Avalon Knight

Avalon Knight
PERTEMPURAN SESUNGGUHNYA


__ADS_3

Dinginnya udara pagi menyengat tubuhku, perlahan-lahan aku membuka mataku dan melihat mentari pagi yang mengintip perlahan-lahan. Ah, dimanakah ini? apa yang terjadi?


Shemmer..., air...,sungai...,terang..., semuanya seperti mimpi. Baru saja pikiranku mencoba mengingat-ingat tentang semua yang telah terjadi. Aku melihat diriku sendiri dalam keadaan tidak berpakaian namun hanya memakai celana panjang saja, sejenak ku menoleh ke kanan ke kiri mencari pakaian ku, oleh Shemmer pakaianku di keringkan dekat api unggun beserta Belati serba guna yang selalu menemaniku, lalu kupakai kembali pakaianku yang sudah kering yang terbuat dari kulit hewan beserta sepatuku kukenakan dengan lengkap. Sejenak aku mencari Shemmer sejauh mata memandang namun tidak kutemukan. Tanpa membuang waktu akupun beranjak berdiri. Tiba-tiba telingaku menangkap bunyi-bunyi asing, suara jeritan-jeritan yang memilukan, dengan sigap aku langsung setengah berlari mencari suara itu berasal. Kenapa ada banyak begitu banyak jeritan?


Aku memandang ke arah kota kapernaum yang letaknya agak jauh didepanku. Asap hitam mengepul naik memenuhi kota tersebut, rona merah api menyelimutinya. Bau asap yang menyesakkan dan benda-benda yang hangus, serta bau bangkai mayat yang gosong, tercium sampai kemari. Aku melihat seraya tidak percaya dengan apa yang kulihat. Apa yang yang terjadi?


Mataku menangkap sesuatu dari kejauhan, dan kulihat ada berbagai macam banyak makhluk berterbangan diatas kota itu. Terlihat rombongan orang-orang yang meninggalkan kota dengan panik. Beberapa diantara membawa bantalan kain. Namun kebanyakan tidak membawa apa-apa, hanya pakaian seadanya yang melekat pada tubuh mereka saja.


Beberapa ibu terlihat menggendong bayinya sambil mengganden anak-anaknya yang masih kecil. Kasihan sekali mereka, dipaksa berlari dengan cepat dan menangis kebingungan. Salah satu ibu masih menggendong bayinya, dan bayi tersebut menangis menjerit pilu seolah-olah meminta tolong dan perlindungan, berlari, namun dibelakangnya ada sosok makhluk menyeramkan yang mau menerkam dan menghabisi ibu dan bayi. Sontak mataku dan jiwaku mendidih mendengar jeritan bayi itu, dengan refleks aku melangkah lari, berusaha menggapai sebelum terlambat diterkam oleh menyeramkan itu. Alangkah terkejutnya aku dalam satu hentakan langkah aku terbang dengan kecepatan tinggi, melayang diatas permukaan tanah setinggi satu meter, langsung menuju dan memukul salah makhluk menyeramkan itu, saat memukul makhluk tersebut kepalan tanganku seolah-olah keluar sinar api dan....


" BUAKKHHH....DUARRR!! "


Pukulanku Langsung mengenai muka salah satu makhluk menyeramkan itu, seketika melesat terpelanting dan terhempas jauh, sampai menembus beberapa lapisan dinding tembok kapernaum. Terbakar api dan hancur musnah begitu saja.


Akhirnya aku berhasil melindungi ibu dan bayinya tersebut sambil berkata " ibu cepatlah lari sejauh mungkin, aku hadang makhluk-makhluk menyeramkan itu. " sorot mataku yang tajam mengawasi musuh, memastikan ibu dan bayinya selamat.

__ADS_1


Tiba-tiba aku terkejut melihat tubuhku sendiri, ternyata ada sebuah baju zirah ksatria yang kukenakan. Sekilas aku menyadari, bahwa ini adalah baju zirah berwarna logam putih seperti yang dimiliki Shemmer, ini miliknya atau bukan, kalau sekedar mirip, lalu darimana datangnya, dan sejak kapan aku mengenakanya? Lalu kulihat lebih seksama lagi bentuknya berbeda dengan baju zirah Shemmer, berwarna putih susu namun seperti kristal. Bagian-bagian zirah yang kupakai bentuknya cadas dan tegas, runcing dari pundak sampai sepatu yang kukenakan, semua menutupi dan melindungi seluruh tubuhku, kecuali bagian kepala.


Shemmer... dimanakah dia? di tengah kekacauan seperti ini, kemana dia? atau pergi dengan orang asing yang kulihat kemarin malam? Mungkinkah rombongan itu mengetahui keberadaanya?


Seperti sebuah jawaban akan segala pertanyaan di benakku yang kacau, membuatku tidak fokus melihat ke sekeliling, tiba-tiba ada sesuatu yang menerjangku dari samping...


" BRRUUKKH...!"


Tubuhku terpelanting dan terhempas jatuh terlentang ke belakang, dan kinj berhadap-hadapan sangat dekat menerjangku. Ia menindihku, mengunci kedua tanganku dan kedu kakiku, sehingga aku tidak bisa bergerak dan memandangku dengan matanya yang bersinar merah.


" GRRAAUUU... "


Ketika makhluk itu melancarkan serangan dan mau merobek leherku, seketika aku refleks menghantamkan kepalaku dengan keras dan mengenai ujung hidung makhluk itu. Dan disaat tidak kusadari juga tiba-tiba muncullah ketopong melindungi kepalaku juga dahiku. Dan seketika terlepaslah cakar dan tindihan yang menindihku.


Keadaan berbalik, seketika kupegang kedua tangan makhluk itu, dan kaki kananku menendang bertubi-tubi dengan cepatnya.

__ADS_1


" KAING...GRUGHH...KAING...KAING "


Makhluk itu kesakitan, baik hidung dan mulutnya mengeluarkan darah berwarna hitam dan mundur beberapa langkah. Tanpa memberikan celah sedikitpun untuk membalas, dengan serangan lanjutan, hanya menggunakan tangan kananku saja aku memegang leher sambil mencekik, dari makhluk itu dengan tangan kanan pula, kuhempaskan ke tanah, sampai tanah tersebut membentuk lubang yang lumayan dalam. Seketika itu juga tangan kananku mengeluarkan sinar api, saat itu juga dari kepala hingga leher makhluk itu meledak hancur, darah hitam berserakan kemana-mana. Sisa tubuh makhluk itu ikut terbakar musnah akibat sinar yang kukeluarkan.


Tiba-tiba muncullah tiga makhluk yang sama, mengepungku. Menggeram-geram memperlihatkan taring beserta air liur yang menetes. Berputar-putar dengan perlahan mengelilingiku, mencari celah yang dapat diserang.


Perasaan panik, sambil mata melirik sedikit mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata mempertahankan diri. Lalu aku teringat dibalik jubah ksatriaku ada sebilah belati serba guna yang kutaruh di saku yang terbuat dari kulit hewan, di samping pangkal paha sebelah kiri. Langsung saja kuambil dengan posisi memegang gagang pisau kubalik posisinya, dengan ujung di bawah, Tangan kiriku kukepalkan seperti mau meninju dan kedua kakiku membentuk kuda-kuda serta posisi tubuhku agak menunduk. Tidak ketiga makhluk itu melancarkan serangan bersama-sama. Secara refleks, spontan aku menebas sambil menghindar dan mengenai salah satu leher dan mengeluarkan darah hitam segar, namun makhluk tersebut belum mati tapi mengerang kesakitan.


Akupun ikut terkejut melirik belatiku, semula belati serba guna yang kupakai bentuknya tidak terlalu besar kini berubah menjadi pedang, mirip seperti pedang yang Shemmer pakai namun tidak sepanjang dan sebesar pedang Shemmer. Bedanya pedang yang kupakai ini mengeluarkan aura dingin, dari ujung hingga gagang keluar halilintar kecil mengelilingi pedangku.


" SPLASSH....JROOTT..."


Sambil menebas kuhunuskan pedangku tepat mengenai dahi makhluk menyeramkan lainya. Dan meledaklah kepalanya, dan tubuhnya ikut hancur musnah. Tinggal satu makhluk lagi yang harus kubereskan, pikirku.


Makhluk menyeramkan lainnya yang kutebas lehernya lari mundur jauh. Tidak kuduga membawa makhluk menyeramkan itu memanggil teman-temanya yang lain dan jauh lebih dan mengepungku dari segala arah.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang akupun melompat dengan tinggi, dan terbang secepat mungkin menghindari serangan makhluk-makhluk buas tersebut.


__ADS_2