Avalon Knight

Avalon Knight
BAHAYA MENGANCAM


__ADS_3

Setelah lepas dari kepungan para makhluk-makhluk buas tersebut. Aku pergi ke hutan, menuju pada rombongan yang telah mendahuluiku ke hutan. Kemudian kusarungkan kembali pedangku yang telah kembali ke wujud semula dalam bentuk belati serba guna.


Akkhhh, gila...! makhluk apa itu tadi? dari dunia mana mereka berasal? tidak pernah aku melihat hal yang menyeramkan seperti itu.


Sekilas aku teringat sebuah cerita penduduk di khorazim, ketika masih akan melakukan perjalanan, tentang teror dari makhluk yang mengerikan bernama feral, yaitu anjing-anjing yang serupa dengan serigala dan dipelihara oleh para penyihir azmaveth. Katanya makhluk-makhluk itu dulunya adalah manusia, yang diubah oleh penyihir azmaveth menjadi monster.


Kukira hanyalah cerita isapan jempol belaka dari para musafir untuk menakuti anak-anak. Kalaupun itu hanya isapan jempol, karangan orang tua untuk menenangkan anak-anak mereka yang menangis, tapi yang kulihat benar-benar nyata, dan harus segera kuakhiri mimpi buruk yang mengerikan ini.


Sesampainya aku di rombongan itu, baru kusadari bahwa kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak juga bayi. Mereka tidak mungkin membela dirinya sendiri dari serangan feral tadi. Aku justru akan mencelakai mereka dengan berlari bersama mereka. Sebuah keputusan cepat yang harus segera kuambil di tengah gerombolan feral yang berlari dan semakin banyak.


Dalam keadaan tubuh melayang diatas permukaan setinggi satu meter dari tanah. Aku berbalik dan tanpa kusadari tubuhku ikut merespon kembali kearah gerombolan feral yang begitu ganasnya. Dengan cepat melesat kembali dalam sekejap mata, telah ada di hadapan gerombolan feral itu.


Makhluk-makhluk itupun kaget. Dan dengan tiba-tiba kuterjang salah satu feral dengan tinju tangan kiriku beraksi mengenai dadanya dengan telak dan membuatnya jatuh tersungkur.


Disaat bersamaan empat feral lainnya menyerangku secara serentak, secara refleks aku mengeluarkan pukulan dan tendangan.


Tiba-tiba terjangan seekor feral yang lain serta menggigit baju zirah bagian punggungku, membuatku jatuh tersungkur. Aku bergulingan menghindari cakarnya. Setelah pergulatan dan menghujamkan tinjuku bertubi-tubi ke tubuhnya, makhluk feral, itupun mengakhiri serangannya.

__ADS_1


Tersenggal-senggal aku menyingirkan tubuh serigala raksasa itu dari atas tubuhku. Pada jubahku terdapat bercak darah di sana-sini. Tidak tahu itu darah dari lukaku atau makhluk-makhluk yang bergelimpangan di samping kiri dan kananku.


Benar-benar pertempuran singkat dan cepat. Namun aksiku tadi membuat beberapa feral yang belum menyerang menggeram mundur. Kemudian binatang-binatang buas dan menyeramkan itu kembali kearah kota kapernaum yang sudah semakin terbakar hebat.


Dengan nafas yang masih tersenggal-senggal, aku baru menyadari dan bertanya-tanya, sambil melihat kedua telapak tanganku, kekuatan darimanakah ini? bagaimana mungkin aku bisa melakukannya dalam tempo singkat? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pula aku bjsa melakukan tindakan senekat tadi?


Namun tidak ada waktu lagi untuk memikirkannya, karena aku melihat rombongan dari makhluk bersayap dari kota kapernaum, kini terbang menuju arahku, sepertinya tertarik dengan pertempuranku tadi.


Aku segera membalikkan badan dan berlari menuju hutan jika kupaksakan terbang, maka rombongan makhluk-makhluk tersebut dengan segera akan mengetahui keberadaanku. Apalagi dengan lengan kiri masih terasa perih dan mengeluarkan darah, cedera akibat pertarungan tadi. Namun aku harus tetap berlari menerobos hutan mencari rombongan tadi. Tidak ada waktu lagi untuk berhenti memeriksa lukaku.


Sesampainya aku di tempat itu. Pemandangan mengerikan sedang berlangsung. Rombongan tersebut kini sedang berjuang menghadapi maut. Mereka terlilit dan terperangkap dalam sulur-sulur yang banyak dan mengerikan. Jeritan-jeritan yang menyayat hati meminta tolong membuatku tertegun serasa tak percaya, makhluk mengerikan apalagi ini? beberapa orang sudah terbelit seluruh tubuhnya, sehingga untuk berteriakpun sudah tidak bisa.


Tanpa berpikir panjang dan meresikokan keselamatanku sendiri, aku melompat dan berusaha melepaskan orang yang paling dekat. Ia adalah seorang ibu yang sudah terlilit setengah dari tubuhnya. Ia berteriak-teriak histeris ketakutan dan kesakitan di tengah lilitan itu. Membuatku panik, aku berusaha menariknya sekeras mungkin, melepaskan sulur-sulur besar yang licin, sambil memukul dan menendang, sampai kukeluarkan belati serba guna. Celaka...belatiku tidak berubah bentuk, tambah paniklah aku, kenapa disaat genting seperti ini belatiku tidak berubah? Semua yang kulakukan sia-sia belaka. Sulur-sulur besar itu tidak terpengaruh sedikitpun.


Kenapa? bukankah seharusnya tenagaku cukup kuat untuk melukainya, seperti yang telah kulakukan pada feral-feral tadi? tapi, makhluk ini sepertinya tidak merasakannnya. Dengan tatapan tak berdaya, akhirnya aku haru melihat ibu itu tenggelam dalam lilitan sulur besar yang mengerikan tersebut.


Aku mundur, sangat terpukul melihat peristiwa itu. Ada beberap anak kecil di pinggir sana, jauh dari jangkauan sulur itu menangis menjeri-jerit, memanggil-manggil ibunya.

__ADS_1


Akhirnya, kulihat sesosok makhluk yang tertawa menyeringai dingin tidak jauh dariku, seperti menertawai semua usahaku membebaskan orang-orang itu, dan menyadari keputusasaan, kepanikan dan ketakutanku. Aku berbalik ke arahnya, siapa dia? dia memakai jubah hitam, yang menutupi ujung kepala dalam bentuk tudung sampai ke ujung kakinya.


Ternyata sulur-sulur besar itu berasal dari dia! secara menjijikkan, dari tubuhnya keluar banyak sulur-sulur panjang yang makin lama makin membesar, sehingga dapat membunuh orang dengan melilitnya.


Awalnya kukira sulur-sulur Itu datang dari semacam monster dengan bentuk gurita, atau pohon-pohon besar ini yang sebenarnya monster, menyamar dalam rupa pepohonan, tetapi ternyata dari makhluk itu. Itupun kalau memang dia masih pantas di sebut sebagai manusia.


Makhluk itu menjulurkan tangan kanannya padaku. Dan tangan itu berubah dengan cepat menjadi panjang dan besar. Menyadari ada bahaya, aku segera melompat tinggi untuk menghindar, namun terlambat... sulur-sulur itu segera mencapai dan menjerat ujung kakiku.


Bruukkhh...! aku terjerembab jatuh ke tanah. Meronta-ronta dan menyentakkan kakiku agar sulur itu terlepas. Namun beberapa sulur yang lain entah darimana datangnya, menjerat dan mengunci kedua tanganku. Sulur-sulur tersebut merambat terus dari hingga seluruh badanku hanya menyisakan kepalaku yang masih bisa menoleh.


Aku melihat sekilas di sekelilingku, rupanya makhluk itu mulai melepaskan wanita dan anak-anak tadi yang di tawannya. Mereka ternyata belum mati dan semua sulur-sulur itu lebih tertarik kepadaku. Mereka yang sudah terlepas, satu-persatu berlari meninggalkan tempat itu. Yang masih pingsan segera di tarik oleh lainnya untuk keluar dari tempat itu.


Ada sedikit rasa syukur menentramkan hatiku, karena mereka selamat dari sulur-sulur itu, tetapi sebaliknya, kini aku yang butuh pertolongan. Tidak lama kemudian hampir seluruh kepalaku juga dibelit sulur itu. Baju zirahku, ketopongku tidak sanggup menahan tekanan lilitan itu, dan mulai retak sedikit demi sedikit.


" Ctrakk...ctrakk...kreteq...trangg! "


Jubah zirahku hancur berkeping-keping dan kini hanya tinggal pakaianku. Aku mencoba memberontak sekuat tenagaku dengan sisa tenagaku, tapi malah membuat nafasku tersenggal-senggal. Semuanya sia-sia, dan ketakutan mulai membelengguku. Apakah aku akan mati disini?

__ADS_1


__ADS_2