
Dira hanya bisa diam mendengarkan perkataan kakek tua yang ternyata adalah opa Mika sekaligus pemilik sekolah tempat dia belajar.
"Hanya itu yang saya minta, dan kamu akan tetap bisa menyelesaikan sekolahmu di sini dengan gratis, dan saya pastikan kamu juga akan mendapatkan fasilitas dan beasiswa untuk kuliah dimana pun kau mau," tegas Hendardi menatap tajam wajah Dira.
Tampaknya, pria itu sudah mengantongi semua data nya. Terbukti dia tahu kehidupan Dira dan juga semua orang dalam rumah Tante Merlin.
"Bagaimana? Apa jawaban mu?" desaknya kembali, membuat Dira tidak bisa berkata-kata lagi.
Penawaran pria itu tentu saja sangat menggiurkan, tapi persyaratan yang diminta pria itu juga sangat berat, hampir tidak mungkin ingin Dira lakukan. Namun, membayangkan dia bisa kuliah tanpa harus mengumpulkan satu sen demi satu sen, membuat iman Dira goyah.
"Aku... Aku gak yakin bisa melakukannya, Pak," ucap Dira terus terang, terlalu berat dan sangat beresiko.
"Kamu harus yakin. Saya juga sudah dengar dari kepala sekolah dan juga mata-mata saya kalau cucu saya yang berandalan itu berubah hanya karena ingin menyenangkan hatimu. Kalian juga pacaran, jadi tidak akan sulit. Saya datang setelah mendapat kabar kalau Mika berubah jadi anak berandalan lagi setelah kau menolak cintanya dan memilih dekat dengan Harianja?" tanya Pak Hendardi, telapak tangannya menggenggam erat kepala tongkatnya dan Dira bergidik negeri, seperti kepala tengkoraknya saja yang ada dalam genggaman pria itu.
"Tapi aku memang tidak punya hubungan dengan Mika, Pak," jawab Dira memberanikan diri. Apa semua orang kaya sama saja? Suka memaksa?
"Dan menyukai Anja?" susul Hendardi tidak tahan.
Dira hanya bisa mengangguk lemah. Malu tapi dia tidak ingin menyangkal perasaannya.
Diam sejenak. Terdengar napas lelaki tua itu tampak berat, lalu setelah diam beberapa menit dia angkat suara kembali.
"Dira...., Kau mungkin menganggap aku pria egois. Tapi ini semua aku lakukan untuk menyelamatkan hidup cucuku. Kau boleh bicara pada Anja, meminta izin darinya agar memperbolehkan dirimu berpura-pura menyukai Mika, dan mendekati cucuku itu, hingga kembali menjadi anak yang benar. Hanya untuk sampai selesai SMA ini saja. Kakek mohon, kasihanilah Kakek," ucap pria itu yang berubah jadi lembut.
Dia sadar kalau gadis yang ada di hadapannya ini tidak bisa dipaksa. Jadi memutuskan untuk memelas belas kasih Dira.
__ADS_1
Mendengar permohonan pria tua itu, Dira jadi merasa tidak enak hati.
"Kakek mohon, ini hanya tinggal beberapa bulan lagi saja sampai selesai SMA," lanjutnya kini memegang tangan Dira.
"Maaf, tapi aku gak bisa, Pak," jawabnya lemah. Dia merasa tidak enak hati karena merampas harapan pria tua itu. Tapi sikapnya sudah benar, tidak mungkin dia mau menjadi pembohong, menjerat Mika hanya demi mendapatkan beasiswa kuliah.
"Kenapa gak bisa? Kau bahkan belum mencoba lagi. Kau juga sudah pernah dekat dengan nya meski itu hanya diklaim oleh Mika sendiri, dan perubahan yang dia lakukan hanya semata-mata karena ingin menyenangkan hatimu," terang Hendardi masih sabar menjerat belas kasih Dira. "Satu lagi, jangan panggilan aku 'Pak', panggil aku Kakek!"
Glek!
Dira merasa sulit sekali menelan salivanya. Apa yang harus dia jawab. Pria yang punya kuasa itu pasti tidak akan melepaskannya sampai dirinya menyanggupi permintaan sang pemilik sekolah ini.
"Ka-kek," ucapnya gugup dan terlihat canggung karena diminta memanggil Tuan Hendardi dengan sebutan 'Kakek'.
"Aku takut kalau ketahuan oleh Mika. Kakek Tah sendiri gimana seramnya Mika," jawab Dira lemah.
Dira sempat bingung dan bertanya siapa pria itu, tapi paham lah dia kala mengambil tempat di depan Dira lalu membuka tasnya, mengeluarkan secarik kertas yang sudah dikonsep dan hanya perlu dibubuhi oleh tanda tangan Dira.
"Kamu silakan tanda tangan di sini," ucap pria yang ditebak Dira adalah pengacara keluarga Hendardi.
Tentu saja Dira tidak serta merta langsung menandatangani surat itu. Dia mengambil dan membacanya terlebih dahulu.
Di sana tertulis mengenai isi perjanjian mereka secara detail dan padat jelas.
Tugasnya hanya satu, memandu Mika menyelesaikan sekolahnya dengan tepat waktu dan mendapatkan nilai yang bagus sampai tamat sekolah menengah atas, dan sebagai imbalannya Dira akan mendapatkan sejumlah uang yang digunakannya untuk memenuhi kebutuhannya dalam bentuk deposito, serta mendapatkan beasiswa penuh, dimanapun gadis itu ingin melanjutkan pendidikannya kelak.
__ADS_1
Tertulis juga bahwa Tuan hendardi tidak memaksa Andira Putri untuk melakukan tugas itu. Dia melakukannya dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan oleh siapapun.
Poin berikutnya diterangkan bahwa isi perjanjian itu hanya boleh diketahui oleh pihak pertama yang dimaksud Tuan Hendardi sendiri, dan pihak kedua adalah dirinya.
"Bagaimana, ada poin yang ingin kamu tambahkan?" tanya sang pengacara melihat wajah Dira yang setelah selesai membaca surat itu.
"Bagaimana kalau aku gagal, Kek?" tanya Dira. Dia tidak yakin, karena saat ini hubungan komunikasinya dengan Mika sedang kacau. Bahkan bisa dibilang bahwa saat ini Mika sangat membenci dirinya. Jangankan untuk mendekati pria itu, mengajaknya bicara saja belum tentu Dira berhasil.
"Kau akan dikeluarkan dari sekolah!" hardik Zen, sang pengacara mewakili Tuan Hendardi.
Wajah Dira pucat. Dia menoleh pada Hendardi, mencari kebenaran atas perkataan Zen.
"Berusahalah! Jangan terlalu memikirkan kegagalan yang belum tentu terjadi," ucapnya tersenyum lembut. Hendardi tampaknya sudah menyukai karakter Dira. Dia yakin kalau cucunya itu bisa suka pada Dira, bahkan mau melakukan hal yang sangat bertolak belakang dengan keinginannya sendiri hanya demi menyenangkan seorang gadis, pastilah Dira sangat istimewa bagi Mika.
***
"Dira!" teriak Anja mengejar gadis itu yang sudah hampir sampai di depan gerbang pintu sebelah barat, gerbang yang dilewati anak-anak kalau mau pulang sekolah dan malas bertemu dengan para guru yang pulang lewat pintu depan.
"Dari mana aja, seharian aku cari di kelas gak ketemu?" tanya Anja saat bertemu dengan Dira yang sudah berada di dekat pintu gerbang sekolah.
"Hah? Oh, sorry, Ja. Aku lupa kasih tahu. Tadi dipanggil kepala sekolah," jawabnya kikuk. Saking pusing memikirkan perjanjian itu, Dira sama sekali tidak memikirkan hal lain, bahkan pelajaran kesukaannya di jam terakhir, tidak mampu mengalihkan pikirannya dari perjanjian itu.
"Ngapain? Apa ada masalah yang aku gak tahu?" tanya Anja serius. Dia ingin tahu setiap permasalahan yang dihadapi gadis itu, dan menjadi orang yang pertama yang membantu Dira dalam setiap masalahnya.
"Hah? Oh, gak ada kok. Cuma mau konsultasi nilai dan kampus mana yang mau aku tuju," jelasnya berbohong. Bagaimana mungkin dia bisa berkata jujur dan menceritakan mengenai isi perjanjian itu. Jelas di poin ke tiga diterangkan, bahwa dia tidak boleh menceritakan kepada siapapun mengenai perjanjian itu hanya pihak pertama dan kedua yang tahu.
__ADS_1
"Ra," panggilan Anja menahan langkah Dira dengan memegang tangan gadis itu. Kini keduanya sudah terang-terangan memadu kasih, setelah Mika tidak muncul lagi di sekolah. "Aku harap kamu gak menyembunyikan apapun dariku!"