
Bugh!
Satu tumbukkan keras melengking di dekat telinga Dira, sampai berhasil membuat bola mata indahnya terpejam. Dia tidak berani untuk membuka matanya kembali untuk beberapa detik ke depan. Embusan napas Mika masih bisa dia rasakan menyapu kulit wajahnya.
"Apa Lu pikir semua ucapan gue pepesan kosong? Ngapain Lo pake acara cium tangan segala sama si bangsat itu?" teriaknya di depan wajah Dira. "Buka mata Lo!"
Dira pasrah pada nasibnya kali ini. Kalau tadi perempuan yang menjadi lawannya, sudah pasti Dira akan melawan, ini saja dia sempat melakukan perlawanan kala pria itu menyeret tangannya ke belakang sekolah, tapi sia-sia karena tenaga Mika pasti lebih kuat darinya.
Begitu mereka tiba di belakang sekolah, Mika langsung mendorongnya hingga ke tembok lalu menumbuk dinding dengan penuh amarah.
Jantung Dira rasanya hampir berhenti. Mana dia tahu kalau mata-mata pria itu memantaunya hingga ke tempat kerja Dira.
"Lo mau mati, ya?" umpatnya sambil mencengkeram kuat dagu Dira hingga air mata Dira hampir menetes, tapi gadis itu masih berusaha dengan kuat menahannya.
Dengan sisa tenaga, Dira mendorong tubuh Mika yang memiliki jarak diantara mereka.
"Dasar brengsek! Kau pikir kau siapa menakuti ku? Bajingan!" umpat Dira dengan serak, dua tetes air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya keluar dari sudut matanya, buru-buru diseka dengan punggung tangannya. Dia tidak sudi kalau Mika melihat dia menangis.
__ADS_1
"Aku gak takut! Kali mau apa? Terserah aku kalau dekat sama siapa, tanganku dicium sama siapa, apa urusannya denganmu?" Semakin Dira menahan air matanya, maka semakin banyak yang keluar, dan lagi-lagi segera disekanya.
Namun, Mika sempat melihat air mata itu dan tubuhnya sempat terdiam kaku. Cara menangis Dira mengingatkannya pada seseorang.
Setiap dia disakiti, maka sebisa mungkin dia tidak akan menunjukkannya, berusaha tampak kuat bahkan di depan orang yang sudah menyakitinya.
"Jangan pernah membuatku takut lagi!" jeritnya memberanikan diri melihat wajah Mika. Setelah Dira mencoba pergi dari sana, untuk persekian detik Mika hanya bengong memandang punggung Dira yang menjauh, tapi saat kesadarannya kembali lagi, dia mengejar gadis itu.
"Lu harus janji dulu ke gua kalau lu bakal jaga jarak sama si banci itu! Jangan dekat-dekat sama dia lagi, kalau gak -"
"Kalau gak apa?" tantang Dira penuh benci. Dia muak dengan segala ancaman yang diberi Mika. Dadanya sesak dan selalu dipenuhi ketakutan.
Setelah berteriak dengan lantang, Muka melepaskan gadis itu yang setengah berlari menjauh dari pria berbahaya itu.
Sampai pulang sekolah, Dira tidak melihat Mika lagi. Dia bisa bernapas lega, tidak harus pulang dengan pria itu. Begitupun dengan keesokan harinya dan sampai tiga hari ke depan.
Dari Rini dia tahu, kalau Mika dan teman-temannya memang jarang masuk sekolah. Sudah masuk kelas buangan, jarang masuk pula.
__ADS_1
Banyak anak bertanya, mengapa mereka tidak dikeluarkan oleh pihak sekolah saja, tidak ada juga untungnya memelihara siswa seperti mereka, yang ada malah buat malu karena sering keluar masuk sel.
Dira melangkah kan kakinya dengan penuh malas. Hari ini dia off, jatah libur sekali seminggu dari cafe itu harusnya dia ambil untuk istirahat di rumah, mengembalikan tenaganya atau sekedar me time, tapi Dira malah tidak suka kalau harus di rumah itu.
"Apa aku ke warung Bu Risma aja ya? Bantu-bantu di sana?" gumamnya sembari menjalani jalan menuju rumah.
"Lama benar sih kamu pulang, bersihkan rumah!" hardik Tante Merlin yang sudah terlihat rapi. Wanita itu sepertinya mau pergi.
"Iya, Tante," jawab Dira masuk ke dalam rumah.
Dia segera mengerjakan perintah Merlin, karena dia berencana untuk ke warung Bu Risma. Lumayan, kalau dia bantu sampe tutup, Bu Risma biasanya ngasih 50 ribu untuknya.
Dira mulai mengepel lantai, membersihkan di setiap sudut. Lelah terasa, apalagi dia belum makan siang. Dengan santainya Lily lewat dengan memakai sepatu.
Dira hanya bisa mengeram kemarahan, tanpa bisa menegur gadis itu.
Tidak lama, sebuah motor gede berhenti di depan rumah mereka.
__ADS_1
Dug!
Jantung Dira hampir copot. Itu Mika, datang menjemput Lily karena terlihat gadis itu menyambut girang kedatangan pria itu. Dira yang sudah diberi tanda oleh Lily tadi segera berdiri di balik pintu agar tidak terlihat oleh pria itu.