
Dira menyentuh sudut bibirnya yang perih setiap ingin terbuka, dan entah sudah berapa kali dia lakukan. Dira terus berjalan dengan menunduk kepalanya, meski dia tahu, sepagi ini juga pasti hanya beberapa siswa yang datang. Dia ingin mengambil waktu sendiri duduk di taman belakang sekolah.
Tempat itu awal hanya miliknya, hanya dia yang tahu, tapi sejak Mika memaksa nya untuk bicara, jadi tempat itu diketahui oleh Mika.
Hanyut dengan pikirannya, membuat gadis itu terus menunduk dan tanpa sengaja membentur dada seseorang yang berdiri di jalan yang dia lalui tida jauh dari gerbang sekolah. Dira terhenyak kaget, lalu mengangkat wajahnya tanpa sadar hingga pria itu bisa melihat air mata di bola mata indah itu.
Rahang Mika mengeras, menatap tajam genangan air mata yang memaksa turun itu. Siapa'lah Mika, pria yang paling dia benci dan berharap tidak ingin dia temui, tapi entah kenapa justru bertemu pria itu pagi ini dalam suasana hati yang pilu seperti ini justru membuat Dira tidak bisa menahan air matanya.
"Lu kenapa?" tanya Mika menatap tajam wajah gadis itu yang kembali menunduk. Dira tidak ingin menjawab, lalu tanpa kata memilih memutar menghindari tubuh tinggi besar pria itu.
Peraturan pertama, jangan pernah mengabaikan Mika. Tidak ada seorang pun yang boleh cuek padanya saat dia bicara.
Merasa tidak dihargai, Mika menarik tangan Dira kasar menuju tempat yang awalnya ingin dituju Dira. Pria itu banyak pertanyaan yang harus dijawab Dira.
Dira mencoba menarik tangannya tapi tidak bisa, sia-sia, tentu saja tenaga Mika jauh berkali lipat darinya.
Mika sendiri tidak tahu kenapa pagi ini harus datang ke sekolah setelah hampir dua Minggu tidak hadir. Malamnya terusik bayangan Dira dengan tatapan mata sedihnya saat Lily naik ke atas motornya. Hingga pagi ini dia datang ke sekolah sangat pagi, bahkan satpam sekolah pun merasa heran atas kehadirannya.
Dia tidak pernah peduli pada siapapun di dunia ini kecuali ibunya. Namun, tiba-tiba saja sosok Dira mampu menembus rasa kepeduliannya. Berulang kali Mika mengingatkan bahwa dia mengambil gadis itu jadi pacarnya untuk membuat Anja marah sekaligus balas dendam.
Keduanya duduk di bangku kayu di taman itu. Sepi, hening, hanya terdengar suara burung berkicau, angin pagi yang lembut membelai wajah mereka.
__ADS_1
"Lu kenapa? Siapa yang melukai bibir lu?" tanya Mika tanpa menoleh ke arah Dira, gengsi, dong!
Dira diam, hanya menunduk, mengamati batu yang ada di depan sepatunya dan menyepak baru itu ungkapan kesalnya. Dia benci harus dilihat Mika mewek pagi ini, jangan sampai pria itu beranggapan kalau dia bisa menindas Dira nantinya karena melihatnya begitu cengeng.
Dira mengutuk keadaannya. Kenapa harus begini jalan hidupnya. Dia bukan tidak tahu bersyukur, tapi kenapa dia tidak bisa menjalani hidup dengan tenang, bekerja mencari uang tanpa harus dipedulikan oleh sekeliling. Dira ingin hidupnya diabaikan orang lain karena sejak dulu dia memang tidak pernah diperhatikan. Anggap saja dia sudah mati!
Perkataan Merlin yang mengatakan kalau dirinya pembawa sial hingga ibunya meninggal, dan juga anak yang tidak tahu diri, gadis murahan dan ibunya pasti menyesal telah melahirkannya.
Segampang itu Merlin melukai hati dan menjatuhkan mentalnya. Tidak puas Tante dan juga putrinya itu menyakiti dengan kekerasan bisik harus ditambah dengan perkataan menyayat hati.
Benarkah ibunya menyesal telah melahirkan dirinya? Benarkah dia memang tidak diharapkan hadir di dunia ini? Kembali Dira mengingatkan ibunya. Satu-satunya orang yang menyayanginya. Jangan tanya kemana ayahnya. Pria paling dia benci, setelah Burhan, suami Merlin yang pernah berniat melakukan pele*cahan seksual padanya.
Hidup Dira lengkap dengan penderitaan yang tiada habisnya. Dan kini saat Lily jatuh cinta tapi bertepuk sebelah tangan, harus Dira juga yang disalahkan. Kenapa dia tidak mati saja?
"Bukan urusanmu! Gak perlu kau tanya! Ini semua juga karena kau! Kenapa sih kau tolak Lily? Aku yang jadi dipukul ibunya!" teriak Dira yang hanya bisa dia katakan dalam hati. Dia ingat perintah Merlin, jangan sampai Mika tahu kalau dia dan Lily adalah sepupu dan tinggal satu atap.
"Lu dengar gua? Jawab, bukan malah pelototi gua!" Kembali Mika menyentak ketenangan Dira. Gadis itu semakin sedih, merasa semua orang memperlakukannya sesuka yang mereka mau.
"Bukan urusanmu! Gak usah sok-sokan peduli sama aku!" Dira memutar tubuhnya menyerong menghadap ke arah Mika untuk bisa melihat wajah pria itu saat melontarkan kalimatnya.
"Gua bukan peduli, tapi lu milik gua, hanya gua yang bisa melakukan apapun yang gua suka sama lu!" jawab Mika menangkup dagu gadis itu, lalu keduanya saling adu tatap.
__ADS_1
Dira segera mendorong Mika hingga melepaskan wajahnya. "Bisa gak kau lepaskan aku. Aku muak, benci dengan mu. Beban hidupku juga udah berat. Sikapmu ini buat aku sesak dan berharap mati saja!" umpat Dira tidak tahan lagi, menangis sejadi-jadinya. Dia tidak tahan dengan tatapan pria itu yang terlihat mengasihinya.
"Gua gak bisa, terima aja keadaan Lo!"
"Kau memang brengsek!" umpat Dira bangkit berdiri, tapi Mika menarik tangan gadis itu hingga Dira hilang keseimbangan dan justru terduduk di pangkuan Mika.
Spontan menyelamatkan diri, Dira justru melingkarkan lengannya di leher Mika dan kembali mata mereka saling tatap.
"Please, jangan menangis!" ucap Mika begitu lembut hingga sulit dipercaya oleh gadis itu kalau orang yang baru saja bicara itu adalah preman sekolah, geng motor yang dianggap sampah masyarakat.
Dira hanya bisa diam, masih menatap mata Mika yang tajam, berbahaya, tapi justru membuatnya tenang.
Entah sudah berapa lama mereka dalam posisi begitu, hingga bel sekolah bunyi yang menyadarkan Dira. Buru-buru gadis itu bangkit, dan tanpa berkata apapun lagi, meraih tas sekolahnya di samping Mika dan berlari meninggalkan Mika dengan debar jantung yang kacau balau. Berdegup kencang, debarnya sangat tidak biasa, seperti melihat setan saja. Oh, iya, Mika kan rajanya setan!
***
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, tapi Dira masih enggan untuk keluar kelas. Dia tidak ingin bertemu Mika. Dia masih belum bisa melihat wajah Mika yang akan membawa memori Dira pada kejadian di taman belakang sekolah.
"Kamu belum pulang?" tanya Rini yang sedikit merasa heran melihat Dira masih betah di kursinya. Biasanya begitu bel bubar bunyi, Dira pasti lebih dulu keluar kelas karena takut terlambat kerja.
"Iya, ini juga mau pulang," jawabnya tersenyum. Dia hanya perlu mengulur waktu agar Mika pergi. Kalau pria itu tidak melihatnya pasti akan pergi tanpa menunggu.
__ADS_1
Semua teman sekelasnya sudah pergi, baru lah Dira bergegas bersiap pulang, tapi gerakan tangannya memasukkan buku dan alat tulis terhenti kala melihat Anja datang dan mengambil tempat di depannya.
"Apa kabar, Dir? Aku kangen banget sama kamu."