Ayah Pengganti Buat Anakku

Ayah Pengganti Buat Anakku
Gelagat putri yang aneh


__ADS_3

Akhirnya kami pun sampai ke perumahan pertama. Kami membagi menjadi 2 tim agar cepat selesai. Putri rani dan randi satu tim, sedangkan aku berdua dengan rafa.


"Ma'af ya gays, apa sebaiknya kita para cewek cewek satu tim ya. Ini aku nggak enak berdua aja sama rafa." Ucapku.


"Lebih baik didalam satu tim itu ada cowok nya li, biar nggak terjadi hal hal yang tak di inginkan kalau kita cewek cewek semua." Ujar putri.


"Tapi aku nggak enak put, aku kan udah punya suami, nanti timbul fitnah lagi." Ucapku beri pengertian.


"Atau rani aja ya yang sama si rafa, aku ikut tim kamu aja put." Bujuk ku lagi.


"Kamu mau kan ran tukeran sama aku." Tanyaku pada rani.


"Hmm ba.."


Tiba tiba si putri langsung memotong ucapan si rani sebelum si rani sempat menyelesaikan ucapan nya.


" Eh nggak usah li, aku dan si randi kan belum bisa berkomunikasi dengan costumer karena kita kan masih baru sama kayak kamu, sementara si rani kan udah senior, jadi kita bisa belajar juga." Ucap putri.


"Lagian kita kan lagi kerja, masa iya suamimu bakalan marah sih." Ucap putri lagi.


Dari tadi aku lihat si rani mau mengatakan sesuatu sambil mengedip ngedipkan matanya kepada ku, tetapi aku tak tahu apa maksudnya.


Si randi pun tak banyak berkomentar. Tetapi aku memiliki firasat ada sesuatu yang mau di beritahukan rani padaku, tetapi si putri terus saja seperti mengalihkan semuanya.


" Ya udah yuk, kita berpencar aja, keburu siang nanti, dan target kita nggak tercapai." Ucap si putri lagi.


Kamipun berpencar, aku bersama rafa ke arah timur sementara putri rani dan randi ke rah berlawanan.


"Lo kenapa sih put, kasian tahu si lia kalau di biarkan berdua dengan si rafa, nanti ketahuan ama laki nya trus mereka berantem gimana?"


" Loe kan tahu kalau si rafa tu ngebet banget ama si lia, sementara si lia kan udah punya suami."


Lu kayaknya maksain banget deh agar si rafa bisa berduaan dengan si lia."

__ADS_1


"Tujuan loe apaan sih out? Heran gua." Tanya rani ke putri panjang lebar.


" Nggak ada tujuan apa apa kok, kan emang benar kalau gua sama si randi tu belum bisa selancar loe berkomunikasi sama pelanggan."


"Kan yang senior disini loe sama si rafa, jadi wajar dong gua minta yang senior ada di tim yang berbeda agar mendampingi yang junior." Ucap putri membela diri.


"Terserah lo deh put, gua nggak mau tanggung jawab ya kalau terjadi sesuatu sama hubungan si lia dan suaminya nanti gara gara hari ini." Ucapku berlalu meninggalkan putri.


Sementara ditempat lain, yaitu ditempat kerja nya farukh.


"Loh ini si lia nelpon sampai sepuluh kali ada apa ya, kalau dilihat dari jam ia nelpon sepertinya nggak lama dari aku nganterin dia deh. Coba aku telpon balik deh, mana tahu penting."


" Apa jangan-jangan terjadi sesuatu ya sama dia." ucapku cemas dan segera menelponnya.


" Tut nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. "ucap operator di balik telepon.


" Sepertinya hp-nya mati lebih baik Aku susul saja dia ke tempat kerjanya."


Faruq pun segera berangkat ke tempat kerjanya Lia. Sesampainya di sana ia pun bertanya kepada salah satu karyawan di sana.


" Mas siapanya Lia ya. " tanyanya lagi padaku.


" Saya suaminya mbak saya datang ke sini karena Lia tadi menelpon ke HP saya beberapa kali dan tidak terangkat. "


" Dan ketika saya mau menelponnya kembali tetapi hp-nya tidak aktif. Saya khawatir dengan keadaannya apa lia nya ada Mbak. "Tanyaku lagi padanya.


" Oh suaminya Lia ya, maaf mas tapi lia nya tidak ada di sini dia sudah berangkat ke lapangan bersama dengan timnya. " Ucap si mbak itu lagi.


" Kalau boleh saya tahu alamatnya di mana ya mbak saya mau menyusulnya ke sana, karena saya khawatir dengan keadaannya." Tanyaku lagi.


" Baiklah, Tunggu sebentar ya Mas. " ucapnya Seraya berlalu ke dalam guna mencari tahu di mana alamat tempat yang dituju lia sekarang.


Tak membutuhkan waktu lama akhirnya si Mbak tadi pun keluar dengan membawa secarik kertas.

__ADS_1


" ini mas alamatnya sudah saya tuliskan ke dalam kertas ini. "ucapnya sambil menyerahkan kertas tersebut padaku.


" Terima kasih banyak ya mbak. "ucapku seraya berlalu.


Kalau dilihat dari alamatnya sepertinya sedikit jauh karena memakan waktu sekitar 1 jam an.


" Aku harus menyusul nya karena entah kenapa firasatku tidak enak tentang keadaan dia. "Gagas aku melajukan motorku dengan kecepatan tinggi.


Ini sudah rumah yang ke-10 yang aku datangi bersama Rafa. Rasanya lelah sekali badan ini karena saat mensurvei rumah ke rumah kami hanya berjalan kaki karena rumah di sini terbilang rapat.


Tiba-tiba Kepalaku pusing dan Untung saja Rafa cepat memegang lenganku dan aku tidak terjatuh.


" kamu tidak apa-apa Lia. " Tanya Rafa padaku.


Aku hanya bisa menggeleng sedikit karena jujur kepalaku terasa berat dan sangat pusing.


" Lebih baik kita istirahat dulu di sana sebelum kita masuk ke rumah yang ke-10. " saran Rafa lagi.


" Kamu tunggu di sini dulu ya aku mau mencari minuman dulu untuk kamu. " ujar Rafa.


Aku hanya bisa mengangguk lemah karena untuk menjawab pertanyaan Rafa sungguh membuat aku mual dan aku takut Rafa mengetahui kalau aku sedang hamil apabila aku tiba-tiba muntah di depannya.


" Loh sayang kamu kenapa di sini sendirian. " ucap Mas Faruq tiba-tiba sudah ada di hadapanku.


Aku pun terkejut melihat kedatangan Mas Faruq, tetapi aku lega karena ada dia di sini.


" Teman-teman kamu yang lain pada ke mana, kok mereka meninggalkan kamu sendirian di sini. " Tanya Mas Faruq heran.


Melihat aku tidak juga menjawab pertanyaannya dan melihat wajahku semakin pucat dan mengeluarkan keringat dingin yang banyak mas Faruk pun mengajakku untuk pulang dan aku pun menyanggupinya.


Biarlah aku pulang dulu bersama Mas Faruq nanti kalau di jalan aku melihat Rafa aku akan pamit padanya dan meminta izin untuk segera pulang karena badanku sudah lemas sekali.


Sepanjang perjalanan perumahan aku tidak melihat Rafa sama sekali tetapi aku melihat timnya si Putri Dan Aku meminta Mas Faruk berhenti.

__ADS_1


" Mas berhenti dulu sebentar itu ada teman satu tim aku, aku mau pamit sama mereka dulu sebentar ya Mas. " Ucapku pada mas Faruq.


Kami pun berhenti tepat di dekat timnya Putri.


__ADS_2