti pundak, dada, maupun perut, namun bahan dan warnanya seragam. Seperti Eleazer memakai pelindung di kedua pundaknya, atau Arel yang memakai pelindung di sebelah kiri saja.
Didepanku, berdiri sebuah patung yang besar dan megah dari Raja Avalon yang sedang menunggang kuda putihnya dengan gagah. Tangan kanannya teracung, memegang pedang yang sangat indah diarahkan lurus ke depan.
Kemudian di samping patung Raja Avalon ada dua orang bersayap enam menutupi seluruh tubuhnya dari atas sampai ujung kaki dan nampak begitu kuat, mendampingi Raja Avalon. Lalu aku bertanya kepada Eleazer " siapakah kedua orang patung yang disamping Raja Avalon? "
" Itu...Mikha dan Gabri orang kepercayaan Raja Avalon. " jawab Eleazer sambil mengarahkan pandanganya ke depan mencari tempat duduk.
Kami mengambil tempat duduk paling belakang, paling atas. Bisa di bilang ini adalah coliseum yang besar, tempat berkumpul dan pertemuan para ksatria.
Para ksatria di sekitarku sedang serius mendengarkan pembicaraan yang sedang berlangsung, dengan arah pandangan mata yang tertuju kepada orang-orang duduk di mimbar depan.
" Tinggal Kirharaseth yang masih bertahan dari serangan empat hari yang lalu. Namun kota tersebut juga menderita kerusakan parah. Dengan satu serangan lagi yang sama, maka hancur dan rata kota itu, " kata salah satu ksatria yang berdiri di depan mimbar sambil melaporkan hasil kejadian yang terjadi.
__ADS_1
" Betapa besarnya kekuatan yang menyerang Kirharaseth? " ujar seorang tua dengan baju ksatria dan jubah biru yang menutupi zirahnya. Jubah tersebut terlihat lebih tebal dari umumnya jubah yang ada disitu.
" Sekitar dua belas ribu pasukan ditambah dengan beberapa behemoth. Ada puluhan mamon, asytoret, bangsa jinx, vampire, juga siluman termasuk roh-roh jahat, namun kami tidak tahu siapa yang memimpin mereka, " jawab dari salah satu ksatria Ordo Knight.
" Terima kasih Jeril atas informasimu, kini kalian boleh duduk kembali, " ujar orang tua itu mempersilahkan mereka untuk kembali duduk. Kemudian terdengar suara bisik-bisik bergumam diantara semua ksatria yang hadir.
" Kamu telah mendengar itu Lasea, aku minta tolong sampaikan kepada pimpinanmu, kami membutuhkan jawaban mereka secepatnya, " ujar orang tua itu kepada seseorang yang duduk disebelah kirinya, berbeda dengan jubah yang dipakai para ksatria.
Jubahnya berwarna merah, tanpa bahan logam seperti halnya baju zirah. Pada bagian dada jubah itu terdapat sembilan batu yaspis sebesar ukuran telur, dengan warna-warna yang berbeda. Diatas kepalanya ada semacam topi yang terbuat dari baru yaspis juga berwarna merah tepat berada di tengah-tengahnya.
" Kau lihat orang yang tinggi kurus itu, dia adalah wakil dari Ordo Arkhierus. Sementara orang tua berpakaian ksatria itu, Kademah, pemimpin Ordo kami, ksatria, " ujar Eleazer sambil berbisik kepadaku.
" Aku rasa dengan kekuatan seperti itu, tidak berarti apapun. Bukankah pertempuran-pertempuran yang seperti ini adalah wajar terjadi di kota-kota lain? tidak ada hal yang perlu ditakutkan. Apalagi dengan jumlah seperti itu, bukankah dengan level kekuatan kalian para ksatria bisa mudah menaklukan mereka? " Lasea menjawab dengan suara tinggi tapi agak melengking.
" Tapi pada ramalan kuno tentang hancurnya empat kota arah angin, membuat munculnya tunas generasi baru seorang Revelation, maka hancurlah juga tembok Eklesia? "
" Omong kosong terhadap bualan ramalan dari ordomu, Rahaiah. Sampai saat ini tidak pernah terjadi bukan? " desis Laesa dengan nada ketus.
Wanita yang dipanggil Rahaiah terlihat sangat marah. " Kurang ajar, bualan omong kosong katamu?! " katanya kepada Lasea dengan nada keras membentak sambil mengangkat tangannya.
" Penitenziagite!! " desis Rahaiah. Dan tiba-tiba di tangannya muncul bola petir penuh kilatan yang siap menyambar.
__ADS_1
Laseapun juga tidak kalah, iapun langsung berdiri dari tempat duduknya. " Makhaira Corinthians!! " serunya, dan muncullah kilatan sinar memunculkan pedang dari tangannya.
" HENTIKAN KALIAN BERDUA!! " bentakan keras dari Kademah yang kini ikut berdiri. Ia merentangkan kedua tangannya diantara mereka berdua.
" Aku mengundang kalian kalian kemari bukan untuk saling berkelahi, tapi membahas mengenai kehancuran yang tidak lama lagi akan datang pada kita semua. Apa kalian ini mau saling menghancurkan diri sendiri tanpa perlu azmaveth menyerang?! "
Ucapan Kademah membuat Rahaiah menurunkan tangannya dengan perlahan-lahan, sampai akhirnya bola sinar di tangan menghilang perlahan, kemudian ia duduk sambil memandang tajam ke arah Lasea. Sementara Lasea tersenyum sinis kepadanya. Akhirnya pedang dan sinarnya perlahan ikut menghilang, dan iapun duduk kembali seperti tidak terjadi apa-apa.
" Seperti yang kubilang tadi, seorang Arkhierus memang sangat mengesalkan, " ujar Eleazer membisikkan padaku sambil menggelengkan kepala.
Kemudian dari arah gerbang aku melihat Arel masuk dan diikuti Helen yang ada di belakangnya. Arel langsung berbelok dan mengambil tempat duduk didekat kami. Sementara Helen dengan wajah gugup menuju ke depan mimbar. Dan ia mengangguk pada Kademah dan mengambil di bagian kursi mimbar sebelah Rahaiah
" Mengapa Helen duduk di situ sobat? " tanyaku pada Eleazer.
" Dia baru diangkat menjadi ketua Ordo Rephael beberapa bulan lalu. Dalam sejarah, dia adalah salah ketua Ordo Rephael yang paling muda. Dia adalah teman bermainku saat kami masih kecil juga Arel, kami bertiga selalu bersama sampai akhirnya ketika remaja, kami berpisah karena memilih ordo masing-masing. Sejak aku kecil Helen dikenal sebagai keluarga yang memimpin Ordo Rephael. Dan kau Arel masuk Ordo Prophet dengan tampang pucat dan kaku hehehehe...." ujar Eleazer
Arel mulai kesal dengan candaan Eleazer dan membalas candaan ke Eleazer " Ya...kau cemburu kan, kenapa Helen bisa menjadi ketua Ordo?! "
" Siapa yang cemburu, aku senang kok sahabatku sendiri menjadi ketua Ordo, " ujar Eleazer membela diri.
" Yah, andaikan kau tidak suka mabuk anggur, mungkin saat ini kau telah menggantikan Kademah hehehe. " ujar Arel.
__ADS_1
Rupanya perkataan Arel sangat telak seperti pukulan buat Eleazer, akhirnya membuat diam seribu bahasa sambil melipat tanannya, bersandar dan pura-pura berkonsentrasi mendengarkan pertemuan itu. Arel melirik ke arahnya sambil ketawa kecil " ihihihi..." sebuah tawa kemenangan yang berhasil membuat Eleazer terdiam.