Ayah Pengganti Buat Anakku

Ayah Pengganti Buat Anakku
Hari Pernikahan


__ADS_3

Setelah pertemuan hari itu dengan keluarga mas farukh ditetapkan lah seminggu lagi hari pernikahanku. Karena kami sama sama sepakat bahwa acara pernikahan dibuat sederhana.


Sebab keluarga ku meminta agar lebih cepat lebih baik pernikahan ini diselenggarakan.


Seminggu kemudian. "Saya terima nikah nya lia anggraini dengan mas kawin tersebut tunai." Ucap mas farukh dalam sekali nafas.


Sah... Ucap semua orang yang menghadiri pernikahan kami.


Alhamdulillah, dan pak penghulu pun memimpin do'a.


Keesokan harinya aku dan suamiku pun pindah kerumah mendiang orangtua ku karena memang itu kemauan ku karena sangat disayang kan kalau rumah tersebut lama tidak ditempati.


Itu semua juga setelah keluarga suamiku kembali kekampung halaman mereka.


"Mas mau mandi dulu atau mau istirahat dulu?" Kataku pada mas farukh.


Ya, rumah ini sudah di bersihkan oleh mas bambang sehari sebelum kami pindah kesini.


"Saya mandi ajal lah, nggak enak tidur dengan badan lengket keringat kayak gini." Ucapnya sambil berlalu ke kamar mandi dan menenteng handuk.


Selama mas farukh mandi aku pun menyiapkan makan malam untuk kami, karena kami memang datang sehabis shalat isya.


Tak lama kemudian mas farukh pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk sebatas pinggang ke bawah.


"Astaghfirullah" ucapku sambil menutup mata dengan telapak tangan.


Melihat ekspresi ku pun mas farukh tertawa sambil berlalu ke dalam kamar.


"Ada apa dengan ku? Bukankah wajar apabila aku melihat nya seperti itu ya, kami kan sudah sah menjadi suami istri?" gumamku.


"Kan aku jadi malu, apalagi melihat ekspresi mas farukh yang penuh arti itu."


"Pasti ia mengira bahwa aku terlihat konyol dimatanya."


"Aduuh, kamu apa apa an sih lia, kamu malu maluin banget sih." Ucapku pelan sambil memukul kepala.


"Kamu kenapa? Kepala nya kok di pukul pukul seperti itu? Apa kamu lagi sakit kepala? Biar aku pijitin ya." Ucapnya tiba tiba.


"Astaghfirullah, nggak kok mas, aku nggak sakit kepala kok." Jawabku agak sedikit terlonjak karena terkejut dengan kedatangan mas farukh tiba tiba.


"Duduk mas, kita makan malam dulu." Ucapku mengalihkan.

__ADS_1


Melihat ku kelagapan mas farukh pun tersenyum senyum kecil.


"Mas mau makan apa?Biar aku ambilkan."


"Aku mau makan apa aja asal kamu yang menyiapkan semua akan aku makan." Ucapnya tersenyum.


Ya Allah kenapa hati ku menjadi deg deg an seperti ini ya, apa aku terpesona akan ucapan sederhana nya itu ya?


Aku pun segera mengisi piring mas farukh dengan semua makanan yang ada, karena aku tidak tau mana makanan kesukaan nya.


Melihatku memindahkan hampir semua menu makanan di atas meja,seketika mas farukh "stop stop, apa kamu mau aku memakan semua makanan ini?" ucapnya sambil tersenyum.


"Eh maaf mas, soal nya aku nggak tau mana makanan kesukaan mu." Ucapku sambil menggaruk kepala yang tak gatal.


"Ya sudah aku makan telur dadar sama sambal mentah dan sayur buncis saja." Ucapnya.


"Loh kok cuma itu saja mas, ini kan ada rendang dan gulai, mas makan yang ini juga ya?" Ucapku hendak mengambil rendang.


"Enggak usah lia, ini saja sudah cukup, karena makan favoritku ya ini." Ucapnya sambil mulai melahap makanan.


"Kamu makan juga ya, biar cepat besar." Ucapnya sambil tersenyum.


Selesai makan kami pun duduk duduk di ruang tamu d atas kursi yang sudah usang karena memang kursi peninggalan orangtua ku.


"Mas, aku mau membicarakan hal serius dengan mu. Tapi sebelumnya aku mau bertanya terlebih dahulu boleh?" Ucapku.


"Boleh dong, masa orang bertanya di larang, ada ada aja deh kamu." Ucap nya bercanda.


"Iiih mas, aku serius mas, masa di becandain sih?" Ucapku lagi pura pura kesal.


" Iya iya, kamu mau tanya apa, Insha Allah selama mas bisa menjawabnya akan mas jawab."


"Sebelumnya aku minta maaf ya mas kalau aku menanyakan ini padamu, ini semua hanya karena untuk meyakinkan diriku kalau aku pantas untuk mu mas." Ucapku menunduk.


"Iya lia, silahkan apa yang mau kamu tanyakan."


"Kamu tahu atau tidak mas apa yang sudah terjadi padaku?" Tanyaku takut.


Sesaat mas farukh mengernyitkan keningnya, dan menghela nafas berat.


"Maafkan aku mas kalau aku menanyakan hal ini."

__ADS_1


Tiba tiba mas farukh menggenggam tanganku. "Aku tahu semua tentang kamu lia, mas bambang sudah mengatakan nya padaku. Dan aku tidak keberatan dengan semua itu. Tapi satu ku pinta padamu." Tiba tiba mas farukh menghentikan ucapan nya.


"Apa itu mas?" Tanya ku.


"Kamu jangan pernah mengatakan semua itu pada keluarga ku. Karena tak ada satu pun dari keluarga ku tahu. Dan aku juga meminta itu pada mas bambang."


Sontak aku pun terkejut tak menyangka kalau keluarga mertuaku tidak satu pun mengetahui masalahku.


"Selama diantara kita semua tidak ada yang mengatakan nya, aku yakin keluarga ku tidak akan mengetahuinya." Ucapnya lagi.


"Tapi mas, aku sungguh merasa berdosa kalau keluarga mu tidak mengetahui ini." Ucapku.


"Yakinlah padaku lia, aku akan tetap menjadi suami mu apapun yang akan terjadi kedepan nya." Ucapnya semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Terimakasih banyak atas segala pengorbanan mu mas." Ucapku sambil terisak.


"Apapun yang ada dalam dirimu itu sudah menjadi tanggung jawabku, termasuk anak yang ada dalam kamndungan mu ini." Ucapnya sambil mengelus perutku yang masih rata.


"Apa kamu tidak jijik dengan ku mas? Aku hanya seorang pendosa." Tatapku.


"Siapa yang bilang kamu pendosa? Kamu hanya korban kebangs*tan pria beja* itu."


"Tapi maafkan aku lia, sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkan dia meskipun ia iparmu." Ucapnya menekan kan.


"Iya mas, aku juga tidak akan pernah memaafkan perbuatan nya padaku, karena dia sudah menghancurkan semua cita cita yang sudah aku impi impikn." Ucapku sambil menyeka air mata ini.


"Mas apa boleh aku bertanya sekali lagi?" Tatapku.


"Hmmm boleh nggak ya? Kok aku serasa disidang ya dengan berbagai pertanyaan?" Ucapnya meledek.


"Iiih mas ah, aku serius ini mas, jangan d ajak becanda aja." Sungutku berpura pura.


"Iya iya deh, maaf ya, soal nya muka kamu itu lo tegang banget kayak kanebo kering." Ucapnya lagi sambil mencubit pipiku.


"Kamu mau tanya apa lagi?"


"Mas, apa alasan mas mau menyetujui perjodohan kita ini? Padahal kan kita tidak saling mengenal sebelum nya, dan kita tidak pernah bertemu sebelumnya." Tanya ku serius.


Mas farukh menatap ku dalam.


"Kalau aku boleh jujur, sebenarnya awal mula mas bambang ingin menjodohkan kita itu mas masih sempat ragu, karena betul kata kamu tadi kalau kita belum mengenal satu sama lain."

__ADS_1


__ADS_2