Ayah Pengganti Buat Anakku

Ayah Pengganti Buat Anakku
lia masuk kerja kembali


__ADS_3

Sesampai nya di tempat kerja.


"Hai lia, ma'af ya kemarin kita nggak bisa hadir di acara pernikahan kamu, soalnya kita lagi kejar deadline nich, sorry ya." Ucap rani teman se tim ku.


"Oh ya gak papa santai aja, aku ngerti kok,malahan aku mau minta maaf sama kalian kalau aku lama cuti nya, jadi nya kalian keteteran deh, maaf ya." Ucapku pada mereka.


" Ya elah li, kamu tuh seharusnya lebih lamaan lagi cuti nya, lebih banyak lagi honey moon nya, biar cepat kasih ponakan pada kita semua. Iya nggak geng." Ujar putri teman se tim ku yang lain.


Aku pun terkejut mendengar penuturan teman ku itu, kalau seandainya mereka tahu yang sebenarnya apakah mereka masih mau ya menerimaku sebagai teman atau bahkan berbalik memusuhiku.


Tapi aku coba untuk se natural mungkin agar semua rekan kerja ku tidak ada yang tahu kalau aku sedang berbadan dua.


Ada sesekali aku terasa mual, tetapi sebisa mungkin aku tahan, karena aku takut ketahuan, dan bisa bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan ini.


Karena aku sudah sangat betah sekali bekerja disini, selain suasana kerja nya yang bagus juga teman teman se tim ku pada baik semua.


Kami berlima se tim, 3 cewek dan 2 cowok. Yang cowok bernama randa dan rafa. Mereka semua teman ku yang baik baik.


" Oh ya li, tuh c rafa kayak nya patah hati sama lu deh, soal nya sejak terakhir lu memberitahukan pada kita kalau lu mau merit, dia kayak nggak semangat gitu kerjanya." Ujar putri ceplas ceplos. Karena sosok putri itu memang periang.


"Apaan sih lu put, pake dibahas tu si rafa, yang ada nanti si lia nya kepikiran dan nggak fokus lagi kerjaan nya."


"Dan kalau kedengeran sama suami nya lia kan berabe." Ujar rani.


"Hehehe, maaf ya li, gua becanda kok. Jangan dimasukkan dalam hati ya, tapi masukin aja ke perut biar kenyang, Hihihi." putri nyengir.


"Udah ah,kalian ini ada ada aja, nanti dilihat bos kalau kita asyik ngobrol terus baru tahu rasa, aku nggak mau tanggung jawab lho. Dah ah aku mau cek brosur baru dulu, biasanya seminggu sekali pasti ada barang baru." Ucapku seraya berlalu.


Dari kejauhan terlihat sesosok pria yang memperhatikan lia dari tadi, siapa lagi kalau bukan rafa.


"Lia, kenapa kamu tega sama aku, kenapa kamu tidak memberikan kesempatan padaku untuk mengenal mu lebih jauh lagi, kenapa kamu mau di jodohkan lia." Ujarnya berbicara sendiri.


"Aku akan tetap berusaha agar kamu bisa berpisah dari laki laki itu, karena yang pantas bersanding dengan mu hanya lah aku, ya hanya rafa lia." Ucapnya.


Saat mau pulang kerja aku dicegat oleh rafa.

__ADS_1


"Hai li, mau pulang bareng nggak? Tanya nya.


"Hmmmm makasih raf, tapi aku di jemput suami." Ucapku berusaha menolak secara halus karena takut ia akan tersinggung.


"Ooh ya sudah kalau begitu li, aku duluan ya." Ujar nya seraya berlalu.


"Huuuf syukurlah, mudah mudahan dia nggak marah sama aku." Gumamku.


Tak berselang lama, "tiiin tiin, yuk sayang kita pulang, kamu udah lama nungguin mas?" Ucap suami ku yang tiba tiba sudah ada dihadapanku.


"Astaghfirullah mas, kaget aku mas, untung nggak jantungan aku." Ucapku mengelus dada.


"Loh kok kamu terkejut? Aku pikir kamu udah liat aku, makanya aku langsung nyamperin kamu." Ucapnya heran.


"E eh maaf mas, aku nggak liat kamu datang tadi." Ucapku gugup.


"Masa sih, tapi tadi kayak nya kamu lagi lihat ke arah mas deh." Ucapnya sambil mengernyitkan kening.


Aduuh, gimana ini, tadi aku kan ngeliat si rafa sampai ngilang, karena segan tawaran nya aku tolak, dan bodoh nya aku malah melamun setelah rafa hilang.


"He he, ya udah yuk mas, kita pulang aja, udah sore nih, aku capek sekali rasanya mas." Gegas ku duduk dibangku belakang dan memeluk pinggang suamiku.


"Ya udah yuk." Motorpun melaju kekediaman kami.


Sesampainya dirumah, aku pun langsung ke dapur guna memasak untuk suami tercinta.


"Loh lia, kok kamu masak? Udah nggak usah masak biar mas aja yang masak ya. Nanti kamu kecapekan lagi, ntar dedek bayi nya ikut kelelahan juga." Ucap suamiku.


Duuuh so sweet banget sih kamu mas, ya Allah aku sangat berterimakasi padamu karena engkau telah menghadirkan untukku seorang imam yang baik dan pengertian seperti mas farukh.


"Emang mas nggak capek juga mas? Udah biar aku aja yang masak mas, aku nggak apa apa kok." Ucapku.


" Kalau begitu kita berdua aja yang masak gimana?" Ajaknya.


" Emangnya mas bisa masak?" Tanya ku ragu ragu kalau ia pandai masak.

__ADS_1


"Eeh ternyata istri nya mas ini belum tahu ya kalau mas mu ini adalah koki handal keluarga santoso." Ucapnya nyengir.


Santoso adalah nama bapak nya mas farukh.


" Iya deh aku percaya." Ucapku tersenyum.


Selesai masak dan makan malam kami pun berbincang bincang didalam kamar karena waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan.


"Lia, apa tidak sebaiknya kamu resign dari kerjaan kamu ya, mas takut kamu kelelahan dan berdampak pada kandungan mu." Ucapnya tiba tiba.


" Memang nya kamu nggak suka ya kalau aku bekerja mas?" Ucapku menunduk.


" Bukan nya tak suka, cuma aku hanya khawatir akan kesehatan kamu dan keselamatan anak kita, itu aja kok." Ucapnya lagi sambil menatapku.


"Tapi aku bosen mas kalau harus duduk duduk aja dirumah. Aku mau ada kegiatan agar aku nggak suntuk." Kataku lagi.


" Yasudah kalau begitu mau kamu. Tapi kamu harus jangan terlalu kecapekan. Ingat dirahim mu sedang berkembang anak kita." Ucapnya tegas.


"Iya mas, aku janji. Makasih ya mas karena udah ngijinin aku." Ucapku sambil memeluk mas farukh.


"Hmmmm,, lia apa kita bisa memulai mencoba nya sekarang." Ucapnya tiba tiba.


"Hah, apa mas? kamu mau kita mencoba nya sekarang?" Tanya ku ragu.


"Iya lia, apa kamu udah siap lia?" Tanyanya balik.


Aku sebenarnya masih takut dan masih sedikit trauma tentang berhubungan, karena hampir tiap malam bayang bayang disaat lelaki bej** itu merampas semua nya masih teringat jelas di kepalaku.


Tetapi ku tak pernah mengatakan nya pada mas farukh, takutnya nanti ia akan marah padaku.


"Lia, apa kamu mau?" Tanya nya lagi.


"Bismillahirrahmanirrahim. Baiklah mas, mari kita coba." Ucapku sambil menghembuskan nafas berat.


"Kalau begitu kita shalat sunnah du rakaat dulu yuk." Ajaknya.

__ADS_1


__ADS_2