Ayah Pengganti Buat Anakku

Ayah Pengganti Buat Anakku
Ikhtiar pertama


__ADS_3

"Kamu sudah siap sayang?" Tanya suamiku.


"Insha Allah mas." Jawabku.


Saat itu juga mas farukh mulai mendekat padaku, dan mata kami pun beradu. Ada desiran aneh pada dadaku, aku tak sanggup rasanya untuk memberikan hak suamiku saat ini, tetapi aku juga tidak mau menjadi istri yang dilaknat Allah apabila sampai suami mengajak ke atas tempat tidur tetapi istri menolaknya.


Aku yakinkan diri ini bahwa ini semata mata hanya menginginkan ridho sang ilahi, dan semoga dengan aku berhubungan dengan mas farukh, trauma ku segera hilang karena sudah ada jejak mas farukh.


Aku pun semakin terhanyut saat mas farukh mencumbuiku, dan berhasil melepaskan semua pakaian kami.


"Kamu sudah siap sayang." Ucapnya menggebu.


Aku pun hanya bisa menganggukkan kepala.


"Bismillahirrahmanirrahim." Mas farukh pun membaca do'a khusus untuk pasangan suami istri tepat didekat telingaku.


Lima menit kemudian mas farukh pun telah selesai dengan ritualnya.


Kami pun segera membersihkan diri.


"Lia kesini sebentar." Ucap suamiku setelah melihat aku telah selesai berganti pakaian.


"Ya mas ada apa?" Tanya ku seraya duduk disebelahnya.


"Maafkan aku ya sayang, sepertinya penyakitku belum sembuh, dan aku tahu kamu pasti kecewa, karena kamu belum selesai tetapi aku sudah." Ucapnya bergetar.


Ternyata mas farukh tahu kalau aku belum mencapai ******* nya tadi. Tetapi aku tidak boleh membuat suamiku semakin bersalah.


" Tidak apa apa kok mas, bagi ku itu tidak jadi masalah. Yang penting bagiku kamu sudah puas dan merasa senang." Ucapku tersemyum tulus.


"Iya, tapi aku merasa menjadi suami yang gagal dalam memuaskan mu." Ucapnya lagi.


" Bagiku itu tidak menjadi beban mas, yang terpenting bagiku kamu menyayangiku dengan tulus dan menerima semua keadaanku."


"Kita harus sama sama berjuang ya mas untuk rumah tangga kita, agar kita menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah, aamiin."


"Terimakasih ya sayang telah mengerti keadaan mas. Mas janji mas akan tetap berusaha agar mas bisa sembuh. Dan mas juga akan kembali konsultasikan masalah ini ke dokter." Ucapnya mulai tersenyum.


"Iya mas, kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar, selebihnya kita serahkan kepada dzat pemberi kehidupan yaitu Allah SWT."


"Semoga ikhtiar nya mas bisa berbuah manis. Aamiin."

__ADS_1


"Yuk mas kita tidur, aku udah capek banget rasanya." Ajakku.


"Baiklah sayang, moga mimpi indah ya, dan anak ayah juga, semoga sehat sehat selalu ya nak didalam sana." Ucapnya sambil mengelus perutku.


Keesokan hari nya seperti biasa aku selalu bebersih badan dan siap siap untuk shalat subuh. Alhamdulillah akhir akhir ini aku sudah mulai jarang yang namanya morning sickness.


Pada awal hamil dulu aku selalu mengalami mual muntah setiap pagi, sampai untuk makan pun aku enggan karena takut makanan nya akan kumuntahkan lagi.


"Mas nnati aku ijin keluar ya, soalnya nanti aku sama tim kerja mau survei lapangan dan membagi bagikan brosur baru ke masyarakat."


Sekaligus memcari calon costumer yang akan membeli kendaraan." Ucapku kala kami sedang sarapan.


"Boleh, tapi kamu nggak boleh terlalu keras kerja nya, kalau capek bilang sama teman teman untuk istirahat. Apa perlu mas temani?" Ucapnya.


"Iih mas, masa iya aku ditemani kamu kerja, ya malu lah mas, apa kata teman teman ku dan bos ku nanti mas."


"Ya udah tapi ingat pesan mas tadi, mas nggak mau kamu kenapa kenapa, ok." Ucapnya lagi.


" Siap delapan enam komandan." Ucapku sambil hormat padanya.


Selesai sarapan kami pun berangkat kerja. Terlebih dahulu mas farukh mengantarkan aku baru ia berangkat ketempat kerja nya.


"Syukur syukur kita mendapatkan costumer baru." Ucap putri tiba tiba setelah mas farukh pergi.


"Wah banyak juga ya, apa kita pake kendaraan atau jalan kaki put?" Tanya ku lagi.


"Ya kali jalan kaki li, yang ada meletus ni betis. Kita pakai motor aja bonceng boncengan." Ujar putri lagi.


"Ya udah, kalau gitu aku boncengan sama kamu aja ya put." Kataku.


"Yah maap li, si rani katanya mau boncengan sama aku karena motornya rusak." Ujar nya lagi.


"Yah, trus aku sama siapa dong?" Tanyaku lagi.


"Sama aku aja li." Ucap rafa yang tiba tiba datang.


Aduuh gimana ini, nggak mungkin aku boncengan sama laki laki, nanti yang ada mas farukh marah lagi kalau ia tahu. Gumamku.


"E eh nggak usah raf, aku nggak enak sama kamu." Ucapku menolak.


"Udah nggak apa apa kok li, sama teman gini. Kalau kamu takut sama suamimu telpon aja li,m minta ijin." Ujar putri.

__ADS_1


"Hmm ya udah deh aku ijin bentar dulu ya sama suami aku." Ucapku sambil sedikit menjauh.


Tuut tuut tuut, aku pun menelpon mas farukh.


"Kok nggak di angkat sih? Gumamku. Aku oba lagi aja ah."


Tuut tuut tuut." Tetap tak di angkat juga. Apa mungkin masih diatas motor ya makanya telpon aku nggak di angkat dan nggak kedengeran sama mas farukh."


"Ya udah deh, lebih baik aku kirim pesan aja ke mas farukh, toh nanti juga di baca sama mas." Gumamku lagi.


Belum sempat mengirim pesan, tiba tiba hp ko lowbat.


"Yah yah, mati deh. Gimana ini, gimana ceritanya aku mau pamit sama dia kalu ho mati gini."


"Apa aku pinjam aja ya hp nya si putri, trus telpon mas farukh."


Gegas ku ketempat teman teman ku yang sudah menungguku tadi.


"Maaf ya lama, soalnya nggak di angkat sama suami aku."


"Yang ada ini malah mati hp nya."


"Oh ya put boleh nggak aku pinjam hp kamu sebentar buat nelpon suamiku." Tanyaku pada putri.


"Boleh,nih." Ucapnya menyerahkan hp nya.


"Makasih ya put, eh kamu punya nomor suamiku nggak?"


"Mana punya aku nomor suamimu lia, wong aku belum pernah telponan sama suami mu." Ucapnya nyengir.


"iiih apaan sih put." Ucap rani menyikut putri.


"Ya kan betul ran, aku kan nggak pernah telponan ama suami nya si lia, dan lia juga nggak pernah memberikan nomor telpon suami nya ke aku." Ucapnya tak kalah.


"Aduuh kenapa aku sampai lupa ya, kan iya memang kalau kalian nggak ada yang tahu nomor nya mas farukh ya."


"Aku sendiri pun nggak hafal juga nomor nya." Ucapku menggaruk kepala yang tak gatal.


"Ya udah,gini aja li, lebih baik sekarang kita pergi aja dulu, nanti pas pulang kerja baru deh kamu kasih tahu suamimu kalau tadi survey lapangan nya di boncengin sama rafa." Ucap rani memberi ide.


Kami pun berangkat ketempat pertama, dimana area nya lumayan jauh dari kantor.

__ADS_1


__ADS_2