
"Jangan mas, aku mohon jangan sentuh aku." Ucapku sambil menangis.
"Kamu jangan takut sayang, nggak ada yang melihat kita." Ujarnya merayu.
"Tidak mas, ini tidak benar, kamu adalah kakak iparku yang tak lain adalah suami dari kakak kandungku." Jawabku sambil terus memohon padanya.
Plak plak.. tiba tiba ia menamparku. Tak sampai disitu, akupun di ancam oleh nya.
"Kalau kau tak mau menuruti kemauan ku, aku akan membunuhmu dan kakak mu itu."
"Jangan mas, aku mohon jangan sakiti kakak ku." Ucapku lagi.
"Makanya kamu nurut apa kata ku, kamu itu sudah aku tampung disini, lia. Makan, tempat tinggal semuanya gratis." Ucapnya dengan mencengkeram wajahku.
"Tapi mas.." Plak..plak.. Belum siap aku menyelesaiakan kata kata ku, ia pun melayangkan tangan nya kembali.
Dan ia pun menyeretku kedalam kamarku, dan membanting tubuh ku di tempat tidur.
Hari itu juga lah hancur seluruh masa depan ku, aku yang baru lulus sekolah menengah atas, takut akan mengadukan nya pada kak romlah.
Aku takut ancaman mas jaka yang akan membunuh kami apabila aku mengadu.
Dua bulan setelah kejadian itu.
"Kak perutku sakit sekali. Ucapku pada kak romlah sambil meringis kesakitan.
"kamu kenapa lia, muka mu pucat sekali ini." Ucap kak romlah sambil meraba keningku.
"Badan mu panas sekali. Kita ke rumah pak mentari ya." Ajak kak romlah.
Karena didesa tempat tinggalku yang ada tenaga medis yaitu hanya mentari. Kalau rumah sakit jaraknya lumayan jauh, memakan waktu paling tidak 2 jam.
Ya, pak mentari itu adalah sahabat dari almarhum bapak, mereka bersahabat dari bangku sekolah. Sampai bapak meninggal.
Bahkan saat bapak sakit. pak mentari itu lah yang mati matian mencari obat paten agar bapak sembuh.
Tapi takdir berkata lain, Allah lebih sayang bapak. Dan bapak pun meninggal dalam keadaan shalat.
"Sakit apa adik saya pak?" Tanya kak romlah pada pak mentari.
"Sebaiknya kamu bawa adikmu ke rumah sakit karena saya juga tidak tahu penyakit apa yang diderita adikmu." Ujar pak mentari.
__ADS_1
Kak romlah pun seperti nya tidak mempercayai nya, masa iya pak mentari tidak mengetahui apa penyakit ku, padahal penyakit bapak dulu yang lebih parah dari ini, beliau tahu, dan mati matian mencarikan obatnya.
"Ya sudah lah pak, kalau begitu kami permisi dulu. Ucap kak romlah pamit.
Ia pun menelpon mas jaka guna mengantarkan kami kerumah sakit, karena kalau menggunakan kendaraan umum, takutnya aku tak kuat menahan nya lebih lama.
Dua jam berlalu akhirnya kami pun sampai dirumah sakit. Dan akupun mulai diperiksa dokter.
Aku pun di USG dibagian perut, guna melihat apa yang sebenarnya yang membuat aku sakit perut.
"Selamat ya buk, usia kandungan nya sudah 8 minggu, dan bayi nya sehat ya.
Deg.. Bak disambar petir diaiang bolong, ketika aku mendengar kabar bahwa aku sedang mengandung.
Begitu pun dengan kak romlah, dia tidak percaya bahwa aku tengah hamil, karena memang aku belum menikah, dan darimana bayi ini berasal.
Dengan menahan amarah, akhirnya kak romlah pamit pada dokter dan tak lupa mengambil resep yang sudah diberikan dokter padanya.
"Siapa bapak nya lia?" Tanya kak romlah dengan mata merah menahan marah.
Aku yang hendak menjawab tiba tiba mendapat tatapan intimidasi dari mas jaka.
Aku pun hanya bisa menunduk dan menangis terisak isak.
Akupun semakin ketakutan, aku tak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku mau jujur tetapi takut dengan mas jaka, kalau aku tak jujur mbak romlah terus terusan memaksaku bicara.
"Sudahlah buk, lebih baik kita selesaikan masalah ini dirumah dengan kepala dingin." Ujar mas jaka.
Astaga, apa ia tak punya muka atau bagaimana. Bisa bisa nya ia berkata seperti itu.
Bagaimana kalau keluargaku tahu bahwa ia lah bapak dari anak yang aku kandung, mungkin ia akan mati ditangan kakak lelakiku.
Kak romlah pun menghubungi semua kakak kakak ku, agar berkumpul dirumah nya.
Aku berlima bersaudara, dan aku adalah anak bungsu. Aku mempunyai satu kakak lelaki, dan ia mempunyai watak yang sangat keras, namun sangat menyayangi adik adik nya.
Sesampainya kami dirumah, ternyata mereka sudah berkumpul semua nya. Ya memang rumah kami tak begitu jauh, karena beda desa saja.
Aku pun disidang dihadapan mereka.
"Cepat kamu katakan siapa bapak dari anak yang kamu kandung itu?" Tanya mbak romlah lagi.
__ADS_1
Aku pun hanya bisa menangis tanpa berani menatap mereka satu persatu.
Brak!!! Dan mas bambang pun menggebrak meja dengan kerasnya.
"Sampai kapan kamu diam, kami bertanya padamu, siapa bapak dari anak itu!!!" Tanya nya lantang.
Aku pun terkejut dan menunjuk ke arah mas jaka sambil menunduk, karena aku takut akan menatapnya, karena dia pasti akan membelalak kan mata nya padaku.
"Mas jaka mas." Jawabku.
Dan semua mata pun tertuju kearahnya.
"Apa benar ini mas?" Tanya mbak romlah tidak percaya.
"Kamu yang telah menghamili adik kami jaka? Jaw ab kami jaka!!!" Ujar mas bambang yang telah memegang krah baju nya.
"Cepat jawab mas." Ucap mbak romlah memukul mukul lengan suami nya.
Aku pun melihat ke arah nya, dan menunggu jawaban dari nya.
"Iya romlah, maafkan aku." Ucapnya lagi sambil menggenggam erat tangan mbak romlah.
"Apa yang telah kamu lakukan mas? Lia itu adik kandungku mas. Kenapa kamu tega sekali mas?" Ucap mbak romlah terduduk lesu.
"Mas khilaf mlah, maaf kan mas." Ujarnya memohon.
Bug!! Bug!! Bug!! Tiga kali pukulan dari mas bambang mengenai wajah nya.
"Khilaf katamu? Apa kamu sudah tidak waras ha? Dengan gampang nya kamu berbicara seperti itu." Ucap mas bambang marah.
"Ampuni aku mlah, mas. Aku mohon ampuni aku." Ucap nya memelas lagi.
"Sekarang apa yang akan kau perbuat dengan adik adikku?"
"Lia harus ada yang menikahi karena tak mungkin kita menyuruh nya menggugurkan kandungan nya, yang ada kita nanti yang kena adzab." Ucap mas bambang lagi.
"Aku akan menikahi nya mas, aku akan bertanggung jawab dengan bayi itu." Ucapnya membuat aku menggeleng kepala tanda tak setuju.
"Aku tak mau dinikahi olehnya, aku tak perlu yanggung jawab dari nya, karena aku diperkosa oleh nya." Ucapku yanh akhirnya jujur.
Sontak semua nya melihat ke arah ku dan mas jaka.
__ADS_1
"Kamu memperkosa nya mas? Apa kamu sudah hilang akal ha? Lia itu yatim piatu mas. Seharusnya kamu menjadi pelindung nya karena ia tinggal dengan kita, bukan sebalik nya." Ujar mbak romlah tak percaya.
" Kau memang lelaki bangs**t jaka." Ujar mas bambang. Dan bugh!! bugh!! bugh!! mas bambang pun memukul nya yang entah berapa kali, hingga keluar darah segar dari pelipis mata dan sudut bibirnya.