
Dira keluar dari kamar setelah memakai baju yang tadi diberikan Mika padanya. Dengan malu-malu Dira mencari keberadaan pria itu.
Hanya ada Ken di ruang depan, main game dengan laptop sembari mengunyah kacang kulit dengan sampah berserakan di sekitarnya.
"Maaf, Mika mana?" tanya Dira lebih mendekat ke depan Ken.
Pria itu kembali menatap Dira, mengenali baju itu adalah kaos kesayangan Mika. Pernah dulu dia meminjam, tanpa sengaja mengambil dari kain laundry yang baru saja diantar, sontak Mika marah, dan meminta untuk ditanggalkannya. Tapi Mika justru dengan gampangnya meminjamkan pada Dira.
"Dia lagi mandi, di kamar mandi sebelah. Lo duduk di sini aja bareng gua, sambil nungguin dia," ucap Ken menepuk tempat di sebelahnya.
Dira duduk, tapi tidak di tempat yang ditepuk Ken, melainkan sedikit jauh dari pria itu.
"Kok malah menjauh? Aku gak gigit, kok. Percaya, deh," ucapnya menutup laptopnya begitu saja, memusatkan perhatian pada Dira.
"Lu benar pacar Mika?" tanya nya ingin memastikan. Jangan sampai dia salah bertindak. Kalau benar diantara mereka tidak ada hubungan, tidak salah kalau Ken mau masuk mendekati Dira. Baru kali ini dia jadi penasaran lihat seorang gadis.
"Mmm... Bukan. Maaf ya, aku tadi bilang gitu biar kamu izinkan masuk," jawab Dira merasa malu karena sudah mengaku-ngaku sebagai pacar Mika. Untung saja pria itu tidak dengar kalau sampai tahu bisa timbul masalah baru.
"Serius, Lu bukan pacar Mika?" tanya Ken kembali memastikan.
"Kalian lagi bahas apa?" suara Mika mengagetkan mereka. Pria itu sudah muncul di belakang, entah sejak kapan.
"Gua tanya, benar apa gak dia pacar lu, kalau kagak biar gua masuk," jawab Ken spontan. Hanya Ken dari semula anggota geng motor yang berani bicara terus terang begitu pada Mika.
Mungkin karena Ken sudah mahasiswa, jadi lebih berani terhadap Mika. Ada tiga mahasiswa yang jadi anggota geng motor Black Davil, tapi hanya Ken yang sering nginap di basecamp mereka.
"Terus dia jawab apa?" tantang Mika. Dia ingin tahu apa tujuan Dira datang. Kalau memang mereka tidak punya hubungan, untuk apa mencarinya.
"Katanya bukan. Jadi, gua bebas ya ngejar dia," lanjut Ken tanpa memperhatikan air muka Mika yang sudah kesal.
__ADS_1
"Terserah!" jawab pria itu memutar tubuhnya, melangkah menuju kamarnya dengan kekecewaan besar kembali dirasakannya.
Mengetahui niat Ken yang ingin mengejar Dira sebenarnya sudah membuat pria itu marah dan ingin memukul wajah sahabatnya itu. Namun, dia tahu tidak ada gunanya memaksakan kehendaknya lagi pula Dira sendiri tidak menyukai dirinya, jadi terserah gadis itu ingin memilih siapa yang dia sukai.
Melihat Mika menuju kamar, Dira ingat niat awalnya ingin bicara dengan pria itu.
"Lu mau apa? Ngapain ngikut gua? Bukannya lu lagi sibuk sama Ken?" tanya Mika nyolot. Bisa tidak gadis ini jangan mengguncang kesabarannya yang setipis kulit bawang?
"Tapi aku ke sini mau mencarimu," sambar Dira menahan pintu kamar yang ingin di tutup Mika dari dalam.
Pria itu menatap Dira, menimbang apa perlu mendebar apa yang dingin dibicarakannya? Tapi hatinya kembali bisa meredam amarahnya hingga membukakan pintu bagi Dira.
"Ini kamar kamu?" tanya Dira mengamati sekelilingnya. Dia baru hanya coba mengukur waktu, merangkai kata dalam pikirannya, agar pas saat mengatakan nanti pada Mika. Jangan sampai pria itu curiga padanya.
"Iya," jawab Mika singkat. Berdiri dengan menyandarkan bokongnya di depan meja belajar yang berada di depan tempat tidur. Sambil melipat tangan di dada, Mika menatap tajam ke arah Dira.
Apakah dia perlu bersikap lebih friendly? Ingat, dia harus berhasil mendapatkan kepercayaan Mika agar misi nya berhasil.
"Kamu jangan lihatin aku kagak gitu. Aku jadi gugup," jawab Dira. Kali ini gadis itu jujur.
Mika akhirnya mengambil kursi, lalu duduk di sana. Membuang pandangannya ke sembarang tempat selain ke arah wajah Dira yang sangat dia rindukan.
Lihat, kan? Betapa mudahnya bagi Dira memerintahkan dirinya. Tidak ada orang yang bisa punya kuasa seperti itu terhadap Mika kecuali Dira. Kenapa bagi Mika setiap permintaan gadis itu, dia wajib memenuhi, agar Dira tidak sedih.
"Lu kemari gak dimarahi pacar lu?" tanya Mika asal. Dia ingat kalau dia sudah mundur dari hubungan paksanya dengan Dira, dan membiarkan gadis itu memilih bersama pria yang dia sukai.
"Anja?"
"Perlu lu sebut namanya? Mau pamer depan gua?" tanya Mika nyolot, menatap kesal pada Dira.
__ADS_1
"Nah, kan, kamu marah lagi. Kenapa, sih, cepat banget naik pitam nya? Kamu darah tinggi, ya?" tanya Dira sembari tersenyum. Dan percayalah, saat itu juga dunia Mika jungkir balik.
Pesona sederhana Dira sudah menawannya hingga tak bisa ke lain hati.
"Buruan, lu mau ngapain nyariin gua?"
"Kalau aku bilang aku mengkhawatirkan mu, kamu percaya, gak?" tanya Dira. Dia bukan menggombal semata-mata karena ingin misinya berhasil. Dira memang khawatir pada Mika. Sejak pertengkaran dengan Anja, Mika sudah gak pernah masuk sekolah lagi.
"Kurang kerjaan banget lu, ngapain khawatir sama gua? Teman kagak, pacar apalagi!" hardik Mika, bergerak menyentuh atas meja belajar, mengambil sebungkus rokok lalu menyalakannya.
Begitu tarikan pertama, Dira maju, reflek menarik batang rokok yang terselip di bibir Mika.
"Jangan merokok ya, please. Setidaknya di depan aku," pinta Dira. Aku punya penyakit sesak napas, sedikit sakit kalau menghirup asap rokok," ucap Dira mengulurkan kembali rokok itu kehadapan Mika.
Pria itu tertegun melihat wajah gadis itu. Bukan ingin membuat citra sok suci, tapi benar adanya Dira memang sulit bernapas di dekat perokok.
Lagi-lagi Mika mengalah. Melempar rokok itu dengan kasar ke atas meja, lalu menatap Dira dengan sorot tajam seolah mengatakan, 'Puas?'
"Makasih, ya," jawab Dira kembali tersenyum dan lagi-lagi kena di hati Mika. Lama-lama Mika benar-benar kena serangan jantung kalau begini. Sadar gak, sih, Dira kalau hal kecil seperti itu siapa bisa niat ketua geng motor itu meleleh?
"Mika, besok kamu sekolah, ya," pinta Dira tiba-tiba yang buat Mika menengadah.
"Aku mohon. Kita udah kelas tiga. Kamu harus serius sekolah. Hanya tinggal beberapa bulan lagi, biar kamu bisa lulus ujian nasional nanti," ucap Dira penuh harap.
Ini bukan soal misi dan janjinya pada Tuan Hendardi, tapi tulus dari dalam hati Dira, dia ingin Mika juga punya masa depan. Dia tahu, di balik sikap dingin dan kerasnya, pria itu memiliki hati yang baik, hanya saja kekecewaan yang pernah dia rasakan dalam hidupnya, membuatnya tidak percaya pada siapapun.
"Gua gak mau!"
"Aku mohon. Aku janji akan bantu kamu belajar. Kapan pun kamu butuh, aku akan datang," ucap Dira tanpa sadar sudah membuka pintu untuk kisah mereka nantinya.
__ADS_1