
hari telah menunjukkan waktu makan siang,tak terasa perut ku sudah keroncongan. Ternyata pekerjaan sebagai admin dikantor lebih sibuk dari pekerja lapangan, tetapi biarlah yang penting aku tak perlu berjalan jalan jauh agar tidak ada masalah pada kandunganku.
" Hai Li mau makan siang bareng nggak?" ajak rani saat aku hendak keluar dari kantor.
" boleh Ran Apakah kamu tidak ada kelapangan hari ini? "ucapku heran karena jam makan siang biasanya dia tidak ada di kantor.
" ada kok tapi aku cepat balik ke kantor karena tadi Bos menelpon ada perlu. "ucapnya lagi.
kami pun pergi ke kantin yang ada di sebelah kantor ini saat kami sedang menyantap makanan tiba-tiba datang Putri dan Rafa.
" Hai Boleh gabung nggak Katanya "ucap Putri yang sudah dulu duduk tanpa kami persilahkan.
" gimana bilang nggak boleh wong kamu aja udah duduk duluan. "ucap Rani menyindirnya.
" Kamu kenapa siaran kayaknya nggak suka banget Aku di sini." ucap Putri mendengus kesal.
" itu kamu tahu Ngapain kamu ke sini hus hus pergi sana jauh-jauh. "ucap Rani Ketus.
aku yang melihat perdebatan Mereka pun menengahi mereka.
" sudah-sudah Kalian ngapain bertengkar nggak enak dilihat sama orang. Lagian kalian ini kenapa sih sebelumnya perasaan kalian ini baik-baik aja deh dan. "ucapku heran.
" Nggak tahu tuh si Rani kesel aja bawaannya sama aku entah apa salahku padanya. " jawab Putri sambil memangku tangannya di depan dada.
" udahlah Guys kita itu sudah berteman lama jadi nggak perlu lah kalian bermusuhan seperti ini. "akhirnya Rafa menimpali.
akhirnya kami pun makan siang berempat di kantin.
" Oh iya Li Kamu apa kabar Kenapa beberapa hari ini kamu tidak masuk kerja? "tanya Rani padaku.
" suamiku masuk rumah sakit dia kecelakaan ditabrak orang dari belakang. " ucapku sedih dan menunduk.
" apa?? kok kamu nggak kasih tahu sih Lia aku kan bisa melihatnya di rumah sakit. memangnya siapa sih yang menabrak nya? Apakah kamu tahu orangnya?" tanya Rani beruntun.
" tahu, kakak iparku yang melakukannya titik Katanya sih dia disuruh oleh orang yang bernama Robi. "ucapku akhirnya mengangkat kepala dan melihat ke arah teman-temanku.
__ADS_1
seketika Rafa pun terbelalak dan mukanya sedikit pucat.
" Kamu kenapa Raf sepertinya terkejut. Apakah kamu mengenali orang yang nama Robi itu? "tanya Rani pada Rafa yang sadar akan raut wajahnya.
" Robby?? Aku nggak tahu tuh siapa yang namanya Robi. Lagian Kamu kenapa curiga sama saya Ran? Emangnya Apa hubungan saya dengan kecelakaan yang menimpa suaminya Lia.. jawab Rafa sedikit gugup.
" aku kan cuma nanya Raf Kenapa kamu marah dan terlihat gugup. "ucap Rani lagi.
kami dapat melihat ekspresi wajah Rafa yang berubah akupun memikirkan hal yang sama dengan Rani Apakah Rafa berbohong dan Sebenarnya dia mengetahui siapa itu Robi. tapi aku tidak punya bukti dan tidak bisa menuduhnya.
" Apaan sih kamu Ran kamu selalu suudzon pada kami berdua. Memangnya apa yang menimpa sama Lia itu ada hubungannya dengan Rafa atau aku? " Sepertinya kamu itu memiliki dendam kesumet dengan kami berdua. "ucap Putri membela Rafa.
"Ya sudahlah guys tidak perlu lagi kita perpanjang perdebatan ini." ucapku akhirnya.
akhirnya mereka pun diam. dan kami pun kembali menikmati makanan kami masing-masing.
hari sudah menunjukkan pukul lima sore,itu artinya kami akan bersiap siap untuk pulang.
"aku duluan ya li,soal nya ada keperluan sedikit. nggak apa apa kan kamu aku tinggal."ucap rani padaku saat aku hendak menyandang tas untuk siap siap pulang.
akupun gegas keluar kantor dan memesan taksi online.
"Biasanya aku selalu menunggu suamiku untuk dijemput,tetapi sekarang beliau lagi sakit,kasihan sekali suamiku."gumamku sendiri.
tak menunggu waktu lama datanglah sebuah mobil hitam merk avan** tepat dihadapanku. tanpa ragu akupun menaikinya dikursi bagian tengah.
"sesuai titik ya pak."ucapku yang dibalas anggukan kepala olehnya.
selama dalam perjalanan aku terus berusaha untuk menghubungi mas faruq,tetapi tidak di angkat.
"apa mas faruq lagi istirahat ya?makanya dari tadi telepon dari ku tak ada yang di angkat. Lebih baik aku cepat cepat aja, takut terjadi apa apa dengannya." ucapku mencemaskan suamiku.
aku pun meminta pada sopir taxi online untuk mempercepat laju kendaraan nya.
saat memasuki perempatan laju mobil terus lurus dan aku pun bingung,kenapa mobilnya lurus sedangkan menuju rumahku itu belok kiri.
__ADS_1
"pak seperti nya bapak terlewat, rumah saya belok kiri,ini kenapa bapak malah lurus."Tanyaku heran.
"jalan tadi itu lagi dalam perbaikan buk,makanya saya ambil jalan lurus, saya mencari jalan alternatif lain buk."Ucapnya tanpa menoleh ke arahku dan fokus kejalanan.
akupun hanya mengangguk saja, karena setahuku tadi pagi aku lewat tidak ada perbaikan. Mungkin tadi siang jalan itu diperbaiki.
Tetapi semakin lama jalan yang aku tempuh seperti semakin jauh saja dari tempat tinggalku.
"Sebenarnya kita mau ambil jalan yang mana ya pak,kok semakin jauh saja dari rumah saya."ucapku mulai takut.
Bapak itu pun tak menjawab pertanyaanku. Akupun semakin cemas,apakah saya diculik? Akuoun berusaha tenang dan mencoba menghubungi nomor mas faruq.
"tuut tuut tuut dalam panggilan ke tiga baru teleponku diangkat.
"Hallo assalamu'alaikum mas, kamu dimana? ak..."belum selesai aku berbicara dengan mas faruq tetapi hp ku sudah direbut oleh seseorang yang duduk dikursi paling belakang.
akupun terkejut dan tak menyangka ternyata ada orang lain yang juga didalam mobil tersebut.
aku semakin cemas saja saat melihat nya memakai penutup muka.
"Kamu siapa? apa yang kamu lakukan disini? kembalikan hp ku."ucapku berusaha merebut handphoneku yang dirampasnya tadi.
"Sebaiknya kamu diam,dan jangan banyak tingkah,kalau tidak saya tidak akan segan segan melukaimu."ucapnya mengancam dengan sebilah pisau yang telah ditodongkan kearahku.
akupun semakin takut, takut kalau terjadi apa apa dengan ku dan juga bayi dalam kandunganku.
aku sudah sangat teledor kenapa sebelum naik aku tidak memeriksa terlebih dahulu apakah didalam mobil itu ada orang lain atau tidak.
"Tolong jangan lukai saya pak, kalau bapak mau harta saya silahkan di ambil, tetapi tolong lepaskan saya." Ucapku menyerahkan tas ku.
Saya berjanji tidak akan melaporkan hal ini ke polisi, tolong lepaskan saya pak, kasihanilah saya, saya sedang hamil." Ucapku memohon pada mereka supaya mereka tergerak hatinya untuk melepaskanku.
Mereka pun saling bertatapan dari kaca spion mobil.
"Saya mohon pak, tolong lepaskan saya." Ucapku yang mulai menangis.
__ADS_1
Padahal seberat apapun masalahku biasanya tak sampai aku menangis. Ini mungkin hormon kehamilan membuatku sedikit melow.